
“Apa yang sedang ada didalam mimpimu Bella? Kenapa kau senyum-senyum sendiri begitu?” ada senyum diwajah Dante saat mengamati Bella yang sedang tertidur, wajahnya polos seperti anak kecil membuat Dante tersenyum. Melihat Bella yang tertidur seperti itu sama persis dengan Alex.
‘Kalau melihatmu tidur sepeerti ini, aku melihat putraku Alex. Caramu tidur mirip dengannya. Alex selalu membuatku menginap terus dikamarnya. Saat aku tak bersamanya membuatku rindu berat.’ Dante berbisik didalam hatinya sambil duduk disisi tempat tidur dan tangannya mengelus wajah Bella.
Dante selalu tidur bersama Alex sejak bayi. Kadang dia memegang botol susunya sampai ketiduran, kadang Alex tidur sampai pagi dalam buaiannya. Cinta Dante pada Alex sangat besar tapi ada yang dilupakan oleh Dante, semua yang dilakukannya itu sebenarnya karena rasa rindunya pada Bella setelah Alex dilahirkan dan Dante mengembalikan Bella, tidak ada lagi pelampiasan rindunya ekcuali pada anak mereka.
Sehingga malam ini Dante menikmati sesuatu yang memang ingin dilihatnya selama ini. Wanita yang selalu mencuri hatinya sejak Dante pertama kali bertemu Bella. “Baru saja kita melakukannya tadi tapi ada yang mengganggu dan sekarang kau malah meninggalkanku tidur! Ck! Apa aku harus membangunkanmu agar aku tidak mandi air dingin?”
Dante memutar bola matanya namun ada senyum kecil diwajahnya. “Sepertinya sekarang waktunya yang tepat untuk menunjukkan kepadamu pelajaran yang aku katakan tadi Bella. Kita praktek sekarang…..ini waktu yang tepat minta duluan.”
Dante lalu membuka pakaianya dan langsung naik ke tempat tidur setelah dia polos. “Ehmmm….” hanya itu respon Bella ketika sebuah tangan memeluknya dari belakang dan kehangatan memenuhi tubuhnya.
CUP….
Dante memberikan kecupan hangat setelah dia menyibak rambut Bella disertai bisikan lembut. “Kau masih tertidur pulas tapi kau sudah menggeliat mendekat padaku. Apa yang ada dalam pikiranmu Bella?” perbuatan Dante itu berhasil mengganggu tidur wanita itu.
Bella yang tadinya membelakangi Dante kini sudah merubah posisinya menjadi telentang dengan kepala mengarah pada Dante. Aroma tubuh wanita itu mengusik Dante saat Bella mencari kenyamanan dalam pelukan pria itu.
“Bagaimana dengan sedikit sentuhan Bella?” ucap Dante lagi yang tangannya sudah mulai mengelus tubuh itu.
“Sssshhhhh….ehhmmm…..”
Bella terlihat tersneyum menikmati sentuhan tangan Dante. Bahkan tubuhnya mulai menggeliat dan matanya pun terbuka. Tak ada lagi rasa kantuk saat dia membuka mata dan melihat sesuatu yang disukainya. “Dante.” panggilnya lembut dengan senyum manis diwajahnya.
“Kau tidur pulas tadi?”
Bella tak menjawab karena dia menikmati apa yang sedang dilakukan pria itu. “Tidak ada niat untuk menjawab pertanyaanku, hem?”
“Kau sudah kembali Dante?” Bella menjawab sambil merapatkan tubuhnya dan menghirup aroma khas tubuh Dante yang sangat disukainya.
“Kalau bukan aku yang kembali lalu menurutmu siapa yang ada disini sekarang?”
“Aku senang melihatmu disini.” mata Bella berubah sayu dan dia menatap pria itu tanpa bisa berkata-kata lagi karena dia terhanyut akibat sentuhan tangan pria itu.
“Apa yang ada dalam pikiranmu Belinda?” tanya Dante sambil memandang wajah yang masih menunjukkan kantuknya itu tapi sedang berusaha membuka matanya.
“Aku tidak bisa berpikir jernih kalau kau melakukan ini Dante!”
“Bagaimana kalau aku menengok anakmu?”
Kata-kata itu adalah sesuatu yang dirindukan Bella sehingga matanya membelalak dan menganggukkan kepalanya pelan. “Benarkah? Jadi kau mau menengok anakmu sekarang?”
“Menurutmu bagaimana?” Dante menganggukkan kepalanya sehingga membuat Bella tersenyum ceria.
“Ehm...aku merindukannya jadi menurutku kau bisa menengok anakmu sekarang.”
