
“Tapi kau yang bilang mau menggendongku!” bujuk Bella.
“Tapi sepertinya bagian bawahmu itu basah, membuat punggungku jadi tidak enak!”
“Ah itu! Ya basahlah! Kau menggodaku tadi dan rasanya detak jantungku tidak pernah berhenti. Aku benar-benar ingin itu….” suara lembut dan manjanya membuat Dante kelimpungan.
Tanpa malu-malu Bella bicara membuat Dante berusaha mati-matian menahan senyumnya, dia tidak mau sampai Bella melihat kesalah satu kaca yang mereka lalui dan menangkapnya sedang tersenyum.
“Apa lagi yang kau mau?” tanya Dante sambil berjalan menuju ke kamar tidur.
“Kenapa rasanya digendong di punggung seperti ini hangat ya?” ucap Bella jujur.
“Kau belum pernah digendong seperti ini?”
“Aku tidak ingat! Tapi digendong sepertiini tanpa memakai pakaian dan aku tidak bisa melihat apapun rasanya menyenangkan! Rasanya hangat. Aku suka sekali apalagi kalau kau menurunkan tanganku kesini!” Bella melepaskan satu tangannya dari leher Dante lalu menggerakkan dari bawah ketiak pria itu.
“Lepas kan tanganmu dari sana atau kau ingin aku jatuh?”
“Apa kau yakin mau menjatuhkan aku dan anak yang ada dalam kandunganku?” tanya Bella yang langsung membuat Dante terdiam. Dia tak mampu lagi berkata-kata karena dia sangat menyayangi anaknnya dan tak mau sesuatu yang buruk terjadi pada bayinya.
‘Pintar sekali dia sekarang! Dia memanfaatkan anakku yang ada dalam kandungannya. Dia pikir dengan begitu maka aku akan melakukan kasih sayang padanya? Hah! Apa iya aku akan melakukan itu? Kau saja sudah tahu kalau aku memang ingin melakukan itu!’ gumam Dante dihatainya sambil membuka pintu kamar mandi dikamar tidurnya.
“Baiklah, aku akan mandi dulu tapi setelah mandi boleh ya mendapatkan itu!” bujuk Bella.
“Mendapatkan apa?” Dante menurunkan Bella diatas wastafel.
“Aku mau mendapatkan itu!” Bella bicara sambil menunjukk dengan matanya kebagian bawah Dante.
“Terus saja kau merayuku begini?”
“Awww….sakit….sakit Dante jangan dipelintir!” ucap Bella sambil memegang satu puncaknya yang tadi dipelintir oleh pria itu.
“Itu hukumanmu karena kau tidak bisa menjaga dirimu. Pikiranmu kemana-mana!”
“Maafkan aku Dante!” Bella mencembungkan pipinya.
“Turunlah.” ucap Dante menarik Bella turun kebawah.
“Aku mandi dengan shower?”
“Diam!” Dante mengegrakkan tangan Bella memegang tiang yang ada didekat dinding.
“Tetap diposisimu begini ya.” ucap Dante dengan posisi Bella agak menungging karena bersandar.
“Lalu bagaimana aku mandi dan sabunan kalau begini?” tanya Bella lagi.
“Biar itu jadi urusanku. Kau diam saja disitu.” Dante menyalakan shower.
Dia senang sekali dengan perlakuan yang diberikan oleh Dante sampai senyum sumringah tak lepas dari wajah cantiknya. “Dante, kapan kita mandi berdua lagi?”
“Menurutmu?” Dante sangat tenang sekali dan hanya menjawab sesuai apa yang ditanyakan oleh wanita itu. Perlahan air membasahi tubuh Bella dan sebagian tubuh Dante.
Dante mengambil sabun dan mulai menyabuni tubuh Bella. “Aduh...uuhhhh….tubuhku jadi begini! Aku bisa jadi gila kalau tidak diberi, tangannya itu menyabuni atau apa sih?” bisik Bella lagi sampai merasakan tangan Dante yang menyabuni sekaligus memijatnya sehingga membuat Bella menggigit bibirnya sendiri.
“Kenapa kau diam saja?” tanya Dante karena melihat Bella tak lagi bicara seperti tadi.
