PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 404. CURIGA


“Temannya itu mencoba menjual senjata kepada mafia! Salah satu mafia terbesar di Amerika! Dan ini membuat ayahmu marah sekali kepadanya!” kata Omero menjelaskan.


“Lalu?”


 


“Mereka berdebat, pertengkaran mereka dimulai sejak saat itu dan pertengkaran terbesar adalah dua hari setelahnya ketika ayahmu sudah menunjukkan salah satu senjata pemusnah massal itu. Temannya ingin sekali mendapatkan senjata itu. Tapi ayahmu entah kenapa justru menghancurkan senjata itu!”


 


“Apa kau tidak curiga jika orang itu yang membunuh ayahku?”


“Aku curiga tapi aku tidak memiliki bukti, Dante! Yang pasti pembunuh ayahmu adalah orang yang memiliki kekuatan lebih besar daripada teman ayahmu! Dalam waktu satu hari semua informasi tentang ayahmu hilang!”


 


“Kalaupun yang melakukannya adalah teman ayahmu, aku rasa dia memiliki seseorang dibelakangnya yang sangat kuat dan berkuasa. Karena dia tidak mungkin melakukan itu sendirian!” ucap Omero yang memang sudah memikirkan apa yang dipikirkan Dante.


 


Dia berpikir lebih lanjut dan kecurigaannya hilang setelah dia melakukan pengecekan pada teman yang dimaksud. “Dia tidak kaya, hanya memiliki kekuasaan terbatas dan untuk menghapus semua berita nasional dan internasional tentang ayah Dante itu sangatlah sulit.”


 


“Jadi ayah sempat membuat senjatanya?” Dante berusaha fokus pada pembicaraan sebelumnya.


“Ya. Tapi sudah dihancurkan dengan tangan ayahmu sendiri. Karena menurutnya senjata itu dapat menghancurkan umat manusia! Dia tidak mau apa yang ditemukannya menjadi salah satu sumber perusak keseimbangan alam dan bisa menghancurkan sebagian besar manusia di bumi ini!”


 


“Kenapa kau menyembunyikan rahasia seperti ini dariku?”


Dante tidak paham apa yang ada dipikiran Omero sehingga dia menyembunyikan semua ini darinya. Cerita ini belum pernah diutarakan oleh Omero sebelumnya dan mungkin tidak akan pernah diceritakan kalau Dante tidak menemukan senjata-senjata di gudang bawah tanah.


 


Inilah yang menyebabkan Dante berusaha untuk meminta penjelasan atas semuanya dan alasan Omero menyimpan perihal ini rapat-rapat selama bertahun-tahun lamanya.


 


“Aku sudah mengatakan padamu kalau aku tidak ingin menggiring opinimu pada satu orang Dante! Lagipula kami tidak punya bukti dan mungkin saja orang lain yang melakukannya seandainya aku sudah terlanjur menggiring pikiranmu kesana maka orang yang benar bersalah akan lepas!”


 


Omero mencoba untuk menjelaskan seperti yang diharapkan oleh Dante. “Aku sudah dewasa dan aku tahu bagaimana cara membedakan mana yang benar dan salah! Kenapa kau masih belum mau menceritakan semua itu kepadaku?”


“Alasan awalku menyimpan tetang ini, kau belum stabil kala itu! Aku tidak ingin kau terbawa emosi dan ujungnya kau menyerang orang itu.” jawab Omero.


 


“Aku tidak mau kau menyerang orang itu karena menyangka bahwa dia yang menyakiti ayahmu. Ini tidak menjadi prioritas utamaku! Kenapa? Karena kalau kau salah pilihan maka kau akan mendapatkan hukuman dan aku tidak mau sampai pihak federal memiliki kesempatan untuk menggeledah rumah ayahmu, Dante!”


 


Omero menceritakn dengan jujur pada Dante yang sudah dianggapnya sebagai anaknya.


“Dan kalau boleh tahu, kenapa kau bisa punya pikiran bahwa pria yang mengetahui tentang senjata rahasia itu adalah Dante Emilio?”


“Entahlah!” Dante mengangkat bahunya belum memberikan alasan sebenarnya. Dia menatap Omero.


 


“Ada yang ingin kau sampaikan tentang ini padaku?” tanya Omero yang dijawab Dante dengan anggukan kepalanya.


“Aku mengetahui satu hal tentang Dante Emilio dan aku belum menceritakan kepadamu.”


“Apa yang kau tahu tentangnya? Namamu yang mirip dengannya?”


