PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 419. AKAN SETIA PADAMU


‘Ini adalah janjiku padamu Alex. Aku membuat perjanjian denganm untuk menyemangati diriku agar tetap bertahan hidup. Apapun yang terjadi aku akan kembali pada keluargaku. Karena aku punya janji pada putraku.’ ucap hatinya. Disatu sisi dia ingin memberikan kenangan terindah sekaligus janji kepada putranya untuk melakukan sesuatu saat dia pulang nanti.


 


Akankah Dante mampu mewujudkan janjinya kepada putranya itu? Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi nanti, semuanya masih misteri. Tapi aku akan berusaha semampuku untuk bisa kembali dan berkumpul bersama kalian, aku ingin melihat anakku lahir sama seperti dulu aku melihat Alex lahir.


“Alex, nanti aku mau membuat acara. Kau ingat kita akan makan malam bersama kan?”


 


Alex mengangguk lalu Dante mengeluarkan sesuatu dari saku celananya lalu tersenyum leihat benda itu dan memperlihatkannya pada putranya.


“Lihatlah cincin ini. Aku ingin memberikan ini pada Bella. Karena dia sudah menjadi istriku dan dia sudah menjadi ibumu.”


“Apa dia suka ini daddy? Ini mahal tidak? Mommy pasti suka yang mahal.” polosnya Alex.


“Dia pasti suka. Semua wanita suka cincin berlian mahal. Suatu hari nanti saat kau jatuh cinta pada seorang wanita, kau pasti akan memberikan yang seperti ini padanya.” ujar Dante.


“Jadi aku harus memberikan itu pada semua yang aku sukai?” tanya Alex dengan polosnya.


 


“Hanya pada satu orang saja yang akan menjadi teman hidupmu selamanya.”


“Oh begitu!” Alex mengangguk.


“Iya. Makanya kau harus memilih satu orang yang tepat. Karena wanita itu akan mempengaruhi dirimu Alex. Kau tidak bisa memilih sembarangan.” ujar Dante menjelaskan kepada putranya.


 


“Iya daddy. Apakah Bella yang tepat? Untukku Bella itu sudah tepat.”


“Aku tidak tahu. Aku pernah gagal Alex. Aku tidak bisa menjawab apakah Bella yang paling tepat. Kita harus menunggu, kita akan melihat seiring berjalannya waktu. Ingat! Bella mommy-mu.”


Alex tidak banyak bicara lagi dan mengangguk setuju dengan perkataan ayahnya. “Lalu apa yang harus kulakukan nanti?”


 


“Aku mau kau mengganti pakaianmu sekarang. Kita akan merayakan pesta. Kau akan bermain piano bersama dengan Bella. Lalu kita akan memasak bertiga. Bukankah itu menyenangkan, Alex?”


“Iya daddy. Aku mau! Jadi aku ganti pakaianku sekarang?”


“Iya.” Dante membuka tangannya untuk menggandeng Alex. Keduanya berjalan bergandengan tangan.


 


“Apakah Tuan Muda Alex akan diganti pakaiannya sekarang Tuan?” tanya Henry yang sudah menunggu sedari tadi didepan pintu.


“Iya. Apa Belinda sudah selesai?”


“Penata rias sedang merias nyonya. Saya akan mengantar Tuan Muda Alex ke kamarnya.”


“Baiklah.”


 


“Ada hal lain yang ingin kau katakan Henry?” tanya Dante saat melihat ekspresi Henry.


“Tuan Noel sudah menunggu anda Tuan. Saya menyuruhnya menunggu anda diruang kerja.”


“Baiklah. Aku kesana sekarang.” ujarnya bergegas menuju keruang kerja. Karena dia sudah menunggu kedatangan Noel sejak tadi. Dia sudah tidak sabar lagi untuk mendapatkan informasi dari Noel.


 


‘Banyak informasi yang ingin ku dengar darinya. Aku mau tahu semuanya.’ ujar hati Dante setengah berlari menuju ruang kerjanya.


“Tuan Dante! Senang sekali bertemu anda lagi.” ucap Noel menyapa Dante yang baru masuk kedalam ruang kerjanya.


“Aku juga senang melihatmu sampai disini dengan selamat.”


“Ini semua karena bantuan anda, Tuan! Terima kasih untuk kendaraannya.”


 


“Henry yang menyiapkannya. Kau harus berterima kasih padanya.”


“oh begitukah?” Noel tidak menyangka.


“Ya, dia sangat teliti pada orang-orang dibawahku. Kepada sahabatku dan sekarang kepadamu. Anak dari sahabat ayahku.” ujar Dante sambil mengulurkan tangannya pada Noel.


“Tuan? Maksudnya?” Noel merasa bingung.


