PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 55. HUKUMAN BELLA


“Apa kau butuh bantuan?” tanya Dante lagi.


“Tidak perlu. Untuk saat ini biarkan aku mengurus anak ini dulu. Dia sangat cemas akibat baku tembak itu! Aku harus membuatnya merasa nyaman dulu.”


“Apa maksudmu membuatnya merasa aman? Dia masih sangat muda, enam belas tahun!”


“Ya ampun Dante apa yang kau pikirkan? Bukan itu maksudku! Aku hanya ingin membuatnya merasa nyaman dan terlindungi sampai situasi aman dan kau bisa selesaikan sisanya.’


“Oh….bagaimana dengan sekolahnya selama kalian dalam persembunyian?”


“Aku yang akan mengajarinya, jangan pikirkan soal itu. Aku bisa mencarikan guru terbaik untuknya. Aku akan berusaha mendekatkan diri dengannya agar dia tidak takut lagi padaku dan bisa kuajak bekerjasama. Bagaimana menurutmu, bukankah ideku bagus?”


“Baikah. Aku setuju.” ucap Dante.


“Terimakasih Dante. Aku jamin dia aman bersamaku.”


“Satu hal lagi, berhati-hatilah dan jangan menyakitinya. Seseorang yang sedang bersamaku bakal gila dan mengamuk kalau gadis itu kenapa-napa.”


“Ya tenang saja. Itu bukan masalah.”


Dante pun langsung mematikan ponselnya. Dia lalu menghubungi temannya yang lain tapi dia belum mendapatkan informasi yang menyenangkan hatinya. Mereka belum mendapatkan Wendy dan Jeff.


“Sialan! Situasi diluar belum aman. Aku akan tetap menunggu disini.” Dante pun memikirkan cara untuk melarikan diri membawa Bella. Banyak pekerjaan yang harus diurusnya, dia juga mengecek situasi anak buahnya di markas besar dan beberapa tempat yang sudah tidak dia cek beberapa hari belakangan.


“Syukurlah semuanya masih aman dan tidak ada hal buruk yang terjadi.” ucapnya sembari tersenyum.


Tak terasa waktu berjalan cepat, jam sudah menunjukkan pukul tiga sore dan dia baru menyadari kalau dia sibuk mengurusi pekerjaannya sejak pagi dan Bella masih belum bangun. “Ck….bagaimana kau akan bekerja sebagai pengasuh Alex kalau begini? Tatiana tidak akan memberimu kesempatan, sedangkan aku ingin kau tetap berada dirumahku.”


 Dante berjalan mondar mandir sambil memikirkan cara agar Bella bisa bangun pagi dan fokus pada pekerjaannya. Dante terus mengamati wanita yang masih tertidur pulas diatas ranjang itu. Dia mulai khawatir jika Bella gagal maka tidak ada kesempatan baginya untuk mempertahan wanita itu dirumahnya. Sedangkan dia tak ingin membuat Tatiana dan orang lain curiga jika dia harus diam-diam menemui Bella diluar.


Diatas ranjang tampak gerakan menggeliat, Bella menggerakkan tubuhnya sambil merentangkan kedua tangannya membuat Dante tersenyum menatapnya. ‘Dia benar-benar seperti Alex. Anak itu juga selalu seperti itu saat bangun tidur.’


“Eughh…..sepertinya aku tidur pulas sejak tadi malam. Jam berapa ini?” gumam Bella menggeliat.


“Apa kau sudah bangun? Kau tidur lama sekali! Aku sudah menunggumu berjam-jam.” ujar dante kesal mencoba menahan diri untuk tidak memarahi wanita itu.


“Kau sudah bangun? Apa kau tahu ini jam berapa?” ujar Dante mengejutkan Bella. Sontak wanita itu merubah posisinya yang tadi masih bermalas-malasan langsung duduk dan menatap kearah Dante.


“Ah...Tuan?”


“Belinda! Cepat bangun! Aku akan menghukummu!”


“Apa hukuman? Memangnya aku salah apa?” tanya Bella polos.


“Masih belum sadar apa salahmu, ha?” Dante menahan rasa kesalnya, berdiri sambil bersidekap menatap tajam pada Bella.


Sedangkan wanita yang belum sepenuhnya sadar itu pun mencoba berpikir apa kesalahan yang dilakukannya. Setelah berpikir selama beberapa detik, dia belum menemukan apa kesalahannya. Dengan mata mengerjap dia menatap Dante dan memasang raut wajah polos tak bersalahnya.


“Kau tahu jam berapa sekarang?”


“Apa kau kau kalau kau tidur seperti bayi? Kau tidur sampai sore bahkan sekarang hampir malam baru kau bangun. Masih tidak sadar juga apa salahmu?”


