PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 43. IJINKAN AKU


“Aihhh…..aku benar-benar menginginkannya tapi dia tidak pernah mengijinkanku meyentuh tubuhnya. Duh…..dia benar-benar menyiksaku! Aku belum pernah melihat pria sesempurna dia! Bahkan Tuan Jeff saja tidak bisa dibandingkan dengannya. Dia sempurna dalam segala hal. Tubuh kekar berotot dengan perut berkotak-kotak roti sobek! Harum tubuhnya, tangan kekarnya yang memberikan perlindungan yang hangat saat memelukku. Matanya yang tajam mengintimidasi bikin meleleh.” ujarnya menggigit bibir.


Kedua tangannya menyilang memegang dua puncak yang tadi dimanjakan oleh Dante. ‘Bagaimana bisa dia bicara sangat fokus padaku sementara tangannya disini! Belum pernah ada yang melakukan itu padaku. Aihhhh…..dia memang galak. Dia menamparku tapi yahhh salahku juga sudah membuatnya marah. Aisss….kenapa aku jadi tidak fokus kalau memikirkannya? Apalagi saat jari-jarinya berputar-putar. Sentuhan tangannya begitu menyiksaku. Aku sudah tidur dengan banyak pria tapi aku tidak pernah menginginkan pria seperti ini! Dante kau sangat menyebalkan. Kenapa aku jadi merindukanmu!’


Bella menghentikan omelannya lalu berlari, dia tak lagi mempedulikan tubuhnya yang hanya mengenakan lingeri. ‘Aku ingin itu, aku sudah tidak bisa menahannya sudah berapa hari aku tidak mendapatkannya. Ahhh bisa gila aku lama-lama kalau begini.’ ujarnya sambil membuka kulkas mencari sesuatu dan tersneyum saat menemukan apa yang dicarinya disana.


“Aha! Ini yang kuinginkan! Panjang dan besar sesuai seleraku. Apa miliknya juga sebesar ini?” Bella mulai berimajinasi dengan senyum diwajahnya.


‘Kau kejam sekali Tuan Dante Sebastian! Kau benar-benar mempermainkanku dan membuatku menginginkannya tapi kau tak pernah mau memberinya padaku. Aku belum pernah melakukan ini sebelumnya biasanya tiap malam pria-pria itu yang memenuhi keinginanku membuatku merasakan surga dunia. Tapi kau malah mengganggurkan tubuhku!’


Bella terus mengomel sendirian sambil memegang terong ditangannya seolah-olah orang yang sedang dimakinya ada didepannya. ‘Apa kau tidak tahu kalau aku sangat ingin seseorang menyentuhku apalagi tangan kekarmu itu, caramu memandangku, caramu bicara dan sikap acuhmu padaku. Aaaahhh….lama-lama aku bisa gila kalau begini terus. Ehmmmm.” Bella terus bicara sendiri lalu dia berjalan menuju sofa diruang tengah sambil memposisikan tubuhnya terbuka. ‘Aihhh dingin padahal milik pria itukan hangat ya. Sssshhh…..biarlah daripada tidak ada!’ gumamnya sambil meletakkan terong tadi dibagian tubuhnya. Sedangkan satu tangannya memegang bagian atasnya yang tadi dipegang Dante. Dia mencari posisi yang nyaman bersandar dibantalan sofa hingga dia merasa rileks.


Bella berusaha membayangkan wajah Dante dan semua perlakuan manisnya sambil memainkan tangan. ‘Aku benar-benar menginginkannya, caranya menyentuhku itu sangat spesial, sopan tapi menggairahkan, menantang dan tatapan matanya melumpuhkan jiwaku. Dia benar-benar pria sempurna yang sulit didapatkan.’


‘Tuan Dante! Harum tubuhmu, kau selalu memakai parfum yang sama. Apa karena aku pernah mencium aroma yang sama dari salah satu pelangganku? Aku sangat menikmati wangi tubuhnya, mata itu….suara itu….ehmm….ehmm…..’ Bella mulai membayangkan dan membuat dirinya mulai menikmati tangannya sendiri.


‘Ketika aku memelukmu dan bersandar ditubuhmu aku bisa merasakan kerasnya tubuh kekarmu. Kau memiliki delapan roti sobek disana ahhh…..kau membuatku gila dan berimajinasi liar! Apakah tubuhmu lebih bagus dari Tuan Jeff? Karena dari semua pelangganku Tuan Jeff yang punya badan paling bagus. Aku sangat suka dengan perut kotak-kotak itu!’ Tanpa dia sadari saat dia sibuk dengan imajinasinya, tangannya memiliki irama sendiri.


