PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 175. TATIANA PEMBUNUH


Flashback on


Kembali pada saat Dante sudah tinggal bersama dengan keluarga Tatiana.


“Permisi! Anda sedang apa nona?”


“Aku tidak sedang apa-apa!” ucapan wanita yang sedikit gelagapan. “Aku sedang melihat mesin mobil ini saja! Aku hanya merasa sedikit penasaran, aku sangat ingin tahu mengenai mesin mobil.”


“Tapi anda tidak memencet tombol lainnya kan?” tanya Henry agak curiga pada Tatiana.


“Oh tidak!” jawab Tatiana menggelengkan kepalanya. “Aku masuk dulu Henry!”


“Silahkan Nona!” Henry menganggukkan kepala lalu dia melihat kearah mobil ingin melihat dan mengecek mobil itu.


“Henry! Aku mau menggunakan mobil itu sekarang!”


“Oh silahkan Tuan!” Henry sebenarnya ingin mengecek dulu tapi karena sudah ada panggilan seseorang dia memilih menundukkan kepalanya dan membiarkan orang itu langsung pergi membawa kendaraan yang sudah ada diteras rumah mereka.


“Tatiana, ayo kita pergi sekarang!”


“Iya mommy!” Tatiana menyapa panggilan dari ibunya.


“Kalau mau ikut kenapa kau hanya berdiri saja disana?” tanya ibunya Tatiana.


“Aku menunggu Dante!” jawab Tatiana tersenyum melihat ibunya yang sudah ada didalam mobil.


Dan sesaat setelah pemilik nama itu disebut, bersaman dengan pemilik nama yang terlihat keluar dari dalam rumah juga.


“Maaf ya aku lama!” Dante muda keluar sambil tersenyum kecil dan wajahnya tidak enak hati.


“Tidak apa-apa Dante, ayo masuk!” ibu Tatiana mencoba mengajak Dante untuk masuk kemobilnya.


“Dante, kenapa kita tidak naik motor saja?” Tatiana mencoba mengalihkan Dante sambil memegang tangannya. Kata-kata Tatiana bukan berpengaruh saja pada Dante tapi membuat yang lainnya langsung menatapnya.


“Bukankah lebih baik kalau kita pergi bersama-sama saja naik mobil?” ibu Tatianya mencoba bicara.


“Dante baru bisa naik motor mommy! Aku ingin sekali naik motor dengannya!” Tatiana mencoba pura-pura merajuk agar dia bisa naik motor bersama Dante.


“Tatiana! Kau menyusahkan Dante saja!” ujar ibunya lagi.


“Tidak apa-apa! Biar saja!” ucap Tatiana menjulurkan lidahnya. Menatap Dante. “Benar kan Dante kalau kau mau mengajakku naik motor?”


“Tentu saja!” jawab Dante yang membuat Tatiana tersenyum senang.


“Aku mau ikut denganmu!” sapaan seorang gadis kecil yang cantik membuat Tatiana menoleh padanya. Sudut mulut Tatiana melengkung memunculkan seringai tipis.


“Tidak bisa! Kau masih kecil, kau harus pergi naik mobil sama mommy dan daddy!” ucap Tatiana.


“Dante aku mau ikut denganmu!” gadis kecil bernama Cassandra itupun memaksa.


“Cassandra sayang, kakakmu benar! Kita nanti bertemu ditempat camping saja ya?” ucap Dante.


“Tapi aku mau naik motor juga Dante!” Cassandra bersikeras.


“Cassandra! Kau tidak sopan! Kau harusnya memanggilnya brother! Bukan memanggil namanya Dante saja!” ujar Tatiana tak senang.


“Aku mau ikut Dante saja ya mommy!” ujar Cassandra dengan mengerucutkan bibirnya.


“Tidak bisa Cassandra! Kau harus ikut denganku! Dengan daddy-mu juga!” ujar ibu Tatiana.


“Tidak mau!” gadis kecil itu tetap mengamuk meminta tetap ikut dengan Dante.


“Tidak boleh! Naik mobil sana sama mommy dan daddy! Nanti ketemu di tempat camping saja!” teriak Tatiana memarahi adiknya.


“Tatiana! Kau jahat!” ucap Cassandra mengomentari Tatiana.


“Tapi Tatiana benar. Kalau kau naik motor bersamaku itu akan membahayakanmu Cassandra! Kalau kau sudah agak besar nanti baru kau ikut bersamaku ya? Lihat aku juga sudah membawakan makanan untukmu. Kalau dimotor tidak bisa makan tapi kalau dimobil kau bisa makan.” ucap Dante menyerahkan kotak yang dari tadi dipegangnya.


“Woaaahhhh makan!” gadis kecil itupun tersenyum dan langsung mengambil makanan Dante lalu masuk kedalam mobil. Dia sangat mudah dibujuk apalagi dengan kata makanan.


