PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 468. TAK INGIN MELEPASMU


‘Aku lebih suka melihatmu tersenyum Anthony! Rasanya membuatku lebih lega. Aku senang karena aku bisa menjadi orang yang selalu menolongmu! Walaupun selama ini kau tidak pernah melihatku dan tidak akan pernah mencintaiku, tapi rasanya ada satu tempat didalam hatiku untukmu! Terima kasih karena kau selalu menjadikan aku sahabatmu dan tempatmu mengeluh saat kau membutuhkan.’


Anna menatap Anthony, perasaannya saat ini tak bisa diungkapkan. Mereka memang hanya menyimpan rasa dalam hatinya sendiri. Tapi saat ini ketika Anthony memegang tangannya untuk memasang pengikat membuat desiran didalam hatinya yang tidak dimengerti oleh Anna.


“Sudah!” ujar Anna seraya mantap layar sambil memegang kedua tangannya.


“Bolehkah aku memelukmu sebentar saja Anna?” tanya Anthony denga suara berat.


“Kau benar-benar panik, Anthony? Kau ini apa-apaan sih? Kenapa jadi melow begini?” Anna berusaha untuk bercanda tapi didalam hatinya sangat berat.


“Akan kupastikan kau selamat! Aku akan selalu melindungimu! Aku tidak akan melepaskanmu! Aku tahu bahayanya Jeff! Aku akan menjagamu.”


‘Eehh….apa yang dilkaukan laki-laki ini? Aduh Anthony! Kenapa dia malah memelukku seperti ini? Dia bisa membuat pikiranku jadi kacau kalau dia memelukku dengan erat dan mengatakan kalimat dengan lembut begitu. Dia tidak bersikap seperti sahabatku Anthony! Oh ya Tuhan!’ Anna tak mampu berkata-kata lagi dan pemandangan ini membuat seseorang didepan mereka paham.


Bahwa keduanya memiliki perasaan walaupun dalam hatinya dia meringis. ‘Dari dulu aku sudah melihat kalian saling mencintai! Tapi kenapa Anthony tidak paham kalau Anna mencintainya? Dan kenapa Anna juga tidak mau mengatakan perasaannya? Manusia aneh mereka ini.’ Vince yang melihat dari kaca spion pun berdecak.


“Anthony! Kurasa kau tidak perlu memelukku. Saat ini aku tidak perlu kau mengkhawatirkanku terlalu berlebihan. Tenangkanlah dirimu.” ujar Anna.


“Mauku juga begitu, Anna.” Anthony melepaskan dekapannya sambil bicara dan dalam posisi yang sangat dekat, kedua mata mereka saling bertautang.


“Anthony! Kenapa kau menatapku begitu?” Anna berusaha melepaskan tangannya. “Anthony, lepaskan tanganku! Kau ini apa-apaan sih?” tanya Anna yang merasa heran dengan sikap Anthony. Hatinya sudh mulai memanas dan dia ingin sekali menarik tangannya. Tapi----


“Anthony, kenapa kau memegang tanganku kencang sekali?”


‘Aduh….dia ini kenapa sih? Kalau dia begini dia bisa melemahkanku. Aku tidak mau jadi wanita yang lemah! Tidak bisakah dia bersikap seperti sahabatku saja? Kau pasti merasa bersalah sekali iyakan Anthony? Aku yakin kau tidak memiliki perasaan apapun padaku, kau hanya bersikap begini karena rasa tidak enak bukan? Aku saja yang besar kepala karena sikapnya.’


“Fuuuhhhh!” bukannya menjawab pertanyaan Anna, justru Anthony menghembuskan napas panjang tanpa bisa mengatakan apapun. Dan dia seolah enggan melepaskan tangan wanita itu.


“Ayolah, kita sudah sampai disini. Jangan sampai misi ini gagal! Kau yang bilang padaku ini penting bukan? Lalu kenapa sekarang kau malah bersikap seperti ini?” Anna mencoba mengajak temannya untuk berpikir logis dan keluar dari pikirannya.


“Aku sangat mengkhawatirkanmu Anna!” jawab Anthony.


Dan jawaban Anthony itu mengganggu kewarasannya namun Anna bukanlah Anna jika dia tidak bisa menutupi perasaannya itu.


“Aku yang menawarkan diriku untuk melakukan ini. Kau tidak perlu khawatir padaku. Semuanya akan baik-baik saja! Tidak ada orang yang bisa menggangguku, kau tahu sendiri bukan? Seburuk-buruknya lelaki disekolah kita yang berusaha mengangguku, berakhir seperti apa?”


Anna mengedipkan maanya tapi dia melihat Anthony menggelengkan kepalanya. “Tapi yang ini suasananya berbeda dan orang yang berbeda.” Anthony bicara sambil memijat keningnya.


