PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 29. PERINTAH DANTE


“Tidak! Dalam mimpipun aku tidak berani!” jawab Barack.


“Kalau begitu lakukan saja semua yang tadi kuperintahkan!”


Klikk…..Dante langsung memutuskan sambungan telepon tanpa menunggu lagi.


“Issshhhh!” Barack mendengus lalu merebahkan kembali tubuhnya diatas kasur yang empuk. Dia masih bermalas-malasan tapi dia segera bangun lalu mencuci muka. Melakukan rutinitas paginya sebelum melaksanakan perintah Dante. “Dante…..Dante! Pagi-pagi kau sudah memberiku kerjaan!” ujar Barack lagi melangkah keluar dari kamarnya menuju kamar lain yang tak jauh dari ruangannya.


“Selamat pagi, Tuan!” sapa pengawal yang berdiri didepan pintu.


“Buka pintunya!” perintah Barack sambil memasukkan ponsel kedalam skau celananya.


“Baik, Tuan.” para pengawal itupun membuka pintu.


“Kau mau apalagi, ha?” tanya Julian mendelik pada Barack.


‘Dia sudah membuatku babak belur, sekarang mau apalagi dia? Belinda kau harus bertanggung jawab atas semua yang mereka lakukan padaku! Akan kubalas kau nanti! Saat aku bebas dari sini aku takkan melupakan semua ini! Suatu saat kau harus membayarnya Belinda begitupun kau Dante Sebastian! Aku tidak akan pernah melupakan semua teman-temanmu!’ ucap Julian dalam hati.


Semua dendam dan kemarahannya menumpuk dalam hati, meskipun saat ini Julian belum memiliki kemampuan apapun untuk melawan Dante tapi jauh didaar hatinya dia sudah memutuskan untuk membalasnya dan akan berperang melawannya.


“Aku tidak akan mengganggumu.” jawab Barack.


“Lalu apa yang kau inginkan lagi dariku?”


“Aku?” Barack tersenyum sini dan menggelengkan kepala. “Aku tidak ingin apa-apa tapi Dante menginginkan informasi darimu.” ujar Barack mengambil kursi dan duduk dihadapan Julian.


“Aku sudah memberikan semua informasi yang dia mau. Sudah kukatakan semua yang kuketahui. Apalagi yang diinginkannya sekarang?” tanya Julian frustasi dan detak jantungnya semakin tak teratur mengingat Dante masih menginginkan sesuatu darinya membuatnya semakin ketakutan seakan-akan malaikat maut akan segera datang mencabut nyawanya. Dia tidak mau mati sebelum membalasnya.


“Dia hanya ingin tahu siapa Sarah Azalea?”


‘Sarah Azalea? Apakah Dante sudah tahu mengenai rencanaku untuk anak itu? Aku harus hati-hati mulai sekarang tapi sebaiknya kutanyakan saja dulu apa yang mereka inginkan dari Sarah! Jangan sampai aku salah bicara dan membuat Wendy gagal mendapatkan Sarah! Bisik hati Julian yang mulai takut jika rencananya gagal. Dia sangat menginginkan Sarah untuk menjadi pengganti Bella.


“Apa setelah aku menjawab pertanyaanmu, aku akan dibebaskan?” tanya Julian yang sejak kemarin disekap dirumah Barack.


“Tidak!” jawab Barack menolak keras dan menggelengkan kepalanya. “Sebelum Dante memintaku untuk melepaskanmu maka aku tidak akan melepaskanmu! Tapi kalau kau tidak menjawab pertanyaanku siapa Sarah Azalea maka kepalamu akan melayang!” ancam Barack.


“Ah tidak….tidak…..bukan kepalamu! Tapi istrimu Madam Wendy! Aku akan memotong kepalanya dan membawakan padamu! Hanya dalam hitungan sepuluh menit, dia akan mati tanpa kepala!”


“Dia adik Belinda alias Bella!” jawab Julian cepat tak mau ambil resiko.


Barack memegang dagunya dan menggangguk-anggukkan kepala.


“Jadi Sarah itu adiknya ya?”


“Iya, itu adiknya.”


“Diam! Aku tidak bertanya padamu!” teriak Barack lalu melirik Julian. “Aku sedang bergumam sendiri!” ujarnya lagi sambil tersenyum tipis lalu dia mendekati Julian yang duduk terikat di kursi.


