PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 352. DANTE EMILIO


Perkataan Noel membuat Dante sedikit memicingkan matanya. Apakah ini seperti yang kupikirkan? Apa mungkin orang yang sama?


“Boleh aku tahu siapa nama ayahmu?” tanya Dante lagi.


“Nama ayahku sama seperti nama anda, Tuan! Hmm….namanya Dante Emilio!”


Glek!


Dante menelan salivanya setelah mendengar perkataan Noel “Dante Emilio?” perlahan Dante bertanya. Rait wajahnya tiba-tiba berubah setelah mendengar itu.


“Ya.” Noel cepat menganggukkan kepalanya sambil menatap lekat Dante. ‘Apa yang dia pikirkan? Kenapa dia menatapku seperti itu? Apa ada sesuatu yang aneh dengan diriku? Atau ada yang salah dengan nama ayahku?’ gumam Noel didalam hatinya.


Dia mulai menyelidik dan menebak-nebak karena dia tidak tahu apa permasalahannya. Melihat ekspresi wajah Dante membuatnya sedikit cemas.


“Sejak kapan ayahmu di penjara?” tanya Dante lagi.


“Itu sudah lama sekali Tuan! Aku rasa sekarang sudah hampir dua puluh delapan tahun atau sudah tiga puluh tahum ya? Aku lupa. Saat itu aku masih sangat kecil, masih balita kata ibuku ketika ayahku diambil dan aku merasa mereka semua kejam sekali padaku.” kata Noel menjelaskan.


“Jadi karena itu kau tidak mau masuk ke tim keamanan federal? Sama seperti ayahmu?


Noel mengangguk, menyetujui ucapan Dante,


“Aku lebih baik bekerja sebagai security dan mencari sampingan lainnya daripada aku harus bekerja seperti tempat ayahku dulu.” agak bergidik Noel bicara begitu.


Semua kenangan masa lalunya bersama ayahnya seakan kembali walaupun kenangan itu masih berupa puzzle yang berantakan karena usia Noel yang masih kecil saat itu.


“Oke.” hanya kata itu yang diucapkan Dante.


‘Apa yang dipikirkan oleh Tuan Dante? Kenapa dia menjawab sesingkat itu? Apa ada yang salah dengan ucapanku?’ gumam Noel didalam hatinya merasa agak salah tingkah karena Dante hanya diam saja tanpa mengatakan apapun lagi.


“Katakan padaku sejak kapan kau tinggal di daerah ini? Tanya Dante kembali bicara.


“Aku tinggal disini sejak ayahku dipenjara seumur hidup. Ibuku sedih sekali kala itu. Dia mengatakan ini adalah tempat persembunyian yang dibangun oleh ayahku. Katanya kami akan tinggal disini dan aku akan besar disini.”


“Kau punya adik laki-laki?” tanya Dante dengan suara bergetar yang coba disembunyikannya. Matanya terlihat sendu seolah-olah menahan kesedihan.


“Tidak.” Noel menggelengkan kepala. Tampak kejujuran diwajahnya. Noel seperti kertas polos tanpa noda. Dan Dante bisa merasakan kejujuran dari pria itu.


“Boleh aku tanya padamu tentang sesuatu?” setelah memikirkannya beberapa saat akhirnya Dante memutuskan untuk menanyakan lagi.


“Silahkan Tuan!”


“Sebelum ayahmu tertangkap. Apa ada yang aneh dengan ayahmu?”


“Aneh?” pertanayan itu kembali diutarakan Dante dengan tatapan matanya lurus pada Noel.


“Iya.” Dante mengangguk.


“Mungkin ayahmu membawa sesuatu kerumah yang seharusnya tidak dibawa?” pertanyaan itu diberikan lagi oleh Dante yang ingin penjelasan detail.


“Aku tidak ingat!” Noel mencoba berpikir sejenak sebelum dia menjawab pertanyaan itu. “Tunggu dulu! Aku ingat. Ya, benar! Dia membawa pulang bayi laki-laki yang lucu! Tapi tidak lama pihak federal datang dan mengambil bayi itu.”


DEG!


Serasa mau copot jantung Dante mendengar ucapan Noel tapi dia berusaha untuk mengendalikan dirinya. Sejenak dia melirik kearah Henry lalu mengalihkan lagi pandangannya ke Noel. Hanya dalam beberapa detik Dante bisa melihat perubahan raut wajah Henry.


“Apa ada yang salah dengan ucapan saya, Tuan?” Noel agak bingung sehingga dia bertanya.


