PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 90. AKU TIDAK LAPAR!


“Hah?” Anthony yang tidak paham pun merasa bingun.


“Pergilah! Terimakasih kau sudah mengambil makanan untukku.” Bella mengusir Anthony dengan melambaikan tangannya sementara dia bergidik ngeri saat melihat tatapan tajam Dante padanya.


‘Aduh gawat! Dia memandangku seperti saat aku menelepon Tuan Jeff! Mampus lah kena lagi aku!’ bisik hati Bella yang langsung menundukkan wajahnya


“Bella! Kenapa tidak dorong aku lagi?”


“Tuan Alex sepertinya harus mandi dulu, lihatlah daddy mu sudah berdiri disana dan dia mau kau mandi.”


“Daddy! Apa aku harus mandi ya?”


“Ya kau harus mandi. Kenapa kau malah disini main sepeda?” celetuk Dante. ‘Untung saja ada anakku jadi aku bisa teralihkan sebentar tapi aku tidak bisa memaafkan perempuan ini! Habis kau kalau tidak ada anakku, senang kau ya bicara dengan pelayan laki-laki itu?’


“Ya daddy!” jawab Alex langsung turun dari sepedanya dan mendekati Dante.


“Ayo mandi dulu, sayang. Biar daddy saja yang memandikanmu.” celetuk Dante lalu menggendong anaknya.


“Biar aku saja yang memandikannya.” ucap Bella tapi Dante hanya meliriknya sebentar dan langsung fokus menatap kedepan dan berjalan menuju tangga.


“Aku tidak perlu ikut keatas ya? Baiklah kalau begitu aku makan dengan yang lainnya saja.” ucap Bella asal tapi tidak digubri oleh Dante dan pria itu tetap pergi kelantai atas.


“Aihhhh apa dia benar-benar marah padaku ya? Apa dia akan menghukumku?” tanya Bella mengerjapkan matanya. “Terserahlah dia mau marah kek.” Bella menghela napas dan langsung pergi kedapur bergabung bersama pelayan lain.


“Hai Sharon.”sapa Bella duluan.


“Hai Bella! Kalian semua sudah mengenal Bella?” tanya Sharon pada teman-temannya.


“Sudah beberapa kali melihatnya tapi belum pernah mengobrol.” kata beberapa pelayan.


“Bella, apa tadi aku sudah membuat masalah dengan Tuan?” tanya Anthony.


“Tidak! Dia memang begitu!” jawab Bella asal.


“Kau mau makan lagi?”


“Aku tidak lapar.” jawab Bella menggelengkan kepalanya.


“Yakin tidak lapar?”


“Aku sudah kenyang tadi melihat tuanmu marah!” cibir Bella.


“Nanti kau kena marah lagi kalau kau tidak bersama Tuan Alex.” kata Sharon menambahkan. “Tapi setahuku Tuan tidak pernah marah-marah.”


“Tidak tahu juga sih! Tapi aku hanya jaga-jaga seandainya Bella kena marah.” ucap Anthony asal.


“Ah sudahlah kita tidak usah membahas marah….marah…..marah….aku keatas saja. Aku juga tidak tenang dengan Tuan Alex! Aku pergi dulu ya.” ucap Bella meminta ijin lalu pergi sambil melambaikan tangannya. ‘Aku malah tambah pusing berada dekat mereka, mereka malah membahas aku kena marah! Tapi memang sih sepertinya tadi dia mau marah padaku!’ Bella mendengus dan langsung berjalan ke lantai atas.


“Aku harus ke kamar Alex atau ke kamarku ya?” tanya Bella bingung. “Ah aku buka kamar Alex saja.”


Tok tok tok


“Bella ayo main lagi!” kata Alex bersemangat mendekati Bella.


“Ayo, ikut denganku Alex!” kata Dante.


“Tapi aku mau main daddy!” protes Alex menatap ayahnya, tapi Dante tidak menanggapi.


“Tunggu! Tuan tunggu!” panggil Bella tapi tidak direspon oleh Dante. ‘Kenapa dia mengacuhkanku?’ gumam hati Bella saat Dante berhenti sejenak tapi tidak mau memandang kearahnya justru membawa Alex menuju kearah kamarnya.


‘Wah dia tidak menjawabku? Apa dia benar-benar marah karena aku tidak memandikan anaknya? Jadi dia pikir aku sudah membuat kesalahan? Aduh gawat ini! Sarah!!!!’ bisik hati Bella yang melihat Dante pergi dengan anaknya.


“Oh tidak! Apa yang akan terjadi pada Sarah kalau dia marah begitu? Apa dia masih akan mencari Sarah yang hilang? Apa dia akan menghukumku lebih parah lagi? Tapi dia hanya diam saja dan tidak menghukumku sekarang, dia justru pergi meninggalkanku. Ada apa sebenarnya? Masa gara-gara masalah mandiin anaknya saja dia begitu marah padaku?’ Bella tidak berani melakukan apapun. Dia mundur dan masuk ke kamar Alex, lalu duduk ditempat tidurnya dan diam disana.


