
Dia tak mau berlama-lama hingga Dante bergumam sambil mengangkat tubuh Bella dan membawanya turun. Dibawah sudah ada Henry yang menunggu dengan buggy.
“Selamat malam Tuan!” sapa Henry.
“Malam menjelang pagi Henry!” Dante langsung naik keatas buggy dengan Bella yang dia dudukkan disampingnya.
“Kenapa denganmu Henry?” tanya Dante yang melihat Henry tiba-tiba menegang.
“Tidak apa-apa Tuan! Saya hanya merasa penasaran saja apa yang membuat wajah anda menegang.” ucapan Henry yang tidak sesuai dengan isi hatinya.
“Oh jadi kamu memikirkan apa yang sedang kupikirkan?”
“Ya tuan! Seperti biasa saya selalu mengkhawatirkan anda.” ucap Henry jujur.
‘Anthony! Oh tidak! Bagaimana kondisimu sekarang? Bella sudah dibawa kembali lagi oleh Tuan Dante kemari! Apa kau masih hidup Anthony? Aku sungguh tidak menyangka kalau Bella bisa diambil kembali! Apakah Tuan Dante akan menghukumnya lagi? Aku rasa tidak! Nyonya Tatiana sudah tidak ada disini lagi, dia tidak bisa memfitnah Bella lagi!’ bisik hati Henry.
Dia merasa ketakutan didalam hatinya ketika dia memikirkan tentang Bella yang ada dipangkuan Dante. Apakah Bella akan mengingat suaranya dan akan mengadu pada Dante? Apakah orang yang membawa Bella masih hidup? Semua pertanyaan itu bertumpuk didalam pikiran Henry tapi dia maish mencoba untuk bersikap wajar.
“Kau tidak perlu memikirkan hal itu terus Henry! Semuanya tidak apa-apa! Aku hanya titip Bella saja padamu, biarkan dia beristirahat selama aku pergi. Dan apstikan dia mendapatkan semua yang dibutuhkan olehnya.”
“Baik Tuan!” Henry menganggukkan kepala walaupun dia tidak melihat ke belakang dan mereka bertiga diam beberapa saat sampai mereka tiba di mansion Dante.
“Ayo turun!” Dante manggendong tubuh Bella.
“Kita mau kemana?” Bella bertanya sambil menatap wajah Dante.
“Tentu saja istirahat. Ini masih malam untukmu! Sekarang masih jam dua malam, kau harus tidur.”
“Tapi tidak mau tidur Dante!”
“Lalu apa yang kau inginkan?”
“Aku masih mau bicara denganmu, aku ingin mengobrol denganmu.”
“Tidak bisa sekarang Bella! Aku masih ada beberapa pekerjaan.” ucap Dante dengan suara lembut.
Henry yang duduk didepan pun bisa mendengar cara Dante bicara pada Bella yang berbeda.
Meskipun Dante sudah mengatakan bahwa dia akan menikahi Bella tapi tetap saja Dante adlaah orang yang mengutamakan pekerjaan, ada ketidak beresan di pekerjaannya yang menurut Dante sangat penting sehingga dia mencoba tetap berpikir tentang masalah itu dan tidak mau diganggu kosenntrasinya.
Saat mereka sudah berada didalam mansion, Dante membopong Bella langsung ke kamar. “Dante ini kamarmu?”
“Iya, untuk sementara tinggallah disini dulu. Ini adalah kamar terbaik dirumah ini. Baristirahatlah kalau kau membutuhkan apapun mintalah melalui telepon. Henry dan pelayan lainnya akan menyiapkan apapun yang kamu perlukan! Dan sebelum berangkat sesuai janjiku, Henry akan mengetuk pintu kamar dan mengantarkan makananmu. Tunggu saja disini, aku tidak akan lama.” Dante bicara sambil mendudukan Bella diatas tempat tidur.
“Bisakah kau menyiapkan semua kebutuhanmu sendiri?”
“Bisa.” Bella mengangguk.
“Kalau begitu tunggulah disini, makanan akan segera datang untukmu dan aku tidak bisa menemanimu makan jadi kau harus makan sendiri. Kau mengerti?”
“Dante! Tapi kau akan pulang kan?” tanya Bella dengan ekspresi resah diwajahnya.
“Iya, aku akan pulang.” Dante tersenyum. Dia masih kaku karena belum bisa menerima semua perasaan yang ada didalam hatinya.
“Ya sudah. Dante, hati-hati dijalan ya?”
“Huh?” bukannya menjawab, Bella mengerjapkan matanya.
“Kenapa denganmu?”
“Ehmm….Dante, kau sangat lembut sekali padaku! Kau bahkan meminta maaf karena tidak bisa menemaniku? Hihihi!” Bella terkesima dengan kata maaf yang diucapkan Dante, sebuah kata yang jarang sekali keluar dari bibir pria itu.
“Kau! Ada lagi yang kau perlukan sebelum aku berangkat?”
