
“Iya Dante!” Tatiana mengangguk. “Ya benar sekali. Itulah penyebabnya aku melakukan semua ini, aku ingin balas dendam padamu. Kau bersama dengan wanita itu dan rasanya hatiku sakit sekali! Hanya saja aku tidak bisa menyakitimu karena aku sangat mencintaimu. Tapi setiap kali aku bersama dengan laki-laki lain aku bisa melupakannya dan aku merasa sedikit tenang. Hatiku lega dan tak lagi mempermasalahkan wanita yang jadi ibu kandung Alex. Setelah aku melakukan itu aku kembali pada Alex dan aku tidak lagi membencinya. Aku sengaja melakukan itu untuk menekan semua perasaan dihatiku karena cemburu!”
“Cih! Pandai sekali kau membuat alibi Tatiana. Semua alasanmu bertolak belakang dengan yang kau ucapkan dirumah sebelum kau pergi bersama ayahmu.” Dante tersenyum kecut. Dia memang merasa kasihan pada wanita itu tapi logikanya masih berjalan walaupun dia memilah-milah setiap kata-kata yang diucapkan wanita itu.
“Tapi memang benar Dante! Setelah aku melampiaskan semua rasa didalam hatiku dan mendapatkan keinginanku, saat itu juga aku bisa berpikir logis dan aku tidak merasa cemburu lagi pada Alex.”
“Terserah kau mau bilang apa Tatiana! Tapi kenapa kau harus mencelakai Omero? Ayahmu sendiri?” tanya Dante sambil berjalan maju beberapa langkah mendekat pada Tatiana.
“Aku tidak mencelakainya Dante! Aku memang bertengkar dengannya dan aku hendak menghubungimu karena aku tidak mau dia membawaku pergi. Aku ingin tetap berada disisimu selamanya karena aku mencintaimu. Meskipun aku bersama laki-laki lain tapi aku tetap mencintaimu. Aku tidak punya perasaan saat melakukannya bersama pria lain. Mereka itu semua hanya pelampiasan karena kelainanku.” Tatiana memejamkan matanya sebentar.
“Tapi ayahku mencoba merebut handphoneku lalu ada mobil yang tiba-tiba datang dari arah depan dan ayah tidak bisa mengendalikan mobilnya lalu oleng. Dia berusaha melindungiku saat kami hampir tabrakan, ayah menarikku dan menjadikan dirinya tameng karena itu dia terluka berat. Sedangkan aku jatuh keatas tubuhnya sehingga aku tidak terluka sama sekali.”
“Aku tidak percaya padamu!” ucap Dante.
“Kalau kau tidak percaya kenapa kau bertanya padaku? Apa gunanya bertanya?”
Dante tidak bisa menjawab, dia hanya berdiri diam sejenak. ‘Benar apa yang dikatakannya, kenapa aku harus bertanya padanya kalau aku tidak percaya? Ini hanya buang-buang waktu saja lagipula dia tampak tidak berbohong. Benarkah dia tidak sedang berbohong?’ Dante masih ragu karena Tatiana sudah banyak menipunya.
‘Tapi Omero sangat mencintai putrinya dan Tatiana ini anaknya tentu saja kalau kecelakaan dia pasti akan berusaha melindungi anaknya. Seperti juga aku akan melakukan hal yang sama pada Alex. Jado mungkinkah Tatiana mengatakan yang sebenarnya? Kecelakaan ini murni kecelakaan biasa dan Omero terluka karena Omero melindungi anaknya?’ Dante mencoba berpikir dengan tenang.
“Kau mau pergi kemana sekarang?” tanya Dante akhirnya agak melunak. Dia sedikit mulai percaya pada perkataan Tatiana yang menurutnya masuk akal. Memang wanita itu sudah menipunya tapi mereka sudah bersama selama bertahun-tahun, Dante merasa sudah mengerti setiap ekspresi wajah Tatiana sehingga dia pun mencoba untuk percaya meskipun dia sendiri tak tahu isi hati Tatiana.
“Aku ingin pulang Dante. Tapi kau jangan khawatir aku tidak pulang kerumahmu. Kau sudah menceraikanku dan mengusirku. Aku tidak akan kembali kerumahmu sebelum kau yang memintaku untuk kembali.” ujar Tatiana mencoba memainkan kata-katanya.
“Itu tidak akan pernah terjadi! Aku akan segera mengurus perceraian kita! Aku akan katakan pada Henry untuk mengirimnya kerumah ayahmu.”
“Apa karena wanita belia itu kau mau menceraikan aku?” tanya Tatiana saat dia melihat Dante sudah membalikkan badan hendak pergi.
“Sudahlah tidak perlu dibahas lagi. Aku dan kau sudah selesai! Kau bisa intropeksi diri dan perbaiki dirimu sendiri. Atau kau bisa memuaskan dirimu bermain-main dengan semua pria diluar sana seperti yang kau katakan karena penyakitmu!” tukas Dante ketus.
