PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 302. TANPA PENYAMBUTAN


Dante mengomentari kebodohan lawannya lagi, “Tapi aku juga harus tetap berhati-hati dan tidak boleh meremehkan siapapun.” Dante mencoba mengingatkan dirinya karena sekarang lawannya sudah sangat berani untuk mendekati rumahnya. Itu berarti bahwa lawannya sudah semakin nekat dan kemungkinan mereka akan menyerang rumahnya kapan saja.


“Anda mau mencari siapa,, Tuan?” penjaga di pintu gerbang mansion Dante menghadangnya didepan gerbang utama. Mereka mendatangi Dante dengan senjata lengkapnya dan tidak tanggung-tanggung ada empat orang yang langsung mengelilinginya.


“Jadi begini cara kerja kalian?” Dante masih belum membuak helmnya. Dia menatap satu persatu orang dihadapannya.


“Maaf Tuan, bisa anda menunjukkan identitas anda? Silahkan buka masker dan helm anda.”


“Ah jAdi kau ingin tahu siapa aku?” Dante bertanya ulang kepada penjaga gerbang rumahnya.


“Ya tentu saja Tuan! Anda tidak kami izinkan masuk sebelum anda menunjukkan jati diri anda.”


“Kalau sedekat ini kau bicara maka orang yang kau ajak bicara bisa merebut senjatamu Apalagi kalau kau memegang senjata seperti itu! Ck ck ck!” Dante berdecak sambil menggelengkan kepalanya protes pada cara kerja anak buahnya itu.


“Tuan! Jangan banyak bicara. Cukup berikan identitas anda dan jangan mengomentari kami atau jangan salahkan kamu jika meledakkan kepala anda.” ucap salah satu anak buah Dante sambil menodongkan senjatanya ke helm Dante.


“Nah, kalau begitu kau memegang senjata baru benar! Ingat untuk menjaga jarakmu dengan ku sampai aku tidak bisa menyentuh senjatamu. Kalau perlu suruh satu orang yang mendekat tanpa senajta dan kalian semua melindunginya. Apa kau paham?”


“Cih! Banyak bicara! Berhenti menceramahi kami! Barikan saja tanda pengenalmu kalau anda mau melewati gerbang ini.” anak buah Dante semakin tersinggung karena mereka tidak tahu siapa orang dibalik helm itu. Sikap merekapun mulai tidak sopan dan mulai menatap dante tajam.


“Dengarkan aku! Tetap pertahankan sikap kalian yang seperti ini ketika kalian sudah melihat wajahku dan jangan sampai kalian menunjukkan perubahan apapun karena saat ini rumahku sedang diintai seseorang yang ada diarah jam dua dari arah kalian! Tidak perlu menatap mereka tapi aku ingin sebelum orang itu pergi kalian harus sudah menangkapnya! Kurung dia dan setelah itu beritahu Henry untuk segera memberitahuku jika tugas kalian sudah selesai.”


“Maksud anda Tuan?” penjaga di gerbang utama itupun tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Dante dan mereka semakin linglung dibuatnya.


“Lihat wajahku!” Dante membuka helmnya dan dia membuka maskernya dan menunjukkan siapa dia sambil menunjukkan identitasnya.


“Hah!” para penjaga itupun ketakutan.


“Hei! Tetap jaga pandangan kalian. Jangan sampai kalian seperti sedang melihatku! Jangan sampai orang itu mencurigaiku.” ujar Dante lagi memperingatkan para pengawal itu.


“Baik! Tuan...em...maaf Tuan...” jawab mereka lagi yang sebenarnya sudah sangat ketakutan saat ini karena telah memperlakukan Dante tidak seperti seharusnya.


“Sudahlah! Baguslah kalau kalian paham.” ucap Dante sebelum anak buahnya berusaha minta maaf.


“Maaffkan kesalahan kami Tuan!” salah satu penjaga tetap meminta maaf ketika Dante sudah menaikkan lagi helmnya.


“Kalian tidak melakukan kesalahan apapun! Kerja kalian sudah bagus dan aku suka kerja kalian yang sudah menghadangku begini. Setidaknya mereka tidak mencurigaiku.”


Dante memuji anak buahnya tapi mereka tidak bisa menjawab apapun dan Dante pun mengerti kalau mereka takut padanya.


“Sekarang buka gerbangnya dan jangan lupa orang yang aku minta itu! Bawa dia kepadaku.” dia tidak mengatakan apapun lagi setelahnya.


