
“Permainan yang sangat menyenangkan. Apa kau tidak lelah setelah penerbangan panjang?”
“Sedikit letih tapi aku masih fit karena aku tidur sepanjang perjalanan.” jawab Nick.
“Kau tidak kehilangan kemampuan untuk menembak, bukan?”
“Hahahaha walaupun aku amnesia aku akan tetap mengingat itu. Akulah yang terbaik diantara kalian semua, iyakan?” ujar Nick menyombongkan diri.
“Tidak. Jika kau membandingkan kemampuanmu denganku.” ujar Dante dengan senyum diwajahnya.
“Kau ini memang tidak pernah mengalah sama teman!” Nick terkekeh.
“Hem….tapi aku akui kalau kau masih yang teraik setelah aku.” ucap Dante lagi.
“Baiklah. Cepat katakan padaku permainan apa yang kau ingin mainkan?” tanya Nick.
“Aku ingin kau menaiki menara itu.” jari telunjuk Dante menunjuk satu-satunya menara pengintai yang berada ditempat latihan mereka.
“Apa? Menara itu? Bagus! Aku akan naik kesana, lalu apa yang harus kulakukan disana?” tanya Nick lagi dengan perasaan senang. ‘Ah kalau aku diataas berarti aku bukan buruannya. Eh….tapi siapa yang jadi buruanku?’ Nick bertanya dalam hatinya.
“Dan untukmu!” ujar Dante menunjuk pada Anthony dengan matanya.
“Saya tuan?” Anthony mengerjapkan matanya, ada rasa takut didirinya tapi dia masih berusaha tenang.
“Henry!” Dante memanggil lagi kepalapelayan dan orang kepercayaannya.
“Ya Tuan. Ada yang bisa saya bantu?” tanya Henry.
“Raing Bull! Siapkan dia dan berikan pada Anthony!” ucap Dante yang membuat Anthony menelan salivanya saing terkejutnya.
‘Wah ini gila! Dia ingin aku bermain? Pasti ini semua gara-gara bola! Kenapa aku bermain bola disana?’ Anthony mulai ketakutan dan ketar ketir didalam hatinya. ‘Apa Tuan Dante kesal karena cemburu pada Bella ya? Tapi tidak mungkin! Dia memperhatikan cara bermainku dan katanya tadi lemparan bolaku bagus. Aku tidak teliti saat itu, apa dia mencurigaiku?’ Anthony mencoba mencari alasan kenapa Dante membuat permainan raing bull malam-malam.
“Ini yang anda inginkan Tuan.” ucap Henry.
“Berikan pada Anthony! Jangan lupa tambahkan empat puluh bullet saja. Aku tidak mau kurang ataupun lebih termasuk yang sudah ada di raing bull!” ucap Dante.
“Baik Tuan.”
“Untuk apa itu Tuan?” tanya Anthony yang sudah tak tahan lagi.
“Bukankah kau suda terbiasa berburu, karena itu aku memberikanmu kesempatan berburu! Ini adalah seni senjata paling pas untuk pemburu! Kita akan bermain.” ucap Dante yang seharusnya bisa dimengerti oleh Anthony.
“Maksud anda apa Tuan?”
“Ini Tuan, bullet dan raging bull-nya sudah disiapkan semua.” ujar Henry.
“Berikan pada Anthony!”
“Baik Tuan!”
Henry pun segera melakukan perintah Dante. “Jangan lupa berikan dia rompi anti peluru.” ujar Dante.
“Baik Tuan!”
“Kau hanya perlu menyelamatkan kakimu dan kepalamu kalau kau masih ingin hidup.”
“Ya. Aku melihat bakatmu karena itu aku ingin memastikannya. Pada permainan ini hanya ada dua pilihan, pilihan pertama kau hidup dan kau akan mendapatkan kehidupan lebih baik bukan hanya sekedar seorang pelayan. Pilihan kedua, kau kalah dari permainan ini dan artinya aku akan menguburkanmu.” kata Dante menjelaskan.
“Kenapa anda melakukan ini pada saya Tuan?” Anthony mempertanyakan keputusan Dante dan menunggu jawaban dari pria itu dengan mengeryitkan kening.
“Alasannya hanya satu, karena aku melihat bakatmu.” Dante melangkah maju dan bicara dengan tatapan serius membuat Nick merinding.
