
‘Dia bisa menempatkan kita di beberapa bagian-bagian sesuai dengan kemampuan kita. Aku bisa melihatnya dari dirimu Barack.’ bisik didalam hati Hans sambil menatap Barack yang sudah bersiap-siap untuk pergi.
“Jangan lupa sampaikan semua yang aku katakan padamu kepada Dante.” ucap Barack lagi. "Jangan ada satupun yang kau lupakan karena ini sangat penting!"
“Oke. Jangan khawatir. Aku pastikan Dante akan menerima pesanmu.” jawaban Hans ketika Barack sudah melangkah pergi. Sejenak ada senyum diwajah Hans sambil menatap Barack yang menuju kearah pintu. Tapi, tiba-tiba Barack berbalik dan menatap Hans.
“Hans! Bisa aku bertanya sesuatu padamu dulu?” tanyanya,ekspresi wajahnya sedikit berubah menjadi lebih serius.
“Apa yang mau kau tanyakan padaku?”
“Sarah! Hmm….apa dia baik-baik saja dan kalian memperlakukannya baik kan?” tanya Barack.
******
Sementara itu dirumah sakit. Dante memasuki ruang perawatan Omero.
“Dante!” suara lemah Omero sudah bisa merespon Dante. Saat ini Omero sudah tidak membutuhkan alat bantu pernapasan, dia sudah bisa bicara seperti orang normal dan pandangan matanya sudah menatap Dante.
“Ayah bagaimana kabarmu? Kau tidak apa-apa?” pertanyaan pertama yang diajukan Dante kepada ayah mertuanya itu sambil menyuguhkan senyum seakan tidak ada masalah yang sedang dihadapinya.
“Bagaimana kau melihatku Dante?”
“Aku melihatmu lebih terlihat hidup daripada kemarin.” puji Dante sambil menghampiri dan duduk disisi Omero.
“Bagaimana malamu bersama putriku Dante?”
Glek!
Pertanyaan itu membuat Dante menelan salivanya dengan sedikit merona merah dan tidak menyangka akan diberikan pertanyaan seperti itu.
“Ayolah! Kau kan sudah dewasa, aku dan kau sama-sama pria dewasa. Aku tahu apa yang kau lakukan dengannya. Apalagi tadi malam Eddie berisik sekali membicarakanmu.” celetuk Omero.
Seharusnya tadi malam pria itu tertidur pulas tetapi karena suara Eddie membuat tidurnya terganggu dan dia jadi menguping pembicaraan.
“Apa Eddie ditelepon oleh Hans?” tanya Dante.
“Siapa lagi yang suka bergosip menurutmu?” Omero terkekeh.
“Ah pantas saja.” jawab Dante masih dengan senyumnya tapi dia tidak menjelaskan apapun yang dilakukannya dengan Bella tadi malam. ‘Kalian semua memang usil sekali padaku.’ ucap Dante didalam hatinya karena selama ini teman-temannya tidak pernah usil padanya dan mereka sangat menghormati Dante.
Baru kali ini mereka melakukan hal seperti itu apalagi mereka menipunya kemarin sehingga Dante sudah sangat panik karena Barack.
“Kau beruntung memiliki sahabat yang baik dan percaya padamu Dante! Jangan marahi mereka, karena mereka hanya sedikit bercanda denganmu untuk mengurangi kekakuanmu.” senyum mereka diwajah pria paruh baya itu.
“Ehem...aku mengerti ayah. Aku tidak akan punya sahabat seprti mereka kalu semua ini tidak karena peranmu juga.” puji Dante sambil merubah posisi duduknya dengan posisi lebih santai. Disinilah sisi manusia seperti Dante bisa terlihat. Sekarang dirinya bukanlah sebagai ketua mafia tapi hanya seorang anak yang sedang menjenguk ayahnya.
Sikap kekeluargaan dan jauh dari segala macam kecemasan tentang pekerjaannya disuguhkan dari mimik wajahnya, terlihat adem dimata Omero Rivera.
“Bukan! Karena kau memang orang yang pantas untuk memiliki sahabar seperti mereka! Sama seperti ayahmu.” ucap Omero.
“Ayahku?” tanya Dante.
Dan Omero mengangguk. “Dia adalah pria yang baik. Aku beruntung sekali bisa memilikinya sebagai seorang sahabat.”
