PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 531. BERTEMU LAGI


“Mereka naik keatas.” terdengar suara seseorang yang ada dibawah membuat Barack menengok.


“Ayo cepat kita berlari lebih cepat lagi! Mereka mengejar kita!”


DOR DOR DOR


Lagi-lagi terdengar suara tembakan yang hampir saja mengenai mereka.


“Kau sudah menelepon Dante” tanya Barack pada Manuel.


“Dia belum mengangkatnya.” jawab Manuel sambil terus berlari sambil menelepon.


BRAAAKK!


“Vince!” Anna memanggil temannya yang baru saja mendobrak pintu.


DOR  DOR   DOR


Sebelum menjawab, Vince sudah menembak orang-orang yang ada didalam. “Anna, syukurlah kau selamat!” Vince berjalan mendekati Anna dan begitupun Anna mendekati Vince.


“Dante? Dimana Dante?” Barack bertanya karena sudah tidak sabaran. Mereka sudah dikejar tapi---


“Dante! Dimana Dante!” Barack enggan untuk pergi dan dia kembali bertanya.


“Dante masih ada didalam.” jawab Vince.


“Lalu kau ingin meninggalkannya sendirian, begitu?”


“Itu adalah permintaan Dante! Dia meminta kita pergi duluan!” ujar Vince lagi.


Barack menahan kesalnya dan segera masuk kedalam.


DOR DOR DOR Barack kembali menembak.


“Keluar! Apa yang kau cari disini?”


“Cara mematikan mereka tentu saja.” Dante bicara tanpa menatap Barack.


“Tidak ada disini! Cara untuk memusnahkan dan menciptakan mereka tidak ada disini Dante! Aku sudha tahu caranya. Potong tubuh mereka dan itulah satu-satunya cara mereka tidak bisa hidup lagi! Ketika anggota tubuh mereka tidak lagi tersambung!” kata Barack.


Dante pun menatap Baarck sambil melepaskan tangannya dari laptop.


“Benarkah?”


“Ya,” Barack mengangguk. “Itu satu-satunya cara!”


DOR DOR DOR


“Apa yang kau lakukan didalam sana? Ayo kita harus segera ke lantai empat!”


“Hmm! Ayo! Kita tidak punya waktu banyak. Semua orang disini bukan manusia lagi.”


Dante pun mengangguk setuju. “Termasuk mereka!”


“Apakah mereka?” tanya Barack kemudian sambil mengingat orang-orang yang sudah terikat kabel.


“Mereka terus saja hidup walaupun kami sudah membunuhnya berkali-kali! Aku mencoba membuat mereka buta! Itu berhasil, mereka tidak bisa melihat kami tapi mereka masih bisa mendengar!”


“Tentu saja.” Barack mengangguk “Mereka harus ditebas.”


“Sebentar ya, aku bawa sesuatu.” Dante mengambil seseutau berbentuk seperti tongkat, lalu….SLAASSHHH


Tongkat itupun mengeluarkan pedang panjang dan dengan mudahnya Dante menebas kepala mereka.


“Kau! Fuuuh, kau mengerikan sekali Dante!”


“Kau yang bilang hanya ini caranya, bukan?” celetuk Dante dan berbarengan dengan itu kepala yang ditebasnya menggelinding. “Barack! Kenapa kau datang lama sekali?”


“Maaf!” ujar Barack. Lalu mereka pun menuju kelantai empat dengan jarak kurang dari sepuluh meter dari orang yang mengejar mereka.


DOR DOR DOR….


Meskipun sudah beberapa kali ditembak namun orang-orang Jeff itu masih bangun lagi setelah beberapa saat. “Mereka tidak akan bangun kurang dari lima sampai sepuluh menit! Kita ada waktu pergi dulu.” kata Barack sambil terus berlari menuju kelantai empat.


Tapi sebenarnya Dante pun sudah mengetahui itu karena dia sendiri yang menghitung waktunya ketika dia menembak android di laboratorium.


“Yang mana tempatnya?” tanya Dante.


“Tentu saja itu! Pintu yang paling besar itu.” tunjuk Barack kearah sebuah pintu paling besar disana.


“Tunggu dulu. Kita mau langsung masuk?” Dante bertanya sehingga Barack berhenti dan menatapnya.


“Itu satu-satunya cara bukan?” tanya Barack yang dijawab Dante dengan gelengan kepala.


“Tunggulah sebentar!” Dante bicara sambil memegang handle pintu.


Setelah dia mengambil sarung tangan yang ada disaku celananya.


“Amankan orang-orang yang dibelakang!”


DOR  DOR  DOR


“Tapi amunisi kita tidak akan cukup Dante!” ujar Barack gelisah.


“Tapi kita tidak bisa masuk sembarangan ketempat ini.” sahut Dante.


“Apa maksudmu Dante?”


“Sebentar!”


DOOORR!


Dante sadar ada cctv disana yang harus dimatikannya dulu supaya tidak terekam. Lalu Dante berusaha berpikir cepat sambil mendekati mayat yang sudah jatuh. Manuel, Vince bersama Anna masih berusaha untuk menahan supaya pasukan lain tidak naik keatas sedangkan Dante mengambil pasukan yang sudah mati itu.