“He he he….oh itu ya. Maaf ya Tuan, aku sudah terbiasa begini. Waktu kerjaku malam hari dan aku selalu tidur di siang hari jadi aku sulit untuk merubah kebiasaan itu.”


Bella tiba-tiba meringis dengan tubuh gemetar. “Ada apa denganmu? Kenapa kau meringis?” tanya Dante memperhatikan Bella. “Ssshh…..aku kedinginan Tuan.” jawab Bella.


‘Ini pasti efek karena dia tidak makan obat itu lagi.’ gumam Dante kesal, dia merasa sakit setiap kali melihat Bella dalam kondisi seperti itu.


“Bangunlah! Kau harus banyak menggerakkan tubuhmu biar tidak kedinginan.” perintah dante lagi.


Tangannya memegang dagunya sambil berpikir. ‘Ini tidak bisa dibiarkan, dia akan berada disisi Alex setiap hari. Aku harus memikirkan cara untuknya agar dia tidak tersiksa begitu.’ Dante pun mulai menemukan cara untuk membantu Bella.


“Tuan bisakah kau membantuku membeli obat itu? Aku kedinginan.”


“Diam! Kau kedinginan tidak ada hubungannya dengan obat! Kau harus banyak bergerak. Cepat bangun!” ucap Dante. ‘Aku tahu apa yang harus kulakukan padanya agar tidak kedinginan lagi. Hem….aku bisa pakai cara ini sekaligus untuk menghukumnya.’ bisik hati Dante. Dia hanya ingin menakuti Bella saja dengan memberi hukuman tapi setelah melihat Bella yang tersiksa karena pengaruh obat, dia malah memikirkan untuk memberinya hukuman sebenarnya.


“Bolehkah aku ke kamar mandi dulu? Perutku sakit dan aku mau mandi juga. Tidak….tidak mandi, maksudku mau membersihkan tubuhku.” ujar Bella memelas.


“Pergi sana! Jangan lama-lama!”


‘Hufff untung perutku mules, untuk sementara aku bebas dari hukuman.’ gumamnya terkekeh. Bella berlari menuju kamar mandi.


“Aissss…..kenapa perutku mules begini? Ini pasti gara-gara kebanyakan makan tadi malam. Tapi hukuman apa yang akan diberikannya ya?” tanyanya sambil berpikir. “Tau ah gelap! Yang penting aku bersih-bersih dulu.” ujarnya melanjutkan aktifitasnya membersihan tubuh. Setelah selesai dia menatap dirinya didepan cermin sambil bergumam, “Hari ini aku tidak akan mengecewakannya. Aku sudah berlaku sangat buruk beberapa hari lalu. Aku sampai tidak tahu bagaimana caranya untuk memuaskannya. Pokoknya aku tidak boleh kembali pada Tuan Julian!”


Bella tidak mengetahui jika Julian sudah pindah kedunia lain. Dia memandangi tubuhnya yang putih sempurna. ‘Sayang sekali tidak ada makeup disini, aku pengen merias diri agar Tuan Dante tertarik. Tapi sudahlah, buat apa juga aku merias diriku yang penting aku sudah mandi dan wangi. Sssshhh…..kenapa aku malah makin kedinginan dan menggigil ya? Dia bahkan tidak memberiku pakaian. Dingin sekali…..sssshhhhh…...untung ada handuk bisa kupakai sementara.’ Bella melilitlkan handuk ditubuhnya lalu keluar dari kamar mandi.


“Apa yang kau lakukan didalam? Lama sekali!” keluh Dante yang sudah menunggunya.


“Maaf Tuan. Perutku sakit sekali.”


“Sudah merasa enakan sekarang?”


Bella melemparkan senyum manisnya yang selalu mampu mengacaukan Dante. “Tadi kau bilang tidak mandi? Terus itu apa ?”


“He he….tadinya aku memang tidak mau mandi tapi aku menggigil kedinginan jadi aku mandi air hangat untuk menghangatkan tubuhku. Apa yang harus kulakukan untukmu Tuan?”


“Hukuman! Kau harus jalani hukumanmu.”


“Hah? Hukuman lagi?” Bella mengerjapkan mata tak percaya. ‘Jadi dia serius mau menghukumku? Kupikir dia hanya menakutiku tadi.’


“Apa kau pikir aku lupa tadi aku bilang akan menghukummu? Kau sengaja berlama-lama dikamar mandi, iyakan?”


“Bukan seperti itu, Tuan. Maafkan aku ya tapi perutku sakit sekali, bisakah kau menunda hukumanku?”


“Tidak bisa! Mau kau sakit perut, sakit kepala tetap saja harus menerima hukuman!” Dante benar-benar tidak memberikan kesempatan pada Bella untuk membantah.