
Dia tidak menjelaskan semua yang dikatakan Noel padanya tanpa melewatkan sedikitpun. Apa yang dipakai Noel saat datang dan apa kendaraan yang dibawanya sehingga Henry mengizinkannya masuk ke lobby rumah Dante. Karena dia tahu semua detail itu akan menjadi bahan pertimbangan Dante.
“Hmmm! Bagus Henry! Aku suka cara kerjamu yang rapi seperti ini. Suruh dia datang sekarang. Aku mau menemuinya dan aku tidak punya banyak waktu. Itu yang harus kau ingat.” ucap Dante.
“Baik Tuan. Saya paham.” Henry mengerti lalu menganggukkan kepalanya dan segera pamit setelah Dante tidak bicara lagi padanya. Dia segera melaksanakan perintah Dante tadi.
“Dante!” kedua temannya memanggil sambil mendekatinya.
“Aku ingin bicara dengan kalian berdua!”
“Baiklah. Apa yang ingin kau bicarakan?”
“Tunggu sebentar, aku harus mengeluarkan Bella dari sana dan membawanya keatas dulu!”
Mereka pun menatap kearah tempat yang ditunjuk oleh Dante.”Ah jadi kau baru keluar dari ruangan sana jam segini Dante?” Hans mencoba menahan tawanya.
“Terserah kau mau berpikir apa!” ucap Dante dengan santainya dia berjalan meninggalkan kedua temannya yang menahan tawa mereka.
“Cih! Puas-puaslah kalian tertawa!” Dante tersenyum getir. ‘Untuk yang satu ini aku tidak bisa melarang kalian tertawa karena memang ini kesalahanku yang sedang bermain-main bersama Bella. Tapi aku akan perbaiki manajemen waktuku.’ gumam Dante.
Saat dia membuka pintu, “Dante! Akhirnya kau membukakan pintu untukku?” Bella langsung memeluk Dante erat-erat. ‘Oh, syukurlah dia tidak meninggalkanku. Dia tidak pergi dengan wanita itu! Dante menyayangiku, bukankah begitu? Dia kembali dengan senyum diwajahnya. Dia langsung membiarkanku memeluknya erat-erat begini!’
‘Berarti memang benar dugaanku kalau selama ini cinta mulai bersemu diantara kami?’ bisiknya dalam hati. Sejenak dia merasakan pelukan erat pria itu untuknya.
“Kau pikir aku tidak akan membukakannya?” tanya Dante.
“Kau tidak lihat mataku sudah penuh airmata? Aku sedih, aku takut sekali kalau kau pergi bersamanya.” ucap Bella yang mendongakkan wajahnya.
Dia menunjukkan kedua matanya yang memang mulai bengkak dan matanya pun masih merah dan sembab karena tadi dia menangis karena takut Dante akan meninggalkannya dan kembali pada Tatiana.
“Kau pikir aku akan pergi bersamanya dan meninggalkanmu disini sendirian?” tanya Dante yang dijawab Bella dengan anggukan. ‘Anak ini benar-benar seperti anak kecil. Bagaimana caraku membuatnya dewasa? Tapi sikapnya ini membuatku damai. Dia mirip seperti Cassandra! Cassandra kecilku!’ bisik hatinya kembali mencoba melunakkan dirinya.
“Kau tegang sekali ketika melihat Tatiana! Karena itu aku khawatir kau tidak kembali padaku. Aku tidak tahu apa kau membencinya atau kau menyukainya atau kau ingin kembali padanya. Aku tidak paham Dante! Makanya aku ketakutan.” ucap Bella gusar.
“Keluar dari sana! Kau harus bertanggung jawab pada Alex!”
“Apa maksudmu bertanggung jawab?” Bella merasa bingung.
“Dia sudah menunggumu di kamarnya. Kemarin kau tidak menemaninya, kau meninggalkannya.”
“Tapi aku pergi meninggalkannya kan karena kau yang menyuruhku?”
“Ya aku tahu, tapi tetap saja kau tidak memenuhi janjimu pada Alex. Kalau kau tidak akan pergi meninggalkannya bukan? Kau yang menjanjikan itu,”
“Apa yang harus aku lakukan sekarang?” tanya Bella takut-takut.
“Tidak ada cara lain. Kau harus menemuinya dan minta maaf padanya dan jujurlah padanya Bella!”
“Aku harus bilang kalau aku bersamamu?”
“Itu jadi urusanku nanti. Ayo keluar, jangan bicara disini.”
