PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 329. MELANJUTKAN YANG TERTUNDA


“Hah? Kau minta maaf untuk apa? Aku rasa kau tidak perlu minta maaf padaku.” Bella menggelengkan kepalanya malu-malu.


“Maafkan aku harus meninggalkanmu sebentar. Aku hanya ingin mengecek keadaan diatas. Kalau tidak ada apa-apa yang terjadi aku akan segera kembali kesini. Yang tertunda tadi akan kita lanjutkan lagi.”


Bella pun menganggukkan kepalanya. “Dante, apa kau tidak bisa mengecek melalui CCTV?”


“Kalau alarm berbunyi maka aku harus datang kesana, tidak bisa dilihat dengan CCTV karena tempat yang mereka masuki adalah tempat rahasiaku! Bukan tempat yang ada CCTV-nya.” dengan sabar dia mencoba menjelaskan pada Bella sambil mengelus punggung tangannya.


“Oh begitu ya.”


 “Semoga saja tidak terjadi apa-apa diatas sana.” ujar Bella ketika melihat Dante menutup pintu sedangkan pria itu sebenarnya sekarang sedikit kalut.


“Siapa yang bisa masuk kesana dan mengaksesnya? Aku sudah mengunci dan dia tidak mungkin bisa masuk kedalam sini tapi orang ini bisa tahu? Apakah mungkin ini adalah Jeff? Tapi berani sekali dia masuk kedalam rumahku?” gumam Dante yang sudah mulai was-was.


Dia membawa senjatanya saat naik keatas. “Aku akan mencoba menjatuhkanmu langsung.” tekad Dante yang sudah merasa geram sekali. “Barack? Apa mungkin Barack yang masuk?” Dante kembali mencoba berpikir, saat dia berada digudang persenjataan Barack juga sudah melihat bunker! Apa mungkin dia mencari tahu dimana lokasi bunker?’


‘Kan ada di belakang foto itu jelas tertulis disana ada beberapa lokasi bunker! Kami punya lima bunker dan apa Barack mengambil foto itu dengan tujuan ingin mengetahui lokasi bunker ini?’ Dante mulai merasa gelisa karena tidak pernah menceritakan pada siapapun tempat bunker itu hanya ditandai dengan X dibelakang foto.


Tapi tidak jelas apa maksud X, sebagian besar bunker Dante terletak ditempat dimana dia memiliki massa terbesar dan mungkin kalau musuh melihat itu, dia akan berpikir bahwa tempat-tempat itu adalah markas Dante bukan bunker tapi bagaimana pikiran Barack? Siapa yang tahu isi kepala pria itu? Ini membuat Dante kembali cemas.


“Barack! Apa memang kau benar-benar ingin menjatuhkan aku? Tapi kenapa secepat itu kau jatuh pada Jeff Amadeo? Kemana daya pikirmu Barack? Aku tidak habis pikir dengan yang kau lakukan ini Barack! Kau sudah membunuh Leonard White dan sekarang apa lagi yang kau inginkan?”


Dante tidak mengerti apa yang sedang direncanakan oleh Barack tapi dia sudah mulai meragukan Barack. Dante kini lebih banyak berpikiran negatif tentang sahabatnya itu. Sedikit demi sedikit mengikis rasa persahabtan didalam hatinya dan ini adalah hal yang tidak di inginkan Dante.


‘Aku tahu kau hanya amnesia! Suatu saat kau akan ingat kemali dan kau akan kembali padaku, kita berlima akan bersama kembali. Ini yang harus aku jaga dan aku tidak boleh mempunyai perasaan buruk padamu.’


“Dirimu yang sekarang bukan kau yang aku kenal Barack! Kau yang sekarang adalah orang yang di manfaatkan oleh Jeff dan menjadikanmu boneka untuk menjatuhkan aku.”


‘Kenapa bunyi alarm itu harus hadir disaat-saat aku bersamanya? Kepalaku jadi sakit begini karena tadi kami baru melakukan penyatuan.’ gumamnya lagi.


“Bella, maafkan aku harus meninggalkanmu. Apa aku harus menghubungi Hans dan Henry? Tapi mereka ada ditempat ini dan mereka pasti mendengar suara alarm itu. Biarkan saja aku akan menunggu mereka. Kalau memang ada sesuatu yang genting, mereka tahu bagaimana caranya masuk kedalam bunker ini dan mereka pasti datang membawa Alex dan Sarah kesini.”


