PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 559. JEFF BAGIANKU!


“Membunuh kedua ilmuwan ini bukan?” celetuk Anthony.


“Ya setelah aku mendarat, langsung saja tembak mereka dan ambil laptop itu juga.”


“Tapi kau bilang kalau kita membunuh android maka akan ada suara yang terdengar?” celetuk Anthony.


“Tidak apa-apa pria ini sudah bersama kita. Jadi dia tidak mungkin bisa berdalih dan kabur.” Dante bicara dengan tegas dan penuh penekanan.


“Baiklah kalau begitu Dante.”


“Lalu, apa yang harus aku lakukan?”


“Setelah kita mendarat, kau harus segera mematikan semua androidnya. Jangan sampai kau lengah, Barack! Jangan ada satupun android yang tersisa.” tegas Dante lagi. “Dan Jeff Amadeo bagianku.”


“Bersiaplah. Aku akan mendarat sekarang.”


Dor Dor Dor


‘Aku menembaknya juga! Akhirnya aku melakukan kesalahan. Manusia ini harus aku matikan.’ Belum sempat Jeff bicara pada kedua ilmuwan itu, namun keduanya sudah ditembak dihadapannya oleh Anthony yang sebenarnya tidak ingin melakukan itu. Namun dia terpaksa meskipun bertentangan dengan kata hatinya.


‘Aku sudah mengambil laptopnya. Kau jangan menangis Anthony! Dia memang pantas untuk mati karena dia membuat banyak hal buruk.’


Disaat yang sama laptop yang tadi ditaruh Jeff disebelahnya pun sudah diambil. Begitupun senjata Jeff sudah diamankan oleh Manuel.


“Kalian!” Jeff tidak menyangka bahwa dia akan bertemu dengan orang-orang itu.


“Kau melihat kami sekarang.” ujar Manuel setelah mereka mematikan hologramnya. Sehingga kini wajah asli mereka pun terlihat.


“Halo!” sapa Baarck tersenyum dan dia sudah membuka maskernya lalu turun dari helikopter.


“Serahkan dia padaku.” ucap dante mengacungkan senajta ke dahi Jeff. Matanya menatap tajam pada pria itu dan satu tangannya sudah mengalihkan laptop pada Barack. Sedangkan Anthony sudah melemparkan kedua mayat itu keluar dari helikopter.


“Buka dulu! Pinnya 1488!” ucap Manuel. “Lalu bawa kesini dan ambil sidik jari kirinya.” Manuel memberikan penjelasan sebelum Jeff sempat merespon perintah Manuel pada Barack.


“Hahahahaha.” Jeff tertawa. “Jadi kalian tahunya hanya main keroyokan? Kalian takut menghadapi aku satu per satu?” Jeff bicara dengan nada menghina.


“Tidak penting lagi menghadapimu satu lawan satu.” jawab Manuel dan Barack sudah berjalan masuk kedalam pesawat mengambil sidik jari kiri Jeff.


“Jari kelingkingnya.” teriak Manuel. Dia mengamati Jeff dan kini Barack memindai retina matanya. Karena program yang dibuka Barack membutuhkan retini mata kiri Jeff.


“Awas kau ya Manuel! Kuakai kau cukup hebat.” Jeff bicara lagi sambil menatap tajam pada Manuel.


“Ya kami memang hebat bukan? Kami selalu lolos dari semua seranganmu bukan?” sahut Manuel.


“Serahkan dia padaku dan bakar kedua mayat ini.” pekik Dante. Dia sudah tidak mau membuang waktu berbasa basi lagi dan ingin segera menyelesaikan urusannya.


“Baiklah Dante.”


Mereka pun mundur dan menyisakan Dante dan Jeff didalam helikopter itu.


“Halo Dante! Akhirnya kita bisa bertatapan muka setelah beberapa lama kita hanya bicara lewat telepon saja. Bukankah ini sebuah kehormatan kita bisa bertemu dan bertatap muka?” ucap Jeff.


“Tidak suatu kehormatan bagiku untuk bertemu orang sepertimu. Jadi tidak perlu banyak bicara.”


“Hahahaha.” Jeff kembali tertawa.


“Apa ada yang lucu atau otakmu sudah korslet? Kau terlalu banyak tertawa.”


“Tidak, apa yang kalian rencanakan sebenarnya? Kenapa kalian mengambil laptopku?” tanya Jeff.


“Jangan coba-coba menggangguku! Aku sudah membuat rencana yang matang.” Jeff menatap tajam pada Dante.


“Rencana ini akan menjadi rencana terhebat sepanjang masa dan akan dikenang oleh seluruh umat manusia yang tersisa!”


