PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 482. TARGET


‘Robert Kane! Aku yakin kaulah yang mengacaukan semuanya! Kau yang telah membunuh pria yang akan bertransaksi denganku. Kau juga yang sengaja menjebak semua anak buahku digudang! Kau pikir kau cukup hebat untuk bisa mengelabuiku dan sahabatku?’ Dante menjalankan mobil tanpa membuang waktu lagi.


Dia mengemudikan mobil itu dengan cepat. Dante fokus pada jalanan didepannya.


“Tuan, kita akan kembali ketempat transaksi itu bukan?” Noel memberanikan diri bertanya pada Dante. Dante menjawab dengan anggukan kepalanya tanpa melihat kebelakang.


“Kenapa kau bertanya? Apa karena kakimu yang tertembak?” tanya Dante.


“Oh tidak! Aku hanya bertanya begitu untuk mempersiapkan diriku saja.” jawab Noel.


“Kau tidak perlu mempersiapkan dirimu karena aku tidak akan memberikan perintah apapun padamu dilapangan!”


“Tapi kalau dibutuhkan, aku bersedia untuk membantu.” ucap Noel yang tidak ingin duduk berpangku tangan saja ketika Dante dan yang lainnya berjuang.


“Kita kembali ke tempat transaksi karena urusanku belum selesai! Pria yang aku cari pasti masih ada disana dan dia tidak pernah pergi melewati jembatan itu!” ujar Dante menjelaskan apa yang akan direncanakannya nanti.


“Aku akan memberikannya sedikit kejutan karena dia pasti tidak akan menyangka hal ini akan terjadi.” Dante menambahkan lagi sehingga membuat Noel mencondongkan tubuhnya kedepan.


“Lalu apa yang harus saya lakukan?” tanya Noel memiringkan wajahnya menatap Dante.


“Kau sudah banyak melakukan hal untukku, Noel.”


“Tuan Dante! Orang yang membawa Sarah itu bernama Rodrigo. Dan dia juga mengarah ketempat kita berada sekarang!” ujar Noel membuat Dante tersenyum.


“Kau tidak perlu terus-terusan memikirkan tentang Sarah! Dia sudah aman bersama Barack. Mereka mau lewat sini atau jalan lainnya pun aku tidak peduli. Sarah sudah dewasa dan dia harus tahu konsekuensi dari setiap tindakannya. Dia sudah melarikan diri darimu jadi biarkan saja dan jangan kau pikirkan lagi Noel!”


‘Aku akan menunggu Jeff! Sekarang yang harus kubereskan dulu adalah Robert Kane. Kalau aku sudah mendapatkan Robert Kane maka ini akan memudahkan langkahku selanjutnya.’ Dante sudah tidak mau tahu tentang Sarah. Pikirannya saat ini fokus pada apa yang dicarinya dan apa yang ingin dicapainya sekarang.


“Tuan Dante! Sepertinya ada seseorang yang juga cukup berkuasa. Dia waktu itu mengajak Rodrigo untuk masuk kedalam mobilnya.” ujar Noel lagi.


“Yang kau maksud itu adalah Jeff Amadeo!” ucap Dante.


“Saya tidak tahu tapi waktu saya tertembak dan jatuh, saya mendengar Rodrigo mengatakan ‘Biarkan saja seperti itu kondisinya. Ini akan menjadi pukulan berat bagi Dante karena dia kehilangan adiknya Bella!”


Mendengar itu Dante tersenyum tipis, ‘Kau masih berusaha untuk mengelabui Jeff. Jadi penyamaranmu belum diketahui oleh Jeff?’ Dante seolah sudah tahu apa yang dipikirkan oleh Barack dan dia tidak lagi mengubris pertanyaan Noel. Dante tetap fokus melajukan mobilnya ketempat mereka mengadakan transaksi tadi.


“Tuan Dante, kenapa kita berhenti disini?” tanya Noel memperhatikan keadaan diluar.


“Aku mau kau menunggu disini.” jawab Dante menatap Noel dan pria disampingnya. “Berikan aku waktu dua puluh menit! Jika dalam waktu dua puluh menit aku tidak kembali kesini maka kalian harus pergi dari tempat ini! Jangan menyeberangi jembatan. Pergilah langsung ketempat dimana pesawatku berada. Apa kau paham?”


”Baik. Kami paham.” ucap kedua pria itu serempak.