“Tuan Dante apa kau tahu betapa gilanya aku menginginkanmu?” ucap Bella mendesah. Pikirannya sudah melayang kemana-mana dipenuhi dengan wajah dan tubuh Dante. Dia membayangkan tangan pria itu yang menyentuhnya lembut membuatnya semakin merasa nyaman dengan imajinasinya dan hanyut dalam kenikmatannya sendiri.


“Ini tidak sempurna tapi setidaknya aku bisa merasakannya. Membayangkanmu menyentuhku.” bisik Bella tanpa sadar tangannya terus bergerak.


“Perut kotak-kotak itu sangat dekat denganku dan aku menginginkannya tapi terasa semakin jauh dari jangkauanku! Aku sangat ingin dimanjakan olehmu Tuan Dante! Apa tidak bisa? Kenapa tak kau ijinkan sekali saja aku menyentuhmu, untuk apa aku disimpan disini kalau tidak pernah disentuh.” Bella terus bicara sendiri sambil menikmati gerakan tangannya yang berkreasi untuk memuaskan imajinasinya. Dia senyum-senyum sendiri seperti orang kehilangan akal sehat, dia tidak menyadari kalau apa yang dilakukannya adalah penyimpangan.


Baginya yang penting mendapatkan kepuasan yang dicarinya. ‘Kadang saat aku menstruasi para pelangganku masih juga membookingku meskipun mereka tidak bisa menyentuhku. Tapi mereka semua menikmati tubuhku dan biasanya mereka hanya bersenang-senang saja dengan mengajakku ngobrol.


Bahkan Tuan Jeff pernah melakukannya selama seminggu penuh membookingku saat aku menstruasi hanya untuk menemani mengobrol. Bella terus saja mengoceh sambil memikirkan semua yang dia lakukan selama ini sambil tersenyum. ‘Kenapa wajah Tuan Jeff dibayanganku berubah jadi wajah Tuan Dante?’ bisik hatinya mengeryitkan dahi tak paham kenapa wajah pria itu yang selalu muncul.


Tapi….


‘Kalau kau tidak menginginkanku kenapa tak kau berikan saja aku pada teman-temanmu agar mereka bisa melakukannya padaku? Teman-temanmu juga tampan dan aku yakin mereka bisa memuaskanku, aku rasa mereka tidak pemilih sepertimu.’


...*********...


“Berlama-lama dengannya bisa membuatku meriang melihat perilakunya.” ujar Dante saat mencoba menenangkan dirinya dengan mandi air dingin sebelum dia keluar dan memakai pakaiannya. “Apa dia masih makan dibawah?” tanyanya saat melihat kamar tidur yang kosong. Belum sempat Dante pergi untuk mencari Bella didapur, ponselnya bergetar. Dreettt…...dreeettt…...dreeeetttt…….


“Ada apa sayang?” tanya Dante pada istrinya Tatiana yang menghubunginya.


“Sayang, apa kau pulang malam ini? Aku merindukanmu.” ujar Tatiana dengan suara lembut.


“Aku akan kembali besok pagi, tidak apa-apa kan?” tanya Dante. ‘Maafkan aku Tatiana tapi malam ini aku tidak bisa meninggalkannya. Aku sudah melakukan kesalahan besar padanya bahkan aku menamparnya. Aku ingin bersamanya malam ini…...mungkin juga malam-malam selanjutnya.’ ucap hati Dante yang tidak pernah diketahui oleh siapapun.


Dia tidak ingin lagi jauh dari Bella, empat tahun perjuangannya mencari wanitanya dan kali ini dia tidak akan membiarkannya pergi lagi. “Ya sudah. Tidak apa-apa kalau kau masih sibuk dengan pekerjaanmu. Tapi berhati-hatilah Dante. Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu.”


“Aku mengerti. Tidurlah bersama Alex dikamarnya. Tolong kau temani dia malam ini.”


“Baiklah sayang, Aku tutup dulu teleponnya. Selamat malam, sayang. Aku mencintaimu.”


Dante menghela napas lega saat Tatiana menutup teleponnya. ‘Puffff…..maafkan aku Tatiana.’ ucapnya dengan rasa bersalah. Sejenak dia hanya menatap layar ponselnya sebelum meletakkannya diatas nakas.


‘Sedang apa dia dibawah? Kenapa dia lama sekali, apa dia sedang membuat makanan?’ Dante bertanya dalam hatinya dan keluar dari kamar. Saat dia menuju dapur, dia mendengar suara ******* yang berasal dari dapur.


‘Ssssshhh…...ehehhhmmmm…..”


‘Suara itu! Sedang apa dia?’ ujar Dante bergegas menuju arah suara.