“Baik Tuan.” satu anak buahnya memberi kode pada temannya didalam pos untuk membuka gerbang. Sedangkan mereka masih mengelilingi Dante sambil menodongkan senjata sesuai yang diperintahkan oleh Dante pada mereka.


Motor Dante pun masuk meninggalkan gerbang utama, dia merasa senang karena akhirnya dia melewati gerbang utama rumahnya dan semakin dekat ke teras rumahnya. “Ada apa denganku? Bukankah aku sangat lelah? Tapi aku merasa senang karena terbebas dari mereka tanpa harus bertarung dan bagus juga bisa membodohi mereka semua. Keluarga White, musuh yang seharusnya tidak ada! Barack sahabatku yang menjadi musuh! Ini menyebalkan sekali. Barack, kau membuatku mendapatkan masalah cukup berat!” ucap Dante lagi.


Dia benar-benar kacau dengan semua masalah yang beruntun menimpanya. Dante butuh waktu untuk istirahat agar pikirannya jernih dan masalah White adalah sesuatu yang buruk tapi kondisi fisiknya saat ini juga kelelahan. Dia harus melindungi orang-orangnya dan juga melindungi dirinya serta keluarganya sampai semua kesalahpahaman ini bisa diluruskan.


Suara mesin motor Dante benar-benar mati setelah tiba didepan teras. Tanpa berkata-kata dia langsung turun dari motornya lalu menuju kedalam rumah. ‘Huh? Kemana Henry? Tumben dia tidak membukakan aku pintu? Apa dia tidak diberitahu orang didpean sana kalau aku sudah pulang?’ bisik hati Dante yang tidak pernah pulang kerumah tanpa penyambutan Henry.


Tapi dia tidak terlalu mempedulikan hal itu, dia tetap berjalan masuk dan menuju tangga rumahnya.


“Henry! Kau tahu kalau yang kau perbuat itu bisa membuat banyak masalah?”


‘Huh? Apa yang sedang mereka bicarakan?’ Dante mendengar suara Hans sehingga dia tidak jadi naik tangga dan menghampiri.


“Hans! Henry! Apa yang sedang kalian bicarakan disana? Banyak masalah apa?”


“Tuan Dante?” Henry gugup memanggil nama Dante.


“Dante! Apa sekarang pekerjaanmu sudah jadi sekuriti ya?” ujar Hans saat melihat seragam yang dipakai oleh Dante membuatnya tertawa.


“Jangan komentari aku! Apa yang sedang kalian diskusikan disini?” Dante melemparkan pertanyaan itu untuk kedua orang dihadapannya.


“Biasalah. Bukan apa-apa.” Hans yang menjawab mencoba untuk bersikap santai dan tidak membuat Dante curiga.


“Lalu apa maksudnya banyaknya masalah?” Dante masih bertanya. “Apa penjaga diluar tidak memberitahumu kalau aku datang?”


“Maafkan saya Tuan! Saya sedang bicara dengan Tuan Hans. Saya tidak mengecek ponsel saya yang berbunyi.” jawab Henry.


“Apa sebenarnya masalah yang kau buat Henry? Sampai bicara dengan Hans lebih penting daripada melihat siapa yang datang?”


‘Aduh apa yang harus aku katakan pada Tuan Dante? Masalahanya….dia seperti tidak bisa mengendalikan emosinya saat ini dan terlihat kelelahan. Aku sama saja menggali kuburanku sendiri kalau aku cerita! Tapi munkgin Tuan Hans akan menceritakan semuanya padanya. Tinggal menunggu hukuman yang akan diberikan padaku.’ gumam Henry didalam hatinya.


Dia cukup dekat dengan Dante karena sudah bekerja selama puluhan tahun sehingga dia bisa memabca ekspresi wajah Dante yang sedang tidak bersahabat.


“Maafkan saya Tuan. Ini kelalaian saya!” ucap Henry.


“Katakan padaku apa yang sedang kalian bicarakan?” Dante meninggikan suaranya menunggu kedua orang itu untuk bicara.


“Bukan hal yang penting Dante! Banyak masalah yang ku maksud itu bukan masalah besar untukmu!” akhirnya Hans yang bicara untuk menenangkan suasana.


‘Henry memang sudah melakukan kesalahan dan dia sudah berkata jujur padaki! Tapi sesungguhnya apa yang dilakukan Henry itu akan aku lakukan juga karena aku merasa kasihan pada Bella seandainya aku berada diposisi Henry.’ bisik hati Hans.