PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 42. JANGAN BUAT MASALAH


"Pria jahanam itu tidak pernah mengijinkanku! Bahkan selama kami bersama dia tidak pernah bicara denganku, aku tidak pernah mendengar suaranya. Dia hanya datang menyentuhku setiap malam tanpa mengeluarkan suara. Dia menderaku hingga aku lupa bagaimana rasanya sakit."


Bella berhenti sejenak lalu melanjuykan lagi. "Selama satu tahun, aku tidak tahu wajahnya dan aku tidak tahu bagaimana suaranya. Mataku selalu diikat, kedua tangan dan kakiku diikat. Mereka hanya membuka ikatan mataku saat mereka ingin menggantinya dengan yang baru.” Bella menghela napas panjang, melepaskan rasa sesak didadanya.


“Aku sangat membencinya karena dia mengambil hidupku! Dia menghancurkanku dan membunuh anakku! Dia bukan manusia, bagaimana mungkin seorang manusia setega itu tidak membiarkanku menyentuh jasad anakku, aku yang mengandungnya selama sembilan bulan dengan semua rasa sakit yang dia berikan padaku! Aku bertahan demi anakku tapi akhirnya aku malah kehilangannya.” jawab Bella yang kali ini sudah tidak bisa lagi menahan airmatanya bercucuran.


Dia merasakan sakit yang menusuk-nusuk hatinya bagaikan belati tajam yang menyayat hatinya setiap kali dia mengingat kehilangan bayinya setelah melahirkan. Hanya bayi itu yang menjadi penyemangatnya yang membuat dia bertahan tapi dia kehilangannya saat melahirkan.


Kedua tangannya meremas perutnya dengan kuat, dadanya naik turun sambil menangis terisak-isak. Sakitnya sebagai seorang ibu yang mengandung dan kehilangan anak saat melahirkan. Dia merasakan sakit karena tidak pernah bisa melihat wajah anaknya bahkan tak pernah tahu bagaimana  lembutnya kulit anaknya.


Setiap mengingat itu, hatinya sangat sakit. Ada kalanya dia merindukan anaknya yang sudah pergi selamanya. Rasa sakit yang tidak akan pernah bisa sembuh. Dia masih sangat muda saat itu.


“Maafkan aku, Tuan. Aku terbawa emosi setiap kali aku mengingat masa lalu yang kelam itu. Aku tidak tahu kenapa sejak aku tidak makan obat itu, aku tidak bisa mengendalikan diriku. Maafkan aku membuat anda harus memelukku untuk menenangkanku.” ujar Bella yang sejak menangis tadi sudah berada dalam pelukan Dante dan pria itu membiarkan airmata Bella membasahi kemejanya.


‘Jadi kau membenciku sedalam itu Belinda?’ bisik hatinya yang juga merasakan sakit seperti diiris-iris ketika Bella menceritakan semuanya. ‘Kalau kau sangat membenciku kenapa kau menangis dalam pelukanku? Kalau kau sangat membenciku kenapa kau berterimakasih padaku karena sudah menenangkanmu? Harusnya kau lari dariku jika kau benar membenciku! Dasar bodoh!’ ucap Dante dalam hati menahan rasa kesal dan malah mendekap wanitanya semakin erat. Dia ingin pelukannya bisa menghilangkan kesedihan Bella.


‘Hemm…..hangat! Hangat sekali.” ucap Bella tanpa sadar menikmati dekapan hangat Dante. Senyum tersungging dibibir Dante saat mendengar ucapan Bella.


‘Kau sangat membenciku tapi kau menyukai kehangatan pelukanku! Kau…..selalu membuat masalah tapi aku senang bisa menyelesaikan masalahmu. Aku membiayai adikmu tapi kau masih sangat membenciku! Kau malah menghubungi laki-laki itu. Tidakkah kau tahu kalau anakmu masih hidup? Aku menjaga anakmu dengan baik selama ini, anakmu tempat pelampiasan kerinduanku padamu.’


‘Tapi aku tidak akan pernah membiarkanmu mengetahui tentang anakmu! Tidak! Aku tidak akan pernah membiarkan Alex tahu kalau kau adalah ibunya. Itu tak akan terjadi! Anakku Alex…..ibunya adalah Tatiana! Kau tidak bisa mengakuinya apalagi memilikinya! Aku sudah memberimu uang yang banyak dan memintamu pergi jauh dan melupakan tentang anakmu. Yang harusnya kau ingat bahwa anakmu sudah mati! Tapi kenapa kau masih mengingat anakmu?’ Dante bertanya dalam hatinya.


“Maafkan aku Tuan. Aku selalu terbawa emosi setiap kali mengingat hal itu. Aku seorang ibu, wajar jika aku merindukan anakku dan merasa bersalah karena tidak memberinya kesempatan untuk hidup.”


Bella segera melepaskan dirinya dari pelukan Dante dan menatap pria itu.


