PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 386. LENGAH


‘Aku mau lihat apa benar yang dikatakan oleh Barack? Aku tidak main-main soal ini kalau memang Katarina adalah sumber masalahnya aku tidak akan mempertanyakan Dante! Tapi kalau memang ini hanya akal-akalan Dante saja maka aku akan menuntut balas kematian Katarina!’ bisik Manuel dalam hatinya yang menyimpan amarah pada Dante.


 


Manuel pun berusaha menenangkan dirinya agar terlihat seperti tidak terjadi apa-apa karena dia juga harus tetap bekerja dan dia tidak ingin Jeff akan mencurigainya. Apalagi Jeff selalu memantau gerak gerik para anggotanya. Manuel tidak mau jika sampai semua kerja keras dari penyamarannya selama ini sia-sia saja.


 


“Baiklah. Aku akan mengirimkannya sekarang supaya kau bisa mendengarkan sendiri! Hmm...aku minta maaf padamu Manuel untuk kejadian ini.  Tapi ada satu hal yang ingin kusampaikan juga padamu. Ini pesan dari temanku yang harus kusampaikan padamu.”


 


“Apa itu Barack?”


“Dante ingin kau berterima kasih padanya karena dia telah menyelamatkan hidupmu. Dia sudah menyingkirkan sampah yang akan mengotori kehidupanmu.” ucap Barack.


“Hahahaha…..kita lihat saja nanti Barack! Aku harus melihat dulu rekaman yang kau kirim padaku.”


“Baiklah. Aku kirim sekarang.” ucap Barack lalu mematikan teleponnya. Dia pun segera mengirimkan rekaman suara Katarina kepada Manuel untuk menghindari adanya kesalahpahaman.


 


‘Semoga saja ini bisa membantumu berpikir jernih Manuel! Moga kamu jadi paham orang seperti apa sebenarnya Katarina itu! Aku lebih percaya pada Dante karena dia selalu melakukan semuanya dengan menggunakan logikanya.’ bisik hati Barack setelah dia selesai mengirimkan rekaman suara itu dia segera keluar dari kamar mandi.


 


“Sedang apa kau didepan sini?” tanya Barack saat dia membuka pintu kamar mandi dan mendapati Gabriella yang berdiri disana.


“Aku menunggumu Rodrigo! Sedang apa kau didalam kamar mandi begitu lama?” tanya Gabriella yang merasa penasaran sejak tadi. Itulah alasannya tidak pergi dan memilih menguping.


 


“Bukan urusanmu! Pergi sana!” ujar Barack memicingkan matanya menatap Gabriella.


“Ehm…...Rodrigo, apa kau tidak bisa bersikap baik sedikit padaku?”


“Gaby! Aku lelah sekali dan sebentar lagi ada banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan! Aku mau mencari Manuel dulu.” ucap Barack hendak melangkah tapi ditahan oleh Gabriella.


 


“Tunggu dulu! Kau jangan pergi dulu, aku ingin bicara denganmu sebentar!”


“Dimana dia? Akau harus segera menemuinya.”


“Dia ada di restoran bawah.” jawab Gabriella.


Barack tidak mengomentari lagi dan segera keluar meninggalkan wanita itu didalam kamarnya,


 


‘Cih! Dia pikir aku tidak mendengar semua yang dia katakan didalam kamar mandi tadi?’ bisik hati Gabriella sambil mengeryitkan keningnya. Dia menatap kedalam kamar mandi dan melangkah masuk kedalam.


“Aku memang selama ini terlihat bodoh! Aku memang benar-benar menginginkanmu. Tapi bukan berarti kau lepas dari pengawasanku, Barack.” ujar wanita itu pada dirinya sendiri.


 


Dia melangkah dan mengambil sesuatu yang menempel di belakang wastafel sehingga sulit terlihat. Bentuk benda itu sangat kecil, tak terpindai oleh Barack apalagi hotel yang mereka tempati ini adalah hotel baru jadi Barack tidak terlalu curiga.


“Semua yang kau lakukan dikamar mandi ini terekam beserta suaramu juga, Barack.”


Sambil tersenyum kecut, Gabriella berkata, “Mari kita dengarkan.” lalu dia melangkah keluar kamar mandi mendekat ke laptopnya.


“Huuh, aku makin tidak sabar ingin mendengarkan apa yang kau katakan disana Barack!”


 


“Kau tidak akan bisa bermain-main denganku dan ini akan kugunakan sebagai senjataku Barack! Hahahaha…..” Gabriella tertawa terbahak-bahak memecah keheningan diruangan yang hanya ada dirinya sendirian disana.


“Apakah kau bisa membayangkan apa yang akan terjadi padamu Barack?” Gabriella menyeringai.


