PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 317. MAU TIDUR DENGAN ALEX


“Bukankah dari tadi kau yang mau kita memasaknya sendiri?” tanya Dante selembut mungkin padahal didalam hatinya rasanya dia mau meledak dengan tingkah Bella.


“Iya, tapi kasihan Alex! Aku tidak tega meninggalkannya, Dante!” ujar Bella yang kini sudah menatap Dante lalu memalingkan padangannya memperhatikan anaknya yang tertidur pulas. Ada senyum diwajah Bella ketika dia memandangi wajah Alex.


“Belinda! Cepat turun dari sana sekarang! Atau kau mau aku membangunkan Alex?”


“Jangan!” Bella menggelengkan kepalanya dan memilih turun dari tempat tidur sambil mencembungkan pipinya dan menatap marah pada Dante.


“Biarkan Alex tidur. Besok pagi kau boleh bermain lagi dengan anakmu!” ucap Dante lagi.


“Tapi aku sudah janji padanya akan menemaninya tidur. Masa aku pergi Dante? Aku tidak mau membohongi anakku!” Bella merasa enggan meninggalkan Alex yang tidur.


“Dia tidak kenapa-napa disini. Aku akan meminta Hans untuk masuk kesini dan menemaninya. Kau mengerti?” Dante sudah memastikan semuanya akan baik-baik saja pada Alex.


“Tapi dante!” Bella seakan masih engga untuk pergi. Dia tak lagi menatap Dante. Pandangannya terpaut pada Alex, dia merasa tak puas hati kalau harus meninggalkan Alex.


“Ayo Belinda!”


“Ehm…..kita tidak usah makan sup ikan ya Dante!” bujuk Bella lagi sambil matanya terus menatap Alex padahal Dante sudah menarik tangannya untuk keluar dari kamar anaknya.


“Apa kau bilang?” Dante langsung mengalihkan pandangannya pada Bella dengan tatapan tajam dan tak bersahabat. Dia benar-benar marah kali ini karena Bella tetap ingin menemani Alex sepanjang malam. Bagaimana mungkin dia akan mengizinkannya?


“Mungkin kita bisa makan sop ikannya besok pagi bersama Alex!”


‘Aduh, dia marah tidak ya kalau aku meminta begini? Aku benar-benar tidak tega meninggalkan Alex! Kalau tidak makan sup ikan juga tidak masalah, aku tidak bakal mati kan? Aku…..fuuuh!’ gumam didalam hatinya sambil berharap cemas menunggu jawaban dari Dante, tapi pria itu tetap saja diam menatap wanita didepannya dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.


Dante memutar bola matanya, “Jangan membuatku semakin bingung Belinda! Kau yang tadi bilang mau makan itu. lagipula kau belum makan? Bagaimana bayiku?”


“Makan sop ikan.” jawab Bella sambil menundukkan wajahnya.


“Terus kau mau bagaimana saat membuatnya?” tanya Dante dengan suara berbisik tapi penuh penekanan.


“Hmmm….sama seperti di apartemen itu, Dante?” jawabnya sambil menggembungkan pipinya dan tertunduk seperti seorang anak yang sedang dimarahi oleh orang tuanya. Bella memainkan jarinya saja melihat Dante yang sudah bertolak pinggang berdiri tegak didepannya.


“Jadi salah kalau mengajakmu melakukan itu sekarang?” omel Dante.


“Ya, tidak salah juga.” bella menggelengkan kepalanya pelan masih dengan wajah cemberut.


“Lalu, kau ingin Alex ikut bersama kita? Bagaimana kita bisa melakukannya?” Dante melangkah maju lalu mendongakkan kepala Bella dengan punggung tangannya.


“Apa kau mau Alex melihat seperti yang dilakukan Lorenzo diruangan piano?”


“Tidak, aku tidak mau seperti itu! Kalau begitu kita buat biasa saja didapur. Tidak usah seperti di apartemen. Aku tidak usah melihat tubuh polosmu juga tidak apa-apa yang penting aku bisa bersama Alex.” ujar Bella panik sehingga dia berpikiran tentang ide itu yang membuat Dante kehilangan kata-kata.  


‘Kenapa dia jadi menolak aku setelah bertemu anaknya? Dan kenapa jadi aku yang menggebu-gebu mengejarnya? Sepertinya ada yang salah ini.’ gumam Dante didalam hatinya ada sedikit merasa aneh karena ini pertama kalinya Bella menolak Dante.


