PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 432. SAMA-SAMA GUGUP


Sebenarnya Dante bukan tipe pria pemalu, dia sangat romantis dan selalu memberikan apapun yang diinginkan wanitanya. Sama seperti sikapnya dulu pada Tatiana namun entah kenapa bersama Belinda semuanya berbeda. Dante terlihat malu-malu dan gugup, seolah baru pertama kali merasakan.


 


‘Fuuuhh! Bodoh kenapa aku tidak bisa mengendalikan diriku ketika melihat Belinda secantik ini? Dia memang berbeda dari pertama kali aku melihatnya di klub. Hari ini penampilannya membuatku benar-benar tak bisa fokus dan hatiku bergetar.’ bisik Dante dihatinya.


 


Belinda yang didandani terlihat sangat berbeda dari biasanya, dia mengenakan gaun putih berjuntai dan wajahnya dirias dengan warna natural. Pakaiannya tertutup tapi bisa menunjukkan kecantikannya sebagai seorang wanita yang membuat Dante tidak bisa berpikir jernih. Dia memang lebih menyukai wanita dengan penampilan tertutup dan riasan natural.


 


Dante tidak menyukai wanita mengenakan pakaian yang terbuka dengan makeup tebal.


“Lepaskan tangan Alex, biarkan dia berjalan bersama Sarah.” ujar Dante.


“Tapi Dante, sepertinya Alex ingin berjalan denganku.”


“Kalian ini kenapa sih? Seperti bukan suami istri? Kenapa kalian terlihat gugup begitu?” ujar Sarah lalu menarik tangan Dante dan menyatukan dengan tangan Belinda.


 


“Apa yang kau lakukan?”


“Nah seperti ini baru pas pasangan pengantin, jalannya gandengan tangan terlihat romantis. Alex ayo jalan denganku, tidak boleh mengganggu urusan orang dewasa.” ucap Sarah lalu mengeluarkan ponselnya dan mulai mengambil gambar.


 


“Aku sudah dewasa Sarah! Aku bukan anak-anak lagi?” protes Alex setelah Sarah selesai mengambil foto mereka.


“Kenapa kau memfoto kami?” tanya Dante.


“Untuk kenang-kenangan kalian. Dan sebagai tanda terima kasihku karena sudah mengembalikan ponselku.” Sarah tersenyum menatap Dante lalu memalingkan wajahnya menatap Alex.


 


“Kau memang sudah besar Alex! Tapi mommy dan daddy mu tidak boleh diganggu sekarang. Kau jalan denganku saja didepan. Oke?” Sarah menarik tangan Alex dan melangkah membiarkan Dante dan Belinda dibelakang mereka. Keduanya berdiri berpegangan tangan tanpa bergeming sedikitpun.


 


“Kau tunggu apalagi?” tanya Dante setelah diam sejenak.


“Aku tidak menunggu apa-apa Dante.”


“Lalu kenapa kau diam saja dan tak berjalan?”


“Kau juga diam saja disini. Aku kan mengikutimu?” jawab Belinda.


 


“Hei kalian berdua! Kami sudah sampai dibawah! Kenapa kalian masih belum turun juga?” teriak Sarah yang memandang kelantai atas.


“Ayo melangkah! Lihatlah adikmu itu sudah cerewet dibawah.” ujar Dante. Kepalanya berdenyut mendengar teriakan Sarah yang menggema di rumahnya. Ini pertama kalinya ada orang yang berteriak didalam rumahnya.


 


Kedatangan Sarah dirumah itu memberi suasana baru dirumah Dante, rumah yang biasanya sunyi karena semua orang tak bersuara tapi sejak kedatangan Sarah semuanya berubah.


“Dante, tunggu sebentar.”


Dante melirik tangan Belinda yang melingkar dilengannya membuatnya tercekat dan tak bisa melangkah. “Apalagi yang kau tunggu Belinda?”


“Tidak apa-apa Dante. Aku hanya ingin menenangkan diriku sebentar. Aku merasa gugup sekali.” jawab Belinda dengan satu tangannya diletakkan didada untuk menenangkan debaran jantungnya yang kencang. Pria disampingnya itu sangat tampan membuat Belunda gila.


 


“Ada apa denganmu Belinda?” tanya Dante saat dia melihat wanitanya tidak bisa mengontrol diri.


“Aku tidak tahu Dante! Tapi berada disampingmu seperti ini dan kau berpakaian seperti itu membuatku tidak bisa berpikir jernih. Rasanya aneh sekali karena sekarang aku sudah menjadi Nyonya Sebastian. Aku benar-benar istrimu? Sah secara hukum, kita suami dan istri. Apakah itu akan selamanya?”


 


“Sejak kapan kau berpikir jernih? Dari dulu kau tidak pernah melakukan itu. Sudahlah jangan terlalu banyak berpikir karena kau akan semakin susah sendiri. Lebih baik kita turun sekarang dan melanjutkan pernikahan kita. Jangan buang-buang waktu lagi, Belinda.”


 


‘Jadi dia juga gugup sepertiku? Apa penampilanku yang membuatnya seperti itu? Atau dia sengaja memujiku untuk menggodaku agar memuaskannya malam ini?’ Dante tersenyum menatap Belinda.