 


 


Sesaat setelah Dante menutup teleponnya.


‘Semoga saja semuanya baik-baik saja denganmu Barack! Aku tidak mau terjadi hal buruk padamu.’ harap Dante didalam hatinya sambil memasukkan ponselnya kedalam saku celananya.


‘Haahhh dua nyawa hilang? White! Ini adalah pelajaran berharga! Aku harap ini menjadi pelajaran berharga bagi Barack. Dia pasti merasa sakit sekali kehilangan White!’


 


Dante menyandarkan tubuhnya disandaran tangga. ‘Ssshhh….tapi setidaknya dia tahu kalau kami melakukan semuanya dengan cara kami. Membuat rencana tidak bisa main-main dan harus mempercayai orang yang tepat!. Gumamnya lagi sambil melangkah keatas.


 


Dreetttt dreeetttt dreeetttt


Ponselnya kembali bergetar, sekali lagi membuat Dante mengurungkan niatnya melangkah dan mengambil ponselnya. ‘Ada apa lagi dia meneleponku? Pfff! Menyusahkan saja!’ bisiknya lalu menjawab panggilan itu.


 


“Apa kau sudah sampai di Italia dan sudah kembali ketempatmu Anthony?”


“Aku bahkan belum berangkat Dante.” jawab Anthony.


“Apa kau bilang? Apa kau ingin menggagalkan rencanaku?” intonasi suara Dante meninggi.


“Sabarlah dulu! Jangan marah-marah saja! Aku bahkan masih ada dirumahku dan belum pergi kemanapun, kepalaku pusing sekali.” ujar Anthony dengan suara tinggi juga membalas ucapan Dante.


 


‘Kenapa dari tadi orang-orang yang meneleponku semuanya meninggikan suaranya padaku? Barack dan sekarang si bodoh Anthony! Kenapa dua-duanya tidak mengerti kalau aku tidak suka mendengar orang bicara dengan nada tinggi melebihi suaraku?’ bisik hati Dante yang sekarang mencoba menahan emosinya dengan wajah yang sudah ditekuk.


 


“Apa maksud perkataanmu tadi?”


“Sudahlah! Aku lelah. Bisa kau kirimkan topeng wajah yang mirip Bella seperti kemarin?”


“Kau membutuhkan itu lagi? Bukankah wanita itu sudah memilikinya dan dia memakainya sejak awal? Topeng wajah itu tidak akan rusak walaupun dipakai lama!”


“Tidak Dante! Wanita itu hilang!” ucap Anthony sejujurnya.


“Apa?” Dante merasakan kepalanya berputar mendengar kabar itu. Dia belum sarapan pagi ditambah banyaknya hal yang mengejutkan terjadi pagi ini membuatnya pening. ‘Benar dugaanku, tidak baik membuat rencana dengan memilih orang yang tidak tepat!’


 


‘Tadi baru juga kejadian pada Barack dan sekarang disaat yang genting seperti ini si Bella palsu itu juga hilang? Kemana dia pergi? Kau membuat masalah denganku! Jika aku menemukanmu, aku pastikan kau akan kuhabisi! Bikin susah saja, kau sudah menerima uang pembayaran dan sekarang malah melarikan diri!’ gumam Dante mengepalkan tangannya erat-erat.


 


“Itulah kenyataannya Dante. Wanita itu hilang, aku tidak tahu dia pergi kemana! Kami sudah mencoba mencarinya tapi tidak menemukannya. Dan satu hal lagi, aku tidak tahu wajah aslinya sedangkan dia meninggalkan topeng wajahnya! Aku tidak tahu bagaimana cara dia keluar dari tempat ini tapi sekarang aku benar-benar kehilangan wanita itu.”


 


“Sudah kukatakan padamu, ikat dia! Perhatikan dia baik-baik, wanita itu licik sekali! Tapi kau tidak mengindahkan peringatanku. Sekarang lihatlah apa yang terjadi!” Dante geram sekali pada Anthony.


‘Laki-laki seperti apakah dia itu? Sikapnya pada wanita terlalu lembek. Sudah kukatakan padanya berkali-kali agar berhati-hati pada wanita itu. Tetap saja dia tidak paham.’


 


Seandainya Anthony ada dihadapannya saat ini, Dante pasti sudah menghajarnya.


“Sudahlah Dante! Aku tidak mau berdebat denganmu. Kami sudah punya solusinya.” ucap Anthony.


“Apa rencanamu? Jangan buat yang aneh-aneh Anthony!” Dante mencoba untuk bersikap sabar dan menenangkan dirinya walaupun kondisinya saat ini tidak tenang menahan rasa kesal karena sejak pagi semua rencananya berantakan.