PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 62. AYAH ANAKKU


“Kubilang lepaskan tanganmu!” teriaknya kencang. Hatinya mulai panas membara.


Lagi-lagi Bella menolak dengan menggelengkan kepala. “Aku tidak mau! Ini milikku! Biarkan aku pegang sebentar saja.” bujuk Bella lalu menatap milik dante sambil berdecak.


“Apa yang kau harapkan, ha?”


“Aku mau dia bangun. Ayo…..bangunlah!”


“Kau pikir dengan caramu memegangnya dia akan bangun? Dasar bodoh!”


“Tolong bangunkan dia, aku ingin melihatnya sekali saja, Tuan! Kau pasti sengaja menahannya, iyakan? Aku tahu itu!”


“Kau mau dia bangun supaya kau bisa membandingkannya dengan milik orang lain? Dengan siapa itu tadi...yang kau bilang dia yang terbaik?”


Bella malah tertawa mendengar ucapannya, “Mana mungkin aku membandingkanmu dengan pria yang kubilang terbaik itu, Tuan. Yang setiap sentuhannya dan semua yang dilakukannya membuatku mabuk kepayang walaupun aku selalu berusaha menolaknya. Sekarang aku merasa menyesal kenapa dulu aku tidak pernah menikmatinya.”


“Maksudmu kau menolak pelangganmu sendiri, begitu?”


“Bukan.” Bella menggelengkan kepalanya. “Aku menolak rasanya karena aku tidak mau kalau aku menginginkan rasa itu dulu! Tapi akhirnya aku malah tidak bisa melupakan rasa itu dan aku selalu memikirkannya sampai membuatku gila.”


“Jadi dia yang membuatmu gila bukan Jeff?”


“Tidak, Tuan. Kalau dibandingkan dengan Tuan Jeff ya tidak ada apa-apanya dibandingkan pria itu. Saat pria itu menyentuhku sedikit saja sudah membuatku bergelora dan dia tidak lembut seperti Tuan Jeff malah agak kasar tapi dia membuatku ketagihan dalam pikiranku.”


“Lepaskan milikku! Jadi kau sedang membayangkannya sekarang? Beraninya kau membayangkan miliknya dihadapanku?” Dante melotot menatap Bella. Sinar matanya memancarkan kemarahan.


“Iya tuan!” jawabnya jujur.


PLAAKKKK!!!!!


Dante menampar wajah Bella atas jawabannya yang jujur. “Ahhhhh…..sakit.’ lirihnya. Tangannya langsung melepaskan dante dan memegang pipinya yang merah dengan cap tangan Dante diwajahnya. Tamparan pria itu sangat kuat karena menyalurkan emosinya.


“Berani-beraninya kau menyentuhku dan memikirkan wajah laki-laki itu!” mata Dante memicing dan hendak turun dari tempat duduk kayu diruang sauna itu.


“Maaf, Tuan tapi aku tidak bisa membayangkan wajahnya. Aku hanya mengingat permainannya saja karena itu yang membuatku ingin terus dan aku tidak membandingkannya denganmu karena aku tidak pernah melihatnya.”


“Apa maksudmu?” tanya Dante menatap Bella heran.


“Katakan dengan jelas!”


“Ayah anakku! Dia ayah anakku, Tuan! Setiap sentuhannya benar-benar tidak bisa kulupakan dan aku selalu merindukannya.”


“Apa? Apa kau bilang barusan?”


“Ayah anakku, Tuan. Pria itu adalah ayah anakku.” ujar Bella tersenyum miris mengingat pria dimasa lalunya. Pria yang merenggut kesuciannya dan ayah dari anak yang tak pernah dia lihat. “Aku selalu menunggunya setiap malam dikamar dingin dan gelap itu! Tidak ada selembar kainpun menutup tubuhku waktu itu.”


“Hanya pelayan yang ditunjuknya saja yang datang dua kali sehari ke kamar dingin itu untuk mengantarku ke kamar mandi, hidupku seperti binatang peliharaan tapi bodohnya aku selalu menunggunya. Kenikmatan yang diberikannya sudah seperti canduku. Sebenarnya aku tidak mengingingkannya, aku bahkan membencinya jika dia menyentuh tubuhku tapi ada sesuatu didalam diriku yang tidak bisa bebrohong kalau aku memang membutuhkannya. Aku bahkan rela selalu menunggu sampai dia datang menemuiku meskipun  kedua tangan dan kakiku terikat. Aku selalu menolak dan mencoba menghilangkan rasa itu setiap kali dia pergi meninggalkanku, ingin rasanya aku melarangnya pergi dan aku menginginkannya selalu ada disisiku.” jawab Bella sambil menghapus airmatanya. Kerinduan yang ditahannya selama empat tahun dan berharap akan bertemu lagi dengan pria itu.


Dia tak sadar jika pria itu ada disisinya sekarang.


