
“Sakit, Tuan! Kenapa suka sekali menyentilku?” tanya Bella menyentuh dahinya. ‘Apa dia tidak bisa sedikit saja berempati padaku? Seenaknya saja menyentilku, sakit sekali.’ ujar Bella dalam hati sambil meringis menahan sakit dikeningnya.
“Baguslah kalau kau merasa sakit! Berarti kau sadar kalau ini bukan di alam mimpi.”
‘Eh iya aku tadi cuma berharap bisa menemukan dimana anakku dikuburkan! Aku sangat ingin menemui anakku. Tapi bagaimana caranya aku bisa tahu?’
“Cepat tidur atau….”
“Iya….iya ini juga aku mau tidur.” Jawab Bella mengerucutkan bibirnya. ‘Sakit sekali sentilannya. Mendingan aku cepat-cepat tidur.’gumamnya sambil memejamkan mata.
“Kemari. Mendekatlah!”
“Iya, Tuan.” ujar Bella tak melawan mendekat pada Dante. ‘Issss…..dasar pria aneh. Tadi dia melemparku ke bathtub sekarang dia malah ingin aku mendekat padanya! Dasar labil!’ gerutunya dalam hati tapi dia tersenyum dalam dekapan Dante.
‘Kenapa hangat dan nyaman sekali dalam dekapannya? Aku suka tangan kekarnya yang seolah melindungiku….aku suka...’ ujarnya tanpa sadar memainkan kancing baju Dante.
“Hei cepat tidur! Kenapa aku malah memainkan kancing bajuku?”
“Eh….iya iya….maaf Tuan.” Bella berusaha memejamkan mata meskipun agak sulit. ‘Pelit banget jadi orang, pegang kancing baju saja tidak boleh! Menyentuhnya juga tidak boleh, melirik malah dimarahi. Semuanya salah dimatanya! Terus aku ini harus bagaimana?’
‘Ck….menyebalkan! Apa dia sengaja mau menyiksaku sampai aku gila ya? Kalau aku menginginkan bagaimana caranya aku muasin diri?’ keluh Bella dalam hatinya dan dia terus saja mengomel dalam hatinya sampai akhirnya dia kelelahan sendiri dan tertidur dalam dekapan Dante.
‘Akhirnya anak ini tidur juga! Lambat sekali kau tidur satu setengah jam aku menemanimu baru kau bisa tidur!’ bisik Dante didalam hati lalu perlahan melepaskan tanganya dan menidurkan Bella disampingnya.
‘Syukurlah keningnya sudah tidak merah lagi, apa dia merasa sakit saat aku menyentilnya? Tapi aku rasa tidak sesakit luka dibibirnya.’ Dante menyentuh ujung bibir Bella yang robek akibat tamparannya tadi sewaktu di apartemen.
“Lebih baik aku melihatmu dalam keadaan seperti ini. Saat kau tertidur kau tidak berisik dan mengganggu.Tapi saat matamu terbuka, kau membuatku pusing dengan semua omelanmu, Belinda ku sayang!” ujar dante sambil tersenyum tipis.
“Dasar wanita bodoh! Kau sangat ingin aku membuka kemejaku tapi kau sendiri yang cari gara-gara sehingga kau tidak mendapat apa yang kau mau! Andai saja kau tidak menyebut nama pria itu, pasti sudah kuberikan tubuhku padamu malam ini!” Dante mengoceh dalam hatinya.
Tadi dia memang sengaja meminta Bella untuk melepaskan kemejanya, karena dia juga tidak bisa memungkiri jika dia pun merindukan kebersamaan mereka seperti dulu. Tapi karena ulah Bella yang menyebut nama pria lain membuatnya memarahi wanita itu.
Dreeet…..dreeettttt…….dreeeettttt…...ponselnya bergetar.
“Ada apa mereka menghubungiku?” gumam Dante. Dia sengaja membuat ponselnya bergetar tanpa nada dering agar tidak mengganggu.
Dante berjalan keluar dari kamar menjauh sambil menerima telepon agar tidak membangunkan Bella yang tertidur lelap. “Dante! Kenapa kau lambat sekali menjawab telepon? Sudah lebih satu jam kami berusaha menghubungimu. Kau dimana?” tanya Nick dengan suara gusar.
‘Pasti mereka ada masalah.” ujarnya dalam hati. “Ada apa kau menghubungiku? Ada hal yang ingin kau sampaikan?”
“Tadi kamu sudah menemukan Wendy dan mengikutinya ke apartemennya.”
“Maksudmu, dia berhasil melarikan diri?”
“Iya Dante. Kami kehilangannya, mungkin dia keluar dari jendela apartemennya.”