Dante pun membuka pintu dan segera keluar dari mobil. ‘Robert Kane, kau salah orang! Tidak seharusnya kau mengusiku.’ kata-kata itu terurai dihati Dante untuk menyemangati dirinya. Bayangan kedua orangtuanya dan masa kecilnya yang bahagia sebelum kehilangan orangtuanya muncul.


“Tuan Dante!” Noel membuka kaca jendela untuk memanggil Dante. Ekspresi wajahnya terlihat khawatir.


Dia sepertinya merasa berat membiarkan Dante pergi sendirian.


“Sudah kukatakan jangan pikirkan aku, Noel! Kau lakukan saja apa yang kuperintahkan. Kau mengerti? Jangan terlalu banyak berpikir! Kau cukup menjalankan saja perintahku.”


“Baiklah Tuan Dante!” Noel pun menutup mulutnya dan hanya menatap Dante yang melangkah pergi.


Dante berjalan dengan cepat menuju tempat yang ingin ditujunya. ‘Robert Kane! Aku tidak akan melepaskanmu hari ini! Tidak akan! Setelah apa yang kau lakukan pada kedua orangtuaku! Setelah kau memisahkan aku dengan adikku dan membuatku hampir membunuh adikku sendiri! Dan semua tipu muslihatmu, aku tidak akan pernah memaafkanmu!’


Saking semangatnya Dante melangkah dengan cepat. ‘Aku sudah punya rencanaku sendiri untukmu Robert Kane! Dan kau harus mengembalikan nama baik orangtuaku!’


Kata-kata itu tergiang dibenak Dante sambil melangkah mendekat kearah tempat transaksi. Meskipun dia masih berjalan mengendap-endap dia berusaha menghindari para anggota federal.


Didaerah itu anggota pasukan federal cukup banyak sehingga Dante sangat berhati-hati. “Ah disana adalah tempat transaksinya!” senyum muncul diwajah Dante ketika dia sudah melihat tempat yang ingin didatanginya.


“Hmmm…..apakah kau ada didalam sana?”


“Sssshhhh! Itu memang tempat transaksinya tapi aku merasakan ada sesuatu yang aneh.”


Dante menatap tegas tanpa ada senyum diwajahnya ketika dia melihat dengan binocularnya. Dante memperhatikan sekilas semua yang ada disekitar tempat itu. Tak ada yang terlewatkan dari pengamatannya.


Setelah mengamati sekitarnya dengan berhati-hati akhirnya dia pun sudah mendapatkan ide apa yang akan dilakukannya seandainya rencananya gagal.


“Tidak ada penjaganya didekat sana! Hmmm…..kalau begini aku yakin kalau dia tidak ada disana.” Dante kembali menyakinkan dirinya sambil kembali memperhatikan keadaan disekitarnya. “Itu sepertinya ada pasukan yang baru datang. Apa itu? Mereka sepertinya berkumpul disana?” Dante kembali mengamati tempat dimana Anthony tadi berada.


“Benar dugaanku!” Dante merasa kesal ketika dia melihat orang-orang yang ada disana. “Aku masih ingat wajah-wajah itu! Mereka sepertinya menjebak adikku. Puuuhhh! Aku tidak akan membiarkan ini terjadi.” bisik Dante lalu dia berjalan mendekat ke tempat itu sambil mengendap-endap sambil mengamati sekitarnya dengan hati-hati.


Kreeeekkkkkk!


BUG BUG BUG……


Dante melumpuhkan lawannya yang mengganggu dijalan yang dilaluinya. Lalu dia menyembunyikan mayat mereka sambil kembali mengendap-endap menuju titik tempat yang ingin ditujunya.


Doooorrrrr Dooooorrrrr Dooooooorrrr Dooooorrrrr


Tembakan-tembahan yang riuh beruntun mulai terdengar ditelinganya dan suara-suara itu sudah mulai mengganggu konsentrasi Dante. Dia mulai mengamati sekitarnya dengan serius untuk mengetahui apa yang terjadi dan dia berusaha untuk mencari kesempatan dari peristiwa itu.


“Pasukanku menyerang ke daratan?” Dante kembali bergumam sambil melihat melalui binocularnya dan dia tersenyum melihat apa yang terjadi.


“Ternyata mereka sudah mempersiapkan rudal?” lagi-lagi Dante bertanya pada dirinya sendiri sambil berpikir apa yang sudah diperintahkan Eddie kepada anak buahnya.