PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 221. PESAN BARACK


“Ada apa?” tanya Sarah dan Dante menoleh menatapnya.


“Barack ingin kau memakai kalung ini terus?” tanya Dante mengeryitkan dahinya. Dia menatap kalung ditangannya yang diberikan oleh Barack pada Sarah.


“Iya! Tapi Barack bilang kalau ada orang yang mengatakan kalimat seperti yang kau katakan tadi, maka aku harus menyerahkan kalung ini padanya!” jawab Sarah sambil mengerucutkan bibirnya.


“Apa yang sudah kau berikan pada temanku hingga dia benar-benar melindungimu?” Dante menatap Sarah, “Bahkan nyawanya sendiri sebagai taruhannya?” tanya Dante sedikit mengintimidasi Sarah.


“Aku tidak memberikan apapun, aku juga tidak melakukan apa-apa padanya,” Sarah bicara sambil menggelengkan kepalanya. ‘Andai aku bisa memberikan sesuatu yang membuat Barack mencintaiku pasti sudah kuberikan. Di gunung itu aku sudah mengatakan perasaan cintaku padanya berkali-kali tapi dia tetap saja tak peduli. Dia bilang aku hanya anak kecil yang tak berguna. Barack! Kata-katamu menyakitkan hatiku tapi aku merindukanmu. Kau ada dimana sekarang? Temanmu ini jahat sekali padaku Barack! Aku juga berencana mengadukannya pada Bella nanti!’


“Kau yakin kau tidak menyerahkan apapun padanya?” Dante kembali bertanya merasa bingung dan tak percaya pada ucapan Sarah.


Bagaimana mungkin Barack bisa memberikan sesuatu yang sangat berharga seperti kalung itu pada Sarah? Kalung itu bisa diibaratkan srperti nyawa Barack.


“Iya yakin sekali. Aku tidak melakukan apapun, mungkin kau bisa memberitahuku apa yang membuat Barack bisa mencintaiku supaya aku bisa mendapatkan cinta Barack!” jelas Sarah.


“Fuuhh! Kau memang tidak mengerti,” Dante bicara sambil memandang lurus ke depan, tak lagi menatap Sarah.


“Barack bilang kau tidak boleh mencintainya.” jawab Sarah sejujurnya karena memang itu yang dikatakan Barack padanya.


“Itu benar.”


“Hei! Kenapa kau bilang begitu? Apa ada yang tidak aku ketahui?” Sarah membulatkan matanya menatap tajam pada Dante.


“Aku mendukung semua yang Barack katakan!” ujar Dante tegas dan menatap Sarah dengan serius.


“Kau memang bukan kakak ipar yang baik seharusnya saat kau aku kalau aku ini adik iparmu dan aku menyukai temanmu, kau seharusnya mendekaatkan aku pada temanmu dan mengtakan pada temanmu kalau adik iparmu menyukainya. Seharusnya kau mengatakan pada temanmu untuk menjaga adik iparmu bukan malah mendukung temanmu untuk menjauhiku!” Sarah kembali mengerucutkan bibirnya.


“Tidak akan pernah aku lakukan itu.” Dante menggelengkan kepalanya.


“Haaaah! Pantas saja kakakku meninggalkanmu. Kau tidak baik!” ujar Sarah lagi.


“Berisik! Pakai lagi kalung ini.”


“Waaahhhh! Terimakasih ya,” senyum Sarah kembali sumringah ketika Dante mengembalikan kalung itu dan dia pun langsung memakainya.


“Aku ralat kata-kataku, memang kau ini bukan kakak ipar yang baik tapi setidaknya aku berikan dukungan lima persen kau bersama Belinda karena kau sudah mengembalikan kalung ini padaku.” kata Sarah dengan wajah bahagia karena mendapatkan kalungnya kembali.


“Kau senang?” Dante menatap Sarah lagi.


Sarah menganggukkan kepalanya, “Iya pastilah aku senang,” ujar Sarah lagi menatap liontinnya.


“Kenapa sudah tidak ada warna merahnya lagi ya?” tanya Sarah saat dia melihat liontin tengkorak sudah berwarna putih.


“Karena tidak ada sinyal dari Barack.” jawab Dante.


“Maksudnya?”


“Lihatlah jam tanganku,” perintah Dante. Lalu Sarah mendekat agar bisa melihat jam tangan Dante.


“Kenapa hanya tinggal empat sinyal saja? Mana Baarck? Apa terjadi sesuatu yang buruk padanya?” tanua Sarah cemas menatap Dante.


“Aku rasa tidak. Ini karena Barack tidak ada koneksi!”


