PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 232. BIARKAN BARACK BERMAIN


Sementara itu di Indonesia, Dante dan teman-temannya


“Bagaimana? Apa mereka masih menyerang?” Dante bertanya setelah dia masuk kedalam ruang kerja Hans dengan wajah serius.


“No! Semua aman dan barang-barang kita berhasil melewati Singapura dan sekarang sudah sampai di Batam!” jawab Hans tersenyum puas dengan hasil kerja mereka.


“Ok good!” Dante menghempaskan tubuhnya di sofa dan memijat keningnya.


“Apalagi yang kau pikirkan Dante? Kenapa kau terlihat banyak pikiran sekarang?”


“Tanyakan saja pada Nick! Bagaimana persiapan untuk transaksi nanti malam di San Marino?”


“Aku sudah menghubunginya sebelum kau menyuruhku Dante.” jawab Eddie menambahkan.


“Bagaimana persiapannya?” tanya Dante lagi sambil mengeryitkan dahinya.


“Nick bilang kalau semuanya aman dan dia juga sudah mempersiapkan semuanya termasuk jika ada penyerangan dadakan dari pihak federal! Pokoknya dia sudah mengantisipasi semua dan menambahkan pasukan untuk berjaga-jaga.”


Dante menganggukkan kepalanya, “Eddie! Tolong kau hubungi ayah mertuaku Omero. Minta dia untuk menambahkan backingan untuk Nick di San Marino. Untuk jaga-jaga jika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. Transaksi di San Marino cukup besar dan aku tidak ingin ada satupun hal sekecil apapun yang terlewatkan.”


“Baiklah.” Eddie langsung berdiri dan beranjak ke balkon untuk melakukan perintah dari Dante dan menghubungi Omero Rivera.


“Sudah hampir sebulan lamanya kita menunggu Dante! Apa yang akan kau lakukan pada Barack?” Hans bertanya sesaat setelah Eddie keluar.


“Hampir sebulan sudah kita berusaha dan bekerja terlalu keras. Ada begitu banyak gangguan dari kelompok sebelah, belum lagi dari pihak federal, intelijen yang mengganggu dan terakhir Jeff yang kembali merecoki pengiriman persenjataan kita!” Dante menghela napas sejenak.


“Sekarang sudah menjelang akhir tahun dan sudah masuk bulan desember. Aku tidak ingin ada satu masalahpun yang menganggu semua transaksi. Pastikan kau memperkuat keamanan Hans!” bukannya membahas masalah Barack, dia justru membicarakan perkerjaan.


“Tapi semuanya sudah berhasil kau selesaikan Dante! Apa rencanamu untuk Barack sekarang? Dia sudah tidak bersama kita lagi selama hampir sebulan. Dia adalah anggota termuda, apa kau yakin dia baik-baik saja disana?”


“Tidak yakin tapi biarkan saja dulu.” Dante kembali menghembuskan napas kasar sambil merubah posisi duduknya menjadi tegak. “Kendalikan emosimu Hans! Ini baru permulaan saja, belum sampai pada titik puncak yang sesungguhnya.” Dante tersenyum sinis, “Perjalanan kita masih panjang sedangkan masalah Barack, dia cukup cerdas. Aku sudah menggempur tempat tinggal Jeff Amadeo sekarang kalau yang diculik adalah kau!”


“Apa maksudmu Dante? Kau pikir aku lemah?” protes Hans, apalagi dia melihat senyum Dante yang penuh makna, membuat hati Hans rasanya semakin mendidih bak air panas.


“Kau tidak berpikir seperti Barack. Aku mengenal semua teman-temanku dengan sangat baik. Aku memperlakukan mereka seperti seharusnya mereka diperlakukan.” ujar Dante lagi.


“Tunggu dulu Dante! Jadi kau pikir kalau aku ini lebih lemah dari Barack? Sampai kau ingin menghancurkan tempat tinggal Jeff jika aku yang diculik oleh pasukannya?”


“Bukan begitu maksudku Hans! Kau itu bukan lemah hanya saja kau tidak pandai berpura-pura seperti Barack! Kau bukan orang yang pandai mempermainkan psikologis seseorang. Kau adalah orang yang cukup kuat tapi kau lebih menggunakan kekuatanmu ketimbang kemampuan intelektualmu!”


Dante mengucapkan kalimat itu dengan penuh penekanan.


“Haisss!” Hans menyipitkan matanya tapi dia tidak melanjutkan bicara apapun lagi. Dia lebih memilih untuk menyandarkan tubuhnya disofa sambil mendengus kesal, bertepatan dengan Eddie yang baru saja selesai menelepon dan masuk kembali kedalam ruang kerjaHabs lalu menghempaskan tubuhnya di sofa dan duduk diseberang Hans.


