PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 430. CEMAS


Manuel semakin gelisah dan cemas, ‘Kenapa wanita gila ini menatapku seperti itu? Apa sebenarnya yang terjadi antara Barack dan wanita ini? Ah, kenapa aku sampai lupa menanyakan dulu pada Barack tadi. Semoga saja dia tidak mengatakan apapun yang membuat posisi kami ketahuan dan terancam.” Manuel takut jika penyamarannya akan terungkap padahal malam ini adalah puncak dari semuanya.


 


“Penting? Hal penting apa yang ingin kau bicarakan padaku” Jeff memicingkan matanya.


“Hal yang sangat penting! Sesuatu yang harus aku beritahukan kepadamu.” jawab Gabriella.


“Cepat katakan padaku hal penting yang harus ku ketahui.” Jeff semakin bersemangat menunggu adiknya bicara sambil duduk disamping Gabriella.


 


‘Tidak sia-sia aku menjadikanmu setengah robot Gabriella? Daripada kau membuang waktumu mabuk-mabukan di klub dan tidak berguna setidaknya sekarang kau bisa berguna untukku.’ bisik hati Jeff yang memang tidak merasa kasihan pada adiknya dan malah menjadikan adiknya sebagai manusia setengah robot yang dia kendalikan.


 


“Jeff! Aku ingin menyampaikan sesuatu padamu! Sesuatu yang sangat penting yang kau harus tahu.”


“Katakanlah! Apa yang ingin kau sampaikan?”


“Sesuatu tentang Rodrigo! Aku mendengar sesuatu yang penting! Aku harus memberitahumu! Aku---”


“Rodrigo? Ada apa dengan dia?” tanya Jeff sedikit memicingkan matanya pada Manuel yang sebenarnya sudah bertambah cemas tapi dia berusaha tetap tenang agar Jeff tidak curiga.


 


“Kau tahu sesuatu tentang Rodrigo yang tidak wajar?”


“Iya itu! Sangat aneh! Dia sangat aneh! Itu yang mau kusampaikan padamu.” ucap Gabriella yang tidak tahu bagaimana cara untuk memberitahu.


“Katakan padaku Gaby! Apakah ini sesuatu yang membahayakan aku?” tanya Jeff.


 


(Sesaat setelah Dante menutup telepon dari Nick)


‘Ah sudah dulu, aku harus segera mengurus Belinda! Aku akan melanjutkan pekerjaanku nanti setelah aku menyelesaikan persiapan pesta untuk Belinda. Aku harus fokus!’


Dante bergegas menuju tempat dia akan mengganti pakaiannya. ‘Sebaiknya aku mengganti pakaianku dan mengenakan tuksedoku, baru setelah itu aku menemui Belinda.’


Dia memasuki ruang kerjanya dan mengganti pakaiannya disana. Ruang kerja itu memang sangat luas, dilengkapi dengan kamar mandi, perpustakaan dan ruang pakaian juga yang berisi pakaian resmi.


“Kurasa ini cocok dan tidak berlebihan.” ucapnya melihat pantulan dirinya di cermin. “Ini pernikahan keduaku tapi kenapa rasanya aku seperti baru melakukan pernikahan pertama ya? Kenapa dengan degup jantungku dan kenapa hatiku merasa tidak tenang? Aku tidak muda lagi?”


 


Dante tersenyum memperhatikan dirinya didepan cermin. “Tatiana! Perasaan apa sebenarnya yang dulu aku miliki untukmu? Kenapa aku tidak pernah merasakan getaran seperti yang kurasakan sekarang saat dulu aku bersamamu? Apakah dulu aku menikahimu bukan karena cinta? Lalu perasaan apa sebenarnya yang aku miliki padamu dulu? Begitu mudahnya hilang begitu saja?”


 


Sejujurnya didalam hatinya dia bisa merasakan perasaan yang berbeda dengan saat dia bersama Tatiana dulu. Sangat jauh berbeda dengan yang dia rasakan sekarang, dia bahkan sedikit ragu dan gelisah untuk bertemu dengan Belinda karena jantungnya berdetak sangat kencang yang tidak pernah dialaminya saat bersama Tatiana dulu!


 


“Aku sudah bersama Belinda dan kamu sudah melakukannya berulang kali. Ini bukan pertama kalinya kami bersama tapi kenapa perasaanku seperti ini? Kenapa aku merasa tidak percaya diri dengan penampilanku? Padahal ini sudah sempurn!” entah mengapa perasaannya seolah dia tidak sempurna dan selalu ada yang kurang.