 


Tok tok tok


Disaat yang bersamaan, kamar Omero diketuk oleh seseorang dan pria itupun masuk sambil memberikan hormat pada Dante dan Omero.


 


“Mendekatlah sini!” ujar Dante sambil menunjukkan kepada satu kursi disamping Omero.


”Baik Tuan! Terima kasih.” Henry pun berjalan menuju ke sisi ranjang lalu duduk disamping Omero dan berseberangan dengan Dante yang ada disisi satunya lagi.


“Apa yang sedang dilakukan Bella diluar bersama dengan putraku?” tanya Dante.


 


“Mereka lomba makan es krim Tuan! Lalu dengan bantuan Norman, Tuan Muda Alex memasakkan makan siang untuk Nyonya Bella dan Nona Sarah. Sekarang Nyonya Bella dan Alex sedang bermain di taman bunga sedangkan Nona Sarah kembali ke kamarnya. Sepertinya dia sedang punya masalah dengan perasaannya pada Barack.”


 


“Kenapa kau tidak datang menemuinya sendiri Dante? Apa harus bertanya pada Henry?” ujar Omero.


“Aku belum menemuinya lagi. Tapi sebelum berangkat aku akan datang menemuinya.” jawab Dante memberi kepastian pada Omero lalu dia mengalihkan pandangannya pada Henry lagi.


“Apa kau sudah siapkan apa yang aku butuhkan?”


 


Henry menganggukkan kepalanya. Dia membuka map yang dari tadi dipeganganya lalu menyerahkannya kepada Dante, “Itu surat cerai anda Tuan dan didalamnya juga sudah ada surat pernikahan Bella dengan anda Tuan. Dan ini cincin pernikahan yang anda pesan untuknya.” ucap Henry sambil merogoh saku celananya dan menyerahkan pada Dante kotak cincin berwarna emas.


 


“Ah, jadi kau sudah mengurus semua perceraianmu dengan putriku Tatiana, Henry?”


“Iya Tuan. Saya mohon maaf!” ucap Henry.


“Aku titip putriku tolong jaga dia sebaik-baiknya dan jangan sampai sesuatu yanga terjadi pada Cassandra terjadi padanya.”


 


Katak-kata itu datar tapi penuh makna yang mendalam bagi Dante, dia pun mengangguk tanpa senyum diwajahnya. ‘Ayah apa kau menyelahkanku tentang kematian Cassandra karena waktu itu aku tidak mengajaknya naik motor bersamaku dan Tatiana?’ bisik hati Dante yang tidak diungkapkannya karena sampai sekarang dia masih merasa bersalah pada kejadian itu.


 


Omero sendiri belum banyak bercerita tentang Cassandra pada Dante karena kalau Omero sudah menceritakannya, tentu saja tidak akan mudah bagi Dante untuk melepaskan Tatiana.


“Ehm…...terima kasih Henry! Kau sudah mengurus hal ini. Apa kau sudah menyiapkan penata busana dan penata rias untuk Bella juga sesuai yang kuminta?”


 


“Sudah Tuan! Mereka akan datang sekitar satu setengah jam lagi. Mereka akan menjadikan istri anda menjadi pengantin tercantik malam ini.” ucap Henry.


Dante tersenyum tetapi didalam hatinya terasa getir. ‘Malam pengantin? Atau malam terakhir aku bisa melihatnya? Fuuuh, aku tidak tahu apakah aku masih bisa hidup setelah penyerangan malam ini! Tapi aku ingin memberikan sesuatu yang manis untuknya.’


 


‘Aku ingin menjadikannya milikku! Membuatnya tersenyum dan mengingat senyumnya sepanjang hidupku! Kalaupun nanti aku mati malam ini, aku sudah memiliki kenangan terindah dengannya! Dan aku sudah pastikan kalau dia akan aman. Dia bisa hidup tenteram bersama kedua anakku.’ bisik hati Dante sambil memasukkan cincin pernikahan ke saku celananya.


Tidak ada yang tahu apa yang direncanakan oleh Dante kecuali Hans. Karena itu Hans tadi tidak dapat bergerak diruang kerja Dante, kepalanya pusing dan dia mengkhawatirkan kondisi Dante.


Hans yang diperintahkan untuk menyembunyikan seluruh anggota keluarga Dante di bunker saat ada penyerangan itu sudah jadi pesan negatif bagi Hans.


“Baiklah, kita kembali ke pembahasan sebelumnya, ayah.”


“Oke! Kau sudah siap untuk membicarakan masalah inti?” tanya Omero. Dante hanya mengangguk.


Hai up bab selanjutnya author lanjut nanti malam ya. terima kasih 🙏🙏