PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 206. APA BARACK MASIH HIDUP?


“Iya daddy!”


“Itu juga buah kesukaanku. Nanti kita akan makan manggis berdua ya.” kata Dante menyenangkan hati anaknya. Mereka memasuki mobil yang sudah menunggu mereka, diikuti Norman duduk dikursi depan disamping supir.


“Iya daddy! Terus sekarang kita mau beli manggis?” Alex mendongak menatap ayahnya penuh harap.


“Tidak. Sudah banyak manggis disiapkan untukmu nanti.”


“Benarkah? Dirumah kita daddy?” tanya Alex penuh antusias.


“Kita akan kerumah Hans.”


“Hans punya rumah disini?” Alex meninggikan suaranya sambil membulatkan matanya menatap Dante seperti anak kecil kebanyakan yang diberitahu sesuatu yang membuat mereka histeris.


“Iya! Hans punya rumah disini jadi kita akan main kerumahnya.”


‘Sejujurnya aku sangat lelah, Alex banyak bertanya padaku tapi kenapa rasanya aku ingin terus menjawabnya? Hmmmm…..aku sangat menyayangimu, Alex. Sikapmu yang banyak bertanya ini membuatku ingat Bella ibumu! Wanita itu juga berisik sekali, ahh sepertinya menurun padamu Alex.’ Dante mencoba membuang wajahnya menatap keluar jendela mobil karena pikirannya tak bisa dikendalikannya.


Semua tingkah anaknya persis sama seperti Bella yang membuat Dante semakin merasa tersiksa. Setiap kali melihat Alex pasti Dante selalu menghubungkannya dengan seseorang yang tak ingin diingat olehnya.


“Apa Hans juga punya Rino disini?”


“Oh tentu tidak Alex!” jawab Dante menggelengkan kepalanya, “Rino ada dirumah Hans yang di London. Bukan disini.”


“Kenapa tidak dibawa kesini? Kan Rino lucu,” tanya Alex yang sudah mengerucutkan bibirnya. Dirinya benar-benar ingin melihat Rino dan bermain bersama.


“Hahahaha….karena kalau Rino dibawa kesini dia harus masuk karantina dulu selama dua bulan. Belum lagi dia harus di vaksin dan perjalanan jauh,  Rino bisa stress!”


“Oooooo…...” itulah respon singkat dari penjelasan Dante yang tidak terlalu dimengerti oleh Alex. Tapi dia mengerti, intinya Rino tidak boleh dibawa, peliharaan Hans seekor anjing Malamut Alaska yang sering jadi teman main Alex ketika bermain kerumah Hans. Alex diam-diam sedang berpikir siapa teman mainnya nanti selama di Indonesia?


‘Panjang lebar aku menjelaskan padamu dan jawabanmu hanya satu huruf itu saja Alex? Tanpa ucapan terima kasih ataupun pujian? Hah, kau benar-benar mirip dengan ibumu itu, menyebalkan sekali! Kalian selalu membuat kepalaku berdenyut karena banyak sekali bertanya tapi selalu saja kalian memberikan respon singkat. Tapi kenapa aku tidak bisa berpindah hati dari kalian berdua?’ ujar hati Dante yang semakin gemas dengan putranya itu.


CUP….


Dante mengecup dahi Alex.’Harusnya ini yang aku lakukan ketika Bella membuatku kesal. Kecupan, bukannya marah dan memakinya! Hah, tapi kau sudah pergi jauh kenapa aku harus memikirkanmu lagi? Kau bahkan tidak ingat anakmu ini sangat merindukanmu.’


“Daddy! Nanti kita main dirumah Hans?”


“Aku nanti disana ada kerjaan yang harus diselesaikan. Apa kau ingin main?”


“Mau!”


“Bagaimana kalau kau biarkan aku bekerja dulu?”


“Lalu?”


“Kau bisa istirahat dulu dirumah Hans, setelah pekerjaanku selesai, kita akan main.”


“Iya daddy!”


“Bagus, Aku sudah menyiapkan makananmu jadi saat makan nanti Norman akan datang membawakan makanan untukmu. Kau mengerti?”


Alex mengangguk, “Aku punya mainan?”


“Iya Alex! Kau punya mainan. Banyak sekali mainan disana tapi kau harus makan. Aku tidak bisa menjagamu terus disana! Jadi kau harus menurut pada Norman untuk makan, kau mengerti?”


“Iya daddy.”


