
“Kau bilang tidak mau tapi kau seperti mau juga makan pisang ini! Kau membuka mulutmu sedikit.”
“Habiskan saja!” jawab Dante.
“Ini sudah kuhabiskan.” ujar Bella.
“Baguslah.”
“Tapi kenapa kau masih berdiri didepanku Dante?” ada senyum dibibir Bella saat mengatakan itu.
Dante menggelengkan kepalanya lagi, “Kemarilah.” ujarnya menyuruh bella mendekat padanya.
“Apa?”
“Aku menyuruhmu mendepat padaku! Bukan mendekatkan kepalamu padaku dengan menjulurkannya diatas meja begitu.”
“Oh kau ingin seperti itu.” Bella santai mengangguk-anggukkan kepalanya. ‘Bisa tidak marah mintanya? Tidak usah marah-marah dengan wajah seperti itu?’ hati Bella sebenarnya kesal dan ingin mengatakan itu tapi hanya didalam hatinya saja. “Sebentar ya.” Dia turun dari kursinya dan berjalan memutari meja dapur.
“Kau mau apa?” tanya Bella dengan kedua tangan masih memegang pisang yang belum habis.
“Duduklah disini.” ucap Dante menepuk pangkuannya sendiri.
“Ah kau memanggilku karena ini?” Bella bersemangat sekali lalu duduk dipangkuan pria itu.
“Kau cukup berat juga Belinda.”
“Hmmm? Aku sudah tidak makan banyak. Masa iya aku masih cukup berat? Sssshhh…...ehmmm.” tanya Bella sambil memandang Dante menahan rasa geli ketika pria itu memeluknya dan kedua tangannya sudah bermain didadanya.
“Cassandra lebih ringan darimu.” ucap Dante.
“Haaaa? Siapa itu? Cassandra? Sssshhh!” Bella makin tak bisa berpikir hingga menempelkan kepalanya didada bidang pria itu.
“Kalau nanti anakku didalam kandunganmu ini perempuan, bisa kita beri nama Cassandra?” Dante bicara tanpa menjelaskan siapa nama yang disebutkannya pada Bella. Tangannya sudah turun mengelus perut Bella sejenak dan satu tangan lagi memegang kedua puncak diatasnya.
“Kau suka nama itu? Bukan nama mantanmu kan? Ehhh….sshshhhh….tapi tidak masalah juga. Ssshsh….” Bella menganggukkan kepala lalu menatap Dante dengan pandangan sayu. “Dante, bisakah kau memberitahuku kenapa kau kau menceraikan istrimu?” Bella bertanya sambil menyodorkan pisang ke mulut Dante.
“Apa maumu?” dia menggerakkan kepalanya mundur kebelakang tidak ingin memakan pisang yang disodorkan Bella ke mulutnya.
“Ahhhh yang bawah jangan diremas Dante! Sssshhh…..”
“Mau apa kau menyuruhku memasukkan pisang kedalam mulutku? Aku bukan ho—mo..”
“Heehe….bukan….sshhhh….aku mau menawarkanmu makan pisang. Memangnya kau tidak suka?”
Dante menatap buah pisang yang ada ditangan Bella.
“Aku tidak suka caramu memakan pisang begini! Habiskan satu-satu baru makan yang satunya lagi.”
“Ini susah...ssshshhhh geli…..aduh…...”
“Jangan bicara! Habiskan pisangmu satu-satu.”
“Ini sudah kebiasaanku dari kecil Dante! Sssshhhhh,” ucapnya sambil merasakan nikmat sentuhan tangan pria itu.”Buka mulutmu lah!’
‘Ingin sekali aku menolaknya! Tapi cara dia menyuruhku memakan pisang itu dan cara dia menyodorkannya, matanya! Ini mungkin yang membuatku menyukainya!’
‘Saat bertemu dengannya dan bicara dengannya aku menemukan Cassandra dimatanya walaupun aku tak sadar melakukannya! Jadi dari kapan aku mulai menyukainya?’ Dante tak mengerti apa yang diinginkan oleh hatinya tapi dia bertanya sendiri sambil dia memakan pisang yang disuapkan Bella padanya.
“Manis.” jawab Dante singkat.
“Memang manis! Dan enak juga kan? Aku suka makan pisang! Ini buah kesukaanku. Apa buah kesukaanmu?” Bella bertanya sambil menatap Dante.
“Jangan banyak tanya!” Dante bicara tadinya hendak menurunkan Bella dari pangkuannya.
“Ayolah Dante katakan padaku apa buah kesukaanmu.” bujuk Bella lagi.
“Kau benar-benar ingin tahu?” pertanyaan itu bergulir dari bibir Dante.
