
by tundjungsari
Pepatah berkata: yang ada di hatimu, belum tentu tertulis di buku nikah. Apa jadinya bila masih cinta, tapi dipisahkan surat cerai?
"Ibu Melodi, ada permintaan terakhir?"
Lodi memandang Sumbang, lelaki yang belum satu menit diputuskan hakim menjadi mantan suami. Tatapan yang sulit diartikan oleh siapapun. Bahkan oleh Lodi sendiri. Sumbang tak berani membalas tatapan itu.
"Ibu Melodi?" hakim kembali bertanya.
"Ada Tuan Hakim."
"Silakan kemukakan."
Melodi menghela napas panjang. Ditatapnya Sumbang kembali. Tepat di bola mata. Sumbang buru-buru menunduk. Lelaki itu memandang ujung sepatu yang sibuk menghalau debu di atas lantai.
"Mas Sumbang, pandang aku."
Lelaki berkulit putih itu mendongak. Sebulir keringat mengalir di kening. Mereka berdua bertatap netra.
Dug
Dug
Dug
Entah degup jantung siapa yang berdetak cepat. Milik Melodi, atau milik Sumbang.
"Kau boleh menyakitiku, tapi jangan sakiti dia."
"Bisa diperjelas, Bu Melodi?" tanya hakim.
"Pak Sumbang sangat paham dengan yang saya maksud, Pak Hakim."
Kini gantian Pak Hakim yang menghela napas panjang. Beliau juga paham dengan apa yang dimaksud Melodi. Sumbang tadinya tidak bisa menerima tuntutan Melodi untuk minta cerai. Tapi wanita itu kukuh.
"Betul begitu, Pak Sumbang?"
"Eh, iya. Betul. Saya mengerti."
"Ehm. Baiklah Bu Melodi dan Pak Sumbing, kalian resmi bercerai."
Lodi berdiri dan bergegas keluar setelah membubuhkan tanda tangan.
"Lodi ...."
Lodi berhenti. Seluruh tubuhnya ia hadapkan ke Sumbang.
"Apa lagi?"
Sumbang meneguk ludah. "Aku... minta maaf."
"Hanya itu?" tanya Melodi parau. Kalau mau jujur, ia masih sangat mencintai lelaki di hadapannya. Bahkan seandainya wanita itu bukan Nada, ia memilih poligami daripada cerai. Tapi ini Nada, mereka tidak mungkin bersuami satu dalam waktu yang sama.
"Aku ... maksudku, apakah ayah dan ibu sudah tahu hal ini?"
Melodi menggeleng sambil menaikkan alis. "Aku tidak pernah bermaksud memberi tahu mereka. Pada akhirnya, mereka toh akan tahu."
"Lodi, aku ...."
"Mas tidak bermaksud menyuruhku memberi tahu mereka, bukan?"
Sumbang mendadak gagap. Seperti maling kepergok orang.
"Ah, tidak. Tentu saja tidak."
"Kalau begitu aku pulang."
Sumbang membalas dengan lambaian tangan yang tidak perlu. Mantan istrinya masuk mobil.
Melodi menyalakan mesin. Mobil melaju. Setitik air mengalir dari sudut mata Lodi.
"Oke. Aku jomblo sekarang. So what???"
***
"Jadi kau sudah resmi bercerai?"
Lodi mengangguk. Santi sahabat sejak kecil adalah orang pertama yang ia datangi.
"Lalu apa rencanamu selanjutnya?"
"Tentu saja tinggal bersama ibuku. Masalahnya ...."
Tuk
Tuk
Tuk
Lodi menggetukkan jari di atas meja dapur.
"Mereka belum tahu."
"Astaga, jadi kau belum memberi tahu mereka?"
Lodi menggeleng. "Aku tidak tahu bagaimana mengatakannya."
"Katakan saja. Lambat laun beliau pasti akan tahu."
Santi ngobrol sembari memotong tempe. Tangannya lincah bergerak menyalakan kompor, lalu memasukkan minyak ke wajan.
"Iya. Tapi bukan dari aku. Biar mereka saja yang ngomong."
Sreeenggg...
Suara tempe masuk penggorengan meningkahi percakapan mereka.
"Kau tinggal di sini saja dulu."
"Ah, gila apa. Kau kan ada suami."
Lodi setuju. Usulan yang tidak terlalu buruk. Daripada tidur di penginapan?
Tut
Tut
Tut
Gawai Lodi berbunyi. Ibu memanggil.
"Ibuku," desis Lodi.
"Terima saja. Mungkin beliau hanya ingin menanyakan kabarmu."
Lodi memencet tombol terima.
"Lodi, kamu dimana?"
