
Pengeroyokan
"Maaf Dokter saya memang bukan ayah si bayi. Tapi saya mengkhawatirkan kondisinya. Jadi saya masuk. Tidak ada keluarga yang mendampingi. Ibu ayahnya sedang umroh," terang Juki.
Dokter Rahma mendengarkan dengan tangan dilipat di depan dada. Punggung bersandar santai di kursi dokter.
"Laki-laki yang maksa tadi, siapa?"
"Oh, itu ayah bayi, tapi mereka sudah bercerai."
Akhirnya Sumbang dipersilakan masuk. Dia duduk di hadapan dr. Rahma.
"Saya ayah bayi, Dok. Saya berhak melihat bayi dan ibunya."
Dr. Rahma berdiri. "Bapak sudah bercerai bukan? Saya konfirmasi ke ibu Melodi terlebih dahulu."
Tidak sampai semenit dr. Rahma keluar.
"Ibu Melodi hanya ingin bertemu Santi. Dia tidak mau ketemu yang lain. Siapa Santi?"
"Itu kakak saya,"sahut Juki cepat,"ia sedang perjalanan kemari."
"Tapi, Dok. Saya ingin sekali menemui Lodi," desak Sumbang.
"Maaf, saya sudah konfirmasi. Beliau tidak bersedia. Hanya mau bertemu Bu Santi," jawab dr. Rahma tegas.
Sumbang menunduk. Tangannya bergerak mengelap keringat di kening. Ini sungguh situasi yang tidak mengenakkan.
"Saya harap Anda berdua tidak membuat keributan lagi. Ini rumah sakit. Pasien butuh ketenangan!"
Kali ini dr. Rahma berdiri dengan kedua tangan bertemu di punggung. Ia menunggu kedua lelaki itu benar-benar menjauh dari sekitar ruang bersalin.
"Maaf, Dok, kami kira yang muda tadi suaminya. Habis dia sigap sekali. Sejak awal sampai pas cari darah juga," kata bidan.
Dokter Rahma hanya mengangkat bahu,"ada-ada saja!"
***
"Kenapa kamu menangis, Nad?"
Nada menjawab dengan memperbesar volume tangisan.
"Ada yang mengganggumu?" tanya Lodi lagi.
Nada mengangguk sambil tetap menangis.
"Siapa?"
"Bondan."
Bondan teman seangkatan Lodi. Tapi tidak sekelas. Badannya besar dan gempal.
'Bondan, kau boleh mengganggu siapa saja. Tapi tidak adikku.'
Begegas Lodi mencari Bondan. Yang dicari sedang makan di kantin. Tanpa banyak cakap Lodi menghampiri Bondan.
"Ndan. Jangan macam-macam sama adikku. Kalau berani sama aku."
Bondan mendongak angkuh. "Oh, adikmu yang buntung itu, yab...."
Lodi meraih es teh di gelas. Tanpa banyak bicara dituangkan es teh itu ke mangkok bakso Bondan. Padahal isinya baru berkurang beberapa suap.
Whuuuaaaaa ....
Sorak penduduk kantin membahana. Pertunjukan gratis. Sorakan provokasi memanaskan suasana. Bondan berdiri.
"Aduh, Mbak ... Mas ... ini kantin. Jangan bertengkar di sini," pengelola kantin tergopoh menghampiri,"saya laporkan kalian berdua kalau kantin jadi kotor!"
Muka Bondan merah padam. Tangannya mengepal. Lodi melenggang santai.
"Awas, kamu Lod. Jangan mentang-mentang cewek bisa berbuat seenaknya!"
Kejadian di kantin jelas berbuntut. Pulang sekolah Bondan menghadang Lodi dan Nada. Dua gadis itu memang naik angkot. Tapi menuju rumah, ada jalan cukup panjang yang harus mereka lalui.
"Hai! Kamu harus mengganti baksoku yang rusak!"
Bondan tidak sendirian. Ada dua teman laki-laki yang menemani. Geng Bondan memang terkenal rusuh. Selain berkelahi, kadang malak siswi.
"Kak ...."
Nada spontan memucat. Memeluk lengan kanan Lodi erat.
"Kamu pulang saja dulu. Biar kuhadapi."
"Kakak gimana?"
"Ah, tenang. Kau pergi cari bantuan. Cepet, sana!"
Tertatih Nada menyingkir. Kruk yang selalu menemani membuat ia tak bisa berlari.
"Hai mau kemana kau, Buntung!"
Bondan mengejar Nada. Dua temannya mengikuti. Lodi menghadang.
"Kalian mengejar cewek berkaki satu? Sungguh tak tau malu! Sini kalau berani sama aku!"
