PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 200. MENYAMPAIKAN RINDU


“Gendong!” Alex menyandarkan kepalanya di bahu Dante. Namun pria itu kembali berkelana dalam pikirannya dan tidak fokus. “Daddy?” Alex kembali memanggilnya.


“Iya Alex?” Dante menggendong Alex lalu membaringkannya di tempat tidur.


“Aku mau ketemu Bella-ku. Apa dia masih lama pulangnya Daddy? Aku rindu.” Alex semakin cerewet.


“Aku akan mencoba berbagai cara supaya dia bisa cepat kembali ya. Tapi kau harus lebih sabar Alex, kalau tidak hati-hati nanti nyawanya bisa hilang.”


“Apa itu nyawa daddy?”


“Bisa mati! Bisa rusak, Alex sayang.” Dante menjawab sambil berusaha sabar menghadapi anaknya yang persis sama kelakuannya seperti Bella. Selalu bicara dan banyak tanya.


“Oh gitu. Jadi aku harus menunggu dulu Bella-ku datang masih lama?” dia kembali bertanya. Sebentar-sebentar dia terus bertanya tentang Bella.


Dante tersenyum mendengar keluhan Alex, “Sabar ya Alex kalau sudah waktunya Bella pasti datang. Aku akan mencarinya terus.” kata Dante. ‘Aku pasti akan menemuimu, dulu aku menyuruhnya pergi dan aku bisa menemukannya lagi dan sekarang pun aku yakin masih bisa menemukannya lagi,’ ujarnya dalam hati.


“Daddy?”


“Ada apa lagi Alex sayang?”


“Bisakah aku ikut daddy terus?”


“Kenapa kau ingin ikut aku terus?” tanya Dante menatap putranya sambil membenarkan letak selimut.


“Aku tidak mau tinggal dirumah sendiri, daddy!”


“Bukankah kau tidak pernah dirumah sendirian?”


“Aku tidak mau sama mommy!” jawab Alex sangat hati-hati seperti ada alarm dalam dirinya untuk berhati-hati tidak menyinggung Dante.


Jawaban putranya membuat hati Dante teriris, ‘Apa yang sudah kau lakukan pada putraku sampai dia benar-benar tidak mau menemuimu lagi Tatiana? Dulu kau yang memintaku untuk mencari seseorang dan membawa bayi, anakku sendiri padamu! Sekarang aku sudah membawanya dan memberikan kepadamu. Kenapa kau menyia-yiakannya Tatiana? Bukankah Alex adalah anak kandungku? Bukankah kau sendiri yang bilang kau akan menyayangiku putraku seperti kau menyayangiku? Lalu kenapa kau malah bermain di belakangku? Apa maksud semua ini Tatiana?’


Dante semakin tak paham tapi hatinya sangat panas karena sikap Tatiana yang tak dimengertinya. Dante masih menunggu hasil forensik untuk sampel terakhir yang diambil dikamarnya.


“Kenapa kau tidak mau sama mommy?”


“Mommy tidak sayang aku seperti Bella-ku!”


Jadi kau ingin tinggal bersama Bella saja?” tanya Dante penasaran.


Senyum Alex merekah dan menganggukkan kepalanya.


“Kenapa Alex?”


“Soalnya Bella-ku sayang samaku, dia memelukku kalau bobok kepalaku disayang-sayang, diusap kayak gini!” ucap Alex sambil menarik tangan Dante lalu menggerakkanya diatas kepalanya.


“Maksudmu Bella mengelus rambutmu?”


Alex kembali menganggukkan kepalanya dan senyumnya sumringah penuh kebahagiaan.


“Bella-ku selalu memelukku hangat. Nyaman!”


Dante tersenyum mendengar ucapan anaknya, ‘Wanita itu memang sangat suka kehangatan. Itu yang selalu diucapkannya padaku, hangat!’ Tapi kata-kata yang diucapkan didalam hatinya itu justru menyakiti batinnya sendiri. ‘Apa sekarang kau sedang mencari kehangatan dari laki-laki lain? Seribu laki-laki tidak cukup bukan? Sekali kau terjun ke dunia itu maka tersesat didalam dunia itu. Apa kau masih tidak puas?’ hati Dante semakin panas membayangkan Bella bersama laki-laki lain.


‘Tapi kenapa aku menginginkanmu ada disini sekarang? Aku ingin melihat wajahmu, tatapan mata polosmu dan senyum manismu? Aku merindukan mulutmu yang cerewet dan selalu menganggu dan menggodaku. Kenapa aku semakin tersiksa setelah kau pergi dari sini Bella? Aku tidak tahu kau pergi dengan siapa, orang seperti apa Anthony itupun aku tak tahu. Bisa-bisanya kau pergi dengannya? Apa kau yakin bisa hidup layak bersamanya?’


