PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 64. KAU TAK MAMPU


“Aku sudah paham semua tugasku nanti. Biar aku ulang semuanya ya, Tuan.” Bella pun membacakan ulang schedul yang sudah dikatakan Dante untuk anaknya.


“Bagus! Tidak boleh ada satupun yang terlewatkan karena kau akan bekerja selama satu tahun.”


“Iya, aku paham Tuan. Tapi kau akan pegang janjimu kan Tuan akan menjaga adikku Sarah?” ujar Bella penuh harap dan pria itu menganggukkan kepala.


“Tak usah kau khawatirkan masalah adikmu. Aku janji akan menjaga dan mengirimkan uang pada adikmu.”


“Baik, Tuan. Terimakasih ya.” ada senyum diwajah Bella. Kini dia bisa merasa lebih tenang dan tak cemas lagi memikirkan adiknya. Tapi----tiba-tiba dia teringat sesuatu, “Tuan, apa kau tidak ingin memandikanku?” ujarnya sambil mengerjapkan mata yang membuat Dante semakin kacau.


“Memangnya kau tidak bisa mandi sendiri?”


“Ehm….bisa sih. Maaf Tuan, aku salah sangka.” ujar Bella dengan kaget saat melihat tangan Dante sudah mengambil, sabun cair dan mulai menyabuni tubuhnya. Dia tersenyum kembali meskipun bingung karena sikap dan perkataan pria itu tidak sejalan. ‘Dia sempurna sekali, banyak pria lain yang memiliki tubuh sepertinya tapi kenapa aku benar-benar menginginkan dia? Aku merasa sangat dekat dan mengenali sentuhannya.’


“Kau masih belum puas juga? Tadi tanganmu sudah menyentuhku, menyabuniku sekarang kau menyentuhku lagi.” ujar Dante karena melihat tangan Bella yang sibuk menyentuhnya.


“Aku tidak tahu kenapa aku selalu ingin menyentuhmu. Biarkan aku menyentuhnya ya, nanti aku sudah tidak bisa lagi menyentuhmu kalau sudah berada dirumahmu.”


“Ya betul. Setelah dirumahku kau harus berusaha keras untuk melupakan aku. Aku adalah tuanmu dan bersikaplah seperti pelayan, kau hanya melayani putraku.”


“Iya, aku tahu. Biarkan aku menyentuhmu sepuasnya hari ini.” ucap Bella lagi sambil tersenyum. Dante pun hanya diam membiarkan tangan Bella membelai dan menyentuh setiap bagian tubuhnya sepuasnya dan berusaha untuk menahan gairahnya.


‘Meskipun nasibku menyedihkan tapi ini kesempatanku untuk bebas, hanya satu tahun dan aku akan bebas. Aku akan tinggal bersama adikku dan tidak perlu bekerja melayani pria hidung belang lagi. Aku akan melakukan sesuatu yang lain dengan hidupku. Bekerja sebagai pelayan bukan pekerjaan hina, itu pekerjaan terbaik daripada menjadi pemuas nafsu pria.’ gumamnya dalam hati.


Sejujurnya dia tidak ingin melakukan apa yang diperintahkan Dante tapi saat mengingat adiknya dan kebebasan yang dijanjikan oleh pria itu maka Bella pun menyetujui.


“Kenapa wajahmu sendu?”


“Tidak apa-apa Tuan. Aku senang dengan semua tawaranmu karena suatu saat nanti aku bisa hidup bebas di masyarakat.” Ada rasa nyeri dihatinya memikirkan kehidupan yang belum jelas di masa depan nantinya namun dia harus kuat dan tegar.


“Ada apa Tuan?” tanya Bella yang heran saat dia berhenti menyentuh tubuh Dante, justru pria itu menggenggam tangannnya.


“Kau harus bersiap-siap karena setelah kita selesai, aku akan mencari jalan agar kita bisa kembali kerumahku.”


“Baiklah. Tapi apakah aku harus melakukan hal lain padamu makanya kau menggenggam tanganku erat-erat, Tuan?”


“Apa kau mau mencoba memuaskanku?” tanya Dante sarkas.


“Kau mengijinkanku untuk memuaskanmu?” tanya Bella tak percaya.


“Hemmm….”


“Kau…..mau memasukkan milikmu yang panjang itu?” Bella mulai tersenyum penuh harap sambil menatap Dante.


“Buktikan kalau kau bisa membangunkannya dan memuaskanku! Aku beri kau satu kesempatan! Bukan aku yang akan memuaskanmu tapi kau yang harus memuaskanku. Itupun kalau kau benar-benar ingin merasakannya didalam.” ucap Dante tepat diwajah Bella.


“Apa yang kau lakukan untuk membuatku menginginkanmu, hemmm?” tanya Dante sambil mundur satu langkah sambil bicara dengan suara lembut, netranya memindai seluruh tubuh Bella.