‘Untung saja aku bergerak ceat atau Sarah sudah akan memekik memberitahukan pada oang didalam apa yang aku rencaakan!’ itulah yang diucapkan Dante dihatinya saat ini. Dia berusaha menjadikan orang dihadapannya itu sebagai tameng.


DOR DOR DOR


Tapi apa yang ditembakkan itu bukanlah timah panas tapi sebuah cairan yang digunakan untuk menyuntik! Yang mebuat Dante tersenyum kecil dibelakang tubuh yang dijadikannya tameng itu.


DOR DOR DOR


Disaat bersamaan Barack juga berusaha untuk menembaki oang-orang yang menembak Dante.


“Kau pikir kau bisa dengan muda mengalahkan kami?” suara seseorang dari dalam ruangan itu terdengar mebuat Dante mengeryitkan dahinya. Dia mengenali suara itu tapi disana bukan orang yang sedang dicarinya. Lalu dia pun melirik kearah dalam.


“Tatiana?”


“Halo Dante! Akhirnya kita bertemu lagi disini.” Tatiana duduk disebuah kursi kerja besar yang menghadap kearah Dante. Seakan-akan dia adalah seorang bos ditempat itu membuat Dante bingung.


“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Dante ketika orang-orang didalam yang tadi menembaki mereka sudah dilumpuhkan Barack.


“Kau akan tahu nanti apa yang aku lakukan disini!” jawab Tatiana. Dia tersenyum menatap Dante, “Masuklah! Ada apa denganmu? Aku tidak akan melarangmu untuk masuk kesini. Seperti kau melarangku masuk kedalam rumahmu!”


Dante merasa geram mendengar ucapan mantan istrnya itu tapi saat ini dia masih belum yakin untuk masuk kedalam ruangan itu.


“Apa yang kau lakukan disini?” Dante mengulangi pertanyaannya. Sehingga Tatiana yang sudah lama mengenal pria itu tahu kenapa Dante bersikap seperti itu, wanita itupun tersenyum.


“Kau mencari seseorang disini iyakan? Tapi bukan aku?” suara itu terdengar lemah tapi dia hanya menyindir Dante.


“Apa maumu?” tanya Dante lalu melemparkan tubuh orang yang tadi dijadikannya tameng. Dante pun masuk kedalam dan menatap Tatiana.


“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Dante lagi.


“Kau lihatlah sendiri apa yang sedang aku lakukan. Aku sedang duduk!” jawab Tatiana sambil menatap Dante dengan senyum yang sulit dimengerti maksudnya.


“Dante, kita sudah hampir kehabisan amunisi!” Barack yang berada disampingnya berbisik.


“Back up sebisamu.” ucap Dante memberikan sebuah granat pada Barack yang belum digunakannya.


“Ah, ini bagus!” ujar Barack dan dia sudah mendekat kearah teman-temannya yang lain yang sedang mempertahankan diri. Ada Manuel, Anna dan Vince yang sedang berusaha menjadi tameng.


Mereka mencoba mencegah orang-orang yang dari bawah nak keatas. Tapi senjata mereka sudah terbatas amunisinya. Hingga akhirnya Barack memutuskan untuk melemparkan granat untuk memecah orang-orang itu dan menghentikan mereka sejenak. DUAARRR


“Lakukan sebisamu Barack! Dahulukan keamanan” Dante bicara tanpa memalingkan wajahnya.


“Vince! Masuk kedalam!” perintah Dante yang langsung dipatuhi Vince.


“Apa yang harus kulakukan Tuan?” bisik Vince.


“Gunakan pentungan yang ada ditanganmu! Tongkat itu bisa dijadikan pedang untuk menebas. Pastikan kau memotong kepala dan tubuh mereka, pisahkan!” bisik Dante pelan.


Dan kini orang-orang yang sudah ditembak oleh Barack mulai berjalan lagi. Dante berjalan masuk mendekat kearah Tatiana.


“Hahahaha!”


“Ada yang lucu menurutmu Tatiana?” tanya Dante pada wanita itu.


“Kau takut?” Tatiana bicara memicingkan matanya pada Dante.


Dante menggelengkan kepalanya, “Aku tidak pernah takut! Kau tahu itu kan?”


“Ya Dante! Aku tahu kau tidak pernah merasa takut.” Tatiana tersenyum menatap Dante.


“Tapi kau juga tidak selalu pemberani Dante. Apa kau tidak berani mengatakan kalau selama ini bersama dengan Bella?” Tatiana tersenyum sinis dan memicingkan matanya.


“Iya aku memang tidak berani! Karena aku menyimpan banyak kisah dengan Bella!”


“Kisah apa Dante? Kau sudah menikah dengannya bukan?”


“Itu yang kau dengar dari percakapanku bersama teman-temanku dari sadapan telepon bukan?” Dante membalikkan ucapan Tatiana sambil melangkah mendekat kemeja dan kini jarak mereka kurang dari lima meter.


“Ya kau benar Dante!” Tatiana mengangguk dan menyunggingkan senyum kecut pada pria itu.