PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 228. REKAYASA ROBERT


“Sekarang seprai ini harus diganti juga Bella. Aku tidak yakin tempat tidurnya kena atau tidak tapi tempat tidurnya pun sepertinya harus dibersihkan. Biar aku vakum dulu dan menghilangkan baunya, aku mau semprotkan antiseptik.”


“Aku mual. Aku mau dante! Dante, Sky!” ujar Bella lagi.


“Aku akan mencari Dante dan Sky! Walaupun mungkin sulit untuk mendapatkan mereka berdua  tapi aku janji padamu, aku akan membawanya padamu! Ayo pegang tanganku. Tidak perlu kau pikirkan yang lainnya, nanti aku yang bersihkan.”


“Tapi…...”


“Ayo pegang tanganku Bella.”


“Aku tidak mau! Kau tidak boleh menyentuhku, aku hanya milik Dante!”


“Baiklah Bella. Kalau kau tidak mau, ayo coba berdiri sendiri ya?”


‘Ahhh…..dia benar-benar sudah terobsesi sekali pada Danye. Mungkin ini alasannya kenapa Dante menghukumnya dan memukulinya sekejam itu. Mungkinkah begitu? Apa dia mengoda Dante sehingga mengganggu hubungan pria itu dan istrinya? Aduh….wanita ini!’


‘Dia harus cepat sembuh supaya aku bisa mengajaknya bicara dan mengerti jalan pikirannya.’ bisik Anthony dihatinya sambil memikirkan cara bagaimana menurunkan Bella dari tempat tidur.


“Bella…...”


Tok tok tok


“Ah mungkin itu Dokter Anna! Dia wanita pasti dia bisa membantu Bella. Tunggu aku buka pintu dulu ya Bella! Dante tidak akan pernah marah padamu kalau Anna membantumu kan?” Anthony bergegas menuju pintu dan membukanya.


‘Syukurlah bantuan datang tepat waktu. Dia tidak mau aku menyentuhnya, dia sangat takut jika Dante akan marah kalau dia bersentuhan dengan pria lain. Dasar bodoh! Aku yang membawamu kemari Bella, aku yang menyentuhmu  dan menggendongmu tanpa busana keluar dari mansion Dante! Apa kau tidak ingat semua itu?’gumamnya sambil membuka pintu.


“Selamat pagi Anthony!”


“Bisa kau tolong dia? Tadi dia muntah-muntah.”


“Bahkan kau tak membalas salamku dulu,” Anna mencibir lalu melirik kedalam kamar, “Baiklah, aku akan mengurusnya. Aku akan menelepon pelayanmu untuk mengganti seprainya nanti.”


“Terimakasih Anna!” ucap Anthony merasa lega dan membiarkan dokter Anna masuk.


“Aku akan menyuruh pelayan memberikan makanan baru untuk Bella. Tolong cek kondisinya dulu ya Anna mungkin dia demam karena dia muntah-muntah,” ucap Anthony sambil mengambil handphonenya dan mengirimkan pesan pada kepala pelayannya agar menyiapkan semua yang dibutuhkan oleh Dokter Anna.


‘Untunglah Anna datang. Apa sebenarnya ancaman yang diberikan Dante padanya yang membuatnya sangat takut sekali bersentuhan dengan laki-laki?’ bisik hati Anthony yang sepintas teringat kembali ucapan penolakan Bella tadi.


Dreeettt dreeetttt dreeeettttt


“Kenapa kau meneleponku Vince?”


“Jangan sebut namaku! Ayahmu tidak suka jika dia tahu aku menghubungimu.”


“Hem….sebentar aku masuk kedalam kamar dulu.” Anthony berjalan cepat menuju kamarnya dan segera menutup pintu kamar.


“Ada apa kau meneleponku Bruce?”


“Kau sudah didalam kamar? Kenapa jadi Bruce?” Vince mengeryitkan dahinya bingung.


“Hem….ada apa kau meneleponku Bruce?” tanya Anthony sengaja mengubah nama temannya itu.


“Ahhhh kau khawatir kalau dikamarmu ada penyadap, iyakan?”


“Bukan lebih baik saja yang harus kita pikirkan Anthony!”


“Lantas apalagi?” tanya Anthony.


“Begini, aku ingin menyampaikan sesuatu padamu tapi aku tidak tahu apakah informasi yang akan aku sampaikan ini bisa kau terima dan kau percaya atau tidak, akupun tidak tahu.”


“Katakan dulu apa itu? Kita ini sahabat, ada apa denganmu?”


