PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 452. BOLEHKAH MENEMBAK?


“Oke aku paham sekarang. Terima kasih atas penjelasanmu. Kini aku sudah merasa lebih tenang.”


“Kalau begitu aku tutup dulu teleponnya ya. Jangan lupa kau beritahukan pada Dante pesan yang tadi sudah aku sampaikan padamu!”


“Siap! Terima kasih juga buat bantuanmu!” balas Nick.


 


Panggilan pun sudah terputus lalu Nick memasukkan ponselnya kembali kedalam saku celananya. Dia mengambil beberapa cemilan dan air minum. Dia merasa senang sekali karena banyak sekali minuman dan cemilan favoritnya didalam sana.


“Hmmm…..ada wine juga? Ssshhhh tapi sekarang aku sedang bekerja. Tak mungkin aku minum wine.”


 


Nick menjauh dari tempat minuman kesukaannya dan hanya mengambil semua minuman tanpa alkohol. Setelah dia mengambil cukup stok untuk dirinya, Nick pun keluar dari ruangan itu setelah puas mendapatkan semua yang diinginkannya.


‘Ini dibiarkan terbuka terus begini ya? Bagaimana cara menutupnya kalau sudah mengambil makanan ya?’


 


Nick bicara sendiri dan bingung sendiri karena tidak mengerti. Setelah pintu terbuka dia hanya bisa mengangkat bahunya saja karena tidak tahu cara untuk menutup pintu, dia kembali ke posisinya.


“Akan kutanyakan saja nanti pada Dante atau pada Eddie kalau mereka menelepon lagi.” ujarnya sambil membuka makanan ringan kesukaannya.


 


“Kalau begini kerjaanku lama-lama otot perutku akan hilang dan tertutup lemak! Aihhhh aku tidak akan keren lagi nanti penampilanku kalau sudah berperut gendut begitu! Aku harus olahraga setelah semua pekerjaan ini selesai.” gumam Nick sambil terkekeh dan mau menyuap makanan kedalam mulutnya. Tapi---


 


Dreeetttt dreeettttt dreeettttt


“Sialan! Baru saja mau makan sudah ada saja telepon masuk.” ujarnya sambil mencibir kesal tapi dia terpaksa menjawab panggilan teleponnya.


“Ada apa Dante?” tanyanya tergesa-gesa.


“Kenapa ponselmu sibuk terus dari tadi? Sulit sekali menghubungimu.”


 


“Oh itu...tadi Eddie meneleponku. Dia menanyakan apakah dia boleh menembak jika pihak asukan federal menyerang mereka?”


“Tembaklah siapapun yang menyerang mereka! Tapi aku hanya titip satu orang tidak boleh menembak Anthony! Kalian harus ingat itu.” ujar Dante penuh penekanan.


 


“Iya aku paham soal itu. Aku akan sampaikan pada Eddie! Dia tadi sudah menghubungimu tapi dia bilang kau tidak mengangkat teleponnya.” ujar Nick lagi.


“Iya memang aku tidak mengangkat teleponku. Sekarang tolong minta pada Hans untuk mengamankan rumah sakit! Lakukan secepatnya.” pinta Dante lagi yang lebih seperti perintah.


 


“Maksudmu rumah sakit yang ada didekat tempat kita di kota ini?”


“Iya rumah sakit ditempatku! Aku membawa seseorang kesana. Dia adalah orang yang sangat penting yang sengaja diracun! Jadi aku minta Hans untuk menyiapkan dokter pribadi! Siapkan helikopter untuk membawa semua kebutuhan pengobatan. Kau tahu harus membawa orang itu kemana. Hans pasti paham!”


 


“Aku akan mengingatkan Hans.” jawab Nick.


“Lakukan sekarang juga. Mungkin sekitar dua puluh menit lagi aku akan sampai disana.”


“Baiklah Dante! Aku laksanakan.”


“Nick! Minta juga pada Henry untuk menyiapkan pesawatku sekarang.”


“Kau mau pergi kemana Dante?”


 


“Aku akan pergi ke tempat dimana transaksi akan berlangsung. Ini peperangan terakhir kita!”


“Dante? Apa maksudnya kau berkata seperti itu? Kau membuatku takut saja!” protes Nick.


“Sudahlah. Jangan terlalu kau pikirkan. Ingatlah aku punya anak dan istri! Aku mencintai mereka dan aku akan kembali untuk mereka!” ujar Dante berjanji.


“Oh ya sudah kalau begitu. Jangan mati dulu disana! Cepatlah pulang setelah semuanya selesai.”