Dante terus naik keatas tapi dia tidak menggunakan jalur biasa dia masuk kerumahnya. Dia keluar ke jalur pertama tempat dimana dia melatih diri dan tempat dia bertarung dengan Anthony. “Alex! Sarah! Mudah-mudahan mereka tidak apa-apa. Henry juga tahu tempat ini dan dia bisa membawa mereka masuk melalui pintu khusus. Aku tidak boleh terbawa perasaan.”


“Berlama-lama bersama Bella membuatku jadi lemah dan ini tidak bisa kubiarkan! Aku harus bisa membuat bella menjadi wanita kuat maka aku akan menjadi lebih kuat juga!” ujar Dante saat lift sudah hampir menuju tempat yang ingin di datanginya. Saat pintu lift terbuka, tempat itu gelap. Dante keluar sambil menodongkan senjatanya.


“Hai Dante! Apa yang sedang kau lakukan?”


“Hahahahaha apa kau pikir kami adalah musuhmu Dante?”


“Jadi kalian yang membunyikan sirine itu?” tanya Dante memicingkan matanya.


“Maafkan kami Dante! Tadi itu hanya coba-coba saja karena kami penasaran.” celetuk Nick.


“Siapa yang menjaga anakku Alex?”


“Henry ada disana menemaninya. Kau jangan khawatirkan itu.” ucap Hans sambil tertawa melihat wajah sahabatnya yang tampak sangat kesal.


“Kenapa kalian menggodaku?” ini pertama kalinya teman-teman Dante menjahilinya sehingga mereka merasa puas sampai lupa kalau mereka tertawa berlebihan.


“Maafkan kami Dante, sudahlah jangan marah dulu. Ini kan hanya bercanda saja.”


“Kalian ada perlu apa denganku sampai datang kesini dan menghabiskan waktu bermain-main begini?”


“Tidak ada Dante. Kami tidak membutuhkan apapun, kami hanya bermain-main saja sebentar untuk menghilangkan suntuk sekalian melatih kecepatan.”


Ucapan mereka itu membuat Dante menyipitkan matanya. “Sudah puas kalian bermain-main? Apa kalian tidak tahu kalau kalian sudah menggangguku dan Bella tadi?”


“Sudahlah jangan marah lagi pada kami.” Hans mencoba menghibur dan mereka minta maaf pada Dante. Dengan masih menahan tawanya karena mereka paham dengan perkataan Dante tadi.


“Urus saja urusan kalian dan jangan coba-coba mengusikku lagi! Ck! Mengganggu saja!” decaknya kesal. Kepalanya benar-benar pusing karena tadi lagi tanggung. Dante pun kembali masuk kedalam lift.


“Boleh kami ikut kesana Dante?”


“Tidak boleh! Kalian pergilah, lakukan apa yang harus kalian lakukan!” ujarnya sebelum menutup pintu lift dan mengomel sendirian.


“Menganggu saja, mereka tidak tahu apa yang sedang aku lakukan didalam sana? Permainan tadi sangat menarik dan aku sudah mulai menikmatinya tapi terganggu gara-gara mereka. Awas kalian! Kalau kalian membunyikan alarm lagi dan ternyata menipuku lagi maka aku tidak akan percaya pada kalian lagi!” Dante sangat kesal sekali harus bolak-balik tanpa alasan penting.


Pintu lift terbuka dan Dante bergegas melangkah cepat menuju kamarnya. “Tadi belum diselesaikan karena ulah temanku tapi sekarang aku harus melakukannya. Tidak ada gangguan! Kalau ada gangguan lagi aku tidak akan peduli yang penting aku bisa memuaskan diriku sekarang.” janji Dante sambil melangkah cepat dan membuka pintu kamarnya.


“Bella….maaf tadi aku keluar dulu sebentar! Kau siap melanjutkannya lagi?” tanya Dante yang semakin kesal saat melihat Bella tertidur sambil senyum-senyum diatas ranjang. “Apes! Nick...Hans ini semua karena ulah kalian! Awas kalian ya!”