“Bangun! Kenapa aku menangis di lantai seperti itu!”


“Hiks….hiks…..aku sangat merindukannya Tuan! Aku rindu sentuhannya itu, tangan yang dengan mudahnya selalu membuatku lelah, dulu dia sempat mengijinkanku menyentuh tangan dan tubuhnya, itu yang aku inginkan...hiks….hiks…..” tangisnya terisak.


‘Dasar wanita gila! Kau membuat kepalaku tambah sakit! Kau bilang kau membenciku tapi sekarang kau menginginkanku? Apa-apaan ini? Kau….arrggggg! Aku harus bagaimana? Apa aku harus senang karena kau merindukanku seperti aku juga merindukanmu? Ha…..kenapa hatiku rasanya sakit sekali? Kenapa dia menangis didepanku?’ Dante diam memandang Bella yang terus menangis dilantai, kedua tangannya memeluk kakinya dan kepalanya dibenamkan diantara kedua lututnya.


“Bangun! Kenapa kau malah merindukan orang lain saat kau sedang bersamaku?” ujar Dante. ‘Aku harus bisa sabar dan menahan diri agar tidak memeluknya meskipun aku sangat ingin memeluknya. Mungkin aku harus memberinya sesuatu untuk menyenangkannya, ahh….akan kupikirkan nanti. Jangan sampai dia mengenaliku!’ bisiknya dalam hati.


“Maafkan aku Tuan tapi aku memang merindukannya! Kadang aku melampiaskan kerinduanku pada pria yang bersamaku. Aku jadi gila setiap kali aku mengingatnya dan tidak bisa melampiaskan. Caranya menyentuhku, caranya membangkitkan gairahku dan bagaimana dia menyalurkan keinginannya padaku. Saat bibirnya menyentuh bibirku aku sangat suka! Bibirnya jarang menyentuhku tapi aku masih ingat sesekali dia membuka penutup wajahku sampai sebatas bibir dan menciumku. Dia menekan tubuhku, puffff…….beratnya sangat sempurna diatasku. Tangannya sangat pandai membuatku melayang meskipun aku menolaknya tapi aku selalu merindukannya dalam diamku. Meskipun kadang aku mendapatkan rasa yang hampir sama dari pria lain tapi tidak ada seorang pria pun yang seperti dia. Pengalamanku bersamanya adalah yang paling sempurna!” Bella tersenyum meskipun masih terisak. Dia selalu merasa bahagia mengingat masa lalunya bersama ayah anaknya.


“Kau malah menangisinya didepanku! Kau punya otak tidak?” Dante memicingkan mata.


“Maaf ya Tuan. Silahkan hukum saja aku tapi aku memang tidak bisa melupakannya. Entah kenapa aku selalu teringat padanya. Aku selalu begini jika aku mengingat semuanya, aku takut padanya tapi aku merindukannya. Masih ada rindu yang selalu tersisa untuknya.”


“Tapi kau bilang kau membencinya! Kau tidak menginginkannya. Kau bilang kau tidak bisa memaafkannya lalu kenapa kau malah menginginkannya sekarang?” kepala Dante tambah pusing memikirkan ucapan Bella yang bertolak belakang. Rasa penasarannya ingin mengetahui perasaan wanita itu malah membuatnya semakin kacau dan puyeng.


Bella berpikir sejenak, ‘Memang benar yang dikatakannya, aku memang membenci pria itu dan tak ingin memaafkannya tapi entah kenapa aku selalu merindukannya. Aku suka sentuhannya, aku suka semua rasa yang diberikannya. Aku tidak pernah merasakan kenikmatan seperti itu dari pria lain. Dia berbeda, perlakuannya…..ahhhhh!’ airmatanya terus berderai menahan kerinduan yang tak sampai.


“Kenapa kau diam? Jawab aku!”


“Maaf tuan. Aku memang bilang kalau aku membencinya dan tidak bisa memaafkannya. Tapi…..dia adalah ayah anakku. Dia pria pertamaku! Dia pria yang pertama kali menyentuhku dan memberiku rasa itu. Aku membencinya bahkan sangat membencinya dan tidak akan memaafkannya tapi aku juga mencintainya, rasa cintaku melebihi rasa benciku. Aku bersamanya, bukan sekedar sehari atau dua hari tapi aku tinggal bersamanya cukup lama, waktu yang cukup bagiku untuk mencintainya. Dia tidak pernah bicara denganku jadi aku tidak tahu bagaimana suaranya. Tapi aku sangat suka berada didekatnya karena aku merasa dia seperti melindungiku, aku merasa hangat saat dia memelukku, harum tubuhnya….parfum yang dipakainya mirip dengan parfumu. Bahkan ada beberapa klienku yang memakai parfum yang sama yang membuatku selalu mengingatnya. Aku sangat mencintainya dan merindukannya, entah aku bisa bertemu kembali dengannya atau tidak.”