“Sungguhkah? Kamu mengijinkanku?” suara Dante terdengar lembut melelehkan hati Bella. Dia yang biasanya melihat Dante marah-marah kini sungguh berbeda! Dante tidak seperti biasanya dan tidaklagi bersikap kasar padanya.
“Aku ingin merasakan sesuatu. Seperti yang terjadi ketika malam itu. Ehm...maksudku dimana kau melakukannya pertama kali denganku, Dante.”
“Jadi kau mau menjadikan malam ini menjadi malam pertama kita seperti itu?” tanya Dante tersenyum.
“Jangan bicara lagi Bella. Coba nikmati saja setiap sentuhanku dan apa yang akan aku lakukan padamu.” ucapnya lalu mencium bibir Bella.
“Dante…..hppp.”
Setelah keduanya kehabisan napas barulah Dante menguraikan ciumannya. “Ehm...Dante…..”
Pria itu sudah membuat banyak tanda merah disekujur tubuh Bella dan kembali lagi mengecup bibir merah wanita itu.
‘Bella apa kau mencintaiku? Aku sudah menyakiti tubuhmu dan hatimu tapi apa benar masih ada cintamu untukku dan kau masih mau bersamaku?’ pertanyaan itu tiba-tiba muncuk dibenaknya. Sambil dia melakukan pekerjaannya, kini kamar tidur itu dipenuhi suara-suara mereka yang saling berpacu,
‘Dulu dia tidak seperti ini. Satu kali aku melakukannya dia sudah menjerit-jerit dan sudah selesai. Apa jangan-jangan dulu aku tidak pernah memuaskannya?” pertanyaan itu muncul dibenak Dante.
Dia sama sekali tidak menyangka jika Bella tidak ada capeknya dan bisa mengimbanginya. Pria itu bahkan merasa cemas, karena dia takut kalau sampai Bella bilang tidak puas.
“Untung saja aku kuat tak terbayangkan kalau aku tidak sanggup selama ini. Hah! Bahkan Tatiana tidak pernah sanggup lebih dari tiga kali.” gumam Dante didalam hatinya tanpa dia ketahui bahwa Tatiana biasa melayani beberapa pria semalaman penuh dan membiarkan mereka menyiksa tubuhnya.
“Bella, kita sudah melakukannya cukup lama.”
“Sepuluh menit lagi Dante.” melihat Bella yang terus saja memintanya akhirnya Dante berusaha menahan lebih lama lagi.
‘Fuuuh! Pegal sekali. Dulu dia tidak seperti ini tapi aku juga puas dengan caranya memanjakanku, caranya menatapku dan dia memang suka kelembutan. Aku tidak suka bermain keras karena hidupku sudah keras dan saat ini aku membutuhkan sisi lembutnya.’
‘Tapi kelembutan yang dimiliki Bella bukan sesuatu yang disukai Tatiana, selama ini dia hanya berpura-pura padahal sebenarnya segala yang keras dan menyakitkan yang bisa membuatnya puas.’ bisik Dante lagi dalam hatinya. Hingga saat keduanya mendapatkan pelepasan bersamaan, Dante langsung merebahkan diri diatas Bella.
“Kenapa kau menangis Bella?”
“Aku masih ingat waktu itu Dante. Kau selalu menyelesaikan semuanya seperti ini. Kau tiduran diatasku seperti ini. Kau tahu kalau aku selalu merindukan ini?”
“Kau senang?”
“Aku sangat senang Dante. Terima kasih.”
“Ayo bersihkan tubuhmu dulu.”
“Aku masih lelah sekali.”
“Tapi kotor kalau tidak dibersihkan.” ucap Dante mengangkat tubuh Bella dan membawanya ke kamar mandi. ‘Bukan dia saja yang kelelahan, aku lebih lelah. Bahkan rasanya tenagaku sudah habis.’
Lalu dia membaringkan Bella di bathtub dan membersihkan tubuhnya.
“Dante, sampai kapan tanganku tidak boleh menyentuh tubuhku?” tanyanya karena Dante menjauhkan tangannya yang terluka dari air dan membantunya mandi.
“Besok aku lihat bagaimana perkembangan tanganmu. Kalau sudah baik aku akan membuka perbanmu.”
“Sudah selesai. Keringkan tubuhmu dulu. Aku mau mandi dulu, pergilah ke kamar.”
Bella pun mengikuti perintah Dante dan langsung kembali ke kamar. Sedangkan Dante segera membersihkan tubuhnya. “Aku harus cepat, aku mengantuk dan lelah sekali. Masih banyak pekerjan yang harus ku selesaikan besok.” ujar Dante yang masuk ke kamar tidur dan langsung naik ke ranjang.