PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 208. MAIN PERANG-PERANGAN


“Apa maksudmu?” Hans bertanya dan saat ini Sarah seperti seorang saksi mata yang sedang duduk dihadapan pihak berwajib untuk diinterogasi.


“Sarah apa kau tahu sesuatu?” Eddie ikut menimpali.


“Barack pasti bingung bagaimana menghubungi kalian. Karena kami selalu diikuti! Kami tidak punya waktu untuk beristirahat. Kami sekarat selama hilang dihutan.” ucap Sarah jujur.


Dante mendengarkan Sarah bicara tapi pikirannya, ‘Ah aku tidak boleh terkecoh! Aku yang bicara dengan Barack saat pertama kali dia meneleponku. Wanita ini pasti hanya ketakutan.’


“Sudahlah jangan dipikirkan lagi. Barack tahu kalau aku ingin menolongnya karena aku sudah menyebar titik-titik dimana saja dia bisa menghubungi kami. Kami sudah memberikan tanda untuk Barack tapi dia tidak mau melakukan itu. Dia sengaja menjauh dari tempat itu.”


“Benarkah? Tapi kata Barack tidak begitu.” Sarah agak bingung karena pernyataan yang berbeda.


“Iya.” Dante menganggukkan kepalanya tanpa senyum.


“Apa kau tahu alasannya kenapa Barack tidak mau kami bantu?”


“Kau mengetahui sesuatu?” tanya Dante lagi menatap Sarah yang sudah mulai tenang.


“Aku tidak tahu tapi saat kami dalam pengejaran Barack bilang kalau kita harus berjuang sendiri dan tidak boleh bergantung pada orang lain.” jawab Sarah.


‘Kurang ajar kau Barack!’ teriak Dante dalam hatinya. Seandainya Barack ada dihadapannya sekarang dia pasti sudah memukulinya sampai babak belur.


“Apa dia mengajarimu cara menembak?” refleks Dante menanyakan itu karena dia punya firasat.


“Iya! Dia juga mengajariku banyak hal. Cara mengobati luka, termasuk cara mengeluarkan peluru yang menancap ditubuhnya karena saat itu dia tertembak dan Barack mengajariku. Dia juga mengajariku cara keluar dari hutan dengan menggunakan koordinat bintang-bintang. Dia mengajarkanku banyak hal.” kata Sarah menjelaskan semuannya pada ketiga pria didepannya.


‘Kurang ajar kau Barack! Cih! Rugi aku memikirkanmu, harusnya aku turuti kata-kata Nick supaya menunggumu saja sampai keluar dari tempat persembunyianmu.’ sesal Dante membuatnya geram.


“Apa dia juga mengajarimu cara bertahan didalam hutan?” kembali Dante bertanya.


“Iya. Beberapa hari kami harus mencari makan apa saja yang ada disana. Minum air yang ada disana, air dari mata air sungai! Aku tidak tahu air itu bersih atau tidak tapi selama airnya tidak berwarna dan tidak berbau Barack mengambilnya untuk diminum. Kamu juga membuat api sendiri, menghindari ornag-orang yang mengejar kami dan kami berusaha untuk tetap bertahan hidup.”


“Ah sial! Dia ternyata malah main perang-perangan!” Eddi menyeletuk. Baik Dante dan Eddie bersungut-sungut kesal menatap Sarah.


‘Cih! Apa yang dilakukan Barack padamu Sarah? Kenapa kau senyum-senyum begitu? Mengingat Barack diatas gunung? Aisss….tahu begini aku tidak harus datang kesini.’ ada sesal dihati dante dengan keputusannya kembali ke Indonesia ‘tapi kasusnya sekarang berbeda, Barack diculik! Itu karmamu Barack! Harusnya kau beritahu kami kalau kau sedang main perang-perangan menyelamatkan putri seperti yang dikatakan Eddie tadi!’ ucap Dante masih merasa gemas.


“Apa ada yang aneh?” tanya Sarah menatap kedua pria itu menatapnya. ‘Kenapa sih mereka menatapku seperti itu? Mereka ini benar-benar temannya Barack tidak sih?’ ucap hati Sarah yang langsung memasang wajah serius. Tapi dia melihat Dante hanya menggelengkan kepalanya saja tapi matanya tetap menatap Sarah membuat Sarah mengerutkan alisnya.


‘Kau mempersiapkan diri untuk apa Barack?’celetuk dante didalam hatinya, ‘Wanita ini kau buat lebih kuat. Apa memang itu yang kau rencanakan padany? Kau menyukainya? Atau kalian sudah…...’ Dante tak melanjutkan pertanyaan dihatinya. Saat ini dia hanya menatap Sarah mencoba untuk menganalisa sendiri.


