PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 289. TAK MEMBUTUHKANMU LAGI


“Lihatlah sudah berapa lama kau mencoba menyenangkan aku, hampir satu jam tapi kau tidak bisa melakukannya dan tidak bisa menyenangkanku. Ini sudah yang ketiga kalinya kau mendapatkan kepuasanmu!”


“Please Rodrigo, jangan begitu.” rengek Gabriella.


“Minggir!” Barack melepaskan tangan Gabriella dengan kasar. “Apa kau pikir aku ini boneka mainan yang bisa kau gunakan untuk memuaskan dirimu?” Barack menggelengkan kepala sambil berdiri dari tempat tidur dan masuk kembali ke kamar mandi.


“Rodrigo!” Gabriella memanggilnya dengan suara mendayu-dayu tapi Barack tidak peduli dan tetap masuk ke kamar mandi. ‘Oh tidak! Aku benar-benar tanggung, aku sudah mendapatkan tiga kali tapi aku tetap mau lagi.’ bisik hatinya yang benar-benar sudah tidak bisa menahan diri lagi.


“Aduh bagaimana ini?” tanyanya pada dirinya sendiri, dia tidak tahu bagaimana dia bisa memuaskan dirinya.


“Coba aku lihat ada apa disini.” dia mencoba mencari sesuatu yang ada di kamar itu lalu dia membuka laci nakas dan mencoba mencari sesuatu di tasnya untuk bisa mendapatkan barang yang bisa digunakannya untuk memuaskan diri. “Ah mungkin ini bisa diakalin!” gabriella tidak berpikir panjang lagi dan mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.


“Aku butuh gunting untuk merobek sedikit dan menempelkannya diujung kuas stippling. Ini gagangnya cukup kuat dan aku hanya perlu memotongnya sedikit ditengah beauty blendernya dan pas masuk. Ah….aku coba saja mudah-mudahan tidak lepas.” ucapnya langsung membuka kedua kakinya.


“Ahhh….ternyata enak juga. Tidak apa-apa begini daripada tanggung.” Semua penolakan Barack membuat wanita itu sudah kehilangan akal sehatnya.


“Gila! Aku sudah gila karena laki-laki itu tapi aku tidak peduli dan aku sudah tidak punya pilihan lagi! Aku sudah memutuskan untuk tetap bersamanya dan tidak akan melepaskannya. Aku akan tanggung apapun perlakuannya padaku yang penting aku tetap bersamanya. Dia milikku!”


“Apa yang kau lakukan?” teriak Barack dengan suara baritonnya saat keluar dari kamar mandi.


“Rodrigo! Kau sudah mandi dan keramas lagi? Kau sudah membersihkan tubuhmu?”


“Hmmm….kau sedang apa?” tanya Barack melihat Gabriella dengan tatapan miris dan jijiknya.


“Ini gara-gara kau! Aku menginginkanmu dan aku tadi belum puas jadi aku sedang mencoba menyenangkan diriku sendiri.” jawabnya jujur.


“Dasar gila! Sebegitu gilanya kau hah?” tanya Barack singkat tapi dia tidak peduli. Dia justru berjalan ke arah kopernya untuk mengambil pakaian.


“Rodrigo, kenapa kau membiarkanku melakukan ini? Kenapa kau tidak pernah peduli dengan perasaanku? Apakah kau tidak tahu kalau ini semua menyakitkan hatiku? Ini memalukan! Aku hanya meminta sedikit perhatianmu saja dan aku bahkan merendahkan diriku padamu.”


“Sudah sebulan Rodrigo! Kita bersama selama sebulan ini tapi tidak ada sentuhan hangat yang kau berikan padaku! Kau malah membiarkan aku jadi seperti ini?”


“Itu mau mu kan? Bukan aku yang mau!” jawab Barack santai untuk memainkan emosi wanita itu.


“Apa salahku? Kenapa kau memperlakukanku begini? Aaagggggg!” Gabriella semakin stress.


“Apa kau sudah puas?” Barack yang sejak tadi memperhatikan gerak gerik wanita gila itu yang sedang mengatur napasnya dan terlihat kelelahan.


Barack melihat gabriella yang sedang berbaring diranjang dan memandang pria itu yang masih polos, Barack sedang mencari pakaian dan menatap Gabriella hina.


“Aku memuaskan diriku sendiri Rodrigo! Kenapa kau lakukan ini padaku? Kalau kau tidak menyukaiku, lebih baik kau katakan saja kau tidak menyukaiku.”


