
“Ah jadi kalian akan mengirim rudal dari rumah Dante?” Eddie pun akhirnya mengerti.
“Iya bos! Jadi mungkin kita harus memesan itu sekarang. Karena memang akan diledakkan dalam tiga menit lagi.” ucap pria itu lagi.
“Baiklah! Tiga menit. Tiga menit kurasa waktu yang cukup. Ya sudah kalau begitu aku akan menghubungi Nick dulu.” ucap Eddie.
Dia bergegas melihat nomor telepon yang ada diponselnya. “Tunggu, sebelum menghubungi anak buahku dulu, aku harus memberitahukan dulu kepadanya.” ucap Eddie lalu dia mengetik sesuatu diponselnya.
[Jauhkan semua anak buahmu dari tempat itu. Naiklah ke kapal sekarang juga dalam waktu tiga menit karena tempat itu akan segera diledakkan.]
Pesan itu dikirim oleh Eddie lalu dia segera menghubungi Nick.
“Kenapa kau menghubungiku?”
“Dalam waktu tiga menit kau harus mengirim rudal ketempat kami melakukan transaksi tadi. Aku sudah memberitahu mereka kalau dalam tiga menit rudalnya akan sampai disana.”
“Kau serius?” tanya Nick.
“Ya, serius! Yang bertransaksi denganku bukan mereka, bukan orang yang seharusnya bertransaksi. Pria itu sudah mati digudangnya sendiri! Sepertinya dia sudah dijebak dan sekarang tim kita yang ada digudang dalam kondisi sulit. Mereka sudah dikepung oleh pasukan bersenjata federal. Aku tidak tahu bagaimana caranya untuk mengevakuasi mereka.”
“Gudang siapa?” tanya Nick lagi.
“Gudang milik pembeli barang kita, Nick! Dia memintaku untuk mengirimkan barang-barang kegudang itu. Dan sekarang didalam gudang itu adalah anak buah kita yang sudah memasukkan senjata kesana tapi mereka tidak bisa keluar sekarang karena diluar gudang sudah dikepung oleh pasukan federal.”
“Hei, aku baru saja meluncurkan rudalnya. Dalam waktu tiga menit akan diledakkan disana. Jarakmu jauh dari sana tidak? Ini radius lima ratus meter.” ujar Nick menjelaskan.
“Jarakku satu kilometer. Aku masih bisa hidup kan?”
“Oke! Tapi getarannya akan terasa sekali. Pakai pengaman untuk telingamu ya.”
“Baiklah aku paham.” balas Eddie.
“Oke. Kita kembali membahas tentang gudang, jadi pasukanmu disana sedang menunggu kita?”
“Iya mereka menunggu kita.” jawab Eddie.
“Aihhhh ya sudahlah. Aku akan memikirkan cara untuk mengevakuasi mereka. Kau bereskan semua yang ada ditempat transaksi dan orang yang berpura-pura menjadi klien kita itu kalau bisa jangan dibunuh! Pasti Dante ingin bertemu dengannya.”
“Aku paham, Nick! Aku akan membereskan semuanya disini dan untuk orang itu aku juga tahu pasti Dante ingin menegosiasikan sesuatu dengannya atau mungkin akan menghukumnya langsung nanti. Kita lihat saja! Kita lanjut bicara nanti.” ucap Eddie lalu memutuskan panggilan teleponnya. Dia kembali memfokuskan diri membereskan semua kekacauan.
[Kalian harus segera menjauh dari sana. Radius bom itu bisa mempengaruhi sekitar lima ratus meter. Apa kalian paham? Segera pergi dari sana.]
Eddie mengirimkan pesan kepada anak buahnya agar segera meninggalkan tempat itu secepat mungkin sebelum rudal meledak disana. Jika mereka bergerak cepat maka masih ada cukup waktu untuk menyelamatkan diri.
Inilah yang membuat Eddie tersenyum sumringah.
Dreeeetttttt dreeettttt dreeeeettttt…….teleponnya berdering membuat Eddie mendengus kesal.
‘Mau apa lagi dia?” gumamnya sambil memencet tombol hijau menjawab panggilan masuk.
“Kenapa kau menghubungiku? Kau merasa aman didalam peti kemas itu?”
“Peti kemas ini cukup besar dan cukup nyaman berada didalamnya. Tentu saja aku merasa nyaman. Kapan kau akan kembali kesini?” pria itu bicara dengan nada yang santai dan seperti tidak terjadi apapun pada mereka sehingga Eddie semakin terbakar oleh sikapnya. Dia merasa geram pada orang yang sudah menjebaknya itu.