 


“Panggil saja aku Dante! Seperti para sahabatku memanggilku.” kata-kata Dante itu terasa hangat didalam hati Noel. Dia pun menjabat tangan Dante dan merasa senang dengan perlakuan pria itu dan sahabatnya. Dia tidak pernah menyangka orang-orang seperti merek itu bisa menganggap dirinya yang hanya seorang sekuriti rumah sakit dan menghargainya.


 


“Terima kasih Tu---”


“Panggil aku Dante saja tak perlu pakai kata tuan.”


“Baik Tuan! Eh maaf maksudku Dante.”


“Itu akan sulit bagimu diawal tapi lama-lama kau akan terbiasa.”


 


“Tapi saya yang paling muda dikelompok ini. Apa saya tidak sebaiknya memanggil Tuan saja?”


“Kau masih lebih tua daripada salah satu anggota terakhir kami bernama Barack. Usianya satu tahun lebih muda darimu.” ujar Dante tersenyum.


“Ah, iya benar.” Noel menganggukkan kepalanya.


 


“Baiklah. Apa yang ingin kau sampaikan padaku?” tanya Dante tak mau buang waktu lagi.


“Semua yang dikatakan ayahku.” Noel terdiam dan meneteskan airmata.


“Kenapa kau menangis?” Dante mengeryitkan dahinya melihat laki-laki didepannya berlinang airmata.


“Duh, aku harus bicara apa? Anda baik sekali padaku. Bahkan mengizinkanku memanggil namamu langsung. Tanpa penghormatan apapun.”


 


“Saya tidak pernah mendapatkan perlakuan seperti ini setelah ibuku meninggal dan kondisi kami tidak terlalu baik. Aku benar-benar mendapatkan penghargaan saat bersama anda seperti ini.”


Dante tidak menyangka jika laki-laki berbadan besar dihadapannya ini justru berlinang airmata, sangat tidak sesuai dengan tubuhnya yang tinggi besar.


 


‘Orang ini adalah orang yang sangat baik, aku tidak tahu dan tidak peduli sekejam apa dia pada orang lain. Aku tidak peduli juga pekerjaan seperti apa yang dilakukannya. Dia berbuat baik atau berbuat buruk pun aku tidak peduli. Tapi sikap baik yang kau lakukan padaku membuatku berhutang budi padamu. Walaupun aku harus kehilangan nyawaku aku akan melakukan apapun untukmu Dante.’ ujar Noel didalam hatinya bersumpah.


 


“Saat aku datang ayahku tidak mengatakan apapun. Tapi setelah aku menyebutkan nama keluargamu dan namamu, ekspresi wajahnya langsung berubah. Ayahku menanyakan bagaimana kondisimu.”


“Lalu apa yang kau katakan padanya?”


“Aku menceritakan banyak pada ayahku dalam waktu sesingkatnya karena waktu kunjungan terbatas.”


 


Noel diam sejenak sebelum melanjutkan. “Aku membuat ayahku senang dengan mendengar cerita tentangmu. Dia mengatakan kau memang mirip dengan Mateo Sebastian. Aku mengatakan padanya dimana kau tinggal, kondisi fisikmu yang juga sehat. Aku menceritakan semuanya tentangmu pada ayahku. Aku menceritakan kesuksesanmu walaupun aku tidak tahu bidang pekerjaanmu tapi ayahku menduga kau melakukan penjualan senjata.”


 


“Lalu aku menanyakan pada ayahku tentang orang yang kau tanyakan itu.” Noel kembali menjelaskan karena tak ingin ada kesalahpahaman dengan Dante seandainya Dante lupa tentang hal yang ingin dia tanyakan.


“Robert Kane? Apa dia ada menyebutkan nama itu?” tanya Dante.


“Oh iya. Ada.” Noel mengangguk mencoba tersenyum tak ingin membuat suasana kaku.


 


“Terus? Apalagi yang mengganggumu?”


“Mark Sebastian!” Noel diam disana setelah mengucapkan nama itu.


“Apakah ayahmu mengatakan kalau nama itu adalah nama bayi yang dibawanya?” tanya Dante dengan suara berat karena inilah yang sudah ditunggu-tunggunya.


 


“Aku tidak tahu apakah ayahku sekarang dalam kondisi sulit atau tidak, tapi dia mengatakan nama itu dengan pelan sekali. Dia memintaku untuk memberitahumu.”


“Baiklah aku mengerti. Noel, dimana ayahmu dikurung?” Dante merubah posisi duduk dengan berdiri.


“Aku tidak tahu Tuan. Tapi aku tahu nomornya, dia memakai baju tahanan nomor 4402!”


“Baiklah.”


 


Dante menuju ke meja kerjanya lalu memencet sebuah tombol yang ada didalam lacinya.


“Wah!” Noel kaget dan langsung mengerjapkan matanya.


“Kau tidak perlu tegang begitu Noel! Aku bukan mau meluncurkan nuklir. Benda ini tidak berfungsi begitu. Ini adalah monitor khusus dan ruang kerja ini adalah ruang kerja khusus untukku!”