PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 32. KENAPA TIDAK BERHENTI?


“Memancing dan menelepon. Tapi hari ini aku tidak mendapatkan seekor ikan pun, lautnya terlalu kotor.” kata Dante.


“Ya kau benar sayang. Inikan teluk Jakarta, mungkin kau harus pergi memancing ketempat lain.”


“Mungkin aku harus pergi lebih ketengah lagi, airnya mungkin lebih bersih.”


“No, Dante! Aku mengkhawatirkan kesehatan anak kita kalau kau membawanya ketengah laut. Apa kau lupa kalau dia mabuk laut? Lagipula kita sudah melaut lama sekali sekarang Alex pasti sudah lelah. Biarkan dia beristirahat.” ucap Tatiana.


“Baiklah. Kita akan kembali jika menurutmu itu lebih baik untuknya.”


Keduanya lalu masuk menghampiri anaknya dan melupakan pancingan ikan dan melupakan sejenak bisnisnya.


“Alex, jadi kau ketengah laut hanya untuk main lego saja?” tanya Dante menghampiri putranya.


“Daddy lihat!” dia tak peduli dengan sindiran ayahnya, Alex yang masih berusia empat tahun justru memperlihatkan ego yang baru saja disusunnya.


“Wah bagus sekali. Anak daddy sangat pintar.” mengomentari lego yang berhasil disusun oleh anaknya.


“Mana ikannya daddy? Apa daddy tidak berhasil tangkap ikan?”


“Maaf ya, daddy tidak dapat ikan hari ini. Kita sudah berlayar dua jam tapi belum dapat ikan. Maafkan daddy ya tidak bisa mewujudkan keinginanmu hari ini.” ucap Dante merasa tak enak hati.


“Nanti malam kita makan apa?”


“Apa kau ingin makan ikan?” tanya Tatiana memotong pembicaran ayah dan anak itu.


“Mau!” seru Alex bersemangat sambil mengangguk.


“Kita punya banyak ikan di kulkas. Kau mau dimasak apa? Di bakar, di goreng, di sup?”


“Aku mau sup ikan!” jawab Alex cepat.


“Baiklah aku akan meminta koki memasaknya untukmu.” sahut Tatiana tapi Alex malah menggelengkan kepala seraya menatap kearah Dante.


“Apa kau mau aku yang memasaknya?” tanya Dante tersenyum


Alex tersenyum lalu menganggukkan kepalanya, memang itu yang didinginkannya masakan daddynya.


“Alex sayang, daddy mu bukan koki dirumah. Kenapa aku merepotkan daddy mu terus? Kita sudah punya koki dirumah yang bisa masak apapun yang kau mau.” kata Tatiana sedikit merasa keberatan.


“Tidak apa-apa kalau aku punya waktu, aku akan selalu masak untuknya.” kata Dante tidak ingin mengecewakan anaknya.


“Kenapa kau tidak kerja sebagai koki saja?” sindir Tatiana.


“Aku hanya masak untuk orang yang aku cintai bukan untuk sembarang orang.” Dante bicara sambil menggendong anaknya mendekat kearah kapten kapal mereka dan memerintahkan untuk kembali ke dermaga.


“Apa kau senang berlayar hari ini?”


Anak laki-laki yang berada di gendongan Dante itu bersikap seperti biasa, menempelkan kepalanya dibahu Dante langsung menganggukkan kepala.


“Apa kau senang menghabiskan waktu bersamaku hari ini?” tanya Dante pada istrinya.


“Tentu saja Dante aku senang selalu berada disisimu baik pagi, siang maupun malam.”


“Apa kau akan menghadiri perkumpulan komunitasmu lagi?”


“Tidak ada acara bulan ini mungkin bulan depan tapi apa kita masih aka berada di negara ini bulan depan?” tanya Tatiana pada suaminya yang berada disampingnya.


Dante tak menjawab hanya melirik kearah istrinya. “Apa kau suka tinggal disini?”


“Ya, semua orang pasti suka tinggal didaerah tropis, Dante. Cuacanya tidak ekstrem seperti di negara kita, saat panas suhunya bisa diatas empat puluh derajat. Saat dingin kita membeku.” ujar wanita itu terkekeh.


“Jadi kau lebih suka tinggal disini daripada di negara kita?” tanya Dante lagi.


“Jika boleh memilih aku memang lebih suka tinggal disini.”