“Bagaimana mungkin dia bisa keluar dari sana?”
“Aku juga tidak tahu! Mungkin ada yang membantunya melarikan diri.” ujar Nick.
“Apartemennya itu berada dilantai lima belas. Tidak mungkin dia bisa turun kelantai dasar.”
“Aku rasa juga tidak mungkin. Kecuali ada orang yang membantunya.”
“Cari tahu orang yang bernama Jeff. Aku yakin kalau dia terlibat dalam hal ini. Kalau dia bisa mengeluarkan Wendy dari lantai lima belas, aku yakin dia orang yang tangguh.” kata Dante.
“Baiklah aku akan mencari tahu tentang pria itu. Tapi bagaimana caranya aku mengetahuinya kalau hanya tahu namanya Jeff saja? Tidak ada nama lengkapnya?” tanya Nick.
“Pergilah ke club dan tanyakan orang-orang disana. Dia itu pelanggan Bella.”
“Cari saja pria itu! Aku yakin Wendy bersamanya. Pria itu sedang mengincar Bella. Oh ya bagaimana dengan Sarah Azalea?”
“Kami belum mencari tahu tentang Sarah. Bukankah Barack yang kau tugaskan untuk itu? Kami dari tadi sibuk mencari Wendy.”
“Tingkatkan pengamanan untuk istri dan putraku!” ucap Dante yang merasa agak khawatir.
“Baiklah. Akan kulakukan sekarang.” kata Nick.
“Aku akan menanyakan soal Sarah pada Barack.” ujar Dante.
“Dante!” panggil Nick namun Dante yang hendak menutup teleponnya kembali menjawab.
“Ada apa lagi?”
“Apakah kau bersama wanita itu? Maksudku Bella.”
“Hemmmm….” jawab Dante tanpa mau bicara lebih banyak lagi.
“Baiklah kalau begitu. Jangan khawatir, aku akan mengurus keamanan keluargamu. Apakah kau akan lama tidak pulang?”
‘Alex, Tatiana aku harus segera kembali secepatnya pada kalian. Orang itu akan menguntit kalian dan mencari tahu dimana keberadaan Bella. Aku tidak akan pernah melepaskan wanita ini. Semua teman-temanku pasti akan mampu menjaga kalian untuk sementara. Alexander putraku! Maafkan daddy karena aku bersama wanita yang melahirkanmu. Aku tidak bisa meninggalkannya.’ ujar Dante dalam hatinya. Dia sedang memikirkan semuanya dan dia tidak akan pernah melepaskan Bella.
“Nick….aku titipkan keluargaku pada kalian. Mungkin sekitar dua hari baru aku pulang.”
“Jadi kau serius tidak akan pulang?”
“Dia akan mencariku dan aku ingin dalam waktu satu sampai dua hari, tolong kalian siapkan pesawat pribadiku. Hati-hati dengan mata-mata. Aku dan keluargaku akan meninggalkan kota ini.”
“Apa kau berencana kembali ke markas?”
“Hem….hanya itu tempat teraman bagi keluargaku, tapi kalian harus ingat soal proyek di Bali dan Lombok harus tetap jalan dan jangan sampai ada satupun proyek kita yang terbengkalai.” ucap Dannte.
“Baiklah. Jangan khawatir kami akan laksanakan sesuai perintahmu.”
“Kalau begitu kerjakan semuanya secepat mungkin.”
“Dante! Apakah kau akan membawa wanita itu bersamamu? Bagaimana dengan istrimu?”
KLIK…..
Dante langsung mematikan teleponnya tanpa menjawab pertanyaan Nick.
“Benar seperti dugaan kita. Dante bersama wanita itu, iyakan? Jadi benar kalau wanita itu ibu dari anaknya?” tanya Eddie. Tapi Nick enggan menjawab pertanyaan dengan kata-kata, dia hanya menganggukkan kepala sambil menatap kedua sahabatnya bergantian.
“Apa rencana kita Nick?”
“Kita harus temukan Wendy secepatnya.”
“Kita terlalu menganggap remeh makanya kita kehilangan wanita itu!” ujar Hans sambil mendaratkan tinju ke dinding dengan marah.
“Kau benar! Kita terlalu meremehkan wanita itu. Seharusnya kita membawa anak buah kita kesini. Kita membiarkan wanita itu masuk ke kamarnya sendiri.” celetuk Nick memijat keningnya.
“Kalau begitu aku akan memerintahkan anak buahku untuk mencarinya.”
“Tidak bisa! Semua anak buahmu orang kulit putih dan orang afrika, terlalu mencolok. Hanya ada satu cara kita harus minta tolong pada Barack.”