Mereka keluar dengan Bella masih memeluknya erat-erat dan Dante merangkulnya membawanya keluar dari sana. “Sepertinya kita akan memiliki nyonya Sebastian yang baru!” celetukan keluar dari mulut Hans membuat Dante meliriknya sebentar tapi tidak mengatakan apapun padanya. Sedangkan Bella senyum-senyum sendiri.
“Apa yang kau maksud dengan nyonya Sebastian itu adalah aku?” tanya Belal menyempatkan bertanya sebelum dia menaiki tangga.
“Tentu saja aku mau itu terwujud.” balas Bella melotot pada Hans. “Kau tau itu yang ku inginkan bertahun-tahun yang lalu.”
“Benarkah?”
“Pffff! Apa kau tidak bisa menjaga bicaramu?” ucap Dante berhenti sejenak dan melirik Bella.
“Eh maaf! Tapi temanmu bertanya ya ku jawab lah.” jawab Bella mencembungkan pipinya.
“Apa setiap pertanyaan orang harus dijawab?” ujar Dante tak sabar.
“Tentu saja Dante! Dia kan tidak sepertimu. Kau tidak pernah menjawab pertanyaan. Ups!” Hans langsung menutup mulutnya ketika Dante menatapnya tapi Hans menahan tawanya. ‘Kau hanya pura-pura bersikap garang didepanku Dante. Tapi aku tahu kau tidak akan melakukan apapun padaku! Hahaha,” Hans terkekeh melihat apa yang dilakukan Dante.
“Kau mau bicara dengan Alex atau tidak?” ujar Dante mencegah Bella bicara banyak dengan Hans.
“Eeehh iya! Aku mau ketemu dengan Alex. Cepat bawa aku ketemu dengannya.” pinta Bella sambil menyiapkan dirinya menemui anaknya itu.
“Kalau begitu jangan banyak bicara lagi!”
“Dante, kau masih membatasi kami bicara dengan istrimu?” tanya Hans.
“Hans!”
“Oke….oke….oke….aku tidak akan menggodamu lagi Dante. Cukup kau jangan marah denganku. Aku akan duduk dan menunggumu dibawah.”
“Kalian berdua langsung ke ruang kerjaku saja. Aku mau bicara disana.”
“Baiklah.” jawab Hans.
“Aku minta waktu lima belas menit dulu untuk nge-teh sore.” ujar Nick. Dante tidak mengomentari karena dia mau segera ke kamar Alex dan itu akan memakan waktu lebih lima belas menit. Mungkin dia akan menghabiskan waktu setengah jam karena harus membujuk Alex dulu.
“Kenapa kau menghela napas begitu?” tanya Dante karena melihat Bella gugup.
“Aku takut kalau Alex marah padaku.” jawabnya jujur.
“Aku rasa dia memang akan marah padamu.” ucap Dante menakut-nakuti Bella.
Mendengar itu membuat Bella semakin tidak tenang dan semakin gugup. “Benarkah? Aduh, gawat! Aku harus bagaimana menghadapinya? Apa aku bisa kasi sogokan mainan?”
“Mainan apa yang Alex tidak punya? Dia sudah punya semuanya lengkap. Jadi itu tidak akan berhasil.”
“Dante, jadi aku harus bagaimana? Aku tidak mau anakku marah padaku. Aduh….tahu begini aku tidak akan meninggalkannya tadi malam.”
“Apa kau tidak bisa berpikir harus bagaimana menghadapi Alex?”
Bella mendongak menatap Dante disaat mereka sudah berada dilantai atas dan Bella menggelengkan kepalanya. “Bisakah kau memberitahuku bagaimana pengalamanmu dengan Alex? Apa yang kau lakukan saat Alex marah padamu?”
“Aku? Aku tidak pernah kena marah Alex!” ucap Dante cuek seakan-akan apa yang dikatakannya itu benar. Padahal dia sampai berhari-hari membujuk Alex kalau sudah merajuk.
“Benarkah? Kau tidak pernah kenal omel Alex? Kau tidak pernah melanggar janji padanya?” Semakin resah Bella memikirkan itu.
‘Ya Tuhan bagaimana kalau Alex membenciku? Aku tidak bisa hidup tanpanya, dia adalah langitku. Aku sudah mencarinya kemana-mana, aku mau Alex. Tuhan tolonglah berikan aku jawaban.’ Bella berdoa didalam hatinya agar dia bisa membujuk Alex yang menurut Dante sedang marah padanya. Itu membuatnya semakin ketakutan.