“Sudahlah Anthony! Kita tidak punya banyak waktu lagi. Ayolah! Bukankah kau yang bilang sendiri kalau temanmu adalah orang yang sangat profesional?”


“Dia bisa berpikir kalau aku akan menjebaknya kalau kita tidak keluar.” Anthony menceritakan yang sebenarnya kepada Anna.


“Karena itulah, kita harus segera pergi.” Anna menggerakkan tangannya menarik Anthony sehingga pria itu mengikuti langkahnya.


“Apa kau sungguh-sungguh yakin, Anna?” Anthony merasa seakan berat sekali dan takut kehilangan.


Dia kembali bertanya dan wanita yang kini memakai topeng wajah Bella pun menganggukkan kepalanya. Bahkan Anna tersenyum penuh percaya diri.


“Ayolah Anthony! Semuanya akan baik-baik saja. Yakinlah!”


Dreeetttt dreeetttt dreeetttttt


“Ada lagi yang meneleponmu Anthony? Cepatlah jawab teleponmu.”


‘Aku belum pernah terbawa perasaan selama ini tapi sekarang? Lihatlah apa yang sudah aku buat sekarang? Aku jadi tidak fokus lagi pada pekerjaanku sendiri! Ada apa dengan diriku? Apa salah aku membawa Anna kesini? Fuuhh! Tapi aku tidak punya pilihan lagi. Kalau tidak aku tidak membawanya semua rencanaku akan berantakan.’


Anthony merasa bingung bagaimana merespon hatinya sendiri yang gusar, dia memencet tombol untuk menjawab teleponnya. “Ada apa kau meneleponku lagi Dante?”


“Kenapa? Apa kau tidak bisa berpikir sudah berapa lama aku menunggumu? Kenapa kau lambat sekali Anthony? Transaksi sudah hampir selesai tapi kau masih belum bergerak juga.”


Suara Dante terdengar marah, percuma saja mereka melakukan ini kalau tidak sesuai dengan waktu yang membuat Dante mendidih dan panas. Anthony harus muncul sebelum transaksi selesai!


‘Ya dia benar! Apa yang kuperbuat ini salah! Aku harus bekerja tanpa menggunakan perasaan dan memang aku ada perasaan apa ya pada Anna? Kenapa aku merasa aneh?’


Anthony berusaha mengingatkan dirinya sendiri dan kembali berusaha untuk fokus setelah mendengar kemarahan Dante. “Aku ingin memastikan dulu apa dia memang sudah pas sebagai Bella! Kau tidak mau ada kesalahan bukan?”


“Jangan menunda lagi Anthony! Jangan membuatku marah!” ujar Dante. Dia adalah orang yang fokus pada pekerjaannya sehingga dia tidak suka jika terjadi kesalahan.


“Iya Dante! Aku mengerti maksudmu. Aku akan segera turun kesana.” ucap Anthony.


Sementara itu diseberang sana, Dante kembali memiat keningnya. ‘Apa yang sebenarnya dia lakukan disana? Kenapa dia jadi lambat sekali bertindak?’ gumam Dante sambil memencet tombol dimobilnya.


“Apa yang kau lakukan Dante?” tanya Noel saat dia melihat Dante memandang layar yang biasanya digunakan untuk kamera belakang.


“Aku mau memastikan kalau daerah sekitar sini aman!” jawab Dante.


“Memangnya apa yang mau kau lakukan?” tanya Noel lagi.


“Aku akan segeera keluar!” jawabnya singkat dan tegas.


“Apa? Kau mau keluar? Lalu?” Noel bertanya dengan perasaan cemas.


“Aku tahu apa yang harus kulakukan tapi aku tidak bisa menembak dari sini!” ujar Dante sambil membuka laci dasbor yang mmebuat Noel semakin penasaran.


“Apa yang kau lakukan Dante?”


“Setidaknya mereka tidak mengenaliku dengan begini.” ucap Dante memakai topi dan juga memakai masker penutup wajah.


“Tapi sekarang kita sedang dikepung! Kenapa kau malah mau keluar? Jika mereka melihatmu, kau adalah orang yang merupakan teman Barack dan itu akan sangat berbahaya bagimu!”


Dante tersenyum tanpa menoleh kebelakang.


“Noel! Perhatikan saja wanita disampingmu itu. Dia adalah gadis yang licik!”


Dante menoleh pada Noel dan orang yang ditatapnya tidak menjawab apa-apa, dia hanya mengangguk patuh. “Aku mengerti Dante. Aku akan menjaga adikmu. Berhati-hatilah! Aku akan melindunginya apapun yang mungkin akan terjadi.”


“Bagus kalau begitu!” Dante menganggukkan kepalanya sambil memberikan kunci borgol Sarah.


‘Kunci itu! Dia memasukkannya kedalam saku kemejanya! Aku paham apa yang harus aku lakukan!’ ucap Sarah dihatinya dan dia pun sudah menyusun rencana dengan kunci borgol itu.