 


Dia berbolak-balik memperhatikan tampilannya didepan cermin, membuka tuksedonya lalu memakai kembali, memeriksa wajahnya memastikan wajahnya bersih dan merapikannya lagi dengan pisau cukur. Tingkahnya seperti orang yang baru pertama kali jatuh cinta. “Sudahlah! Ini sudah cukup sempurna1”


 


Dante yang sudah merasa lelah berdiri terlalu lama didepan cermin dan bergonta ganti pakaian akhirnya dia kembali memakai pakaian yang pertama dia pilih.


“Tampilanku akan semakin sempurna kalau aku memakai sapu tangan di saku tuksedoku.” ucapnya lalu menambahkan saputangan dan merapikannya. Dia kembali mengamati dirinya di depan cermin dan menyakinkan dirinya kalau tampilannya sekarang sudah sempurna.


 


Waktunya sudah tidak banyak dan dia harus segera bergegas menemui Belinda. “Sebaiknya aku menunggu Alex saja! Aku bisa berjalan bersamanya supaya Belinda tidak terlalu fokus memperhatikan pakaianku. Alex akan bisa mengalihkan perhatiaannya.” setelah merasa yakin dengan penampilannya akhirnya Dante pun melangkah keluar dari ruang kerjanya dan menuju ke kamar utama.


 


Alex yang sudah menunggu didepan pintu kamar melihat ayahnya yang mendekat. Dia langsung mendekati ayahnya. “Pakaian kita sama daddy!”


“Ya benar. Warna pakaian kita sama. Untung saja aku memilih pakaian ini tadi jadi kita bisa memakai warna yang sama, Alex.” ucap Dante memandangi putranya.


 


“Apa aku sudah terlihat seperti pria besar, daddy?”


“Kenapa aku ingin sekali cepat besar Alex? Aku ingin kau kecil seperti ini agar aku bisa bermain terus denganmu.” ujar Dante tertawa.


“Supaya aku bisa membantumu daddy! Kau selalu lelah, kalau aku sudah besar kau bisa istirahat dan aku yang membantumu.” ucap Alex.


 


Dia melihat akhir-akhir ini ayahnya terlihat kelelahan karena memang Dante kurang istirahat. Sejak Belinda kembali, dunianya berubah semakin berantakan dan Dante tidak menyesali itu karena sejak kedatangan Belinda dia mengetahui banyak hal yang selama ini tersembunyi.


“Kau peduli padaku Alex? Sampai kau ingin cepat besar untuk membantuku?”


 


“Iya daddy! Kalau aku masih kecil aku tidak bisa membantumu kan?”


“Kalau kau peduli padaku, kau harus menyayangi adikmu dan Bella! Kau harus menjaga mereka, itu baru namanya peduli. Kau paham Alex?”


“Hanya begitu saja daddy? Aku mau yang lain juga.” Alex mengerjapkan matanya.


“Iya Alex. Apa kau bisa melakukannya untukku?” tanya Dante sembari tersenyum menatap anaknya.


 


“Iya daddy. Aku akan melakukan untukmu. Karena aku menyayangi Bella dan aku menyayangi adikku juga, daddy! Aku janji akan menjaga dan menyayangi mereka.”


“Bagus. Kalau begitu, kau sudah nampak seperti pria dewasa.”


“Terima kasih daddy!”


“Apa kalian ini tidak bisa membicarakan hal lain selain pria dewasa ya?”


 


Sarah yang sudah berdiri dibelakang mereka ikutan pusing mendengar pembicaraan ayah dan anak itu.


“Kau tidak tahu artinya seperti apa menjadi pria dewasa, sebaiknya kau tidak usah berkomentar.”


“Apa kau masih kecil seperti Alex?”


“Semua pria seperti itu. Mereka ingin dianggap dewasa bukan anak-anak! Itu yang ada dipikiran mereka sejak kecil ingin menjadi pria dewasa untuk menjadi pimpinan.”


 


“Ah sudahlah kepalaku pusing mendengar kalian bicara. Lagipula aku tidak paham. Tapi aku mau bertanya sesuatu padamu?” ucap Sarah lagi.


“Apa yang mau kau tanyakan?”


“Barack! Kapan kau akan mencari Barack dan membawanya pulang? Sudah lama aku disini tapi kau masih belum mencari Barack seperti janjimu waktu itu.”


 


“Dia akan kembali sendiri! Tidak perlu dicari! Mungkin malam ini dia pulang. Tunggu saja!”


“Benarkah? Malam ini Barack pasti kembali kesini? Ahhhh…..aku sudah tidak sabar melihatnya.”


“Aku tidak tahu pasti. Kan aku bilang mungkin malam ini dia akan kembali, itupun kalau pekerjaannya selesai malam ini.” ucap Dante lagi yang membuat Sarah cemberut.