“Terimakasih Alex! Setelah pekerjaanku selesai kita akan menghabiskan waktu berdua untuk main. Aku janji padamu.” Dante tersenyum lalu memeluk erat anaknya.


“Assiiiikkkk! Habis daddy kerja aku main! Yeaaayyy!” Alex bicara sampai menautkan jari kelingkingnya sebagai tanda pinky promise dengan Dante.


“Hmmm….jangan buat masalah ya.”


“Iya daddy.” Alex mengangguk lagi lalu menatap Dante, “Apa Bella-ku akan datang?”


“Kau benar-benar menginginkan Bella?”


Alex mengangguk, “Aku sudah bilang pada langit tapi Bella belum datang juga! Padahal aku teriaknya sudah kuat.”


“Tunggulah ya, sabar sedikit. Saat waktunya tiba Bella akan datang. Aku pun tidak akan diam saja dan Nick sedang mencarinya.”


“Iya daddy! Tapi jangan lama-lama ya. Aku sudah sangat merindukan Bella-ku!”


Kalimat yang tak bisa dijawab oleh Dante, dia hanya semakin mendekap anaknya lebih erat lagi> Dia hanya mencoba memberikan ketenangan pada Alex. ‘Maafkan aku Alex! Aku menyiksa perasaanmu sekarang dan aku juga ikut menyiksa perasaanku sendiri. Bukan salah Bella jika dia meninggalkan aku dan pergi dengan Anthony. Aku sudah menyiksanya begitu parah. Mungkinkah itu alasannya dia meninggalkanku?’ Dante kembali berdecak dan menatap keluar jendela. ‘Apa kau tidak mau kembali padaku Bella? Kau puas dengan milik Anthony? Heh, kenapa pikiranku jadi kotor sepertimu Bella? Ahhh!’


“Kita sudah sampai Alex!”


Tiga puluh menit selama diperjalanan, diisi Dante dengan berdiam diri dengan pikirannya yang sibuk sambil memeluk Alex sehingga anak itu pun mengantuk dan tertidur dalam dekapannya.


“Daddy!” matanya terbuka lalu menguap.


“Tidurlah. Ini sudah malam jadi kau makan dan tidur. Aku akan mengerjakan pekerjaanku dulu ya.”


Alex hanya menjawab dengan anggukan kepala. Dante langsung menggendong anaknya masuk kedalam.


“Anda ingin saya membawanya, Tuan?” tanya Norman menawarkan diri.


“Biar aku antar ke kamarnya, nanti kau siapkan saja yang seharusnya kau siapkan!” Dante memainkan mata memberi kode pada Norman untuk menyiapkan makanan Alex.


“Baik, Tuan. Saya mengerti.” ucap Norman dan Dante pun langsung masuk kedalam kamar/


“Dante!” Hans yang hendak membuka pintu tapi keduluan Dante.


“Jelaskan semuanya padaku!”


“Apa Barack masih hidup?” sebelum menjelaskan justru Eddie bertanya lebih dulu pada Dante.


“Masih! Lihatlah detak janutngnya masih ada lima di jam tanganku!” Dante menunjukkan jam tangannya saat bicara.


“Ah syukurlah!”


“Tapi, bagaimana kalau dia disiksa?”


“Setidaknya aku tahu kordinatnya ada dimana.”


“Oke! Kita kan buat dan atur strateginya sekarang.” ujar Hans sambil menyugar rambutnya.


“Daddy!” panggilan suara anak kecil membuat mereka bertiga menoleh.


“Kau membawa anakmu, Dante?”


“Aku bahkan tidak sadar kalau kau ada digendongan daddy-mu.” kata Hans smabil membuka tangannya, membuat Alex berpindah ke dekapannya.


“Aku terpaksa membawanya.” kata Dante.


“Tatiana mana?”


“Entahlah.” jawab Dante acuh yang langsung membuat Hans dan Eddie saling bertatapan.


“Apa maksudnya itu Dante?” Eddie memberanikan diri bertanya.


“Mana yang lebih penting sekarang, mengetahui cerita tentang hidupku atau menyelamatkan Barack?”


“Melihatmu datang kesini dan panik, tentu saja kita harus memikirkan cara menyelamatkan Barack, itu jauh lebih penting.” jawab Hans sambil menjentikkan jarinya.


“Kalau begitu ayo kita atur strategi.” ujar Dante.


“Tapi kita harus menaruh anakmu dulu dikamar.”


“Kau benar. Mungkin aku butuh babysitter disini.”


“Untuk apa?”