“Sepertinya aku tidak akan kembali kesana! Aku tadi sudah menawarkanmu untuk pergi dari sana tapi kau memilih untuk bertahan disana.’ ucap Eddie menimpali ucapan pria itu.
“Kau sepertinya menganggap remeh diriku! Aku sudah mengatakan paadamu kalau aku tidak akan pergi dari tempat ini. Apa kau lupa semua yang tadi kukatakan padamu?”
“Hahahahaha…….” pria itu tertawa kencang begitu selesai bicara.
“Cih! Kau sepertinya senang sekali sehingga tertawa seperti itu.” sarkas Eddie.
“Hmmmm! Apa kau tidak senang dengan tawaku ini? Aku tertawa karena aku menang dan kau…..nikmatilah kekalahanmu! Kau sudah meremehkan kekuatan kami!” balas pria itu lagi.
“Aku tidak pernah meremehkan seseorang. Aku sudah memintamu untuk pergi tapi kau menolak. Sekarang apa maumu meneleponku? Kau masih bisa melihat posisiku masih dititik yang sama denganmu kalau kau menyadap teleponku.” ucap Eddie tersenyum tipis. Dia merasa geram sekali menghadapi pria itu hingga dia mengepalkan tangannya.
‘Dia sudah tahu kalau aku tahu semuanya! Dia benar-benar menguping pembicaraan! Dia sudah menyadap nomor ponsel kami. Siapa orang ini sebenarnya? Dia benar-benar gila.’ Eddie kembali bertanya-tanya didalam hatinya.
“Aku tidak mau berpura-pura lagi denganmu. Sepertinya kau memang sudah tahu aku menyadapmu! Itu artinya semua nomor yang kau hubungi ataupun menghubungimu itu sudah ku sadap semuanya.” ujar pria itu terkekeh.
“Termasuk nomor telepon temanmu tadi! Dan jangan lupa juga, nomor barumu tadi juga sudah disadap semuanya. Aku cukup pintar untuk mengelabuimu. Kalian sekarang sudah ada dijaringanku, kalian sudah berada dalam genggamanku. Siapapun yang kalian hubungi itu bisa aku dengarkan pembicaraannya. Hahahahaha!”
Pria itu tertawa terbahak-bahak seakan mendapatkan kemenangan besar dengan penuh kepercayaan diri dia bicara.
“Apa sebenarnya maumu? Cepat katakan dan jangan buang waktuku dengan semua omong kosongmu itu.” Eddie sudah geram dan tak bisa berbuat apa-apa lagi sehingga dia berpikir untuk mencoba bernegosiasi dengan orang itu.”
“Permintaanku tidak banyak. Kalau kau tanya apa mauku maka yang pertama aku merasa kecewa karena yang bertransaksi disini bukan Dante! Padahal dialah target pertamaku. Yang kedua, kalian sepertinya memiliki teknologi cukup canggih. Aku sudah mendengar pembicaraan kalian dan aku akan membebaskan kalian!”
“Aku tidak akan menghukum kalian apabila kalian mau menyerahkan senjata itu kepadaku! Dan yang ketiga, aku inginkan master senjata itu. Aku tidak ingin kalian memegang copynya. Karena itu adalah milik pemerintah dan sudah kami cari sejak dua puluh tujuh tahun silam. Aku tidak banyak permintaan selama kalian bisa memenuhi itu maka aku akan membebaskan kalian semuanya!”
“Kau pikir kami adalah orang yang mau bernegosiasi dengan siapa saja?” tanya Eddie dengan kemarahannya yang semakin memuncak.
“Waktunya hanya tiga menit! Sekarang sudah lewat satu setengah menit. Kau harus berpikir apa yang akan kau lakukan bukan kau yang memegang kendali tapi aku! Dimanapun posisimu kau akan tetap kalah karena aku sudah mendengar semuanya.”
“Oh iya. Satu hal lagi, kami pihak federal sudah mengepung rumah Dante Sebastian! Walaupun kalian tidak mau menyerahkan senjata itu pada kami secara baik-baik, maka kami bisa mengambilnya secara paksa! Semua pilihannya aku kembalikan padamu. Waktunya hanya tinggal satu menit kurang.” ancam pria itu lagi pada Eddie.