“Hem…..aku tahu. Mungkin dengan cara itu aku bisa merangsangmu.” ujarnya penuh percaya diri sebelum dia mulai ragu. ‘Bisa ngak ya aku mampu melakukannya, kenapa aku jadi ragu ya? Tunggu saja sebentar, aku akan mencobanya.’


“Buktikan kalau kau bisa!” ujar Dante yang kini bersandar didinding dibelakangnya seakan menunggu apa yang akan Bella lakukan untuk memuaskannya.


“Ya tuan. Tapi aku bolehkan menyentuh tubuhmu?”


“Lakukan saja dan jangan kecewakan aku!” ujar Dante seiring dengan tawa.


‘Ah….ini baru asyik. Aku diberi kesempatan. Siapa juga yang sanggup menahan godaan kalau aku beraksi? Mereka semua bilang kalau aku yang terbaik dan menyukai servisku. Ya tentu saja sekali  mencoba pasti akan ketagihan dan mau lagi. Kau harus mencobanya dan pasti mau lagi dan lagi hi hi hi hi pasti aku akan membuatmu gila,’ gumamnya senang bukan kepalang karena diberi kesempatan. Bella pun melangkah mendekati Dante.


Bella pun memulai dengan memijatnya berputar secara perlahan-lahan, mengecup bibir Dante lalu memandang wajahnya dengan tatapan menggoda, tersenyum manis lalu dia berlutut langsung mengulum. ‘Kau rasakan ini Tuan, saat kau berada dirumahmu kau akan tetap menginginkanku. Aku yakin kau tidak akan memandang istrimu lagi, coba saja. Aku yakin seratus persen kalau aku akan membuatmu merasa bingung untuk memilih antara aku dan istrimu. Jangan salahkan aku jadi pelakor karena kau yang membawaku masuk kedalam kehidupanmu.’


“Apa cuma segitu saja kemampuanmu?” Dante yang sebenarnya sudah sangat bergairah tapi berusaha keras untuk menahan diri untuk menunjukkan pada Bella kalau dia tidak tergoda.


“Sebentar aku coba cara lain ya Tuan.” ucap Bella pelan lalu mendekat lagi pada Dante dan melakukan sesuatu yang lebih dasyat dari yang biasa dia suguhkan pada pria-pria pelanggannya tapi-----’Ada apa dengannnya? Kenapa sikapnya santai sekali? Aku sudah menggodanya bahkan suda mengulum antenanya sambil merangsang dengan tanganku, menyentuh bagian sensitifnya tapi kenapa masih tidur sih?’ Bella yang bingung pun kehabisan akal dan merasa aneh, dia tidak tahu kenapa milik pria itu tidak bangun dan bergerak sedikitpun. Seakan semua yang telah dilakukannya tidak ada yang bisa membangunkannya.


“Sudah tiga puluh menit kau mencoba membangunkannya. Apa kau sudah menyerah?”


“Masa sih bisa begini ya?” Bella meringis menggelengkan kepalanya lalu mendonggak menatap Dante.


“Ha ha ha ha ha…..kau memang tidak mampu!” ucap Dante tertawa terbahak-bahak padahal dalam hatinya dia sudah merasa sesak dan kepalanya pening butuh pelepasan.


“Tuan, atau jangan-jangan kau punya kelainan!” ujar Bella dengan polosnya.


“Apa kau bilang? Kau yang tidak mampu membangunkannya malah menuduhku seenaknya.”


“Apa kau lupa kalau aku bisa punya anak? Aku bisa punya anak dengan cara penyatuan tubuh secara langsung! Apa kau tidak bisa berpikir? Seenaknya kau menuduhku sakit! Kau yang sakit!”


“He he he iya, benar juga ya Tuan.” celetuk Bella terkekeh pelan.


“Kenapa kau melihatku seperti itu?” Dante melampiaskan amarahnya sebagai pelepasannya.


“Ehm...begini tuan. Mungkin dulu kau sehat dan sekarang bermasalah.”


“Kau…!!!!!”


“Eh eh eh….ampun ampun, jangan sentil aku lagi. Aku salah ngomong!” Bella ketakutan saat Dante menggerakkan tangannya, dia langsung menutupi dahinya dengan kedua tangannya.


“Jadi kau menyerah? Bisa lihat sendiri kan tidak bisa bangun? Supaya kau tahu ya aku tidak akan tergoda dengan wanita yang sudah pernah tidur dengan seribu laki-laki. Tidak akan pernah memasukkan milikku padamu, cih!!! Menjijikkan!”


Bella langsung terdiam mengatupkan bibirnya tak berani menyanggah setiap perkataan dan hinaan Dante. ‘Bisa saja dia yang bermasalah, aku sudah mengulumnya dan mencoba berbagai cara tapi dia tidak mau bangun juga! Apa kemampuanku yang sudah berkurang ya?