
“Kau sudah ada dimana?” tanya Eddie yang menghubungi Dante.
“Apa istri dan anakku sudah ada di airport?” tanya Dante.
“Sudah. Kau bisa langsung menuju ke parkiran pesawar. Istri dan anakmu sudah berada dalam pesawat.”
“Baiklah, aku akan segera kesana.”
“Dante, apa kau benar-benar membawa wanita itu bersamamu? Kau akan membawanya kerumahmu?”
“Ya benar. Tidak ada tempat yang lebih aman baginya selain rumahku.” jawab Dante.
“Baiklah kalau itu keputusanmu aku hanya mengingatkanmu untuk berhati-hati. Jangan sampai istrimu menyakiti wanita itu.”
Dante langsung memutuskan teleponnya. ‘Tidak ada orang lain yang lebih berhati-hati daripada aku. Kalian tidak tahu bagaimana aku menguji diriku sendiri bersamanya kemaren. Bahkan tidak ada satu wanitapun yang bisa menggodaku. Hanya Tatiana yang boleh.’ gumam Dante yang yakin dengan pengendalian dirinya.
“Belinda Alexandria! Bangun, kita sudah sampai.” Dante mencoba membangunkan wanita itu. ‘Issss...aku sudah menyuruhnya bangun tapi dia tidak bangun juga dan tidur pulas, apa aku bisa yakin kalau dia tidak akan melakukan kesalahan dalam mengurus anaknya?’ tanya Dante dalam hatinya.
“Belinda Alexandria!” Dante berteriak memanggil Bella. “Kau masih pulas!” geramnya. “Belinda Alexandria! Haruskah aku melakukan itu setiap kali membangunkanmu?” kesalnya. Dia sudah tidak punya pilihan karena mereka harus segera naik ke pesawat sedangkan Bella masih tidur pulas.
Dante pun memasukkan tangannya kedalam baju Bella. “Kau selalu saja begini!”
“Hemmm….aahhh…..” desah Bella.
“Bangun! Kalau tidak akan kusiram dengan air dingin.”
“Ha? Ini masih malam kenapa kau membangunkanku?” tanya Bella dengan muka bantalnya tapi dia sudah bangun dengan posisi telentang.
“Kita sudah sampai. Cepat bangun, kau lupa kalau tadi kita masih dijalan?”
‘Sial! Bagaimana aku bisa bangun kalau tangannya masih ada disana?’ gumam Bella dihatinya.
“Iya, Tuan.”
“Mulai sekarang kau harus pasang alarm dan jangan buat aku sampai harus melakukan ini untuk membangunkanmu.” ujar Dante mengangkat tangannya.
“Baik, Tuan.”
“Ayo turun. Aku akan memperkenalkanmu pada istriku.”
“Dimana istri Tuan? Ini kita didepan pesawatmu tuan?”
“Hem….kau pikir aku tidak tahu kita sudah didepan pesawat? Istri dan anakku ada didalam.” Dante memijit pelipisnya sambil menggerutu dalam hati. ‘Wanita ini kenapa jadi semakin bodoh? Saat aku pertama kali bertemu lagi dengannya, dia tidak seperti ini. Apa itu karena oabt-obatan jadi dia bisa onsentrasi bicara denganku? Dan ini aslinya? Fuh….semoga saja dia tidak gagal.”
“Tuan, kau membawaku ke luar negeri?”
“Memangnya kau melihat aku berkebangsaan mana?” Dante balik bertanya.
“Bukan orang Indonesia, Tuan. Pasti kau dari luar negeri kan? Sama seperti Tuan Jeff.” ujar Bella bersemangat.
“Cih! Bisa tidak kau berhenti membandingkan aku dengannya? Satu hal lagi, dari awal bertemu kau sudah bicara denganku menggunakan bahasa inggris, bukan?” Dante bicara sambil memicingkan matanya.
“Ya. Kenapa kau bertanya terus? Berisik!”
“He he cuma mau tanya Tuan.” ucap Bella.
“Jadi maksudmu dengan begitu kau bisa menghubungi lagi si Jeff itu?” Dante trlihat mulai marah.
“Aku tidak punya ponsel dan sudah tidak punya nomor teleponnya lagi.”
“Lalu maksudmu kalau kau punya nomornya, kau akan menghubunginya?” Dante mengerjapkan matanya lalu menatap tajam Bella.
“Hemm…..” Bella bukan langsung menjawab tapi dia malah mulai berpikir dan sikapnya itu membuat Dante marah. “Cepat turun!” bentaknya. ‘Jangan kau pikir karena aku sudah tidak punya hubungan lagi denganmu kau bisa sembarangan memikirkan pria lain dirumahku!’ geram Dante menahan amarah.