“Chip yang ada ditubuh Barack itu seharusnya masih menunjukkan sinyak tapi karena dia terpaut jauh denganmu maka sinya itu hilang.”


“Apa maksudnya ini?”


“Barack masih hidup!” jawab Dante.


“Lalu?”


“Begini ya biar aku jelaskan padamu tapi jangan memotong dulu kalimatku.” perintah Dante dan Sarah pun menganggukkan kepalanya setuju.


“Cara kerja chip didalam tubuh Barack itu sebenarnya chip itu akan tetap hidup selama jantung Barack tetap berdetak.”


“Hemmm….terus….terus…..?” Sarah terus mencecar Dante dengan pertanyaan karena tak sabar.


“Biar aku jelaskan dulu biar tidak sepotong-sepotong informasinya dan jangn memotongku!”


“Iya, jelaskan padaku sekarang. Cepatlah! Aku sudah tidak tahan lagi kalau harus menunggu lebih lama informasi tentang Barack.”


“Kau! Jangan menyuruhku tergesa-gesa, aku tidak suka didikte! Kau ini ya benar-benar tidak ada bedanya sama kakakmu. Selalu saja menginginkan sesuatu terburu-buru!” Dante sedikit memicingkan matanya menatap Sarah.


“Ya iyalah! Aku inikan adiknya Belinda! Walaupun kakakku suka terburu-buru tapi kau tetap mencintainya, iyakan? Tidak mungkin kau meminta Barack menjagaku dan sekarang kau juga menjagaku kalau kau tidak peduli pada kakakku!” Sraah mencibir pada Dante.


“Kau! Mulutmu bahkan lebih berbahaya daripada Bella! Memangnya kapan aku bilang aku mencintai kakakmu?” Dante melotot menatap Sarah.


“Ah, ternyata hubunganmu dengan kakakku lebih ribet ya. Pasti kau tidak jujur tentang perasaanmu padanya, iyakan? Makanya Bella pergi dan jadinya diculik orang deh!” ujar Sarah tak mau kalah membalas ucapan Dante.


“A—aku…..hei! Memangnya aku menyuruhmu membahas masalah pribadiku? Bukannya kau yang ingin tahu tentang Barack? Kenapa jadi membahas tentang aku?”


“Oh iya….he he he…..terserahlah bagaimana hubunganmu dengan Bella tapi bagaimana dengan Barack? Apa dia masih hidup? Ayo cepat cerita.” Sarah kembali fokus pada permasalahan.


“Aku tidak akan melanjutkan bicara kalau kau tidak bisa diam dan menjaga mulutmu,” ucap Dante tegas dan menunjukkan kekuasaannya pada Sarah.


“Ah, sudahlah jangan pikirkan soal mulutku ini. Sekarang ceritakan saja padaku bagaimana kondisi Barack! Ayolah, jangan membuatku lebih menderita karena penasaran,” Sarah  menatap Dante.


“Dengarkan aku ya,” ujar Dante mendengus.


“Iya! Aku sudah dengarkan dari tadi, kapan mulainya?”


“Sabar sedikit, jangan memotong ucapanku biar aku menjelaskan lebih terperinci padamu dan menggunakan bahasa inggris yang lebih simpel. Kau harus lebih sopan padaku! Aku lebih tua darimu, mengerti?”


“Aku tidak mengerti grammar. Yang penting kan aku sudah bicara denganmu pakai bahasa Inggris daripada aku bicara pakai bahasa Indonesia?” ujar Sarah mengerucutkan bibirnya. ‘Issss dia ini resek amat sih? Dia jauh lebih menyebalkan daripada Barack. Ah kak Bella kenapa sih bisa suka sama orang kayak dia? Tampan tapi menyebalkan!’ gumam Sarah dihatinya.


“Fuuhh!” Dante kembali menghela napas dan menahan gemasnya pada Sarah.


“Cepatlah berikan aku informasi tentang Barack. Kakak ipar yang lebih tua umurrnya dari aku.”


“Bagaimana Barack bisa bertahan denganmu? Beberapa menit saja aku bicara denganmu rasanya telingaku mau pecah! Kau ini benar-benar tidak sopan. Apa kau tahu siapa aku?”


 “Hihihihi….itu karena Barack lebih baik darimu dan aku tidak tahu dan tidak mau tahu kau itu siapa.”


“Sudahlah! Dengarkan aku baik-baik,” ucap Dante tak mau berlama-lama lagi mengajari Sarah tata krama, kali ini dia menatap Sarah dan berusaha konsentrasi bicara padanya.