
Flashback on
“Aku mau permisi dulu ayah. Aku harus membawa Bella pergi.”
“Kemana kau mau membawanya Anthony? Bukankah kau tidka pernah membawanya kemanapun dan kau bilang dia butuh istirahat? Apa yang sebenarnya kau rencanakan? Bukankah kau sudah bersama Irene dengan anak presiden? Kenapa kau masih ingin berjalan-jalan dengannya juga?” sindiran yang diberikan Robert membuat Anthony paham maksud ucapan itu.
“Bukan begitu ayah, biar aku jelaskan dulu. Sekarang kau duduklah dulu diruang tamu sebentar. Aku ingin bicara dengan ayahku.” Anthony menatap Bella. Wanita itupun mengerti dan menganggukkan kepala tanpa bicara dan membiarkan Anthony bicara dengan ayahnya.
“Dia sangat menurut padamu Anthony?” tanya sang jenderal kagum dan merasa aneh.
“Begitulah ayah. Memang dia sekarang sedikit patuh padaku karena aku tahu bagaimana mengendalikannya. Dia akan melakukan apa yang aku perintahkan.” Anthony menambahkan lagi membuat Jenderal Robert memicingkan matanya.
“Bagus juga kerjamu! Apa dia sudah bisa kita gunakan?” suara Robert mulai merendah dan mulai tertarik. Ketegangan yang tadi sangat terasa kini mulai memudar.
“Karena itu aku harus membawanya ke tempat Anna sekarang ayah. Aku ingin dia melihat dunia dan memperkenalkan lagi supaya mebghilangkan traumanya. Dengan begitu kita bisa menggunakannya.” Anthony mencoba menyakinkan Robert padahal didalam hatinya dia bingung harus bicara apa lagi kalau nanti pulang dia tidak membawa Bella. Tapi dia tidak terlalu memikirkan itu yang penting dia bisa membawa Bella keluar dari tempat itu dan dia bisa mendapatkan Jeff dengan bergerilya dibelakanh Jenderal Robert.
“Hmmm…..jadi ini terapi yang direncanakan oleh Anna?”
Anthony mengangguk, ”Membawanya ke masyarakat biasa dan aku sengaja membawanya keluar dimalam hari supaya tidak banyak orang yang membuatnya takut dan aku bisa mengenalkan beberapa tempat padanya agar dia bisa melihat dunia luar. Aku tidak melakukan apapun padanya karena aku dia kembali normal secepatnya ayah. Sudah satu bulan begini terus dan aku tidak mau mengganggu pekerjaanku karena sebentar lagi cutiku akan selesai,”
“Hmmm…..baiklah aku mengerti tentang tekanan yang ada dalam dirimu. Kau ingin cepat bekerja dan tidak terlalu banyak mengasuhnya bukan?” Robert terlihat senang dan dia mulai terbuai oleh semua ucapan Anthony. Sejak kecil Anthony memang anak yang patuh walaupun tadi sempat kesal dengan sikap Anthony yang memanfaatkan Irene demi kepentingan pribadinya tapi sekarang Robert terlihat sangat setuju dengan rencana Anthony.
“Begitulah ayah. Kau mengizinkan aku untuk keluar?”
Robert berpikir sejenak dan dia butuh berapa saat untuk memutuskan. “Aku akan mengirimkan pasukan untuk melindungimu, Anthony.”
“Tidka perlu ayah.” Anthony langsung menggelengkan kepala menolak keras keinginan Robert.
“Demi keamananmu! Bagaimaa kalau Dante mengikutimu?”
“Tidak perlu ayah. Aku harus membuat semuanya tampak normal. Dengan adanya pasukanmu ini akan mengganggu dan membuat aku tidak bisa banyak menggali informasi tentang dirinya, kau harus percaya padaku semua ini sudah kubicarakan dengan Anna dan dia pun akan iktu denganku.” Anthony memberikan penjelasan yang masuk akal pada ayahnya.
“Baiklah kalau memang benar semua itu yang terbaik Anthony.” Robert menganggukkan kepalanya menyetujui rencana Anthony meskipun setelah merenung cukuplama.
“Baiklah ayah! Aku pergi dulu dan aku tidak akan lama, kami hanya berusaha untuk membatnya kembali aktif dan bisa merespon seperti biasanya.”
“Pergilah. Jika kau membutuhkan bantuan,kau tahu dimana harus menghubungiku. Aku tidak akan mengirim seseorang untuk mengikutimu tapi aku minta kau untuk mengirimkan share lokasimu.”