‘Kenapa sih dia sensitif sekali? Harusnya dia tanya dulu padaku kenapa anaknya tidak mau mandi. Kenapa aku yang mendorong sepeda anaknya, aaahhh aku benar-benar tidak mengerti jalan pikirannya! Dia yang bilang padaku harus hati-hati memperlakukan anaknya dan aku sudah melakukannya sesuai keinginan anaknya karena aku tidak mau membuat anaknya marah dan mengadu padanya. Eh dia malah marah karena aku membawa anaknya yang ingin naik sepeda?’ gumamnya lagi sambil uring-uringan ditempat tidur.


“Aku baru saja bermain sebentar denganmu Alex tapi kau sudah dibawa lagi! Huh! Suami istri sama saja!” Bella hanya mencibir dan hingga jam makan siang, Bella hanya berguling-guling dikamarnya. “Aiiihhhh aku stress sekali, Sarah kau lagi ngapain? Biasanya kalau aku galau begini aku selalu bicara denganmmu, main denganmu dan rasa kesalku langsung hilang! Sekarang mana bisa? Aku tidak bisa bicara denganmu apalagi bertemu? Aku rindu Sarah!” ucap Bella sambil menitikkan airmata.


Tok tok tok….bertepatan dengan suara ketukan dipintu kamarnya. ‘Ah, apa itu dia?’ bisik hati Bella yang langsung berlari kepintu penuh harap. Tapi saat dia membuka pintu kamarnya,  dia tercekat karena bukan orang yang diharapkannya yang berdiri disana. “Anthony?”


‘Bodoh sekali kau Bella! Kalau Tuan Dante yang datang dia tak pernah mengetuk pintu, dia akan langsung masuk saja kekamar.’ gumam hati Bella sedih.


“Bella, ini sudah hampir jam makan siang, ayo makanlah dulu.” ajak Anthony diluar pintu kamar bella.


“Kau sengaja datang kesini hanya untuk mengajakku makan siang?” tanya Bella mengerjapkan mata.


“Iya, ayo makan dulu bersama dengan pelayan lainnya, disana ada Sharon juga! Tadi dia yang mau memanggilmu tapi karena ada pekerjaan yang harus diselesaikannya makanya aku yang kesini memanggilmu untuk makan siang. Hari ini Sharon piket untuk mempersiapkan makan siang.”


“Aku tidak lapar!” Bella menolak ajakan Anthony.


“Ayolah Bella kau juga belum berkenalan dengan semua pelayan di mansion ini! Supaya kau bisa punya teman dan tidak sendirian terus disini.” bujuk Anthony yang akhirnya dijawab Bella dengan anggukan kepala.


“Baiklah. Tapi aku harus menunggu Alex dulu.”


“Tidak perlu! Mereka tidak ada dirumah, sudah berangkat ke kota sejak tadi.”


“Berangkat?” tanya Bella bingung. ‘Apa maksudnya sih? Dia menyuruhku mengasuh anaknya tapi dia membawa anaknya pergi ke kota? Kenapa dia tidak mengajakku?’ Bella semakin bingung sebenarnya apa pekerjaannya disana.


“Apa kau baru tahu ya Tuan Dante pergi ke kota? Setiap kali Tuan Dante kekota untuk mengecek bisnisnya, dia selalu membawa istri dan anaknya, mereka pergi bertiga! Itu sudah jadi rutinitasnya, biasanya kalau Tuan Hans dan Eddie, mereka yang pergi jika Tuan Dante malas pergi ke kota. Tapi kalau mereka tidak ada ya Tuan Dante yang pergi sendiri kesana.”


“Ah kalau aku tahu begitu, aku sudah keluar dari tadi.” ucap Bella spontan. ‘Kalau aku tahu dia sudah pergi dari tadi mending bermain saja dengan yang lain! Tadi wajahnya tiba-tiba murung dan mengerikan sekali, bikin aku takut!’ bisik Bella lagi dalam hatinya.


“Ayo Bella! Kita ke belakang.”


“Ayo!” bella pun bersemangat apalagi dia diajak berkumpul bersama banyak orang.


“Wah apa kalian selalu berkumpul bersama-sama disini saat makan siang?” tanya Bella ketika mereka sudah berkumpul dibelakang.


‘Tempat ini nyaman sekali, daripada aku terkurung dikamar sendirian lebih baik aku bergabung bersama mereka! Aku tidak akan kesepian dan merasa bosan kalau aku bisa berbicara dengan orang lain, tapi kalau aku hanya dikamar saja menunggunya atau menunggu anaknya, lama-lama aku makin tak jelas, bisa gila!’ ujarnya lagi dalam hati dengan senyum merekah apalagi matahari siang itu terlihat sedikit, tak ada turun salju.