“Kenapa kau tersenyum? Tadi kau menangis, bersedih tapi kenapa sekarang kau tersenyum padaku? Apa kau sedang bersandiwara untuk mendapat simpatiku?” tanya Dante yang merasa curiga pada Bella.


“Entahlah Tuan!” ujar Bella sambil menyentuh kancing kemeja Dante dan hendak membukanya.


“Jauhkan tanganmu dari kancing bajuku! Jangan sentuh aku!” Dante membentak Bella karena tangannya sudah bergerak di pakaian pria itu hendak membuka kancing bajunya.


“Aku menginginkannya Tuan.” ucap Bella.


“Menginginkan? Apa kau tahu siapa dirimu, ha? Kau pikir aku ini pemuas nafsumu?” Dante melotot pada Bella.


“Maafkan aku Tuan!” ucap Bella menundukkan kepalanya. “Aku mendapatkan itu setiap hari dan lebih dari tiga kali mendapatkan kepuasannya mungkin juga lebih.”


Mata Bella menatap Dante dengan sendu penuh gairah. “Aku tidak mengingat berapa kali aku merasakannya tapi sangat menyenangkan saat aku mendapatkannya.” ujar Bellalagi menundukkan kepala dan kedua tangannya mencengkeram kakinya sendiri.


“Jangan harap! Aku tidak akan pernah memberikan apapun padamu! Kecuali aku yang menginginkannya tapi aku tidak pernah mau denganmu! Aku sudah katakan sejak awal tentang itu saat kau menjadi tawananku.”


“Tidak bisa! Jangan berharap lebih!”


“Aku tidak meminta anda untuk memuaskanku.” ujar Bella tanpa malu lagi. “Apa anda punya mainan?” tanya Bella pelan melirik Dante.


‘Mainan? Kenapa tatapannya menuju ke celanaku? Mainan yang itu maksudnya kan…..dasar bodoh! Kenapa dia jadi seperti ini?’ ujar Dante yang mulai memahami maksud ucapan Bella.


Dia merasa semakin kesal. “Menyingkirlah! Tidak ada benda seperti itu disini!”


“Baiklah.” Bella pun pindah dari pangkuan Dante dengan malas-malasan lalu beranjak keatas ranjang.


“Tinggallah disini dengan tenang dan berhenti membuat masalah! Kalau kau bosan kau bisa nonton TV atau kau bisa makan sepuasnya. Ada banyak makanan didapur.”


“Ada makanan didapur?” tanya Bella berbinar.


“Masaklah sendiri, semua bahannya ada didapur.” ujar Dante mendengus.


“Benarkah, Tuan? Ada banyak bahan makanan?” wajah Bella tersenyum penuh makna apalagi saat dia memikirkan bahan makanan didapur.


‘Ada apalagi dengannya? Kenapa dia senyum sendiri hanya mendengar ada bahan makanan didapur? Tempo hari di penthouse juga banyak bahan makanan tapi dia tidak pernah tersenyum seperti ini.’ Dante bertanya-tanya dalam hatinya.


“Apa yang sedang kau pikirkan? Apa yang kau rencanakan, hu?”


Bella hanya mengapit kedua bibirnya dan menggelengkan kepala.


“Jangan bohong!” ujar Dante memicingkan mata membuat Bella ketakutan memandnag pria yang sedang menginterogasinya.


“A---aku tidak merencanakan apapun Tuan. Aku hanya sedang memikirkan makanan enak yang mungkin bisa kucoba memasaknya nanti. Aku ingin melihat bahan makanan apa saja yang ada didapur dan mengolahnya nanti.” ujar Bella menundukkan kepala.


“Pergilah kedapur. Ambillah bahan makanannya dikulkas bawah.”


“Serius Tuan? Aku boleh mengambilnya?” tanya Bella dengan senyum berbinar diwajahnya.


“Ambillah sendiri, aku mau ke kamar mandi dulu. Makanlah apa saja yang kau mau.”


“Terimakasih Tuan!” ujar Bella dengan cepat berlari kearah pintu keluar. Dante yang melihatnya pun merasa heran dan mengeryitkan dahi.


‘Dia benar-benar seperti anak kecil. Jadi ini sifat aslimu Belinda? Dulu aku tidak pernah tahu bagaimana sifatmu, yang kuingat hanyalah kau selalu menangis dan sering memohon padaku tapi aku tidak pernah tahu kalau kau seorang gadis yang ceria dan manis.’ ucap Dante sambil menyunggingkan senyum sebelum dia kembali sadar dan pergi ke kamar mandi.


“Tidak ada ponsel disini dan dia tidak bisa berkomunikasi dengan siapapun. Aku tidak perlu mengkhawatirkannya.” ucap Dante membuka pintu kamar mandi lalu membersihkan wajah dan tangan lalu mandi berendam dengan air dingin.