“Menurutmu kenapa aku diam?”
“Tadi kan aku yang tanya padamu!” Dante enggan untuk menjawab dan masih menyabuni Bella.
‘Cih apa dia mau merayuku? Hah lucu! Lama-lama aku terbiasa juga dengan sikapnya ini. Sikap dan tingkah lakunya seperti anak kecil tapi yang diminta permainan untuk wanita dewasa.’
‘Belinda Alexandra! Sisi lain dirimu yang seperti ini benar-benar menggangguku!’ gumam Dante didalam hatinya.
“Ehhhh….tanganmu Dante! Tanganmu bergerak-gerak ditubuhku ini tidak bisa membuatku berpikir jernih! Enak sekali, bagaimana aku tidak suka? Aku senang kau memperhatikan tubuhku seperti ini dan memanjakannya dan menyentuhnya seperti ini.”
Ucapan Bella yang membuat Dante langsung terdiam dan menatap wanita itu. Didepan mereka adalah dinding kaca sehingga keduanya bisa saling tatap disana.
“Kenapa kau tidak tersenyum dan tidak ada reaksi ketika aku bicara begitu? Apa semua ucapanku itu salah ya?” tanya Bella.
“Jangan balikkan badanmu! Tetap dalam posisi itu, tanganmu baru diperban jangan membuat aku kerja dua kali.” ujar Dante agak marah dan tidak merespon apa yang ditanyakan wanita itu padanya.
“Kenapa kau memarahiku? Aku kan sudah mengucapkan kata-kata manis dan mencoba memujimu Dante? Apa tidak ada sedikitpun pujian atau kata-kata manis untukku?” Bella mencibir dan Dante bisa melihatnya di cermin didepannya. Tetapi dia hanya diam saja tak merespon perkataan wanita itu.
“Dante….aku pikir kau sudah berubah menjadi pria yang lembut dan manis. Tapi ternyata tetap sama saja. Kau masih sama, sama-sama galak!”
“Teruslah kau bicara! Aku akan mengurungmu dikamar dan tak mengijinkanmu melihat Alex.”
“Eh…..kau jahat sekali Dante! Mengancamku dengan memakai anakku.”
“Alex anakku! Jangan menjawabku terus. Diamlah!”
“Alex juga anakku! Aku yang mengandung dan melahirkannya. Sudahlah aku sudah tidak mau bicara lagi denganmu kalau begitu.”
‘Pfffff dia ini sedikit saja tidak menggoda tidak bisa ya? Aku sudah katakan padanya jangan menggodaku. Aku ingin mengejarnya tapi dia terus saja mengejarku.’ Dante memutar bola matanya sendiri.
‘Tapi dia lucu juga. Sedikit menyentuh dan menggodanya dia langsung refleks terangsang. Cara bicaranya juga membuat dunia ini jadi lebih menarik.’ ada senyum diwajah Dante tapi sayangnya Bella tidak melihatnya karena posisi kepala Dante saat ini berada di belakang punggung Bella dan tangannya sedang membersihkan bagian depan tubuh wanita itu.
Dante memeluknya agar tidak terjatuh, dan wajahnya masih tersenyum karena dia merasa bahagia bersama dengan Bella. ‘Aku bahkan tidak pernah tersenyum seperti ini pada Tatiana! Sebenarnya apa rasa yang kumiliki pada Tatiana? Kenapa aku bisa memiliki rasa seperti ini pada Belinda?’ Dante tak mengerti tapi dia sungguh sangat bahagia dengan semua sikap Bella yang menggodanya dan sikap wanita itu yang tidak mudah menyerah.
“Sudah selesai. Keringkan tubuhmu.” ucap Dante setelah mematikan keran.
“Jadi aku sudah selesai mandinya Dante?” tanya Bella malas-malasan. ‘Aduh! Padahal aku masih ingin mandi lebih lama lagi dengannya. Disentuh, dipegang-pegang….beda dengan mandi biasa yang aku lakukan! Tapi sepertinya tadi mandi itu sebentar saja. Kenapa tidak lebih lama lagi mandinya? Aihhhh kenapa sulit sekali menggodanya?