“Tidak ada. Tidak usah kau pikirkan aku, Dante! Hati-hati ya. Aku akan menunggumu disini.”
“Bagus.” Dante menganggukkan lalu mengecup kening lalu bibir Bella.
‘Ah, apa ini? Dante memberikan kecupan manis? Dia mengecup bibirku sangat kuat sekali dan dia tidak melepaskannya. Oh….sentuhan tangannya! Ternyata seperti ini rasanya kalau dia yang memberikan duluan? Sentuhannya terasa sangat lembut? Ini sama saat kami melakukannya saat aku hamil Alex. Tapi kala itu aku tidak bisa menikmatinya karena aku terus menolaknya.” ucap Bella mengingat awal-awal dia bertemu dengan Dante.
Saat itu matanya aasih tertutup dan semua rasa itu masih dirasakannya karena Bella tidak pernah benar-benar bisa merasakan hubungannya dengan laki-laki lain. Saat dia berhubungan dengan laki-laki lain semua itu hanya dipengaruhi oleh obat-obatan yang menyebabkan Bella dengan mudah bisa tahu milik Dante. Dia masih ingat permainan Dante, caranya menyentuh tubuh Bella masih bisa dirasakannya.
“Segitu dulu untuk malam ini, tunggu aku pulang ya? Aku akan memberimu lebih.” Dante bicara sambil satu tangannya menarik satu puncak tinggi Bella.
“Kau tidak bisa memberikanku sekarang?” tanya Bella,
“Nanti! Tunggulah disini! Setelah pekerjaanku selesai aku pasti akan datang. Jangan minta yang aneh-aneh padaku,’
Dante berdiri dan meninggalkan Bella dikamar itu. ‘Haaaa, sial wnaita itu menggoda sekali! Apalagi dia tidak memakai apapun dan hanya mengenakan kemejaku.’ Dante berdecak karena masih sangat sayang sekali dia harus meninggalkan Bella. “Aku memang sudah sering berhubungan dengannya dulu untuk membuat anak. Tapi saat itu pikiranku hanya untuk membuat anak dan aku masih mencintai Tatiana. Jadi aku tidak terlalu menikmatinya.”
Lalu kedua ketika kami berada dikamarnya setelah menidurkan Alex! Yang ketiga adalah diruang penyiksaan dibawah tanah, saat itupun aku tidak menikmatinya. Aku kesal padanya dan aku sangat marah padanya. Tapi saat ini berada dalam satu ruangan dengannya rasa ini tidak bisa dilupakan! Ah, baiklah aku harus segera menyelesaikan pekerjaanku menemui Omero! Melihat bagaimana kondisinya, apakah mungkin membicarakan White?”
“Ah, yang penting aku harus ke rumah sakit sekarang setelah itu aku pulang dan bicara dengan Bella,” ucapnya yang sudah membuat rencana cadangannya dan bergegas pergi kerumah sakit. Dia menggunakan mobilnya dengan kecepatan penuh menyusuri jalan menuju rumah sakit. Dante tidak menjelaskan terlalu banyak pada Henry karena dia sangat terburu-buru. Setengah jam dengan kecepatan penuh akhirnya Dante tiba di rumah sakit.
“Apakah pasien bernama Omero masih diruangan ICU?”
“Apa anda keluarganya?” tanya perawat.
“Ya!” Dante mengangguk, “Aku anaknya.”
“Tunggu sebentar Tuan, kami akan mengeceknya sebentar.” jawab pihak rumah sakit yang membuatnya terpaksa bersabar menunggu. Ini bukan rumah sakit tempat dimana pelayan dan anak buah Dante biasa dibawa.
“Beliau masih ada di ruang ICU, Tuan! Tapi anaknya dari awal sudah masuk keruang perawatan karena dia hanya mengalami cedera ringan.”
‘Tatiana!’ Dante memicingkan matanya dan hatinya berdecak.
“Bagaimana mungkin anaknya bisa cedera ringan sedangkan ayahnya ada diruangan ICU dengan kondisi terluka parah?”
“Kami juga tidak tahu Tuan.” jawab perawat dan memang tidak terlalu memikirkan tentang itu.
“Ya sudah, tidak perlu menjelaskan lagi padaku!” Dante mengangkat satu tangannya, “Berikan aku nomor kamar tempat Tatiana sekarang dirawat! Maksudku putri Omero! Aku akan menemuinya.”
“Baik, Tuan!” perawat pun langsung melihat nomor kamar dan menulisnya di kertas dan memberikannya pada Dante.
“Tatiana! Aku harus buat perhitungan denganmu, bagaimana bisa kau hanya luka ringan sedangkan Omero terluka parah? Apa yang kau rencanakan didalam mobil itu?” Dante sudah mulai curiga hingga dia langsung menuju ke kamar rawat Tatiana dan dia langsung memicingkan mata tak suka. Dante membuka pintu kamar itu.
“Huh? Apa ini tidak salah ruangan?”Dante agak bingung.
“Tatianaaaaaaa! Dimana kau? Apa kau sedang didalam kamar mandi?”