“Tapi aku rasa aku akan mengacaukannya. Lagipula aku tidak suka dengan manusia-manusia yang tersisa itu. Karena wajahnya semua mirip denganmu. Satu sepertimu saja sudah membuat kepalaku pening. Apalagi kau menghidupkan ratusan Jeff Amadeo. Itu tidak akan kubiarkan.” ujar Dante.


“Tapi aku pasti akan berhasil menghidupkan mereka dan suatu saat nanti kau akan pusing sendiri.”


“Oh begitukah?” Dante memicingkan matanya dan tersenyum sinis.


“Dante, kau harus ingat bahwa semua yang ada dipikiranku ini, mereka juga memikirkannya. Karena mereka itu adalah kloningku.” ujar Jeff penuh kebanggaan.


“Aku akan menghancurkan semuanya. Sama seperti aku menghancurkanmu.” balas Dante.


“Hahahaha kau tidak akan pernah bisa menghancurkan semuanya Dante.”


“Kenapa tidak?” Dante memicingkan matanya dengan kedua tangannya bersidekap menatap Jeff.


“Apa kau pikir aku sebodoh itu menempatkan kloningku hanya disatu tempat? Kau tidak akan pernah tahu dimana kloningku berada.”


“Kau mau mati saja pun menyusahkan orang. Jangan khawatir, aku akan menemukan kloningmu.” ujar Dante. Namun dia pun memikirkan perkataan Jeff.


'Apa benar dia menaruh kloningnya ditempat lain? Dimana dia menaruhnya dan bagaimana caranya dia mengaktifkannya? Kemana aku harus mencarinya? Aku harus menghancurkan semuanya tanpa ada yang tersisa.’ bisik hatinya.


“Baiklah Dante, aku akan memberimu penawaran terakhir sekarang. Aku akan memberimu dua pilihan. Yang pertama kau membunuhku maka kau hanya membunuh sebagian diriku! Karena saat kau akan menemukan bagian dari diriku yang tidak pernah kau duga. Dan pilihan kedua, kau membiarkan aku hidup dan aku akan membiarkanmu dan temanmu hidup.”


“Dengan begitu kau masih tetap hidup didunia ini dibawah kendaliku. Aku tidak akan mengurusi dirimu. Kau boleh melakukan apapun tapi kau berada di kerajaan baruku. Di kerjaaan baruku yang paling besar didunia ini, semuanya ada dibawah kendaliku. Tapi aku akan memberi panggung untukmu. Kau mengerti maksudku?” Jeff pun memberikan penawarannya yang langsung ditolak Dante.


“Kau pikir itu pilihan hebat?” Dante tidak peduli dengan tawaran itu.


“Ah, jadi kau menolaknya? Padahal aku memberimu tawaran terbaik. Kau tetap memiliki kekuasaan di Eropa. Aku tidak akan mengganggu wilayah disana. Aku hanya akan membantumu mengelolanya. Bagaimana? Bukankah itu sangat bagus?”


“Cih! Masa kecilku terlalu pahit! Aku belajar bagaimana nasibku jika bekerjasama dengan orang yang tidak bisa dipercaya. Mereka hanya memikirkan keinginan mereka sendiri. Kau sama seperti Robert Kane.” kata Dante.


“Hahahaha……aku sangat mengenal orang yang kau sebutkan itu Dante. Biar aku memberitahumu. Seorang ilmuwan harus merelakan kehilangan orang-orang yang dicintainya.”


“Cih! Kau pikir kau itu ilmuwan?” Dante terkekeh merasa ucapan Jeff itu sebuah lelucon.


“Kau pasti tidak akan menyangka bukan? Apa kau tahu darimana asalku? Manusia diciptakan dengan membawa misinya masing-masing termasuk aku.” ujar Jeff.


“Dante, bunuh saja dia! Jangan kau ladeni dia bicara. Dia akan mencelakaimu Dante.” Manuel mengingatkan temannnya itu.


“Benar Dante. Kenapa kau menghabiskan waktu bicara dengannya.” Barack menyahuti. “Dante! Apalagi yang kau pikirkan? Bunuh dia cepat! Dia itu sumber masalah.”


“Tenanglah kalian dulu. Dia menyimpan sebuah rahasia yang ingin kuketahui.” kata Dante menyahuti teman-temannya.


“Aku adalah percobaan yang gagal itu.” Jeff bicara lagi sambil mendongak angkuh.


“Apa maksudmu?” Dante bertanya untuk memastikan Jeff bicara yang sebenarnya.


“Aku ada didunia ini karena ayahmu, Dante!”


Ucapan Jeff itu tidak langsung dipercaya Dante tapi dia masih mendengarkan penjelasan Jeff sehingga dia duduk ditempat itu.


“Kau tidak mempercayaiku bukan?” celoteh Jeff lagi.