PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 284. PEMBALASANKU


Flashback on


Dua jam sebelum kejadian.


Tok tok tok


“Permisi Nyonya Tatiana! Saya ingin mengecek kondisi anda.” seorang perawat baru saja masuk kedalam ruang perawatan Tatiana dan dia segera mendekati Tatiana sembari membawa Sfigmomanometer atau pengukur tekanan darah dan termometer lalu dia memeriksa kondisi Tatiana dan memeriksa infus juga. Sesekali perawat itu melirik Tatiana dengan tatapan yang sulit dimengerti.


“Bagaimana kondisiku?” tanya Tatiana.


“Tidak ada masalah yang serius Nyonya. Kondisi Nyonya sekarang bisa dibilang hanya cedera ringan saja dan tidak masalah serius lainnya.” jawab perawat itu setelah dia selesai mengecek kondisi Tatiana.


Perawat itu juga memberikan obat pada Tatiana lalu menatap wanita itu lagi, “Kalau kondisi anda sudah stabil dan tidak masalah lainnya yang mengganggu, anda sudah bisa pulang hari ini Nyonya! Sekarang saya akan cabut jarum infusnya dulu. Obat didalam infusan sudah habis juga.”


“Kalau memang tidak ada masalah serius padaku, tolong uruskan kepulanganku!” pinta Tatiana.


“Baiklah Nyonya. Kalau itu mau anda akan segera saya lakukan sebentar ya setelah saya memberitahu dokter yang menangani anda.” ucap perawat itu lagi.


“Baguslah kalau begitu. Bisakah kau lakukan sekarang juga?”


“Iya Nyonya! Akan saya lakukan setelah saya bicara dengan dokter.” perawat mengulang ucapannya pada Tatiana. Padahal tadi dia sudah menjelaskannya pada wanita itu tapi dia seolah tidak bisa memahami kata ‘Sebentar.’


“Dimana pakaianku?”


“Ehm, pakaian anda ada beberapa robek-robek nyonya.”


“Lalu bagaimana aku pulang kalau tidak ada pakaian?” dahi Tatiana mengerut tak senang.


“Hmm….mungkin anda bisa meminta keluarga anda untuk membawakan pakaian anda Nyonya?” perawat itu memberikan saran yang membuat hati Tatiana tak nyaman.


‘Cih! Keluarga! Satu-satunya orang yang aku anggap keluarga adalah Dante! Tapi dia mencampakkanku karena anak ingusan itu! Tubuhnya pun tidak ada menarik-menariknya, masih kecil! Aku rasa usianya masih belasan tahun! Cih! Dante seleramu semakin payah!’ kesal didalam hati Tatiana karena satu ucapan yang menggelitik telinganya.


 “Sudahlah jangan bahas lagi soal pakaianku itu adalah urusanku nanti!”


“Baiklah Nyonya! Kalau begitu saya pamit dulu.”


“Tunggu!” sebelum perawat itu pergi, Tatiana sudah menghentikannya. “Katakan padaku bagaimana kondisi ayahku?” tanya Tatiana yang sejak tadi sudah merasa penasaran bagaimana nasih ayahnya.


“Ayah anda, Tuan Omero Rivera? Beliau masih belum sadarkan diri, Nyonya.” jawab perawat itu.


“Dimana dia sekarang berada?”


“Dia masih diruang ICU?” tanyanya ulang untuk memastikan.


Perawat itu menganggukkan kepalany sambil menyunggingkan senyum berempati.


“Baiklah kalau begitu. Terimakasih untuk informasinya.”


“Sudah selesai Nyonya?”


“Hmm! Sudah! Kau boleh pergi sekarang. Cepat uruskan kepulanganku.”


“Oh iya. Saya permisi dulu. Anda bisa istirahat dulu Nyonya dan nanti setelah bertemu dokter, saya akan membawakan surat izin untuk pulang, Nyonya.”


“Hmmm!” Tatiana berdehem tanpa senyum diwajahnya ataupun mengangguk, seperti biasa sikapnya yang memang ketus dan angkuh. Setelah perawat itu pergi dan menutup pintu, ekspresi wajah Tatiana pun langsung berubah, dia terlihat sangat marah.


Tatiana pun perlahan turun dari ranjang lalu bergegas keluar dari ruang rawatnya, hanya ada satu tempat yang ingin didatanginya saat ini.