 


“Tenang saja Dante! Semaunya sudah aman. Sebelum kau memberitahuku aku sudah melakukannya lebih dulu. Aku ingat semua pesan yang kau kirimkan padaku. Masalahnya sekarang aku tidak bisa mengamankan orang-orang yang sudah melihat wajahmu dan Noel!”


 


“Biarkan saja kalau begitu. Mereka akan sulit mengenali wajahku.” jawab Dante tenang.


“Baiklah Dante. Apa ada lagi yang ingin kau sampaikan?”


“Sudah cukup. Kalau ada yang kuperlukan lagi aku akan segera menghubungimu.”


Klik!


Ponsel sudah dimatikan dan Dante kembali menaruh ponselnya kedalam saku celananya.


 


“Tuan apa anda akan pergi lagi?” tanya Noel.


Dante melirik pria itu lalu menganggukkan kepala.


“Aku minta kau amankan yang disana! Ubah namanya jangan ada yang tahu identitas aslinya. Apa kau paham?”


“Iya paham Tuan.” jawab Noel.


 


“Jangan percaya pada siapapun! Jika ada yang bertanya kenapa ayahmu, katakan saja dia sakit biasa. Dan teleponlah Hans. Dia sudah menyiapkan dokter khusus dan nanti dokter akan datang untuk menemui kalian! Katakan semua kepadanya dan jangan lupa pelankan suaramu saat bicara. Jangan sampai ada perawat yang mendengarnya!”


 


“Kecuali memang orang yang sudah dipercaya oleh dokter itu!” ucap Dante menambahkan. Dia jarang sekali bicara sepanjang itu kalau bukan sesuatu yang penting.


“Baik Tuan.” jawab Noel mencoba memahami semua kata-kata Dante karena mereka sekarang sudah hampir sampai digedung rumah sakit.


 


‘Dante mengendarai mobilnya dengan lahu sehingga dia bisa sampai ke rumah sakit dalam waktu kurang dari setengah jam. Ya Tuhan!’ gumam Noel dihatinya.


Dia tidak menyangka jika Dante bisa bermanuver berbahaya tapi mereka harus bergerak cepat. Karena setelah urusan di penjara selesai maka para petugas itu akan menemukan mayat-mayat itu.


 


Mereka pasti akan mengecek setiap ruangan dan dari sanalah akan timbul permasalahan baru. Mereka akan mulai mengecek CCTV dan memperhatikan informasi lainnya. Inilah yang tidak diinginkan oleh Dante. Dia tahu kalau mereka diburu oleh waktu makanya semuanya harus dilakukan secepat mungkin.


“Turunlah sekarang!”


“Baik.” Noel mengangguk ketika mereka sudah sampai didepan lobi.


 


“Dan ingat satu hal, jangan katakan apapun sampai ada seorang dokter yang menghampirimu.”


“Iya. Aku paham.” sahut Noel lagi. “Dante!” sebelum Noel membuka pintu, ayahnya sudah memanggil pria yang duduk disebelahnya sehingga membuat Dante menoleh pada pria setengah baya itu yang saat ini tidak dalam kondisi baik.


 


Tapi pria itu masih memaksakan diri dan menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja.


“Apa yang ingin kau bicarakan denganku? Nanti kita bisa bicarakan. Sekarang kau harus turun dan berobatlah. Pakaianmu biarkan saja disini.” ucap Dante lagi lalu dia menatap Noel. “Apa Henry sudah memberikan sesuatu padamu? Maksudku kartu kredit?”


 


“Sudah Dante. Terima kasih untuk bantuanmu.” Noel menganggukkan kepalanya.


Dante tidak banyak memperhatikan Noel, dia hanya mengangguk dan pandangan matanya tertuju kepada Dante Emilio yang sepertinya ingin bicara dengannya.


“Ada yang ingin kau sampaikan padaku?” tanya Dante lagi kepada pria paruh baya itu.


 


“Ada banyak hal yang ingin aku bicarakan denganmu. Dan satu lagi tentang Robert Kane!” ucap Dante Emilio serius menatap Dante.


“Aku akan menangkapnya malam ini seandainya aku bisa! Tapi aku akan pastikan dia akan menerima hukuman yang pantas dia terima atas semua perbuatannya.” ujar Dante dengan wajah kaku dan tegang.


 


“Berhati-hatilah Dante! Dia bukan orang yang sembarangan. Aku tahu kau hebat! Tapi tetap saja kau harus berhati-hati dengannya karena Robert Kane adalah orang yang sangat licik. Kalau sampai saat ini dia masih berkuasa itu artinya kau tidak bisa menganggpnya remeh.” ucap Dante Emilio menunjukkan kehawatirannya pada Dante Sebastian.