“Henry kau tidak ikut? Kau selalu mendampingi Dante disini, apa kau tidak ingin ikut kami saja?” tanya ayah Tatiana yang berada dibelakang kemudi.


Henry menggelengkan kepalanya, “Saya tunggu dirumah saja Tuan! Selamat bersenang-senang, saya dan pelayan lainnya akan menunggu dirumah saja Tuan!”


“Baiklah kalau begitu kami berangkat!”


“tapi Tuan, sebentar boleh saya cek….”


“Henry! Jangan memperlambat kami sampai ditempat tujuan! Nanti kalau keburu sore, kami tidak bisa menikmatinya!” ucap Tatiana menghentikan Henry yang ingin mengecek keadaan mobil itu.


“Iya, benar kata putriku, biar kita cek nanti saja mobilnya!’ ayah Tatiana sudah menyalakan mobil dan melajukan mobil itu pergi.


Tapi tak disangka, kecelakaan terjadi saat mereka dalam perjalanan. Kecelakaan itu menewaskan ibu Tatiana dan adiknya Cassandra, beruntung ayah Tatiana selamat dan mengalami luka berat. Setelah menjalani pengobatan yang memakan waktu lama, akhirnya dia pun sembuh dan bisa berjalan lagi. Kecelakaan itu sangat mengguncang Dante karena dia kehilangan sosok gadis kecil cantik kesayangannya, dia sangat menyayangi Cassandra dan jatuh cinta pada gadis kecil itu.


Flashback off


“Aihhhh! Semuanya salahku. Harusnya aku memberikan peringatan pada mereka karena aku yakin Tatiana sudah merusak mobil itu dengan sengaja!” Henry menghela napas. “Tapi saat ini aku sudah melindungi seseorang dan kau juga kembali menjebak dengan cara yang sama dengan caramu melenyapkan ibu dan adikmu!” agak lama Henry bergumam sendiri didepan tangga sebelum akhirnya dia memutuskan melanjutkan pekerjaannya.


“Selamat pagi Tuan Dante” sapa Henry ketika melihat Dante baru keluar dari dapur. ‘Kenapa dia terlihat lusuh dan agak panik ya?” celetuk Henry didalam hatinya saat dia mengucapkan salam pada Dante. Wajah pria itu tampak tidak seperti biasanya.


“Selamat pagi Henry! Dua wanita itu sudah kau keluarkan?’ pertanyaan pertama yang dilontarkan Dante langsung pada intinya.


“Baru saja Tuan!” jawab Henry cepat.


“Bagus! Antarkan aku kesana sekarang!” ujar Dante dengan wajah muram.


“Baik, Tuan!” jawab Henry. ‘Apa yang ingin dia lakukan sepagi ini? Jangan-jangan dia ingin membunuh Bella. Huh...untung saja Anthony sudah membawa Bella pergi!’ bisiknya dalam hati sambil berjalan ketempat penyiksaan bersama Dante.


“Silahkan masuk Tuan!” ujar Henry setelah membuka pintu. “Oh iya ini pesanan yang anda minta untuk ditajamkan, Tuan!”


“Aku tidak perlu itu!” jawab Dante dengan nada suara tak senang.


‘Hah? Kenapa dia terburu-buru sekali jalannya? Tapi dari raut wajahnya sangat berbeda dengan tadi malam, tadi malam dia terlihat sangat marah dan kesal. Tapi sekarang justru aku melihat kekhawatiran di wajahnya.’ tanya Henry dalam hati masih tak paham tapi dia menghela napas lega, aku harus mempersiapkan diriku saat kembali keatas dan dia menanyakan kenapa tidak ada orang didalam sana.’ Henry bersikap sangat tenang, dia menunggu ditempat biasanya dia menunggu Dante.


‘Suara langkahnya sudah naik kembali! Dia pasti akan menanyakan ini padaku! Bersiaplah Henry, alasan apa yang akan kau berikan padanya soal hilangnya Bella. Salah ucap saja satu kali maka nyawaku akan melayang, tidak boleh terjadi! Aku harus tetap hidup untuk menghentikan rencana jahat Tatiana!’


“Siapa yang kau izinkan masuk keruangan ini Henry?” tanya Dante dengan raut wajah cemas. Tatapan matanya nanar menatap henry, seketika wajahnya berubah penuh kemarahan.


“Tentu saja, saya tidak akan berani menyuruh seseorang masuk kedalam sini, Tuan!” ucap Henry menatap lurus pada Dante. “Saya adalah orang yang paling patuh pada keluarga anda, Tuan! Tiga puluh lima tahun saya bekerja di keluarga anda dan tidak pernah saya melakukan sedikitpun kesalahan.” ucap Henry seakan ingin mengatakan siapa dirinya.