“Katakan dimana dia sekarang! Dimana aku bisa menemukannya.” ucap Barack menambahkan. Tak ingin ada kesalahpahaman sehingga dia memperbaiki kalimatnya agar mudah dimengerti Julian.


Julian berkata-kata dalam hatinya, karena dia tidak punya pilihan lain maka Julian memberitahu Barack semuanya tentang Sarah termasuk dimana gadis itu bersekolah.


“Bagus! Karena kau mau bekerjasama maka pagi ini kau berhak mendapatkan sarapan!” ujar Barack sebelum dia keluar dari ruangan itu.


“Maaf Tuan….Tuan Hans sudah ada dibawah menunggu anda!” ucap pengawal saat Barack baru saja menutup pintu ruangan.


“Kapan dia datang?"


“Baru saja, Tuan!” jawab pengawalnya.


“Ah….kebetulan sekali ini!” ujar Barack. Dia lalu menyimpan kertas berisi data Sarah dan informasi keberadaannya di saku celananya lalu melangkah ke bawah menemui salah satu sahabat terbaiknya.


“Hans!”


“Hemm…...terimakasih sarapannya. Kau tahu saja kalau aku belum sarapan.” ucap Hans yang ditawari sarapan pagi oleh pelayan Barack dan dia masih menyantap sarapannya.


“Tumben kau datang kesini pagi-pagi?” tanya Barack dengan senyum lalu duduk dimeja makan. Dengan sigap pelayan melayaninya menyiapkan makanan untuknya.


“Dante memintaku untuk mengurus Julian dan VIP clubnya.” jawab Hans tanpa basa basi menceritakan alasan kedatangannya dirumah Barack.


“Julian ada dilantai atas, kau uruslah dia dan segera bawa dia keluar dari rumahku! Laki-laki itu menyusahkan saja!”


“Mauku juga begitu tapi biarkan aku selesaikan sarapanku dulu.” balas Hans kembali menyuap makanannya.


Kedua pria itu mengobrol sambil menikmati sarapan pagi yang lezat. Tak butuh waktu lama bagi keduanya menyelesaikan sarapannya. “Kalau kau sudah selesai cepatlah pergi ke atas dan lihat pria itu.” Dante akan marah-marah lagi kalau kau tidak segera memberikan apa yang diinginkannya.”


“Ya sudah pasti. Aku akan keatas sekarang.” ucap Hans lalu berdiri dari kursinya bersamaan dengan Barack.


“Kau yang akan melakukannya tapi wajahmu malas-malasan begitu. Haaaahhhh…..!”


‘Tidak sadar diri kawan ini! Dia jauh lebih parah dariku. Lihat saja wajahnya masih muka bantal dan dia terlihat sangat lelah. Aku sudah tahu kalau dia sedang kesal dan aku paham darimana kekesalannya itu berasal!’ gumam Barack sambil tersenyum.


“Pfff!’ Hans mendengus. “Kau tahu saat Dante menghubungiku, aku sedang apa?”


“Olahraga pagi?” tanya Barack dengan senyum penuh makna.


“Ya...olahraga kamar!”Hans pun mengganggukkan kepala. “Yang bikin aku kesal, aku sedang tanggung! Dante memang tidak bisa lihat orang senang!” ujarnya sambil menaiki tangga menuju ruangan yang ditunjuk oleh Barack.


“Lebih baik daripada aku, Dante menyuruhku menguruh orang dari tadi malam dan sekarang aku harus mencari orang lagi.”ujar Barack bergumam pelan sambil melangkah keluar rumah. Dia membiarkan Hans menyelesaikan urusannya dan dia pun akan menyelesaikan tugas yang diberikan Dante padanya.


“Waduh jauh sekali tempatnya. Aku harus ke Bandung untuk sampai kesekolah Sarah.”ujar Barack sedikit meringis harus pergi sejauh itu.


Tapi dia tetap melaksanakan perintah Dante dan melajukan kendaraan. Pada akhir pekan jalanan menuju puncak selalu macet. Barack membutuhkan waktu tiga jam untuk sampai ketempat tujuannya.


Setelah tiba ditempat tujuannya, dia mengedarkan pandangan menatap gedung didepannya. “Jadi ini asrama Sarah?” ucapnya sambil meregangkan tubuhnya setelah keluar dari mobil.