
“Aku akan melihat semua sifat aslimu Tatiana!” celetuk Dante lagi sambil tersenyum membuka lipatan surat ditangannya. Mata Dante terpana pada kertas didepannya, dia membacanya berulang kali dengan seksama. Tidak ada satu katapun yang terlewatkan disana. Dante membaca seperti layaknya anak sekolah yang sedang ingin ujian dan sedang menghafalkan bahan untuk ujiannya.
“Beginikah dirimu yang asli Tatiana?” itulah kalimat yang dia ucapkan.
Tak ada lagi senyum diwajahnya, dia mencibir dan terlihat sangat kecewa. ‘Fuhhh! Kita perlu bicara tentang ini Tatiana!” Dante menghembuskan napas dan melihat keluar pesawat. ‘Aku sudah mengenalmu puluhan tahun! Aku sudah mempercayaimu lebih dari siapapun. Bahkan aku menyerahkan hidupku padamu dan menuruti semua keinginanmu. Aku memperlakukanmu bagai berlian! Aku sangat menghargai dirimu tapi kenapa kau tidak menghargai dirimu sendiri Tatiana? Perbuatan rendah macam apa yang sedang kau lakukan dengan Lorenzo?’
Dante kembali muram, ada rasa kesal didalam hatinya membuat Dante mengambil ponselnya. Belum sempat dia memencet nomor tujuan tapi ponselnya sudah berbunyi tapi kali ini dia tersenyum sinis menatap siapa yang menghubunginya.
“Ada apa Tatiana?”
“Dante! Aku menunggumu, jam berapa kau akan datang? Aku sudah siap tapi kau belum juga datang.”
‘Ah! Aku ada janji dengannya untuk menjemputnya.’ gumamnya sambil tersenyum sinis.
“Maaf Tatiana! Aku ada kegiatan yang tidak bisa aku tinggalkan sekarang jadi aku sudah pergi meninggalkan Italia dan tak sengaja melupakan janjiku padamu!” jawabnya.
“Apa? Dante apa kau serius? Kau pergi meninggalkan Italia tanpa memberitahuku lebuh dulu?”
Tatiana agak kaget karena tak biasanya Dante begitu, pria itu selalu memberitahunya jadwal dan aktivitasnya bahkan jika dia akan pergi ke luar negeri maka Dante akan memberitahunya lebih dulu. Tapi sekarang-----
Untuk sesaat Tatiana merasa ini aneh dan tak biasanya.
“Hem...aku buru-buru! Ada yang harus aku urus.”
“Kenapa kau tidak mengatakan padaku? Harusnya kan kalau kau bilang ingin pergi, aku tidak akan pergi kemana-mana kemarin. Aku bisa menjaga Alex! Sekarang Alex sendirian, oh tidak! Dante harusnya kau memberitahuku lebih dulu.” Tatiana bersikap agak khawatir tapi bohong.
‘Wah…..wah…...apa seperti ini biasanya kau berpura-pura padaku Tatiana? Pfff! Aku seperti orang bodoh selama ini mempercayaimu! Kau baru saja mengatakan kau peduli pada Alex tapi apa? Kau bermain dibelakangku? Kau memanfaatkan kelengahanku?’ bisiknya dalam hati saat mendengar Tatiana bicara soal Alex. Tangan Dante langsung mengepal menahan emosi, dia sangat menyayangi anaknya tapi Tatiana malah memperlakukan anaknya seperti itu.
“Alex tidak sendirian! Dia ikut denganku! Aku sengaja membawanya.” kata Dante.
“Apa? Kau membohongiku kah? Kau pergi diam-diam tak mengajakku dan mengajak Alex pergi tanpaku? Apa kau ingin memisahkan kami?” Tatiana semakin panik dan suaranya bergetar.
“Tatiana, bukankah kau sibuk? Karena itulah aku tidak mengajakmu, aku membiarkanmu dulu! Supaya kau bisa beristirahat dirumah dan bersenang-senang!”
‘Aku akan bersikap seperti biasa padamu Tatiana! Aku tidak akan mengatakan apapun padamu sebelum kita bertemu. Kau bersenang-senanglah bersama siapapun itu sambil menungguku pulang! Karena saat aku pulang nanti semuanya tidak akan mudah lagi bagimu!’ gumam Dante dihatinya yang menyimpan sesutau untuk dirinya. Dia terlihat sangat tenang saat ini, sama sekali tidak terlihat seperti ada masalah dengan Tatiana tapi dalam hatinya siapa yang tahu!
“Tapi seharusnya kau mengatakan padaku, Dante!”
“Tidak perlu merajuk dan kesal begitu padaku Tatiana! Aku harap kau tidak keebratan jika aku membawa Alex.”
“Aku sangat kecewa Dante! Ini artinya kau sudah memisahkan aku dengan anakku Dante!”
Mendengar ucapan Tatiana membuat Dante jijik dan ingin muntah. ‘Ha? Anakmu? Jelas-jelas Alex bukan anakmu! Alex anaknya Bella, dia yang mengandung dan melahirkannya! Kau tidak pantas menjadi ibu untuk anakku Tatiana!’ kesalnya mengeram dalam hati.