“Kau pikir aku setuju dengan idemu?”


“Tapi aku sudah menyiapkan semuanya. Kau juga sudah mengganggu tidurku gara-gara sop ikan ini, Belinda! Lalu sekarang kau bilang tidak mau dan menyuruh Henry yang mengirimnya ke kamar.”


Dante kembali mengeluh sambil menaikkan intonasi suaranya, dia sudah tidak tahu lagi apayang harus dikatakannya pada Bella sehingga dia hanya menggelengkan kepalanya sambil menarik Bella, “Ayo pergi dari kamar ini.”


“Eh...Dante! Bagaimana dengan Alex?” Bella masih ingin bernegosiasi. Tapi Dante sudah tak sabar lagi ingin membawa Bella segera dari kamar itu.


“Hans! Masuklah kedalam dan temani Alex. Jangan tinggalkan dia sampai dia bangun. Kau tidur saja dikamarnya.” ujar Dante kepada temannya.


“Oke,” jawab Hans yang langsung berdiri dari tempat duduknya tanpa menunjukkan senyum atau ekspresi apapun. Dia langsung masuk kedalam kamar Alex sesuai perintah Dante.


Sedangkan pria itu sendiri sudah pergi sambil menarik lengan Bella.


“Dante?” Bella mencoba membujuk lagi, “Hah! Jangan berhenti mendadal Dante!”


“Kau yang memanggilku tadi? Apa lagi maumu?”


“Eh, iya aku cuma mau bilang kalau aku tidak lapar. Aku cuma mau tidur bersama Alex.”


“Kau tidak mengantuk Bella! Kau baru bangun tidur.” ujar dante yang sudah mulai merasa geram.


“Ehm...setelah dua jam di tempat tidur aku pasti tidur, Dante!” Bella membujuk kembali.


“Apa kau ingin membunuh anakmu yang ada dalam kandunganmu itu?”


“Eh, bukan begitu maksudku Dante.” Bella menundukkan kepala sambil berpikir mencari alasan lain.


“Aku tahu bagaimana sikapmu! Kau harus makan Bella! Aku ingin memastikan kau makan dengan benar kalau aku menyuruh Henry mengirim makanan, kau pasti tidak akan memakannya lagi. Iyakan?” Dante memicingkan matanya saat bicara sehingga membuat jantung Bella kembang kempis dibuatnya.


“Dante….maaaf….soalnya aku sangat ingin tidur memeluk Alex.” jawab bella jujur dengan suara rendah seperti bergumam.


“Jadi menurutmu tidur sambil memeluk Alex itu lebih menyenangkan daripada tidur sambil memelukku?” tanya Dante asal. ‘Shit! Apa yang barusan kukatakan? Kenapa aku membandingkan anakku dengan diriku sendiri? Apalagi didepan wanita ini, kemana harga diriku? Sungguh pertanyaan yang baru terlontar dari bibir Dante itu bukanlah sesuatu yang ingin ditanyakan oleh Dante.


Hatinya menentang dan sungguh Dante merasa sangat malu. “Oh itu……..” jawab Bella tersenyum.


‘Cih! Lihatlah wajahnya karena kesalahan aku bicara tadi dia malah senyum-senyum seperti itu!’ kesal hati Dante melihat bagaimana Bella sekarang sedang mempermainkan bibirnya menggigitnya dan memandang Dante semakin tidak jelas.


“Sudahlah, jangan pikirkan kata-kataku tadi.”


“Eeeh….tapi aku mau menjawab pertanyaanmu tadi Dante! Kau kan ayahnya Alex sedangkan Alex adalah anakku dan anakmu, jadi tidak bisa disamakan. Tapi….” Bella tidak bisa melanjutkan kalimatnya dia menatap Dante.


“Heeem, tapi apa? Katakan sampai selesai!” ujar Dante yang masih geram dengan tingkah Bella.


“Ehm…..aku….” Bella senyum-senyum ngak jelas sambil memainkan rambutnya.


“Sssshhh! Aku suruh menjawab kau malah justru memainkan ujung rambutmu dan tertawa tidak jelas seperti itu. Ada apa denganmu Bella?” tanya Dante saking geramnya.