Lodi rutin karate. Nyaris bersabuk hitam. Latihan rutin ini membuatnya pede. Berhadapan dengan Bondan dan kedua temannya.
Bondan tetap mengejar Nada. Lodi dengan cepat menghadang satu kaki Bondan dengan kakinya.
Bondan terjatuh. Kedua temannya spontan berhenti. Menolong Bondan berdiri.
Pertahanan terbaik adalah menyerang.
"Bila aku lari, salah seorang dari mereka pasti mengejar Nada. Maka, hadapi."
Sebelum Bondan sempurna berdiri Nada melancarkan tendangan. Disusul pukulan ke teman satunya.
Brukk.
Dua orang jatuh. Tapi tidak fatal. Masih bisa berdiri. Sisa satu yang utuh. Dia lebih hati-hati.
Lodi kembali mengirim tendangan. Tapi musuh bisa menghindar. Ganti melancarkan pukulan. Lodi berkelit.
Teman satunya kini berdiri. Berdua mengeroyok Lodi.
Bukk
Aww
Sebuah pukulan mendarat di wajah Lodi. Ia terjengkang. Jatuh terduduk. Musuh bertiga mendekati Lodi. Lodi berdiri sambil meringis menahan nyeri.
"Mengapa mengeroyok perempuan? Kalian laki-laki atau perempuan?" seorang bapak tiba-tiba berteriak.
Lodi mengusap wajahnya yang kena tonjok. Lalu beringsut berdiri. Seorang lelaki menengahi. Bondan cs menghentikan aksi.
"Pergi!" kata si bapak mengarahkan telunjuknya ke para pengeroyok. Dengan wajah cemberut Bondan dkk beringsut pergi di bawah tatapan tajam si bapak.
"Terima kasih sudah menolong, Pak," kata Lodi sambil merapikan blouse.
"Kamu juga! Kamu perempuan atau apa? Perempuan itu tidak berkelahi."
Si bapak menatap Lodi tajam. Lodi menunduk. Merapikan rambut yang awut-awutan. Mempertemukan kedua telapak tangan di dada.
"Terima kasih. Terima kasih."
"Kamu juga. Pulang!"
Lodi bergegas pergi. Nada masih menunggu di ujung. Ia tadi berhasil memaksa si bapak melerai perkelahian.
"Mbak Lodi," sambut Nada
"Aku nggak kenapa-kenapa."
Sampai rumah Nada mengambil air es dan mengompres muka Lodi yang Jontor.
"Lodi ... kau berkelahi lagi?" tegur bapak,"sudah berada kali bapak bilang, aku mengizinkan kamu belajar karate bukan untuk kelahi!"
"Mbak Lodi tidak kelahi, Pak. Tadi ada yang main lempar-lempar tasku. Mbak Lodi bermaksud mengambil tapi malah kena."
***
"Astaga, Lodi. Jadi waktu kau kesakitan lahiran, justru hal itu yang kau ingat?"
"Entahlah, Santi. Melahirkan ternyata sakit sekali."
"Emang!"
"Lalu aku ngomong ke diriku sendiri: 'Lodi, menghadapi keroyokan 3 lelaki saja kamu berani. Masak Melahirkan nggak kuat? Ayo, anakmu harus segera keluar!'"
Santi menyendok nasi, lalu menyorongkan ke mulut Lodi. Dia paham betul dengan sifat sahabatnya ini. Juki kecil, meski bandel tapi Lodi tidak pernah mengeluarkan jurus karatenya.
"Berapa kantong darah yang sudah masuk?"
"Baru satu."
"Makan yang banyak. Biar lancar ASI-mu."
Lodi tidak menjawab. Dia asyik mengunyah makanan yang disodorkan Santi.
"Sampaikan terima kasihku pada Juki, ya. Makasih, banget."
Santi mengangguk. Lalu sedikit berat berkata," Sumbang pengin ketemu kamu. Boleh?"
Lodi menghela napas panjang. Lalu pelan mengunyah nasi.
"Ayamnya jangan besar-besar. Alot."
Santi memotong daging ayam dengan garpu dan sendok.
"Gimana, Lod? Boleh Sumbang masuk?"
Lodi menggeleng pelan tapi jelas.
"Nanti saja di rumah. Kalau Nada, boleh. Aku masih seorang kakak yang merindukan adik."
Kali ini Lodi berhenti mengunyah. Menyandarkan punggung pada kasur yang dibuat setengah duduk. Matanya berkaca mesti sekuat tenaga mencoba memandang langit-langit kamar.
Santi mengambil tisu. Mengusap air yang mulai muncul di sudut mata Lodi.
"Nanti kusampaikan,"ujar Santi pelan.
'Lodi, apa sebenarnya yang kamu pikirkan teman?'
-bersambung-