“Semuanya sudah bisa dikendalikan, Dante!”


“Hmm! Tetap dipantau, mereka tidak akan menyerah untuk terus menyerang transaksi kita. Jeff sudah berhasil mengumpulkan orang-orang yang memiliki masalah denganku, dia berusaha mengumpulkan semua sampah-sampah itu untuk mencari dukungan dari mereka. Dan dia berusaha untuk g dengan cara membonceng mereka. Kalian lihat bagaimana penyerangan di Jerman saat pengiriman senjata terakhir minggu lalu?”


“Kau benar Hans! Itu adalah campur tangannya Jeff. Dia tidak akan berhenti sampai disana, yang dia inginkan adalah kehancuranku supaya dia bisa mengambil Bella!”


“Kenapa tidak kau katakan saja bahwa Bella sudah tidak ada bersamamu lagi Dante? Biar orang gila itu tidak mengganggu kita lagi.”


“No! Biarkan saja dia tetap berpikir begitu. Saat ini dia masih menjaga Barack tetap hidup dan ada kemungkinan besar karena dia berharap aku akan menukarkannya dengan Bella!” Dante mengutarakan semua isi hatinya.


“Jadi kau sengaja tidak memberitahukan Jeff dimana Bella saat ini adalah untuk mengulur waktu untuk menyelamatkan Barack?”


“Iya, kira-kira seperti itu.” Dante menganggukkan kepala.


“Sampai kapan kita akan menunggu untuk menyelamatkan Barack?”


“Tunggu saja sampai Barack yang menghubungi kita!” jawab Dante.


“Dante, apa kau serius? Kita menunggu lagi? Mau sampai kapan kita menunggu? Ini sudah terlalu lama sejak mereka membawa Barack.”


“Sabarlah Hans! Tunggu saja. Diantara kita semua hanya kau saja yang paling cepat sekali berubah pikiran karena mengikuti perasaan. Itulah kenapa aku khawatir denganmu. Saranku, kau jangan lagi memiliki peliharaan, itu membuatmu semakin lemah.”


“Heeeh….mau kau apakan anjingku?” tanya Hans mengeryitkan dahinya.


“Mau aku buat hotdog!” jawab Dante sekenanya tanpa memandang Hans.


“Pffff! Jangan macam-macam kau Dante!” ucap Hans meninggikan suaranya.


“Aku tidak akan macam-macam kalau kau lebih bisa mengatur emosimu itu. Kau terlalu lemah dengan perasaanmu Hans!”


“Baiklah, aku akan menghilangkan semua perasaanku dan akan berubah kejam sama kejamnya seperti Nick. Kalau aku sudah begitu apa kau akan menyelamatkan Barack?”


“Sudah kukatakan tadi, tunggu saja. Mulanya aku berpikir kita bisa mendapatkan Barack dengan cara menyusup kesana. Tapi aku rasa itu tidak perlu karena jika Barack mau, dia bisa menyelamatkan dirinya sendiri. Tidak perlu membuang-buang waktu untuk menyelamatkannya.”


“Sudah jelas jika Barack membagi dua chipnya seperti yang aku katakan pada kalian, dia meminta kita untuk menyelamatkan wanita itu. Dia sendiri yang akan datang menemui wanita itu dan menemui kita jadi biarkan saja dia selesaikan permainannya sendiri sesuka hatinya.”


“Kau yakin sekali Dante! Bagaimana kalau Barack….”


“Hans! Kau masih mau anjingmu hidup?” ancam Dante dengan tatapan serius.


“Heeeh….baiklah. Lakukan saja apa yang kau mau Dante!” Hans tidak banyak bicara lagi, dia lebih memilih menyandarkan tubuhnya disandaran sofa dan mengunvi mulutnya rapat-rapat.


“Dante! Jadi kita tidak akan melakukan apapun untuk Barack? Kau pikir kau tahu jalan pikirannya?” bukan Hans lagi yang bertanya tapi Eddie.


“Tentu saja Eddie! Aku mengerti bagaimana cara berpikir Barack. Aku sudah mempertimbangkannya selama hampir satu bulan ini termasuk memikirkan semua penyerangan yang dilakukan oleh Jeff. Dia semakin bar-bar saja, sepertinya Barack sudah melakukan sesuatu yang membuat Jeff semakin percaya diri untuk menyerangku. Biarkan saja dulu Barack bermain nanti kalau dia sudah membutuhkan kita, dia pasti akan menghubungi kita!” ujar Dante penuh keyakinan karena dia tahu seperti apa Barack.


“Apa kau tidak pernah terpikir mungkin sesuatu yang buruk terjadi padanya sehingga dia tidak menghubungi kita selama hampir sebulan? Atau mungkin Jeff mendesaknya untuk melakukan sesuatu yang buruk untuk kita?”