“Aku tidak menyukaimu! Kau menjijikkan!” justru kalimat itu yang diucapkan oleh Barack membuat Gabriella menjadi geram dan kehilangan kata-kata.


“Rodrigo!” dia menatap pria itu dengan tatapan sayu dan dia menghina dirinya sendiri karena terlalu terobsesi dengan Barack.


“Rodrigo! Apa yang barusan kau bilang?”


“Hal sederhana yang seharusnya wajib diketahui oleh seorang budak! Memang kau pikir aku menyukaimu, ha?” Barack memicingkan matanya lalu mengalihkan pandangannya mencari pakaian.


“Rodrigo!” panggil Gabriella lagi sambil berlari kecil mendekati Barack dan membuat pria itu melotot.


“Apa?” dia menatap wanita itu dengan tajam, keduanya sama-sama polos hanya saja Barack sudah mandi dan bersih.


“Katakan padaku, kenapa kau lakukan ini padaku? Kenapa kau terus saja menyiksaku, kau tahu aku bahkan merusak alat makeup ku sendiri untuk memuaskan diriku? Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?” tanya Gabriella agak protes.


“Aku tidak minta apapun padamu. Aku hanya emngatakan kalau kau menginginkan sesuatu maka kau harus mencoba untuk memuaskanku. Tapi kau tidak pernah berhasil membuatku menginginkanmu! Kau hanya mengotori tubuhku saja! Kau pikir aku ini mainan? Cih!


“Aakkkk! Rodrigo apa yang kau lakukan? Kau meludahiku?” Gabriella langsung menghapus cairan yang baru saja dimuntahkan Barack ke wajahnya.


“Kalau kau sayang pada dirimu sendiri, pergilah sekarang ke kamar mandi dan bersihkan tubuhmu yang kotor dan menjijikkan itu!” ucap Barack dengan sinis, tak ada cinta dan kepedulian pada wanita dihadapannya itu.


“Baiklah, aku akan tunjukkan padamu kalau aku memang tidak menyayangi diriku sendiri. Aku menginginkanmu Rodrigo!” ujar gabriella sambil mendekati Barack.


“Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku budak! Aku sudah mandi dan bersih. Kau itu menjijikkan!” ujar Barack saat Gabriella justru berlutut padanya dan mengulum sesuatu.


‘Aku bersumpah akan membuatnya puas. Membuatnya menginginkanku! Kau akan menjadi milikku dan bertekuk lutut padaku nanti!’ Gabriella sangat berambisi.


“Pfffff! Aku tidak ada waktu! Kakakmu sudah menyuruhku untuk berangkat ke Amerika. Aku tidak tahu apa yang ingin dilakukan kakakmu selanjutnya. Kau mau tinggal disini atau ikut denganku budak?” tanya Barack memandang wanita itu hina,


“Aku tidak peduli dengan kakakku!”


“Dasar kau wanita murahan! Otak kotor!” ucap Barack tapi Gabriella tidak peduli lagi.


Dia tetap saja mencoba untuk membangkitkan gairah Barack sehingga membuat pria itu tersenyum melecehkannya. Hal itu membuat Gabriella semakin kehilangan akalnya dan semakin geram karena apa yang diharapkannya tak kunjung didapatkan hingga terdengar suara ponsel Barack berdering kencang. Barack tak menunggu lama melirik ponselnya dan melihat kalau yang menghubungi adalah Jeff Amadeo. Tanpa mempedulikan Gabriella, dia pun mengangkat telepon.


‘Kebetulan sekali kau meneleponku dengan video call. Hah! Kau selalu saja melakukan ini untuk melihat ekspresi wajahku saat menelepon bukan?’ celetuk Barack didalam hatinya.


“Kenapa kau menghubungiku? Bukankah aku sudah memberikan laporanku padamu?” tanya Barack.


“Sedang apa kau?” tanya Jeff.


Barack tak menjawab, dia hanya membalikkan kameranya ke belakang pas disaat Gabriella mendongak menatapnya.


“Gabriella?”


“Kenapa kau menelepon kakak? Video call pula. Apa maumu?” tanya Gabriella sambil melanjutkan apa yang dia lakukan tadi masih dengan posisi berlutut dihadapan Barack. Dia tak peduli saat Jeff melihat apa yang sedang dilakukannya.


“Aku tidak menelepon kakakmu! Dia yang meneleponku dan bertanya aku sedang apa. Jadi aku tunjukkan saja apa yang sedang aku lakukan disini! Membiarkanmu melakukan apapun yang kau mau supaya kakakmu tahu seandainya aku terlambat.”