Dia merasa senang melihat Belinda seperti itu. Dia sudah susah payah menyembunyikan rasa hatinya dan ternyata Belinda juga merasakan hal yang sama.


 


“Kenapa kau jalan lambat sekali? Aku tidak dengar ya dua orang dibawah sana sudah marah-marah sejak tadi? Mereka sudah lama menunggu kita dibawah.”


“Aku sedang belajar jalan turun dengan baju ini Dante. Sudah lama aku tidak memakai baju dan sepatu seperti ini. Kakiku gemetar, aku harus berhati-hati melangkah supaya tidak terpeleset.”


 


Wajah mereka cukup dekat, Belinda bisa mendengar detak jantung suaminya. Dia menatap wajah tampan itu seolah enggan untuk memalingkan wajah.


 


“Apa yang kau lihat?” tanya Dante.


“Ehm….kau tampan sekali Dante! Bagaimana bisa kau sesempurna ini? Aku sekarang berada ditangan laki-laki yang kuat dan gagah!” jawab Belinda tersenyum manis.


“Kau jangan besar kepala! Aku melakukan ini karena kau terlalu lambat berjalan.” ucap Dante menutupi rasa gugupnya juga.


“Maafkan aku. Terima kasih Dante.” ucap Belinda setelah mereka sampai dibawah.


“Kau bisa jalan lebih cepat sekarang?”


“Aku tidak tahu tapi kakiku masih bergetar, Dante!”


“Kenapa kau selalu saja merepotkan setiap kali bersamaku?”


 


‘Sebenarnya aku ingin selalu menggendongmu tapi tanganku pegal sekali. Aku suka berdekatan denganmu, mencium aroma tubuhmu yang memabukkanku. Aroma tubuhmu memberiku kekuatan untuk tetap hidup dan menikmati aromamu selamanya.’ gumamnya dalam hati. Tanpa mereka sadari Alex menatap mereka dengan tatapan yang cemburu.


 


“Jadi semua wanita itu suka digendong ya? Pantas saja Bella tidak mau denganku karena aku tidak bisa menggendongnya! Huh! Aku belum kuat dan besar!” ucap Alex mendengus dan mengerucutkan bibirnya. Dia benar-benar cemburu melihat Dante menggendong Belinda.


 


“Eh Alex. Kau akan mendapatkan wanita yang jauh lebih cantik daripada Bella! Jadi kau jangan memikirkannya terus. Kau tidak boleh putus asa karena saat kau tumbuh jadi laki-laki dewasa yang memiliki tubuh tinggi dan kuat maka kau akan mendapatkan wanita yang cantik. Kau pasti akan melupakan Bella.” ucap Sarah menahan tawa karena merasa sikap Alex itu lucu.


 


“Apa kau masih memikirkan istrku, Alex?” tanya Dante yang mendengar percakapan dua orang itu.


“Tidak! Aku mau kuat seperti daddy.” jawab Alex yang membuat Dante memutar bola matanya.


“Kenapa kau sekarang tambah cerewet Alex?” tanya Dante melirik Sarah.


“Bukan aku yang membuatnya cerewet! Anakmu ini memang dasarnya sudah cerewet. Kau saja yang tidak tahu kalau dia begitu.”


 


“Sebelum bersamamu, anakku tidak pernah cerewet.” ujar Dante dengan ketus pada Sarah.


“Dante! Alex memang sebenarnya suka sekali bicara sejak dulu tapi dia mungkin tidak mau bicara karena dulu---” Belinda tidak melanjutkan kalimatnya. Dia membiarkan Dante berpikir apa yang ingin dia katakan.


 


“Apa yang mau kau katakan? Alex tidak terlalu banyak bicara dan bertanya padaku dulu.”


“Iya. Itu karena Tatiana melarangnya untuk banyak bicara! Dia akan memarahi Alex kalau bicara.”


Penjelasan Belinda membuat Dante terdiam dan tak mengatakan apapun lagi. Dia melangkahkan kakinya bersama Belinda diikuti Sarah dan Alex dibelakang.


 


“Hei kakak iparku yang tampan dan sombong. Kita mau kemana ini?”


“Apa semuanya harus dijelaskan padamu? Jangan banyak bicara Sarah! Ikuti saja kemana aku dan kakakmu pergi.” ujar Dante yang membuat Belinda meringis.


“Kalian berdua ini kapan bisa damai? Kenapa tidak pernah akur?” tanya Belinda yang tidak direspon oleh keduanya.


 


“Kita mau kemana sekarang?” tanya Sarah lagi yang menatap sekelilingnya yang hanya berupa lorong panjang dengan satu lift disana.


“Jadi ini tempat rahasia kita?” tanya Alex penuh keingintahuan.


“Alex.”


“Aku baru kesini sekali. Kita mau pergi kemana daddy?”


 


“Ini adalah tempat rahasia kita dan kau tidak boleh menceritakannya kepada siapapun. Kau paham kan Alex?” Dante menatap Alex dengan serius.


“Tidak ada yang tahu, aku juga tidak tahu.” jawab Alex.


“Aku tahu, Henry juga tahy tapi tidak banyak yang tahu tempat ini. Hanya teman-temanku saja dan kau tidak boleh menceritakan tentang tempat ini kepada siapapun. Kau mengerti Alex?”