PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 530. REST IN PEACE


‘Kakakku sudah melakukan sesuatu pada tubuhku. Jadi, aku ini bukan lagi manusia biasa?’ Gabriella mencoba untuk tetap menjadi dirinya sendiri. ‘Jadi keberadaanku disini hanya akan memberitahu kakaku tentang Barack dan teman-temannya bukan? Aku membuat mereka semua susah?’ pikir Gabriella dan kini dia bisa merasakan hatinya yang sakit.


Apalagi saat dia melihat Barack yang tidak lagi peduli padanya bahkan memilih memeluk Sarah yang ketakutan. Ditambah lagi dirinya yang sekarang sudah tidak jelas lagi apakah manusia atau bukan.


‘Barack! Sepertinya kau menyukai gadis itu. Lalu sebenarnya aku ini manusia atau bukan? Jadi selama ini aku hanya menjadi mata-mata? Tanpa aku sadari?’ pikir gabriella.


Gabriella merasa kesal pada dirinya sendiri, dia merasa bodoh karena bisa terperdaya pada tipu muslihat kakak kandungnya sendiri. Dia melihat kearah pintu lalu segera memegang handle pintu. Saat dia hendak membuka pintu itu terdengar suara Barack.


“Apa yang kau lakukan?” pekik Barack berusaha bertanya pada Gabriella dan wanita itu meliriknya.


“Rodrigo, kau tahu aku sangat mencintaimu! Aku tidak tahu apa yang terjadi pada diriku. Tapi asal kau tahu aku melakukan semua ini karena kakakku yang mengatakan bahwa kau akan menjadi milikku selamanya kalau aku menurut padanya.” kata gabriella sebelum mengalihkan pandangannya lalu dia membuka pintu.


“Nona Gabriella! Ikutlah dengan kami!” ujar Jake dan orang-orangnya saat melihat gabriella keluar. Sedangkan Barack dan yang lainnya belum berani keluar. Hanya Gabriella saja yang melangkah meninggalkan ruangan itu dan menghampiri Jake beserta orang-orangnya.


“Apa kakakku yang menyuruhmu untuk memanggilku disini?” Gabriella bertanya lagi.


“Iya!” Jake menimpali.


“Maksudku, apa kakakku ada dilantai empat?” Gabriella sengaja meninggikan suaranya agar Barack dan yang lainnya bisa mendengarnya.


“Benar Nona. Ayo ikutlah dengan kami.”


“Bagus! Aku ingin kalian membunuh mereka semua!”


“Memang itu sudah direncanakan Nona! Tapi kakak anda, tuan Jeff meminta saya membawa mereka semua hidup-hidup.” kata Jake yang membuat Gabriella memicingkan matanya.


“Darah keluar dari dahimu! Sepertinya kau harusnya sudah mati! Tapi bagaimana kau masih bisa tetap hidup?” tanya Gabriella yang merasa heran.


“Maksud anda, lubang dikepala saya ini, nona? Ini akan diperbaiki nanti, nona.” jawab pria itu.


‘Jadi aku juga adalah manusia android seperti mereka? Dan itu yang kau lakukan padaku Jeff? Tega sekali kau pada adik kandungmu sendiri!’ Gabriella marah didalam hatinya.


“Berikan aku satu senjata.” kata Gabriella.


“Nona, tapi anda tidak boleh membunuh mereka.”


“Aku tahu tapi ada wanita yang harus aku bunuh! Aku tidak suka dia dekat-dekat dengan Rodrigo! Kakakku pasti hanya menginginkan Rodrigo dan Manuel bukan?”


Mendengar ucapan Gabriella, pasukan itupun mengangguk.


Sedangkan Barack memeluk Sarah semakin erat. Kondisi mereka sekarang tidak memiliki senjata sehingga Barack tidak tahu lagi harus bagaimana melindungi wanita yang kini ada dalam dekapannya dan nampak ketakutan itu.


“Tapi dua wanita itu harus tetap hidup nona.” kata Jake.


“Cepat berikan saja senjatanya padaku!” teriak Gabriella marah. Sehingga Jake pun dengan terpaksa memberikan senjatanya tanpa banyak bicara. Tangan Gabriella bukannya bergerak mengambil senjata tapi malah dia mendekati pria itu dan mengambil sesuatu yang ada dipinggangnya.


Tangan Gabriella dengan cepat mengambil pelatuk itu dan…DUAAARRRR!


Aku mencintaimu tapi kau tidak mencintaiku! Aku manusia tapi aku merasa bukan manusia! Aku melihat diriku sendiri mengerikan jika aku harus hidup dengan satu buah lubang senjata dikepalaku seperti itu! Aku tidak mau menjadi zombie! Jeff…kau sungguh menganggapku bukan sebagai adikmu sendiri!