‘Fuuuh! Kenapa kau tidak mati saja kakek tua! Drama ini akan selesai kalau kau mati!” Tatiana berdecak, “Haruskah aku mengakhiri hidupmu didalam ruangan ICU ini?” Tatiana tersenyum sinis dan ekspresi wajahnya seperti iblis wanita pencabut nyawa sangat mengerikan. “Jika tidak ada perawat yang menjagamu disana maka dengan mudah aku bisa masuk kesana dan mencabut semua selang-selang penyangga nyawamu itu! Kau memang sudah seharusnya berakhir di dunia ini dan segera pergi ke neraka menyusul putrimu yang bodoh itu, Cassandra!”


Dia sudah kembali lagi ke kamarnya setelah tadi dia menuju ruang ICU tapi dari luar dia melihat bahwa ada perawat didalam dan dia tidak mungkin masuk dan ketahuan akhirnya dia memutuskan kembali kekamarnya. Dia menyandarkan tubuhnya disandaran tempat tidur. Wajahnya sangat dingin dan sinis. “Apa kalian pikir aku betah disini?” ujarnya sambil melihat tangannya yang sudah bebas dari jarum infusan dan menggelengkan kepala.


“Harusnya kecelakaan ini tidak terjadi sesuatu padaku bukan?” Tatiana bertanya lagi pada dirinya sendiri sambil tersenyum kecil. “Aku tidak seharusnya dirawat disini! Tapi ini semua terpaksa kulakukan supaya aku tidak dicurigai macam-macam dan dituduh penyebab kecelakaan itu.”


Dia menyunggingkan senyum sinisnya, “Aku harus keluar dari tempat ini! Karena saat orang itu bangun maka dia akan menyusahkanku! Aku tidak mau terperangkap selama-lamanya dalam rencananya untuk rehabilitasi! Aku tidak sakit! Semua yang terjadi pada diriku ini sudah keputusan alam! Ini adalah hidupku dan tidak ada yang bisa merubahnya karena aku memang ditakdirkan seperti ini. Aku tahu dia pasti akan melindungiku! Karena itu aku refleks berpikir bagaimana cara membuat kecelakaan yang dramatis. Kalau dia tidak bodoh dan melindungiku mungkin dia tidak akan masuk ruang ICU!”


“Hahaha Omero Rivera! Aku butuh seseorang untuk menghabisimu! Seluruh harta warisannya pasti akan jatuh padaku ketika kau sudah dipendam didalam tanah!” Tatiana tersenyum tapi tiba-tiba dia memicingkan matanya ketika mengingat sesuatu. “Dante!” Tatiana hanya sampai disana dan terpaku diam sejenak.


“Aku sangat mencintaimu dengan sepenuh hatiku, sejak kita pertama kali bertemu. Aku memperhatikanmu dari saat kita kecul. Aku selalu mendukung semua yang kau inginkan dari saat kita tumbuh bersama. Aku membuatmu selalu nyaman disisiku! Aku selalu berusaha membahagiakanmu dan aku selalu berusaha mengerti dirimu dan menjadi sesuatu yang kau inginkan Dante! Aku memberikan tubuhku pertama kali padamu.”


Lalu Tatiana kembali mengumbar emosinya, “Tapi apa yang kau berikan padaku sekarang sebagai balasannya Dante?” dan tawa Tatiana pun terdengar melengking, menggema memenuhi ruangan tempat perawatannya. Tatiana kesal, dirinya marah, kemurkaan sudah tidak lagi bisa dibendung didalam hatinya. “Kau mengusirku! Kau membuangku, aku sakit dan punya kelainan tapi kau sama sekali tidak berempati padaku Dante! Kau menyalahkanku dan menghinaku!”


Tatiana mengepalkan kedua tangannya erat-erat. “Apa yang harus aku perbuat pada mereka? Aku tidak bisa membiarkanmu mendapatkan wanita lain! Kau sangat dingin padaku dan semua itu pasti karena wanita itu!” Tatiana sudah sangat kesal sekali pada Sarah yang dilihatnya datang bersama Dante sambil menggendong Alex yang tampak sangat akrab dengannya. Itu membuat Tatiana semakin sakit hati.


“Tidak boleh! Aku tidak boleh membiarkan itu semua terjadi. Aku memang marah padamu tapi bukan berarti aku membiarkanmu bersama dengan wanita lain, Dante!” Tatiana menegaskan lagi lalu emngambil handphonenya terburu-buru karena rasa memiliki yang besar pada Dante. Dan dia tidak mau melepaskan pria itu dan diambil orang lain.


“Aku harus minta bantuan” Tatiana bicara sambil menekan nomor telepon seseorang.


“Halo, Nyonya Sebastian! Ada kabar baik apa kau meneleponku sekarang?” tanya Jeff.


“Tidak ada kabar baik! Yang ada justru kabar buruk.” jawab Tatiana. Dia bicara to the point.