Flashback off
‘Fuuuhh! Ini ribet kalau dia memintaku untuk menyalakan share location dan dia bisa tahu kemana aku pergi. Tempat paling tidak dihiraukan dimalam hari dikota ini yang aku kunjungi dan ditempat itu tidak banyak orang yang berlalu lalang. Dia pasti akan curiga kalau tahu aku pergi kesana.’ celetuk Anthony lagi sambil menunggu seseorang menghubunginya.
Dreeetttt dreeetttt dreeetttt
“Kau kemana saja? Aku sudah menunggumu dari tadi.” tanya Anthony begitu menjawab panggilan.
“Ini aku sedang menuju ketempatmu Anthony.” jawab Vince yang menelepon Anthony.
“Kau dimana?” tanya Anthony mencoba mengedarkan pandangannya.
“Aku dibelakangmu.”
“Cepat jalan kesini.”
‘Fuuh akhrinya!” Anthony merasa lega apalagi saat Vince turun dari mobilnya dan segera berlari menuju ketempat Anthony berada. “Kau yakin tidak ada yang mengikutimu Vince?”
“Tidak! Aku sudah mengeceknya. Semua aman.”
“Baguslah. Ini kau pegang dan bawa handphoneku. Kau tahu passwordnya kan? Pergilah ke tempat lain lalu berjalan berkeliling sampai aku menghubungimu.” ucap Anthony menjalankan rencananya.
“Oke!” Vince mengangguk karena saat Anthony sudah menghubungi Vince untuk membantunya.
“Kalau begitu pergilah sekarang, dia pasti akan memperhatikan kenapa aku berhenti terlalu lama disini.” ucap Anthony lagi.
“Oke, hati-hati!” sambil melambaikan tangan Vince pun pergi.
‘Ah syukurlah dia bisa membantuku.’ bisik Anthony yang saat ini memegang handphone Vince sedangkan Vince memegang handphone Anthony. Mereka sengaja bertukar karena handphone Anthony harus menunjukkan lokasi terbarunya.
“Anthony! Kau tidak berniat jahat padaku kan?” Bella menatap Anthony sambil mengeryitkan dahi.
“Kenapa kau bicara begitu padaku Bella?”
“Kau tadi bicara dengan temanmu. Apa maksudnya Anthony? Kau ingin mengajak seseorang bertemu dengan Dante?” tanya Bella lagi dengan nada tak senang.
“Sudahlah, tidak perlu kau pikirkan Bella. Yang pasti aku hanya ingin melindungimu dan kau tidak perlu bicara tentang ini pada Dante. Oke?”
“Kau tidak akan mencelakai Dante kan Anthony?”
“Tidak! Aku tidak akan mencelakai Dante, aku tidak akan melakukan hal buruk padanya. Kau tenang saja ya Bella. Tidak perlu memikirkan yang macam-macam.”
“Baiklah. Aku mengerti Anthony.” Bella pun mengangguk paham.
“Terimakasih sudah membantuku Bella.” ucap Anthony lagi.
“Asal kau tidak menyakiti Dante.”
“Tidak! Aku tidak akan melakukan itu. Kalau aku menyakiti Dante pasti kau akan bersedih bukan?”
“Hmmm…..anakku tidak punya ayah! Aku tidak mau Anthony.” ucap Bella sambil mengangguk.
“Tenanglah Bella! Lihatlah kita sudah mau sampai, itu tempat aku janji bertemu dengan Dante.” ujar Anthony menunjuk tempat dimana mereka sudah hampir mendekat.
“Anthony! Aku akan bertemu dengan Dante?” Bella sangat senang dan matanya berbinar.
“Iya Bella. Kau akan bertemu dengannya dan kau akan kembali bersamanya.”
“Terimakasih Anthony!” jawab Bella senang ketika mereka sudah masuk ke tanah lapang itu. Tempat itu berada di pinggiran jurang didekat lautan dan memang tempat yang sangat terpencil dan gelap. Jarang orang masuk kedalam sana di malam hari.
‘Begitu senangnya kau ingin bertemu dengan Dante! Lihat saja wajahmu sampai berbinar-binar begitu.’ komentar dalam hati Anthony ketika dia melirik Bella.
“Lihatlah! Itu mobil suamimu bukan? Hanya ada satu mobil disini dan sekarang kita mendekat kesana.” ujar Anthony menjelaskan pada Bella.
“Dante! Anthony benarkah aku akan bertemu Dante?”
“Hmmm! Kau akan bertemu dengannya. Dia masih ada didalam mobil itu. Apa kau senang sekarang?” ucap Anthony sambil melirik Bella. Mobil mereka sudah mendekat pada mobil yang diparkir disana.