PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 134. UMPAN BALIK


Dia merobek pakaiannya, membukanya dan mempersiapkan alat-alat untuk mengeluarkan timah panas yang bersarang ditangan dan kakinya sendiri. “Sssshhhhh.” dia meringis keskaitan setelah membersihkan lukanya dengan alkohol. Dia menahan semua rasa sakitnya ketika menggunakan pinset untuk mengambil timah panas itu. “Huffff perihnya sampai membuatku merinding!” ujarnya.


“Sekarang aku harus menutupi lukanya setelah dibersihkan.” sambil bergumam dia mengambil perban. Anthony adalah seorang staf khusus yang memang dipersiapkan untuk berperang sebagai mata-mata Anthony sudah sangat terlatih sehingga mudah baginya mengeluarkan peluru yang bersarang ditubuhnya dan ini bukan yang pertama kalinya bagi Anthony. “Ssshhhh…..” meskipun rasa sakitnya masih membuat Anthony meringis lalu dia menutup lukanya dengan perban.


Dreeeetttttttt dreeeeeetttttt dreeeettttt……..ponselnya bergetar saat pria itu sedang sibuk mengobati lukanya. Sontak keningnya mengeryit lalu menatap ponsel yang ada diatas nakas.


“Aduh kenapa aku lagi kayak gini ada telepon masuk?” ujarnya lalu mengambil ponselnya setelah melihat siapa yang menghubunginya. Ternyata kekasihnya yang menghubunginya.


“Hai sayang!” jawab Anthony.


“Selamat malam kapten Anthony! Aku masih belum mendapatkan kabar darimu.” ujar seorang jenderal yang menghubunginya. Anthony memanggil dengan sebutan ‘sayang’ karena kekasihnya yang sedang menghubunginya tapi malah terdengar suara seorang pria dari seberang sana. Kadang Anthony juga snegaja menggunakan kata ‘sayang’ saat ada telepon masuk dari federal agar jika ada orang yang menguping maka mengira dia sedang bicara dengan pacarnya. Dengan begitu tidak akan ada siapapun yang mencurigainya. Bagaimanapun dia sebagai mata-mata harus berhati-hati dalam bergerak.


Mendengar ucapan Jenderal yang merupakan atasannya itu, Anthony mengeryitkan dahinya. ‘Aku sedang dalam penyamaran, tumben dia meneleponku? Bukankah nomornya tidak boleh masuk kedalam handphone-ku? Atau karena ini dia menggunakan nomor ponsel pacarku untuk menghubungiku?’


“Selamat malam, Jenderal! Aku sudah menyampaikan kabarku kepada utusanmu.” jawab Anthony.


“Anthony! Aku tidak akan meneleponmu jika aku sudah mendapatkan informasi darimu.”


“Aku sudah mengirimkannya Jenderal. Apa mungkin dia belum sampai padamu?”


“Belum! Dan aku juga belum emngubunginya. Apa mungkin ada masalah?” tanya Jenderal itu lagi.


“Tidak! Aku rasa tidak ada masalah apapun karena aku langsung memberikan padanya lalu dia pergi. Semua baik-baik saja disini, memangnya kenapa?” ujar Anthony.


“Aku sudah mengecek titik lokasinya dan memperhatikan titik lokasi terakhir dia berada saat handphone-nya terhubung dengan internet. Dia ada ditikungan tak jauh dari rumah sakit. Apa tidak ada informasi kecelakaan disana? Karena sampai saat ini masih belum ada kabar darinya.”


Anthony mencoba berpikir. “Dari pagi aku ada dirumah sakit, aku ada di IGD dan aku menunggu seseorang disana tapi aku tidak menemukan ada informasi tentang kecelakaaan. Tempatku berdiri tadi adalah satu-satunya tempat dimana seseorang yang terluka karena kecelakaan harus dibawa di kota ini.Tidak ada rumah sakit lainnya di kota ini. Aku yakin sekali tidak terjadi apapun padanya.”


“Aku akan mengirimkan padamu koordinat lokasi keberadaannya. Tolong kau cek bila memungkinkan.” ucap Jenderal itu lagi.


“Tidak mungkin aku bisa keluar sekarang, jenderal! Tapi aku akan coba lewat jalur lain.”


“Baiklah. Aku menunggu kabar darimu Anthony! Oh ada apa dengan suaramu? Sepertinya kau kurang fit,  apa kau sedang sakit flu atau….?” tanya jenderal itu lagi yang mendengar suara serak Anthony.


“Tidak ada apa-apa. Semuanya masih aman terkendali namun bisakah kau memberiku saran?”


“Apa yang ingin kau tanyakan padaku.” ucap Jenderal itu.