“Buah yang seperti ini!” jawab Dante sambil kedua tangannya meremas kedua buah pepaya didada Bella yang membuatnya sedikit kaget.
“Sssshhh….apa sekarang kau menyukai buah kembarku? Makanya kau menyentuhnya juga? Ehmmm…..enak Dante.”
“Begini enak?”
“Ahhhhh! Aku tidak suka yang terlalu sakit begitu! Sentuh dengan lembut-lembut saja, mutar-mutar pelan, lembut Dante…..ahhhh…..sakit!”
“Jangan sentuh milikku! Kau tidak kuijinkan untuk memegangnya.” ujar Dante.
“Issss dasar pelit!” Bella bicara sambil menarik tangannya dari milik Dante, Kemudian dia diam menahan rasa sakitnya karena baru saja dipencet oleh dante kedua buah kembarnya. Bella ingin memprotes perbuatan pria itu tapi…..
“Ssshhhh…..ya pelan-pelan begitu baru enak, tidak usah dicubit. Kalau begini tidak akan sakit.”
Tadinya dia ingin marah tapi sekarang malah tersenyum. “Apa cukup pas ukurannya untukmu?” tanya Bella sambil menggigit bibirnya menggoda Dante dan mulai mendekatkan tubuhnya menempel pada pria itu.
“Cih! Kau pikir aku suka yang berukuran kecil begini? Apa kau pikir ini nikmat?” dengus Dante.
“Eeeeh….apa itu ukurannya terlalu kecil? Tapi kata orang-orang itu sudah pas kok ukurannya Dante.”
“Apa kau bilang? Kata orang-orang? Memangnya orang-orang mana yang bilang begitu padamu, hah? Kau mau menyamakan seleraku lagi dengan seribu laki-laki bodoh dan cuma peduli dengan gesek-gesek hemm?” ujar dante menatap tajam pada Bella yang juga menatapnya tak kalah tajamnya.
“Dante maaf. Jangan marah lagi padaku! Jadi kau mau aku membesarkannya lagi? Apa perlu aku masukkan silikon kesana supaya jadi lebih besar seperti yang kau suka?” tanya Bella yang kini memegang tangan Dante yang sedang memutar-mutar disana.
Bibirnya mengatakan tidak suka karena ukurannya terlalu kecil tetapi tangannya entah kenapa tidak bisa lepas dari sana seperti ada magnetnya. Sungguh ini menjadi dilema bagi Bella. ‘Apa-apaan dia ini? Duuuhhhhh aku sudah basah. Memangnya dia tidak sadar ya? Bilang tidak suka tapi tangannya tidak bisa berhenti sejak tadi. Aduh…..sialan! Kapan masuknya kalau begini? Apa dia hanya mau bermain-main saja?’ Bella berbisik didalam hatinya.
“Apa yang sedang kau pikirkan sampai kau tersenyum begitu? Hmmm?”
“Ehm….aku rindu! Sudah lama tidak merasakan yang itu. Apa kau tidak merindukannya juga Dante?”
“Pfffhhhh!” hanya itu yang keluar dari bibir Dante. ‘Aku pikir dia sudah berubah. Aku hampir berpikir akan kehilangan dia yang seperti ini setelah dia bertemu dengan Alex.
‘Tapi apa yang terjadi sekarang? Dia malah menggodaku lagi. Cuma godaan ini kenapa rasanya seperti aku tidak ingin hilang dari dirinya? Aku seperti suka saat dia menggodaku begini! Apa aku menikmatinya? Pffff!’ bisik didalam hati Dante. Dia masih menutupi perasaannya yang sebenarnya pada Bella. Tapi begitulah Dante yang tidak suka digoda, jadi seua godaan-godaan Bella ini berusaha ditahannya.
“Dante!” Bella memanggilnya lagi dan tidak direspon oleh pria itu. Dia hanya menatap Bella saja menunggu apa yang ingin dikatakan wanita itu.
“Dante…...ehm….sssshhh….” Bella mendesah.
‘Aihh dia sudah begini! Jadi mendingan bikin sop ikannya setelah ini? Tapi aku masih punya tenaga kalau setelah ini? Buat coba-coba dulu tidak apa-apa kan? Semenit atau lima menit.’
Dante jadi bimbang ketika melihat wajah Bella dan dia berpikir bahwa wanita itu ingin mendapatkan sesuatu. “Kau mau menanyakan apa?”
“Kenapa kau menceraikan istrimu? Apa karena aku?” tanya Bella.
‘Dasar wanita bodoh! Kenapa lagi melakukan hal bodoh macam ini? Dia malah bertanya begitu?’ sungguh pertanyaan yang tidak terbayangkan oleh Dante ada dibenak Bella.