Kau hanya menjadikanku alat! Itulah yang ada dipikiran Gabriella sebelum dia meledakkan granat yang langsung membuat tubuhnya hancur berantakan! Satu tangannya memegang granat tadi dan meledakkan tubuhnya, tubuh Jake sudah terputus dari tangannya. Kepala Gabriella juga terputus dan orang yang berada didekat Gabriella pun tubuhnya terbelah.


Lima orang lainnya pun kondisinya tidak kalah mengenaskan. Tubuh mereka juga hancur berantakan! Ada satu yang sudah gosong setengah wajahnya walaupun masih tersambung seluruh bagian tubuhnya. Dan suara ledakan itu membuat Barack dan yang lainnya menjadi kaget.


“Apa yang terjadi diluar?” Barack bertanya dan dia mengintip karena tidak ada yang menjawab.


“Dia masih menggunakan otaknya, Barack! Dia serius mencintaimu dan dia benar-benar mengorbankan dirinya sendiri karena rasa cintanya padamu!”


Barack tidak bisa berkata apa-apa. Dia hanya menelan salivanya sambil melihat tubuh yang hancur itu.


Bau mesiu sudah tercium dihidungnya dan sejenak Barack belum merespon, pikirannya entah kemana dan terlintas semua yang telah terjadi antara dirinya dan Gabriella.


“Barack, apa kau mencintainya sekarang?” Sarah menanyakan itu dengan mata berkaca-kaca.


“Jangan menangis. Kita sedang berperang!” kata Barack merespon. Lalu dia melirik pada Manuel.


“Kita sudah bisa keluar dari tempat ini kan? Dan Dante juga ada disini bukan?”


“Ya.” jawab Manuel mengangguk. “Dante ada dilantai tiga dan Jeff berada dilantai empat. Bukankah tadi kau juga dengar kata-kata yang diucapkan pria itu pada Gabriella?”


“Iya. Ambil senjata mereka dan kita langsung saja ke lantai empat.”


“Barack…..” Sarah menjawab lirih tapi ruangan itu hening sehingga suara Sarah bergema.


“Sekarang waktunya fokus! Jangan bicara lagi! Ayo.” tak ingin berlama-lama Barack sudah menarik tangan Sarah.


“Aku tidak akan membiarkanmu pergi!” teriak satu anak buah Jeff yang tubuhnya masih menyatu.


Dia berusaha untuk bangun padahal sebagian tubuhnya sudah hangus gosong!


DOR DOR


Manuel tak menunggu lama, dia langsung melucuti senjata mereka dan menembak pria itu hingga pingsan lagi. Dan kejadian ini membuat Barack berpikir sambil matanya menatap pada seluruh mayat manusia setengah robot yang ada dihadapannya itu.


“Berikan padaku pisau atau apapun itu.” pekik Barack.


“Sebentar, aku ambilkan didapur.” Manuel segera berlari menuju dapur karena apa yang ada dipikirannya sama dengan Barack. Dia juga menyimpulkan tentang hal yang sama karena melihat tidak ada lagi diantara korban penyerangan yang masih hidup.


“Ini!” Manuel melemparkan pisau pada Barack dari jarak dekat.


SLAASSHHH!


Tubuh itupun terpisah menjadi beberapa bagian. Barack memotong dan memisahkan tangan kanan dan kiri lalu memisahkan kepala dan menjauhkannya.


“Barack kenapa kau tega sekali?” Sarah memekik ketika dia melihat apa yang dilakukan pria itu. Tapi Barack tidak mengatakan apapun, dia justru menarik tangan Sarah naik kelantai atas.


“Aku yakin mereka semua pasti sudah mulai mengejar kita! Dari luar sudah tidak terlalu bising!”


“Barack kenapa kau tega sekali?” Sarah mengulang pertanyaannya.


“Kalau aku tidak melakukan itu, dia akan bangun lagi! Dia akan menghabisi kita semua.” ujar Barack yang kini sudah menemukan solusi mengatasi manusia android itu dan dia melirik kearah Manuel.


“Katakan pada Dante, lantai empat Jeff berada disana sekarang!”


“Baiklah!” Manuel mengeluarkan ponselnya dan Barack terus berlari menaiki tangga dengan perasaannya yang gundah.


‘Gabriella, aku minta maaf padamu! Aku tidak bisa mencintaimu. Tapi aku berterima kasih sekali padamu karena kau telah berkorban banyak untuk kami! Maaf karena selama ini aku mempermainkanmu! Sungguh aku tidak menyangka kau akan berbuat seperti itu!’


Didalam hatinya Barack ada perasaan menyesal karena perbuatannya pada Gabriella selama ini. Dia memang tidak pernah mencintai wanita itu dan dia tidak menyangka kalau wanita itu akan mengorbankan dirinya sendiri dalam kondisi kebingungan dan linglung. Tak tahu harus melakukan apa. Gabriella berusaha tetap menjadi dirinya sendiri ketika dia meledakkan granat itu.