“Maafkan aku. Sejujurnya aku juga tidak mau memisahkanmu begini tapi ini genting sekali dan aku tidak bisa meninggalkan Alex dirumah. Dia terus saja menangis dan kau tidak ada disana. Aku tidak rela meninggalkannya dengan pelayan makanya aku membawanya bersamaku. Aku harap kau mengerti dan tidak mempermasalahkan hal ini Tatiana!”
“Lain kali jangan begitu Dante!”
“Ya aku paham. Tidak akan ada lain kali. Ini yang terakhir!”
‘Ya ini yang terakhir karena aku punya banyak sekali kejutan untukmu! Sangat menyakitkan dan sangat mengerikan jika kau tidak bisa menjawab semua alasanmu padaku!’ hati Dante bergemurauh. Sedangkan Tatiana tidak paham maksud tersembunyi dari ucapan Dante tadi.
“Kalau begitu, hati-hati dijalan ya. Aku tutup dulu teleponnya.”
‘Isss Dante!’ Tatiana sudah menutup teleponnya dan dia pun tersenyum sinis sambil mengucapkan nama Dante dan menatap layar ponselnya.
“Tatiana! Kau sudah menghubungi suamimu?” seseorang membuka pintu kamar Tatiana.
“Hppp! Dia tidak ada dinegara ini!” ucapnya santai tapi pandangan matanya tak lepas dari orang itu.
“Apa?” Lorenzo terbelalak mendengar ucapan Tatiana. Bahkan dia sedang berjalan mendekati Tatiana.
‘Berarti rencanaku gagal? Kenapa dia tidak datang?’ ada sedikit rasa resal didalam hati Lorezo.
“Iya sepertinya dia ada urusan dengan teman-temannya. Tapi aku tidak tahu apa alasanya membawa Alex bersamanya. Dante tidak memberikan anaknya pada pelayan. Apa dia trauma karena urusan Bella atau ada alasan lain?” Tatiana berusaha berpikir.
“Jadi sekarang dia tidak ada dirumah?” tanya Lorenzo lagi.
‘Tunggu! Memang dia jadi merubah keadaan karena tidak datang kesini. Tapi sepertinya ini adalah sesuatu yang bagus dan bisa menguntungkanku!’ Lorenzo kembali berpikir dan kini tersneyum.
“Ehm!” Tatiana menganggukkan kepalanya.
“Itu berarti aku bisa mengambil Bella tanpa repot-repot akrena Dante tidak ada, iyakan?”
Mendengar ucapan Lorenzo membuat Tatiana menoleh menatapnya, “Aku tidak tahu Bella masih hidup atau tidak. Tadi aku tidak bertanya pada Dante! Tidak mungkin kau bisa melihatnya langsung.”
“Aku makin bersemangat!” jawab Lorenzo yang sudah didekat Tatiana sambil mengecup bibir wanita itu. “Tapi tunggu sebentar Tatiana! Aku harus menghubungi orang itu dulu!”
“Siapa maksudmu?” Tatiana mengeryitkan dahinya.
“Tunggulah! Aku akan memberikan informasinya padamu setelah aku meneleponnya. Karena dia yang akan menampung wanita itu!”
“Oh!” mendengar ucapan Lorenzo, Tatiana pun tidak curiga dia malah menganggukkan kepala dan menyandarkan tubuhnya di tempat tidur. “Hari ini Dant tidak dirumah! Mana teman-temanmu? Suruh mereka datang lagi kemari.”
“Mereka ada diruangan sebelah!” jawab Lorenzo.
“Suruh mereka kemari, Lorenzo! Aku masih ingin main lagi seperti kemarin!” Tatiana meninggikan suaranya memerintah Lorenzo.
“Kau serius?” Lorenzo terkekeh,
“Hem. Dante tidak ada dirumah, jadi untuk apa aku buru-buru pulang?”
“Tapi kau kan harus membawaku bertemu dengan wanita itu?”
“Iya, aku pasti akan memabwamu bertemu dengan wanita itu! Kau juga ingin menelepon seseorang dulu, bukan? Jadi biarkan aku menikmati teman-temanmu dulu sambil menunggu!” kata Tatiana yang sudah mulai bergairah ingin melampiaskan semuanya.
“Baiklah kalau itu mau mu Tatiana! Tunggulah, aku akan panggil mereka.” ujar Lorenzo keluar dari kamar itu untuk memanggil teman-temannya untuk kembali bermain dengan Tatiana dan menyiksanya.
‘Kau semakin gila Tatiana! Kau semakin tegroda untuk menyakiti dirimu sendiri! Masuk dalam permainan ini, kau semakin mengerikan dengan permainanmu. Kau bahkan tidak pernah merasa puas dengan sepuluh pria! Kau sudah seperti kecanduan itu.’ gumam Lorenzo didalam hatinya sambil mengetuk kamar temannya.
“Apalagi Lorenzo?”
“Apa kalian lelah?”