“Maaf Anthony! Aku harap kau masih menjadi sahabatku, kau tahu seminggu yang lalu aku sudah dipecat dari tempatku bertugas?”


“Iya. Tidak perlu menjelaskan itu. Aku sudah membaca sendiri berita itu dan aku tidak akan tinggal diam, aku akan mencari tahu perihal itu. Aku tidak akan membiarkan ada yang menyabotasemu atau apapun itu, aku tahu kau sangat jujur.”


“Aku tidak tahu kau percaya padaku atau tidak Anthony. Tapi….aku tidak bersalah! Aku tidak membelot! Aku juga tidak memanipulasi data apapun. Semua itu ayahmu yang melakukannya. Kalau kau tidak percaya padaku, tidak apa-apa tapi aku mau menjelaskan padamu yang sebenarnya.”


“Hei pelan-pelan kalau bicara. Katakanlah semuanya padaku. Bagaimana semua ini terjadi dan kronologisnya seperti apa?” Anthony mulai serius ingin mendengarkan penjelasan sahabatnya itu.


“Apa ayahmu menceritakan sesuatu padamu?”


“Begitu aku dapat berita pemecatanmu, aku langsung menemuinya dan mencari tahu langsung darinya. Katanya kau membocorkan penyergapan di pihak lawan sehingga banyak tentara kita yang terluka padahal kau yang mengusulkan penyergapan itu tapi kau sendiri yang menceritakan pada lawan.”


Anthony berhenti sejenak, menghela napas lalu bicara lagi, “Ayahku sudah menyuruhmu untuk mundur tapi kau tetap bersikeras tetap ingin maju. Ayahku menyetujui penyergapan yang kau agendakan it tapi dia juga tidak mau mati konyol seperti prajuritnya yang lain. Ayahku mengatakan bahwa rencana yang kau buat bisa merugikan pihak federal, karena musuh bisa melakukan transaksi dan tidak ada kerugian sedikitpun dipihak mereka.”


“Cih! Kau percaya dengan apa yang dikatakannya Anthony?”


“Coba ceritakan versi darimu. Aku ingin penjelasan dari kedua pihak.”


“Kau tidak mau mengatakan padakau kau percaya atau tidak?” tanya Vince lagi.


“Biar aku yang memikirkannya sendiri setelah kau menceritakan semuanya padaku. Aku juga punya otak untuk berpikir mana yang benar dan salah.”


“Kau mau percaya padaku dan mendengarkanku Anthony?”


Vince tak langsung menjawab pertanyaan Anthony, dia justru kembali bertanya dan meminta ketegasan pernyataan dari Anthony.


“Tentu saja! Katakanlah, aku menunggumu.”


‘Aku memang mempercayai ayahku, sangat mempercayainya tapi bukan berarti aku tidak percaya pada temanku. Aku memang sering melihat bahwa ayahku mengadakan operasi dengan keinginannya sendiri, menangkap penjahat dengan keinginannya sendiri seperti yang dilakukannya padaku saat dia menyuruhku masuk ke mansion Dante. Aku yakin itu tanpa sepengetahuan federal! Karena kalau pihak federal tahu pasti mereka sudah mencari temanku yang hilang ketika membawa data dariku? Apa mungkin ayahku yang membunuhnya?’ gumamnya didalam hati.


Anthony memang tahu betul kebiasaan ayahnya sehingga dia tidak terlalu bersikap keras pada temannya apalagi saat temannya sedang dirundung kekecewaan karena ulah ayahnya.


“Semua ini adalah rekayasa ayahmu Anthony! Dia yang membuat penyerangan itu, kami sama sekali tidak ikut campur karena kami hanyalah anak buah ayahmu. Kami menuruti semua perintah ayahmu. Sedangkan untuk izin itu aku curiga juga,apa dia memang memiliki izin saat meminta kami menyerang markas Dante! Karena tidak ada backingan dari pihak federal.”


“Aku paham. Dia menyerang setelah aku memberikannya video itu bukan?”


“Penyerangan itu dilakukan bukan atas keinginan federal dan ayahmu sepertinya sangat optimis dengan video itu bisa membawa kemenangan untuknya.”


“Aku rasa bukan. Aku percaya padamu Vince.”


“Tapi ayahmu sangat kejam Anthony! Dia melakukan segala macam cara untuk memenuhi keinginannya sendiri. Aku tidak tahu apa alasannya dia melakukan itu. Dia membuat skenario sendiri dan dia membuatku dipecat tanpa etika baik.”