
“Ehm….Rodrigo, tadi kau lihat aku sedang tidur kan? Kapan kau datang?” Gabriella mencoba menjawab walaupun rasa takutnya menyeruak ke seluruh tubuhnya. Dia khawatir jika Barack sudah mendengar percakapannya dengan Jeff barusan.
“Aku? Kau bertanya kapan aku datang? Hah!” Barack membuang wajahnya dengan senyum sinis. “Apakah penting kau menanyakan kapan aku kembali kesini?” lalu Barack bertanya lagi sambil berjalan ke ujung tempat tidur.
Dai menghempaskan tubuhnya didekat nakas tepat disisi kiri disamping Gabriella.
“Ehm...aku kan tadi memang tidur.” ucap Gabriella tergagap. Jawaban yang sebenarnya tidak dibutuhkan oleh Barack.
“Memangnya apa peduliku?” ucap Barack sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan satu tangannya yang memegang handuk kecil.
“Ehm...aku hanya mau tahu saja kapan kau datang karena aku tidak melihatmu masuk.” Gabriella bicara dengan suara gemetar dan terbata-bata.
“Apa aku harusbilang kalau aku masuk kedalam sini? Bukankah ini adalah kamarku juga? Aku sudah memintamu memesan dua kamar terpisah tapi kau memintaku agar kita tinggal sekamar saja.” ujar Barack tanpa memandang Gabriell, dia tidak membahas tentang telepon Gabriella dengan Jeff. Dia hanya mengobrol ringan seputar pertanyaan yang diajukan oleh Gabriella saja dan ini yang membuat Gabriella merasa penasaran.
“Rodrigo...” dia memanggil Barack sambil meletakkan satu tangannya di bahu pria itu untuk mengetes. ‘Aduh dia dengar tidak ya pembicaraanku dengan Jeff tadi? Gawat kalau dia dengar. Aduh bagaimana ini. Jeff pasti akan menyalahkanku dan yang pastidia akan mencurigaku. Sia-sia saja semua pengorbananku selama ini merendahkan diriku kalau sampai aku kehilangannya.’ bisiknya didalam hati. Obsesinya pada Barack sangat besar.
“Ada apa kau memanggilku?” suara Barack terdengar setelah gabriella memanggilnya tapi entah apa yang sedang dipikirkan oleh pria itu dikepalanya tapi dia menatap Gabriell dengan pandangan yang sangat sulit untuk diartikan.
“Hmm….tidak apa-apa.” akhirnya hanya itu yang bisa diucapkan oleh wanita itu. Dia masih bingung dan masih berpikir apa yang harus dia katakan. Rasa khawatir tentang pembicaraannya dengan jeff ditelepon tadi membuatnya tidak bisa fokus.
“Jangan memanggilku kalau tidak ada apa-apa!” Barack hendak berdiri meninggalkan Gabriella.
“Barack!” tangan Gabriella langsung memegang erat-erat lengan pria itu sebelum dia sempat berdiri.
“Apa?” tanya Barack dengan nada dingin dan datar lalu satu tangannya bergeral menurunkan selimut Gabriella, “Dari tadi aku berangkat sampai aku kembali kau belum memakai pakaianmu dan hanya tidur saja?” tanya Barack lagi dengan tatapan yang sulit dimengerti maksudnya.
“Hem...iya aku hanya tidur saja! Aku lelah sekali habis permainan kita. Rasanya seluruh tubuhku remuk!” ucap Gabriella lagi membuat Barack tersenyum tipis.
“Hah? Apa kau bilang? Permainan kita? Hahahaha!” respon Barack tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Gabriella.
“Iya….permainan kita!” tambah Gabirella tak paham mengapa Barack tertawa.
“Cih!Bukankah dari tadi dan setiap kali kita bermain kau hanya bermain sendiri? Kapan aku bergerak menyentuhmu? Dan berani-beraninya kau bilang permainan kita?” Barack mencibir dan pandangan matanya bagaikan pedang tajam menyayat netra Gabriell. Kata-kata itu sangat menghina Gabriela, satu tangannya meremas seprai erat-erat menahan semua rasa kesal dan marah didalam hatinya.
“Baiklah. Itu permainanku. Aku berusaha untuk memuaskanmu. Aku lelah karena itu aku tidur dan aku tidak bangun sampai kau datang.”
“Hmm….jadi kau lelah ya?” satu tangan Barack mengusap dagunya sendiri dan tersenyum. Entah apa yang ada didalam benaknya seolah dia sedang merencanakan sesuatu. “Jadi kau tidak mau memuaskanku lagi begitu?”
“Tentu saja aku mau main denganmu lagi Rodrigo! Aku mau memuaskanmu. Kau selalu menjadi impianku dan aku selalu ingin memuaskanmu supaya kau mau memuaskanku juga.” ucap Gabriella menahan debar jantungnya. Barack bahkan tidak melakukan apapun tapi saat dia melihat Barack Gabriella merasa dirinya sudah gila. Pesona Barack membuat gabriella tak paham harus melakukan apa. Lalu dia menggerakkan tangannya dari bahu pria itu dan memegang tubuh depan Barack dan merabanya perlahan.