“Baiklah kalau kau memang suka tinggal disini maka kita akan tinggal disini lebih lama.”


“Lagipula aku masih punya banyak urusan di negara ini jadi kita bisa tinggal disini selama yang kau mau.”


“Terimakasih Dante. Aku pikir kau akan meninggalkan negara ini dalam waktu beberapa minggu.”


“Kemarilah!” Dante merangkul istrinya dengan satu tangan sedangkan tangan satunya memeluk anaknya yang kini sudah ketiduran dipelukannya.


“Apa kau bahagia hari ini Tatiana?”


“Iya. Kenapa kau bertanya begitu?”


“Hanya ingin tahu saja.” jawab Dante ketika kapal mereka sudah mendekat ke dermaga.


“Aku selalu bahagia Dante. Apa ada yang ingin kau tanyakan?”


“Tidak ada. Bagaimana denganmu?”


“Aku juga tidak ada. Aku hanya ingin memelukmu dan menikmati masa-masa kita bertiga seperti ini.” ucapan Tatiana itu membuat hati Danter bergejolak hingga dia memeluk istrinya makin erat.


“Terimakasih sudah mencintaiku Dante.”


“Aku juga karena kau juga mencintaku dan menemaniku selama ini.” ucap Dante.


“Apakah kau mencintaiku?” tanya Tatiana yang membuat Dante langsung melirik wanita itu. Tatiana mendongakkan kepalanya menatap Dante.


“Kau meragukanku?” tanya Dante kembali yang dijawab oleh Tatiana dengan gelengan kepala.


“Terkadang aku mengalami ketakutan memikirkan jika suatu saat kau akan pergi meninggalkanku.”


“Itu tidak akan pernah terjadi. Jangan pernah memikirkan hal konyol itu lagi. Kau tahu saat aku melamarmu aku sudah berjanji pada diriku bahwa aku tidak akan pernah meninggalkanmu.”


“Aku percaya padamu tapi kadang aku tidak percaya diri dengan kekurangan yang aku miliki. Apakah kau akan bersamaku lebih lama lagi?” ujar Tatiana bertanya.


Dante menarik tubuh istrinya merapat dan mengeratkan pelukannya. “Kau tidak punya kekurangan apapun. Bagiku kau sempurna, sayang.”jawab Dante yang tak ingin menyakiti hati istrinya.


“Kalau memang aku sempurna kenapa kau tidak mau berhenti Dante?” tanya Tatiana lagi.


“Aku sudah pernah mengatakan alasannya padamu.” ujar Dante sambil menarik Tatiana keluar dari kapal menuju dermaga.


“Aku hanya khawatir kalau kau terus menggeluti dunia hitam maka waktu kita bersama akan semakin sedikit. Aku tidak mau itu.”


“Selama kau patuh pada aturanku dan tidak bertindak sesuka hatimu maka kita semua aman! Kita akan bersama selamanya, jangan pernah kau meragukan itu.” ujar Dante. Tatiana hanya tersenyum masam.


“Dante!” dia melirik Dante lalu menghentikan langkahnya membuat Dante pun ikut berhenti.


“Ada apa? Apa ada yang membuatmu kesulitan?”


“Selama ini kau menjaga kami dengan pengamanan begitu ketat. Aku memang tidak meragukanmu dan aku senang dengan penjagaanmu. Tapi tidakkah kau pernah berpikir untuk menjalani hidup seperti orang-orang yang bisa bebas pergi kemana saja tanpa ada beban?”


Dante menjawab dengan gelengan kepala. “Tanggung jawabku sangat besar, organisasi ini sangat besar dan banyak orang yang bergantung hidup padaku. Aku tidak bisa begitu saja meninggalkannya dan menghancurkan semua.”


“Aku mengerti. Sudahlah tidak perlu dibahas lagi.”


“Kau marah padaku?” tanya Dante.


“Tidak! Kau masih mau bersamaku saja sudah bagus. Mana mungkin aku marah.” ujar Tatiana.


Tatiana bicara dengan nada ketus sambil melangkah mendahului Dante. Dia tidak lagi berjalan beriringan dengan pria itu membuat Dante melebarkan langkahnya mengejar istrinya.


“Kau marah padaku?”


“Apakah aku punya hak untuk marah dan meminta sesuatu padamu?” ujar Tatiana sambil menggelengkan kepalanya saat bicara.


“Tatiana! Jangan mulai lagi.” kata Dante sedikit menaikkan suara.