PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 168. LEBIH SAYANG SAMA BELLA


Tok tok tok


“Tolong buka Nick.”


“Nyonya Tatiana-mu yang datang Dante.” celetuk Nick dengan senyum diwajahnya menyapa Tatiana.


“Hei kalian sepertinya sibuk semalaman disini ya?”


Hem….ada apa kau mencariku?” tanya Dante mendekati istrinya.


“Aku harus berangkat sekarang dante. Kau tahu kan kalau aku akan pergi hari ini?”


“Hati-hati dijalan ya.” ucap Dante lalu mengecup dahi istrinya.


Wanita itupun lalu pergi meninggalkan Dante sesuai dengan rencana yang sudah dia buat kemarin. Tatiana akan menghadiri asosiasi penyandang kanker ovarium katanya walaupun kenyataannya tidak demikian, dia sebenarnya pergi bersenang-senang.


“Kau bisa membiarkan istrimu pergi sendirian?”


“Tentu saja. Memangnya kenapa?”


“Dante! Kau tidak takut dengan orang-orang yang akan mengejar istrimu?”


Ucapan Nick membuat dante terdiam sejenak dan menatap Nick. “Maksudmu orang yang berniat buruk pada istriku karena aku tidak memberikan penjagaan? Musuh kita?”


“Iya.”Nick menganggukkan kepalanya.


“Itu tidak perlu.” dante tersenyum. “Istriku sudah memiliki bodyguardnya sendiri dan dia minta padaku untuk tidak mencampurinya. Dia janji padaku semua aman!”


“Oh wajar! Orangtua istrimu cukup kaya ya. Baguslah kalau begitu! Aku pinjam kamar tamu dulu, aku lelah. Kalau kau ingin melakukan rencana kita tadi pada Anthony, lakukan agak siangan  ya. Aku mau istirahat dulu.” ucap Nick meregangkan tubuhnya.


“Hem…!” Dante mengangguk dan membiarkan Nick keluar dari ruang kerjanya sedangkan Dante masih duduk lalu dia mendekat ke meja kerjanya mengambil ponsel tapi kemudian dia diam. “Aku ingin bertemu dengan Alex dan mengurusnya. Tapi tunggu sebentar lagi.” ucapnya melihat jam tangannya masih pukul setengaj enam pagi. Dante memilih duduk kembali dan membuka laptopnya.


“Hari ini adalah hari terakhir hidupmu! Hari ini adalah hari dimana kau tidak akan pernah lagi melihat matahari. Aku akan memotong tubuhmu dibawah sana dan menguburmu ditempat yang paling kau takuti yaitu kegelapan!”


Dante bergumam tapi berlawanan dengan kata hatinya, ada keraguan jika dia bisa melakukan itu pada Bella. “Perbuatanmu terlalu buruk! Aku tidak ingin Alex tahu suatu saat nanti kalau kau adalah ibunya. Sebaiknya kau kuhabisi saja!” ucap Dante lalu dia membuka laptopnya dan tersenyum. “Kenapa aku ingin melihat cctv ini?” Ada rasa kesal dalam hatinya dan dia ingin sekali menutupi itu tapi dia justru menekan tombol memutar cctv.


Dante memperhatikan rekaman cctv dikamar Bella padahal dia bukan orang yang suka menonton cctv tapi kali ini dia melakukannya. “Kau sangat menyayangi Alex tapi kenapa kau tidak tahu malu pada Alex? Ssshhh….aku harus menghapus semua ini.” ujar Dante menatap nanar pada rekaman cctv-nya.


‘Pintar sekali kau bersandiwara Belinda! Apa semua ini pura-pura karena kau tahu diruangan itu adala cctv makanya kau menyayangi Alex? Seandainya kau tidak melakukan hal itu.” hati Dante mulai galau ketika melihat Bella memeluk Alex, menyayanginya bagaikan seorang ibu yang sedang memanjakan anaknya. Dante tersenyum menatap cctv itu.


“Kelakuanmu tidak pantas sebagai seorang ibu!” Dante bicara sendiri. Dia memicingkan mata kemudian menutup laptopnya dan hendak berdiri tapi tiba-tiba pintu terbuka.


“Daddy!”


“Kau menemuiku disini?” tanya Dante karena setiap kali Alex tidak menemukan Dante ditempat tidur maka Alex akan mengecek ke kamar atau keruang kerja Dante.


“Aku merindukanmu Daddy!” ucap Alex yang sudah berada dipelukan Dante.


“Aku juga merindukanmu Alex. Kau mencariku kesini?”


“Iya. Dimana Bella?” tanya Alex.


“Hem...Alex kenapa kau bertanya tentang Bella. Seharusnya kau menanyakan mommy dulu.” dante agak risih mendengar pertanyaan putranya yang malah menanyakan Bella bukan mommy-nya.