“Seluruh bagian tubuhmu menarik sekali, Rodrigo!” ucap wanita itu sambil menggigit bibirnya menahan gairah. ‘Sepertinya dia tidak mendengar pembicaraanku tadi, buktinya dia membiarkanku menyentuh tubuhnya dan tidak protes sama sekali. Benarkan dia tidak mendengar apapun? Oh iya tadi kan dia baru membuka pintu sedangkan kamar ini kedap suara. Tentu saja dia tidak mendengarkan.’ Gabriella berkali-kali mencoba menyakinkan dirinya sendiri kalau memang Barack tidak mendengarnya.
“Kau sudah pengen?” tanya Barack mencibir.
“Apa kita akan melakukannya sekarang?” Gabriella bertanya balik.
Barack hanya tersenyum tipis, “Kau lakukanlah jika kau mau. Kau memang harus melakukannya kapan pun aku mau!” Barack menjawab sesuak hatinya masih dengan pandangan matanya yang penuh makna dan misterius.
“Apa kau ingin kita melakukannya sekarang? Apa kau mau sekarang?” tanya Gabriella penuh semangat dengan matanya yang berbinar penuh gairah.
“Mau? Entah! Semua tergantung bagaimana kau melayaniku!” Barack kembali memicingkan matanya tanpa menarik tanagnnya yang sedang mengudek-udek. Tapi perlakuan Barack ini berbeda bukan seperti mencintai wanita entah apa yang ada didalam pikirannya.
“Tentu saja aku siap! Kau mau diapakan?” suara Gabriella bersemangat menyahut ucapan Barack. Dia menggerakkan bagian tubuh Barack dan membuka lilitan handuk ditubuhnya.
“Sssshhhhh…..kau tidak sabaran sekali ingin memegangnya?” ucap Barack tanpa ada senyum diwajahnya tapi dia mengangkat kembali tangannya lalu menempelkan tangan itu ke bibir Gabriella.
“Ah, baiklah akan aku bersihkan Rodrigo!” ucapnya langsung membuka mulutnya dan memasukkan jari Barack kedalam mulutnya membersihkan jari itu.
“Apa kau pikir ini sudah bersih?” Barack mengacungkan jarinya kewajah Gabriella dengan ekspresi yang kesal dan jijik melihat wanita itu.
“Kalau kau merasa belum bersih aku akan membersihkannya lagi.” jawab Gabriella.
“Jangan banyak omong! Lakukan apa yang seharusnya kau lakukan sebagai budakku!”
“Aaahkkkk! Rodrigo sakit sekali! Kau baru saja menjambak rambutku! Aku bukan budakmu Rodrigo! Kau tahu aku ini siapa kan?” Gabriella tak terima dia dijadikan budak.
“Kalau kau tidak mau menjadi budakku maka jangan pernah bermimpi untuk mendapatkan kepuasan dariku dan aku tidak butuh kekasih! Aku hanya butuh budak **** yang bisa selalu aku mainkan dan hina sesuka hatiku!” ucapan Barack ini bukanlah sikap Barack yang dulu. Dia suka main wanita karena dia sering bolak balik ke kelab malam tapi memiliki budak sepertinya bukan dia yang sebenarnya. Tapi entah apa yang dipikirkannya sehingga mengatakan itu.
“Baiklah. Aku akan lakukan apapun asalkan aku tidak kau buang, Rodrigo!” Gabriella kembali bicara tapi otaknya sudah kacau karena Barack akan meninggalkannya. Wanita itu sudah sangat terobsesi dan bucin berat pada Barack selama bertahun-tahun. Dia sudah mencari Barack kemanapun dan saat menemukannya tentu saja dia enggan untuk melepaskannya. Bahkan apapun akan dilakukan Gabriella asal Barack tetap disisinya meskipun itu berarti dia membuat perjanjian dengan Jeff kakaknya.
Wanita itu sudah lupa dengan kepentingan Jeff karena bersama Barack adalah perjanjian simbiosis mutualisme selama Barack tak mengingat siapa dirinya artinya Gabriella bisa memilikinya.
Hei budak! Jangan kau buat aku bosan,” Barack menggerakkan jari telunjuknya dari pelipis mata Gabriella sebelah kiri terus kebawah hingga tepat didagunya lalu mencengkeram kuat.
“Ahhhkkk!” Gabriella terhenyak merasa kaget dan sakit.
“Kau tahu apa artinya kalau aku bosan? Aku akan mencari wanita lain dan kau pikir tidak ada wanita yang menolakku?”
“Plisss Rodrigo! Jangan lakukan itu! Jangan! Aku mohon padamu! Ehm…..aku akan melakukan apapun untukmu!” akhirnya dia mengatakan kalimat itu.