“Kenapa temanmu bilang kalau Barack main perang-perangan?” tanya Sarah ulang dengan sorot matanya masih tertuju pada Dante.


“Eddie!” Lalu Dante memanggil temannya sambil menoleh, “Jelaskan kenapa kau mengatakan main perang-perangan?”


“Sudah jelaslah Dante, Barack menggunakan masa kritisnya itu untuk mengajari wanita ini cara bertahan hidup. Kau tahu apa yang diinginkan Barack kan?” lalu Eddie memberikan pertanyaan pada Sarah dengan penekanan dikalimat terakhirnya.


“Oh!” Sarah tersenyum malu-malu, “Dia bilang aku tidak boleh menyukainya dan dia dia juga tidak menyukaiku. Padahal aku memang benar menyukainya.” ucap Sarah lirih.


“Apa? Kau mengatakan pada Barack kalau kau menyukainya?” lagi-lagi Hans bertanya bahkan matanya membulat.


“Loh, memangnya kenapa? Apa aku tidak boleh menyukai Barack? Apa dia sudah menikah?”


“Ha ha ha ha ha !” kini giliran Eddie yang tertawa terbahak-bahak.


“Ada apa sebenarnya? Katakan padaku!” Sarah mengerecutkan bibirnya. ‘Aku sangat khawatir pada Barack tapi kenapa teman-temannya malah menertawaiku sih?’


“Bukan apa-apa, jangan pedulikan temanku.” Dante mencoba menengahi lalu tersenyum kecut pada Sarah, “Sekarang sudah malam, sebentar lagi makan malam akan diantar untukmu dan anakku Alex. Jadi kalau kau ingin aku mencari Barack, bisakah kau bekerjasama denganku?”


“Tentu saja! Aku akan melakukan apapun asalkan kau bisa menemukan Barack.”


“Bagus. Kita lakukan take and gift. Kalau begitu tolong kau jaga anakku Alex. Aku dan yang lainnya akan keluar.Kami akan membahas bagaimana cara menyelamatkan Barack. Kami harus segera bertindak setelah kami mengetahui kondisinya.”


‘Baguslah, akhirnya kau kembali perhitungan Dante.’ gumam Eddie dihatinya yang sudah merasa tenang kembali dengan jawaban Dante.


“Baiklah. Aku mohon padamu, lakukanlah secepatnya.” Sarah memelas.


“Selama kau bisa diajak bekerjasama aku akan memenuhi janjiku.” ucap Dante tanpa senyum.


Sarah tidak mengatakan apa-apa lagi, dia justru menatapAlex,’Hai ganteng! Kau mau tinggal bersamaku dulu?”


“Apa kau baik seperti Bella-ku?” pertanyaan langsung terurai dari bibir Alex.


“Hmm!” Sarah mengangguk. “Kau memanggil nama kakakku sangat manis. Kau tahu aku baik seperti Bella bahkan aku lebih baik darinya. Aku juga lebih muda dari Bella dan aku lebih suka bermain daripada Bella! Kenapa kau memanggilnya seperti itu?”


“Benarkah? Aku memanggilnya begitu karena aku suka dia dan dia suka aku. Tapi, Bella-ku tetap favoritku yang nomor satu! Aku sangat mencintainya!” ucap Alex panjang menjelaskan dengan senyum bahagia. Dia selalu merasa bahagia berbicara tentang Bella.


“Kalau begitu jadikan aku yang nomor dua!” pinta Sarah menggoda Alex sangat bersemangat.


“Kau mau jadi yang nomor dua? Hmmm…..tapi aku cuma mau satu Bella-ku! Kata daddy nggak boleh dua perempuan!” ucap Alex polos.


“Ha ha ha ha!” Eddie terkekeh lalu melirik Dante dan meringis begitu juga Hans yang melakukan hal yang sama dan menatap Dante. Kedua orang itu tak dapat menahan tawa mendengar kata-kata Alex.


“Ehem!” Dante berdehem.


“Alex, tak apa karena Bella sedang tak ada disini.” akhirnya Dante memberi ijin pada anaknya.


“Ah, daddy-mu benar! Kan Bella sedang tidak ada disini. Bagaimana kalau main bersamaku dulu? Aku juga tidak punya teman, temanku Barack juga diculik katamu, kan?”


Mendengar ucapan Sarah, Alex pun menatap ayahnya, “Daddy tolong temannya Barack, daddy! Temannya diculik seperti Bella-ku!” ujar Alex sok dewasa.