“Hmm….”Alex justru bingung bagaimana menjawab pertanyaan Dante. Dia menatap ayahnya sambil mengerjapkan mata.


“Bella!” jawab Alex tersenyum bahagia saat menyebut nama itu dengan mata berbinar-binar. Ucapan anaknya sungguh membuat hati Dante sakit. ‘Kenapa kau tersenyum seperti itu? Kau tidak tahu wanita seperti apa dia, dia menyerahkan dirinya pada laki-laki dan sangat suka dengan sentuhan laki-laki tanpa pernah berpikir siapa laki-laki yang memberinya sentuhan. Dia tidak punya hati dan dia seperti wanita berpenyakit. Aku mencoba memperbaiki penyakitnya tapi dia tidak paham dan terus saja melakukan kesalahan.’ ujar Dante didalam hatinya.


Meskipun kesal tapi dia berusaha menahan diri. “Kenapa kau begitu Alex? Bukankah seharusnya yang paling kau cintai adalah mommy?” tanya Dante yang tak puas dengan jawaban anaknya.


Alex tak menjawab, dia malah diam menatap ayahnya.


“Begini Alex, kenapa kau mencintai Bella.”


“Aku suka Bella! Aku sayang Bella!”


“Apa kau tidak sayang mommy?” lagi-lagi Alex mengatupkan bibirnya dan tak mengatakan apapun.


“Kau tidak sayang mommy?” tanya Dante lagi.’Bagaimana caramu meracuni anakku sampai-sampai dia tidak mau lagi menyayangi mommy-nya?’ bisik hati Dante ketika melihat Alex menjawab pertanyaannya dengan anggukan kepala membuat hati Dante pilu.


“Apa yang dikatakan Bella sampai kau tidak menyayangi mommy?” tanya Dante secara terang-terangan pada anaknya tapi anak itu hanya diam menatap Dante, enggan untuk bicara.


“Katakan padaku, apa selama ini Bella pernah membicarakan mommy?”


Alex menggelengkan kepalanya merespon. “Jadi Bella tidak pernah bilang apa-apa soal mommy?”


Alex menganggukkan kepala sebagai jawaban.


“Lalu kenapa kau menyayangi Bella?” Dante semakin penasaran.


“Bella baik! Sayang Alex, daddy! Hangat sama Bella!”


‘Aku tidak pernah mendengarmu mengatakan hal seperti itu tentang orang lain Alex. Biasanya ucapan itu hanya untukku. Kenapa dia? Kenapa bukan mommy-mu yang kau sayang?’ hati dante teriris mendengar ucapan anaknya tentang Bella. Semua bayangan kembali muncul mulai dari kesalahan diruang piano dan perbuatan Dante diruang penyiksaan. Dante memikirkan tentang rekaman cctv yang baru dilihatnya ketika Alex bermain dikamar Bella.


‘Kau tidak pernah mengatakan hal jelek tentang istriku pada Alex tapi kenapa dia bisa mengatakan kalau dia lebih sayang padamu dan tidak sayang pada istriku?’ Dante kembali lagi emosi.


“Alex, tidak bisakah kau menyayangi mommy?” Dante mencoba mengubah pola pikir anak itu.


“Kalau aku sayang mommy, apa aku bisa ketemu Bella?”


Dante pun terdiam tak bisa menjawab apapun sejenak dia menatap wajah putranya.


“Bella mungkin tidak akan bekerja disini lagi dan dia akan pergi jauh. Jadi sekarang hanya ada daddy dan mommy.” ujar Dante menjelaskan.


“No! Daddy no!” Alex protes dan langsung turun dari pangkuan Dante. “No daddy! No! Aku mau Bella! Bella ngak boleh pergi! No…..no daddy!” Alex terlihat panik dan mulai mengamuk.


“Alex, jangan menangis sayang. Kemarilah Alex! Baiklah Bella tidak akan pergi tapi kemarilah.” Dante menggendong tubuh Alex lagi.


“Jangan ambil Bella! Aku mau Bella ada disini sama aku.” tumben Alex meminta sesuatu dengan tegas.


“Kau sangat menyayangi Bella?” tanya Dante dengan suara lembut.


“Hem! Bella suka hangat! Aku suka hangatin Bella pakai dua tanganku, Bella selalu sayang aku. Bella teman aku.” Alex bicara semampunya. Hati Dante semakin terluka mendengar ucapan putranya.


‘Aku menyesal membawamu kepada putraku! Kau tidak sebaik yang aku pikirkan. Tapi sekarang putraku sudah sangat menyayangimu. Apa yang harus kuperbuat?’ tubuh Dante merinding dan ada rasa nyeri didalam hatinya yang menjalar keseluruh tubuhnya.