“Apakah pelayan itu penyusup? Dante tidak mungkin melakukan itu kalau bukan pada penyusup. Apa ada sesuatu yang…..tunggu dulu, mungkinkah jawabannya ada di cctv yang baru saja aku hancurkan?” lirih Nick berpikir karena dia menyuruh anak buahnya untuk membereskan cctv tadi siang.
“Bagaimana jika saya tidak mau melakukan permainan ini dan saya tetap bekerja sebagai pelayan?” tanya Anthony.
“Maka kau akan aku usir dari rumah ini!” jawab Dante tersenyum. “Karena kau berbahaya dengan permainanmu. Aku tidak suka pelayan yang bisa menggunakan senjata.” Dante menjentikkan jarinya.
“Masalah bola itu, Tuan.”
“Lakukanlah! Permainan ini bisa merubah hidupmu menjadi jauh lebih baik. Kalau kau memang menginginkan sesuatu yang baik.” ucap Dante memicingkan mata.
“Apakah anda yakin akan memberikan posisi itu jika saya menang?” Anthony bertanya lagi untuk memastikan. ‘Sudah kepalang tanggung kalau aku menolak mengikuti permainan ini maka aku tidak akan pernah keluar dari rumah ini. Dia sangat serius, mungkinkah dia sudah mencurigaiku? Permainan bola kemarin benar-benar jadi petaka.’ Anthony merasa menyesal, dan dia pun sudah tidak lagi ingat tentang masalah suratnya.
“Aku tidak pernah ingkar janji.” Dante tersenyum tipis pada Anthony.
“Baiklah Tuan. Saya terima tapi apa keuntungan bagi saya kalau saya menang?”
“Tadi aku sudah menjelaskannya padamu. Kau akan mendapatkan tempat lebih baik. Apa kau tidak ingat ucapanku tadi?” Dante merasa malas mengulang kata-katanya.
“Baiklah, sekarang tolong jelaskan pada saya aturan permainannya Tuan.” Anthony pun mulai bersikap serius dan menatap Dante tanpa ada senyum diwajahnya.
“Kau cukup menyelamatkan kepalamu dari serangan yang diberikan oleh sahabatku Nick! Dia akan berdiri diatas menara itu dan kau hanya bisa menggunakan semak-semak dan batu yang ada disana untuk berlindung. Ini malam hari dan mungkin kau bisa menyamarkan dirimu menggunakan apa saja yang ada disana. Fokus utamanya adalah medali itu, saat medali itu kau ambil maka Nick akan berhenti menembakimu! Tapi kalau kau belum mendapatkan medali itu maka dia akan terus menembakimu meskipun kau akan mati terkena tembakan nyasar.” Dante diam sejenak.
“Aku tidak akan berbelas kasihan pada siapapun karena aku sedang mencari seseorang yang berbakat.” ujarnya lagi dengan tatapan serius pada Anthony.
“Aku punya empat puluh peluru, apa aku boleh menembak temanmu itu Tuan?” tanya Anthony sambil menatap Dante dan Nick bergantian.
“Tembaklah kalau kau memang sanggup!”
Nick langsung mengutuk didalam hatinya setelah mendengar ucapan Dante, ‘Dasar kau Dante! Ternyata kau menyuruhku datang ke tempat ini karena kau ingin membunuhku?’ ujar Nick sambil melirik sahabatnya. ‘Aku tidak akan membiarkan diriku terbunuh oleh orang itu!’ celetuk Nick lagi yang mulai memikirkan permainan menarik yang segera dilakukan itu. Sedangkan Anthony tersenyum setelah mendengar ucapan Dante,
‘Kalau aku berhasil menghabisi orang itu, tandanya Tuan Dante akan kehilangan satu orang kepercayaannya dan ini sangat menguntungkanku.’ bisik hati Anthony mulai menyusun strategi.
“Baiklah Tuan! Aku terima, ayo kita mulai permainannya sekarang.” Anthony mulai antusias dan tersenyum agak menantang pada Dante.
“Tentu saja, kapanpun kau siap.” balas Dante.
“Baiklah. Aku sudah tidak sabar dan tak ingin berlama-lama.” ujar Anthony.
“Tunggu satu hal lagi.” ujar Dante membuat Anthony pun menoleh kembali menatap Dante.
“Satu lagi? Apa ada peraturan tambahan, Tuan?”
“Aku tidak bicara denganmu!” lalu Dante menoleh ke Henry, “Henry! Bawa Bella segera kemari.”
DEG!
“Apa yang ingin kau lakukan padanya? Kenapa kau bawa dia kesini?” tanya Anthony mengerjapkan mata tak percaya akan apa yang ada dipikirannya.