“Tuan tunggu aku.”
“Jalan dibelakangku!” Dante enggan mengurus Bella dan memilih berjalan cepat dan naik keatas pesawat.
‘Huh dasar pria sialan! Dia pasti akan pura-pura bersikap cuek didepan istrinya. Awas saja ya kalau malam-malam kau datang padaku.” Bella mendengus sambil bergumam dihatinya. “Ahh….membayangkan bekerja setahun dan aku bisa bebas. Itu sangat baik!” ujar Bella senang dan melangkah menaiki pesawat menuju ke kabin pesawat.
“Dimana istriku?” tanya Dante pada pramugari.
“Istri Tuan sedang menidurkan Alex, Tuan.” jawab sang pramugari tanpa menatap wajah Dante. Mereka sudah berada didalam jet pribadi milik Dante yang dia gunakan saat datang ke Indonesia.
“Katakan pada pilot agar berangkat sekarang.” ujar Dante lalu masuk menuju ke kamarnya. “kenapa kau ikuti aku? Duduk disana. Aku akan mengajak istriku duduk disana.” Dante bicara membalikkan badannya menatap Bella yang dengan polosnya mengekor dibelakangnya.
“I—iya baik, tuan.” Bella mengangguk lalu menjauh dari Dante.
‘Hufff….semoga semuanya berjalan dengan baik. Aku harap Tatiana tidak akan berulah macam-macam padanya. Aku juga tidak mau dia khawatir jika anakku diasuh wanita ini dan semoga saja wanita ini paham dan tidak membuat kesalahan, jika dia sibuk mengurus Alex maka pengaruh oabt-obatan itu akan berkurang.’ gumam Dante mulai cemas lalu mendekati kamar Alex.
Tok Tok Tok…..Tatiana semoga kau bisa bekerjasama dengannya!’ bisiknya.
“Dante kau sudah kembali?” senyum merekah diwajah Tatiana yang menghangatkan jiwa Dante.
“Sudah, sayang. Apa Alex sudah tidur?” Dante bicara sambil melirik kedalam kamar untuk melihat jika Alex sudah tidur atau belum.
“Dia baru tidur lima menit yang lalu. Aku juga baru bangun dan baru mau meneleponmu.” jawab Tatiana.
“Syukurlah. Aku merindukanmu Tatiana!” kecupan hangat, dalam dan penuh gairah yang menggelora diberikan Dante pada Tatiana istrinya.
‘Huh….Dante ada apa denganmu? Kau menciumku terlalu kuat. Kenapa kau menciumku seolah kau tidak pernah mendapatkan itu sebelumnya atau kau sudah menahannya lama?’ Tatiana mengeryitkan kening menatap dante dengan posisi mereka masih dipintu kamar Alex. Dia merasa curiga dan aneh dengan sikap suaminya yang tidak seperti biasanya.
“Aku sudah menahan kecupanku karena kita kita sudah lama tidak bertemu, memangnya kau mau tidak ingin aku segera menyampaikan rasa rinduku padamu?” ucap Dante yang mengeratkan pegangannya dipinggang Tatiana.
“Kau pikir aku tidak merindukanmu? Aku sangat merindukanmu dan menunggumu pulang.” Tatiana berjinjit lalu mencium suaminya. Hatinya merasakan banyak sekali sikap aneh suaminya sejak mereka tiba di Indonesia.
‘Selama di indonesia terasa sangat aneh. Setiap kali dia pulang pasti selalu memberikan aku sesuatu yang manis dan menggairahkan. Kami tidak pernah mendapatkan rasa seperti sekarang sebelumnya. Apalagi setelah kelahiran Alex sikapnya banyak berubah. Meskipun kami bersama dan saling menyatu setiap malamnya tapi kami tidak pernah mendapatkan sesuatu yang panas seperti ini. Mungkin kah iklim tropis membuat Dante merasa butuh sesuatu yang lebih? Oh…..sebaiknya kami tinggal disini lebih lama,’ gumam Tatiana dalam hati.
“Ada apa Dante? Kenapa terburu-buru ingin meninggalkan negara ini?” Tatiana sangat tahu kebiasaan suaminya itu, dia menanyakan setelah tautan bibir mereka terlepas.
“Tidak ada apa-apa, bukan hal penting aku hanya ingin kau dan Alex aman. Lebih baik kita kembali ketempat kita dan kau tinggal disana dulu. Aku akan mengurus semua pekerjaanku di Asia Tenggara setelah ini.” Dante berusaha menenangkan Tatiana.