“Terima kasih Dante! Sebenarnya yang diberikan sahabatku itu adalah pemberian terbaik. Dia memberikan aku anak laki-laki.” celetuk Omero sebelum dia memakan jeruknya.
Danter tersenyum dan mengangguk, “Terima kasih sudah menganggapku sebagai anakmu, ayah.”
“Apa rencanamu sekarang? Kenapa kau kesini?”
Bukan Omero namanya jika dia tidak menyadari basa basi Dante sejak tadi. Dia tahu saat ini pria yang ada dihadapannya sedang ada masalah sehingga kalimat itulah yang diucapkannya.
“Aku ingin membawamu pulang.” ujar Dante sambil memberikan jeruk yang sudah dikupasnya. Dia masih enggan untuk menceritakan apapun.
“Kau ingin membawaku pulang kerumahmu? Kenapa tidak kau suruh Eddie saja yang mengantarku kesana? Kau bisa mengerjakan pekerjaan lain dirumahmu.” ujar Omero.
“Tidak. Aku harus memastikan bahwa yang akan membawamu adalah kendaraan teraman! Aku tidak bisa menyerahkan tanggung jawab ini pada orang lain.” jawab Dante serius.
“Hahahaha.” Omero menanggapi ucapan Dante dengan tertawa. “Kau harus hatu-hati dengan tempat teramanmu itu Dante! Semua orang yang kau cintai kau masukkan kedalam tempat itu. Kau ingat bagaimana pihak federal bisa menaruh orang disana?” celetuk Omero menggelengkan kepalanya.
Dante mengangguk paham mendengar ucapan Omero yang penuh dengan penekanan. “Aku akan berusaha berhati-hati! Karena mereka pasti akan mencoba menghubungi orang-orang dirumahku dan mencoba untuk mencari siapa saja yang bisa mereka sogok dan mencari tahu rencana apa yang kubuat untuk melawan mereka.”
“Kalau soal itu biarkan saja! Tapi aku pastikan, tidak mungkin mereka berhasil menyogok pelayanmu, Dante. Mereka semua setia padamu dan rela berkorban untukmu.”
“Bagaimana bisa kau seyakin itu ayah?” tanya Dante merasa penasaran.
“Karena Henry! Dia adalah orang yang selalu berjaga didepan rumahmu Dante! Dia yang selalu melindungimu selama ini.” ucap Omero tersenyum.
“Ah!” Dante menegakkan duduknya sambil tersenyum, “Kau benar ayah! Semua orang yang ingin berbat jahat termasuk para pelayan yang ingin berbuat onar tidak ada yang berani dan bisa melawan kepiawaian Henry dalam melindungi.”
“Ya,” Omero mengangguk. “Kau beruntung memilikinya. Dia seseorang yang setia."
“Terima kasih ayah. Tapi ayahlah yang mempekerjakan Henry bukan aku.”
“Memang. Dan dia sangat loyal pada keluargamu. Kita semua berhutang budi padanya.”
“Kau benar ayah!”
“Apa lagi yang mau kau bicarakan denganku selain ingin membawaku pulang?”
“Apa kau sudah tahu tentang kejadian yang menimpa White?” tanya Dante.
“Oh soal itu! Eddie sudah menceritakan soal itu padaku.”
“Hmmm begitu. Sesuai dengan dugaanku.” ucap Dante spontan.
“Apa yang ingin kau katakan tentang hal itu Dante?” tanya Omero yang sepertinya sudah menebak jika Dante akan menanyakan hal itu padanya.
“Orang yang menyerang Eddie itu bukanlah orang suruhan White.” kalimat yang diucapkan Dante itu terdengar frustasi sehingga tatapan Omero melembut tapi pikirannya tetap bekerja mencoba membantu memecahkan permasalahan Dante.
“Kau sudah tahu soal itu, ayah?”
“Tentu saja! White tidak akan menyerang dengan cara itu. Mereka itu mengerikan. Mereka tidak suka basa basi tak seperti yang dilakukan oleh orang-orang yang menyerang Eddie.” ujar Omero.
“Aku tidak pernah punya masalah dengannya. Aku juga tidak tahu bagaimana cara dia menyerang. Yang pasti, aku ingin masalah ini segera berakhir.”