Suara terdengar panik. Seperti seorang ibu yang baru menemukan anaknya yang hilang beberapa waktu.
Lodi tercekat. "Sepertinya ibu sudah tahu."
"Di rumah Santi, Bu."
"Kemarilah."
"Baik."
Tidak sampai lima menit Melodi sudah sampai di rumah ibunya. Rumah Santi memang hanya berjarak satu gang.
Ibu menyambut dengan pelukan hangat.
"Lodi, kenapa kau tidak pernah cerita?"
Lodi membalas dengan pelukan. Dan air mata yang tidak bisa lagi ia tahan. Ibu memeluk erat sambil mengusap punggung Lodi.
"Kalau kau cerita dari dulu, mungkin ada solusi yang lebih baik daripada bercerai."
Tangis Lodi semakin tersedu.
"Ibu, andaikan bisa ... Cerita ini pasti kusimpan erat. Aku sungguh tak ingin kau tahu. Andai mungkin, rasa ini kusimpan sendiri. Aku tidak mau berbagi," jerit Lodi dalam hati.
"Dan Nada, bagaimana mungkin kalian berdua sepakat menyimpan rahasia. Dia pasti tahu sesuatu. Kalian serumah. Kamu bisa menyembunyikan dari ibu. Tapi Nada?"
Kali ini, tangis Lodi luruh sempurna.
"Maafkan aku ibu. Cerita ini pasti menyakitkanmu," isak Lodi dalam hati. "Ibu belum tahu semuanya. Cerita selanjutnya, jauh lebih menyakitkan."
***
Pernikahan, mestinya cukup sekali dalam kehidupan. Tak seorang pun berminat menjadikan pernikahan sebagai sekedar kenangan.
Lodi memasuki rumahnya. Tepatnya, calon mantan rumah. Usai berpisah, rumah ini milik Mas Sumbang. Lodi punya hak atas mobil. Dan sebuah toko batik. Dia kembali ke rumah untuk mengambil beberapa barang yang masih tertinggal. Bertangisan dengan ibu membuatnya sedikit lega.
Rumah lengang. Lodi masuk kamar. Tempat tidur terlihat berantakan. Selimut bersebar tak dilipat. Selama proses sidang Lodi kadang tidur di kios. Kalau pun tidur di rumah, ia menempati kamar tamu.
"Ah, mengapa pula masih kuingat saat bercengkerama di atas tempat tidur ini?"
Usia pernikahan mereka memang baru tiga tahun. Tapi boleh dibilang mereka sangat jarang bertengkar. Sumbang pria romantis. Juga manis. Bahkan dirinya yang tak kunjung hamil tidak jadi masalah.
"Kau tahu, belum punya anak maka kita puas bercumbu sepanjang waktu,"rayu Sumbang waktu itu.
"Fokus Lodi. Kamu ke sini hendak ambil buku tabungan."
Sisi yang lain segera menegur Lodi.
Setelah menemukan apa yang dicari, Lodi ke dapur. Haus. Dapur sama berantakannya.
"Aih, rasanya ingin beres-beres."
Usai menelan seteguk air, Lodi melipat lengan baju. Tangannya meraih gelas kotor.
"Sudahlah Lodi. Dia bukan suamimu lagi. Ambil yang kaubutuhkan. Lalu segera pergi."
Lodi kembali meletakkan gelas kotor. Dia meraih kunci mobil, keluar dan mengunci pintu.
Mobil berjalan pelan menuju rumah ibu. Hanya butuh waktu 45 menit.
Jeglek.
Lodi membuka pintu rumah ibu. Ada Nada di ruang tamu. Sejenak mata mereka bertemu. Ah, tatapan mata itu ....
"Mbak Lodi, aku dibilang buntung..."
"Siapa yang mengataimu?"
Sebuah kecelakaan lalu lintas membuat Nada kehilangan satu kaki. Dia nyaris bunuh diri waktu itu. Nada membakar habis berbagai plakat dan piala prestasi modeling yang pernah ia peroleh.
"Nada, Mbak Lodi mau belajar karate."
Mata sedih Nada menatap kakaknya tanpa minat.
"Biar Mbak bisa pukul orang yang berani mengejekmu."
Mata itu sedikit bersinar.
"Kamu jangan sedih lagi."
Tekad itu membuat Lodi dipanggil beberapa kali oleh guru BP. Tapi Lodi tidak kapok.
"Mbak, Edi dan Agus tak berani mengejekku lagi."
Senyum Nada adalah kebahagiaan Lodi.
Namun kini, kedua mata itu saling menatap selayak dua mata orang asing. Saling menghindar.
***
bersambung