“Seandainya Dante Sebastian ingin aku masuk kedalam bisnisnya, maksudku sebagai orang kepercayaannya, mengurus bisnisnya apa aku harus menerimanya?”


“Apa kau dapat tawaran itu?” tanya Jenderal sedikit terkejut.


“Ini semua karena permainan bola tempo hari. Dia mengujiku, bagaimana menurutmu?”


“Kalau masalah itu, kau sendiri yang harus memutuskannya karena kau berada didalam sana dan hanya kau yang tahu bagaimana didalam sana.” jawab Jenderal. Lalu sambungan telepon terputus.


“Hufff! Tidak ada bantuan sama sekali dan aku harus memikirkan sendiri.” gumam Anthony didalam hatinya, tangannya memijit pelipisnya.


“Baiklah kalau begitu. Lebih baik aku pergi kerumah sakit saja sekarang.” Anthony kembali membuka perbannya lagi, mengganti pakaiannya dan segera keluar dari kamarnya.


“Kau ingin pergi kerumah sakit Anthony?” tanya Henry yang masih berada ditempat yang sama, dia sedang mengabsen untuk hari ini dan menulis jadwal tugas para pelayan untuk besok.


“Hemm….aku sudah membuka pakaianku dan aku sudah mengeluarkan pelurunya tapi aku khawatir dengan infeksinya ajdi kurasa lebih baik aku ke rumah sakit untuk mengobati lukaku.”


“Bagaimana caramu mengeluarkan peluru itu?” tanya Henry curiga.


“Aku mencongkelnya!” jawab Anthony dengan senyum diwajahnya.


“Baiklah. Silahkan pergi Anthony.”


“Permisi!” Anthony pun bergegas pergi keluar meninggalkan mansion itu, Henry pun langsung menutup pintunya saat bayangan Anthony sudah tidak terlihat lagi.


“Sepertinya Tuan Dante benar-benar mencurigaimu.” Henry tersenyum dan dia berjalan santai menuju ke kamar Anthony lalu membuka pintunya karena dia memiliki kunci cadangan untuk semua ruangan dan kamar di asrama pelayan itu.


“Aku tidak tahu apa yang kau lakukan didalam sini! Tapi kau sudah memakai perban dan mengobati lukamu tadi lalu kau membukanya lagi. Apa yang sedang kau rencanakan Anthony?” ujar Henry dengan senyum sambil mengambil foto di tong sampah kamar Anthony.


Lalu Henry memeriksa kamar itu, dia menarik sesuatu dari bawah meja Anthony yang tadi ditempelkan olehnya saat Anthony pergi tadi pagi. “Aku tidak tahu apa yang kau lakukan didalam sini tapi semua akan ketahuan jika perekam suara ini sudah diputar.” ujar Henry memegang perekam suara ditangannya. Dia pun bergegas meninggalkan kamar itu dan menguncinya.


“Masih ingin diam?” tanya Dante melirik sahabatnya yang terluka.


“Fuhhhh!” pria itu memutar bola matanya sambil sedikit meringis menahan tangannya yang terluka. “Apa yang terjadi Dante?” akhirnya dia bicara dan tak ingin berbasa basi lagi. Sesaat setelah meninggalkan menara dan keluar dari arena, Nick yang dari tadi diam menatap Dante kini mulai mengutarakan pertanyaan.


“Apa yang kau pikirkan?” Dante justru balik bertanya sambil menatap Nick. Dia terlihat santai sekali seperti tidak terjadi sesuatu yang membuat Nick meringis.


“Apa dia penguntit?” Nick mempertanyakan yang ada dibenaknya.


“Hemm….” Dante menganggukkan kepalanya sambil menghembuskan napas panjang.


“Aku hampir membunuhnya tadi.”


“Kau yang hampir membunuhnya tadi atau dia yang hampir membunuhmu?” ujar Dante sarkas.


“Ishhhhh kata-katamu itu Dante! Jangan kau bahas lagi soal itu dulu.” wajah Nick nampak kesal menatap dante yang justru menyeringai ketika mendengar ucapan Nick.


“Katakan padaku sekarang, kenapa kau membunyikan sirine sehingga pertarungan ditempat ini harus diselesaikan begitu cepat? Kupikir kau akan memainkan permainan itu lebih lama.”


“Menurutmu kenapa aku melakukan itu?” tanya Dante lagi membalikkan pertanyaan seperti biasa dia lakukan kepada teman-temannya seandainya dia malas menjawab atau sekedar ingin mengecek kemampuan nalar para sahabatnya.


“Apa kau sekarang sudah mulai suka menyimpan penyakit?” tebak Nick.


Dante tidak mengucapkan sepatah katapun, dia hanya menggelengkan kepalanya saja.