“Apa kau benar-benar tidak bisa memaafkanku lagi Dante? Kau tidak mau mendukungku untuk melakukan pengobatan? Kau lebih memilih melupakan aku begitu saja? Setelah sekian lama kebersamaan kita dan perasaan yang ada diantara kita selama ini?” perlahan suara Tatiana membuat Dante mengepalkan tangannya. Suara itu mendayu-dayu lemah dengan airmata yang mengalir untuk membumbui aktingnya. Dante merasa kasihan juga tapi---
“Tidak perlu!” ucap Dante tetap tegas pada keputusannya. Dia tidak akan pernah mengubah keputusannya untuk menceraikan wanita itu. ‘Aku kelewatan atau tidak ya berkata begini? Dia memang benar-benar sakit. Wajar juga kalau dia kesal pada Alex karena anakku bukan darah dagingnya dan apa yang dikatakannya itu masuk akal. Tapi kenapa dia melakukannya dibelakangku? Kenapa harus dengan Lorenzo dan memfitnah Bella? Kenapa harus melakukannya dirumahku? Ini tidak bisa dibiarkan, aku tidak rela! Aku tidak terima!’ Dante berusaha menguatkan dirinya sendiri agar tidak berbalik dan memeluk Tatiana.
Memang semua perasaan cintanya pada Tatiana sudah hilang lenyap tapi saat ini Dante sangat lelah. Dia belum sempat tidur setelah menyelesaikan pekerjaannya mencari Anthony dan dia baru kembali dari Indonesia sehingga emosinya tidak stabil apalagi mendengar berita kalau Omero kondisinya parah.
“Dante, jadi kau memang lebih memilih wanita itu sebagai penggantiku?” tanya Tatiana lagi.
“Apa kau pikir dia jauh lebih baik daripada aku?”
“Setidaknya dia memperlakukan Alex sangat baik dan dia tidak mengambil mainannya dan menyembunnyikannya. Dia juga tidak memukul Alex dan tidak membuat Alex tidur dalam kamar yang gelap karena lampunya dimatikan!” Dante tersenyum sinis lalu membalikkan badannya menatap Tatiana. Dia berpikir sejenak memikirkan sesuatu yang menggelitik pikirannya.
“Katakan padaku!”
“Kau mau aku mengatakan apa Dante? Aku tidak paham.”
“Aku ingin menanyakan sesuatu padamu. Tapi aku mau kau menjawabnya dengan jujur.” Dante kembali melangkah maju tanpa melepaskan tatapannya pada wanita didepannya.
“Kau mau aku jujur padamu? Soal apalagi Dante? Kau tidak percaya padaku dan kenapa kau ingin aku menanyakan sesuatu padaku?”
“Karena jawabanmu akan menentukan sikapku padamu nanti, Tatiana!”
“Apa maksudmu Dante? Kau membuatku bingung.” Tatiana mengeryitkan dahinya kebingungan.
“Kau cukup menjawabku dan tak perlu banyak bertanya Tatiana! Apa kau paham?”
“Baiklah. Tanyakan saja apa yang mau kau tanyakan padaku.” Tatiana mulai menantangnya.
‘Apa sebenarnya yang mau ditanyakan Dante padaku? Apakah pertanyaan ini akan memberiku kesempatan untuk kembali bersama dengannya lagi?’ gumamnya didalam hatinya.
Dia merasa tidak tenang dan jantungnya berdetak kencang sambil mencoba memikirkan apa yang akan dia jawab untuk pertanyaan suaminya itu yang masih menatapnya dan tersenyum sinis padanya. Saat ini mereka belum resmi bercerai jadi status mereka masih suami istri.
“Apa kau yang menyuruh Lorenzo untuk menyentuh Bella? Kau sengaja melakukan itu agar aku menyiksa Bella, iyakan? Apakah kau yang merencanakan itu dan melakukannya Tatiana?”
“Ehem….kenapa kau malah bertanya begitu Dante?” dia mulai merasa resah. ‘Oh….bagaimana ini menjawabnya? Ini pertanyaan yang sangat sulit untuk dijawab. Aku tidak mau Dante curiga padaku dan aku juga tidak mau kehilangannya. Aduhhh….kenapa jadi rumit begini?’ Tatiana mengeluh dalam hatinya dan mencoba menenangkan dirinya.
“Jawab Tatiana! Tidak perlu banyak berpikir, percuma saja kau berbohong padaku!” ujar Dante.
“Kau tidak mau mendengarkanku dan kau tidak akan percaya padaku. Apapun yang akan kukatakan pasti kau tidak akan percaya kecuali kalau aku mengatakan hal yang buruk-buruk seperti kalau aku mengatakan iya, kalau aku mengatakan memang aku yang menyuruh Lorenzo melakukan itu! Aku menyuruhnya mendekati Bella. Kenapa aku melakukan itu? Karena aku mau Bella keluar dari rumahku! Aku ingin kau meninggalkannya dan tak lagi mempedulikannya! Aku melihat semuanya Dante!”
“Aku melihat bagaimana sikapmu padanya yang berbeda. Aku melihat bagaimana kau bermesraan dengannya dikamar Bella! Aku tidak suka! Aku tidak mau ada wanita lain didekatmu! Aku memang egois Dante dan aku juga mempunyai penyakit dimana aku menginginkan semua laki-laki mendekatiku dan menyiksaku! Tapi aku tidak pernah rela kalau ada wanita lain yang mendekatimu! Kau obsesiku Dante! Kalau aku bicara begini kau pasti percaya bukan?”