Dante kesal sendiri tapi sejujurnya dia merasa iri pada Anthony. Dia merasa kehidupannya yang berat dibandingkan kehidupan Anthony, akan membuat Bella merasa lebih nyaman bersama Anthony membuat Dante semakin tidak karuan.


“Daddy, kau kenapa?” tanya Alex bingung melihat ayahnya.


“Ha? Tidak...tidak.” Dante menggeleng,”Daddy tidak apa-apa. Hanya jantung daddy saja terasa sakit.”


“Baiklah.” Dante menuruti kemauan anaknya, dia memeluk Alex erat-erat dan mendengarkan semua cerita Alex yang kebanyakan cerita tentang Bella. Bagaimana Bella menyayanginya, mengajarinya, menidurkannya bla...bla...bla….sambil bercerita Alex selalu tersenyum bahagia seakan Bella adalah kebahagiaan miliknya.


“Sudah hampir jam tiga pagi tapi kau masih saja ingin bercerita. Kau tidak mengantuk?”


“Kalau aku tidur, aku rindu Bella-ku jadi aku cerita sama daddy saja!” ucapnya.


Dante tersenyum menggelengkan kepalanya, ‘Bella, lihatlah anakmu ini! Begitu bersemangatnya dia bercerita tentang mu saking merindukanmu dia enggan menutup matanya.’ bisiknya dalam hati.


“Apa kau mau aku beritahu bagaimana caranya menyampaikan rasa rindumu pada Bella?”


Alex menatap ayahnya lalu menganggukkan kepala dua kali.


Dante menggendong anaknya, “Kita mau kemana daddy?” tanya Alex ketika Dante menggendongnya dari tempat tidur dan melangkah menuju balkon. Dia membuka pintu lalu melangkah keluar.


“Kau akan melihat sesuatu yang akan menyampaikan rasa rindumu pada Bella.”


“Kenapa kita kesini?” tanya Alex lagi setelah mereka berada dibalkon kamarnya.


“Alex, apa kau ingat siapa namamu?”


“Alexander Sky Sebastian!” jawabnya.


“Hmmm…..betul! Lihatlah ke langit disana Alex! Langit sangat cerah dihiasi bintang dan bulan sama seperti namamu Sky! Bella sangat suka memandang langit dimalam hari.”


“Benarkah daddy?”


“Iya, jadi kalau kau merindukan Bella tataplah ke langit itu dan katakan kalau kau merindukannya! Langit akan menyampaikannya pada Bella! Kita berada dibawah langit yang sama dengan Bella, karena dibagian bumi lain disana Bella juga akan memandang ke langit, dia akan tersenyum mendengar kabar darimu!”


“Iya daddy.” Alex pun paham, wajahnya semakin terlihat senang. “Bella-ku! Aku merindukanmu!” teriak Alex dengan suara kecilnya, membuat Dante tersenyum sambil tangannya mengusap sudut matanya menghapus airmata yang hampir jatuh.


“Kau pintar sekali Alex! Begitulah caranya menyampaikan rasa rindumu pada Bella, ok.” ucap Dante yang kini sedang menahan kerinduan yang sama serta menahan semua rasa dihatinya. ‘Aku juga sangat merindukanmu Belinda Alexandra! Bagaimana kondisimu disana? Apa mereka mengobati luka-lukamu?’ Ada rasa sedih dan emosi yang bergejolak dihatinya. ‘Aku tidak rela lelaki itu mengobatinya, aku yang membuatmu terluka dan seharusnya aku yang mengobatinya.’


‘Kapan aku bisa bertemu denganmu lagi? Bella cepatlah kembali demi anakmu yang sangat membutuhkanmu dan merindukanmu.’


“Daddy aku sudah bilang berkali-kali. Apa nanti sampainya juga berkali-kali pada Bella-ku?” ucapan Alex menyadarkan Dante dari lamunannya dan mengangguk. Tadi dia pun berteriak-teriak sendiri didalam hatinya memanggil Bella.


“Pasti Alex! Bella akan mendengar panggilanmu berkali-kali.”


Dreeetttt dreeeettttt dreeeeettttt


“Sebentar ya Alex, aku angkat telepon dulu.”


“Iya ayah, ada apa?” tanya Dante pada ayah mertuanya yang menghubunginya.


“Dante, aku ada berita yang harus disampaikan tentang Barack!”


“Apa ada masalah ayah?”


“Sepertinya memang dia diikuti, tim kami terlambat sampai disana karena sepertinya orang-orang itu sudah menemukan Barack lebih dulu. Berdasarkan informasi tadi ada orang yang masuk ke penginapan yang mereka tempati.”


DEG! Rasanya jantung Dante berhenti berdetak mendengar ucapan Omero. “Lalu bagaimana dengan Barack dan Sarah?”


“Ini yang ingin kusampaikan padamu, Dante.”


“Katakan saja ayah.”