“Tidak apa-apa. Tidak ada yang salah. Aku hanya berpikir apa alasan pihak federal menangkap ayahmu dan memenjarakannya seumur hidup.”


“Ayahku bukan orang jahat! Dia adalah orang yang penuh dedikasi dan bertanggung jawab pada pekerjaannya. Teman-teman ayahku sendiri mengatakan pada ibuku begitu. Tapi mereka tidak mengatakan secara langsung. Mereka mengatakannya diam-diam karena mereka tidak berani pada pimpinan federal!”


“Aku paham apa yang kau bicarakan.” ujar Dante membuat Noel menyunggingkan senyum.


“Aku punya sesuatu untuk kutanyakan padamu.”


“Iya silahkan Tuan.”


“Tentu saja Tuan, penjara itu punya jam kunjungan.”


“Bisakah kau memanfaatkan jam kunjung itu?”


“Tentu saja. Apa ada yang anda inginkan?” tanya Noel.


“Aku mau kau datang kesana dan menanyakan sesuatu pada ayahmu.”


“Apa yang harus kutanyakan, Tuan?” tanya Noel.


“Pertanyaan pertama, apa dia mau keluar dari tempat itu?”


“Kalau itu, pasti ayahku akan jawab iya. Dia pasti mau keluar dari sana!” jawab Noel antusias.


“Bukan kau yang harus menjawab. Aku minta jawaban ayahmu!”


“Ah tentu saja aku akan menanyakan pada ayahku.” ucap Noel.


“Lalu tolong tanyakan pertanyaan kedua, karena ini sangat penting.”


“Iya Tuan. Silahkan apa yang ingin ditanyakan.”


“Bayi siapa yang dibawanya? Dan katakan padanya salam dari Dante Sebastian!” lalu Dante diam sejenak menyandarkan tubuhnya disandarankursi sebelum dia melanjutkan kalimatnya. “Apa kau mengerti apa saja yang harus kau tanyakan?”


“Iya, saya paham Tuan.”


Noel langsung menganggukkan kepalanya. “Aku akan segera bertanya kepada ayahku dan hanya ini saja pekerjaanku sekarang Tuan Dante?” tanya Noel lagi.


“Ya. Aku minta jawabannya malam ini juga kalau kau bisa datang secepatnya lebih bagus!”


“Baiklah.” Noel mengangguk dan patuh.


“Tunggu dulu! Kau kesini naik apa?”


“Aku pakai mobil biasa yang kemarin anda berikan padaku Tuan! Kunci mobilnya sudah kuberikan pada pelayanmu.” Noel melirik kepada Henry dan bertanya, “Aku berikan kuncinya tadi padamu kan?”


“Iya Tuan Noel. Anda sudah memberikannya padaku!” jawab Henry.


“Kembalikan padanya Henry! Itu adalah mobilnya.”


“Oh tidak perlu Tuan Dante. Aku tidak mau mobil itu.” Noel bergidik ngeri membuat Dante mengeryitkan keningnya.


“Kenapa kau menolak?” tanya Dante heran menatap Noel.


“Bukan begitu Tuan Dante. Mobil itu terlalu mahal untukku. Kau tahu untuk datang kesini saja aku harus menghabiskan hampir seperempat gajiku hanya untuk bensinnya saja.”


“Jadi itu yang kau pikirkan?” senyum tipis muncul diwajah Dante.


Noel mengangguk, “Iya. Itu mengerikan sekali. Mobil itu mesin penyedot uang. Walaupun saat memakai mobil itu semua gadis mungkin menatapku.” ujar noel terkekeh.


“Pakailah jika kau mau memakainya. Untuk urusan bensi biar Henry yang akan mengurusnya.”


“Benarkah. Kau akan memberikan besinnya untukku?” tanya Noel senang.


“Iya. Anggap saja hadiah untukmu.” jawab Dante.


“Wow keren!! Noel merasa sangat senang mendengarnya lalu menundukkan kepala pada Dante dan berkata, “Terima kaish untuk mobilnya Tuan Dante.”


Dengan senang hati Noel langsung keluar dari ruangan dengan diantarkan Henry setelah pamit dengan Dante. “Henry! Aku menunggumu disini.”


“Baik Tuan!” ucap Henry sambil sedikit menundukkan kepala lalu menutup pintu ruang kerja itu.


“Kau masih hidup?” kalimat itu bergulir dari bibirnya. “Jadi kau masih hidup? Kau tidak mati? Dalam kecelakaan itu kau tidak mati?”